Sunday, 20 May 2018

Tangis Seorang Saudari


Terisak-isak, perempuan itu mendatangiku. Bahunya sesenggukan diiringi tangis yang pilu.

“Kami berantem lagi,”ujarnya.

Aku tersenyum. Percakapan yang sangat jamak kudengar darinya.

“Kenapa? Aku bisa bantu apa?”

“Dia mengatakan..aku bukan istri yang romantis. Dia ingin sesosok istri yang romantis. Yang memanggilnya dengan kata sayang, memilihkannya baju dan memasangkannya dasi..”

“Lalu..kau merasa tidak sanggup?”

“Tidak..sebenarnya aku sanggup-sanggup saja..”

Hening. Aku masih menunggu dia melanjutkan maksudnya. Kalau tidak sanggup lalu kenapa? 
Benakku diliputi banyak pertanyaan.

“Akan tetapi..” dia melanjutkan. “Tak mudah bagiku untuk menyiapkan diri menjadi orang yang selalu bisa romantis dalam segala suasana. Maksudku, Ia bahkan masih belum bisa menjaga moodnya dengan baik. Ia bisa meledak-ledak karena hal kecil yang bahkan tidak pernah kusangka sebelumnya. Lalu dia memintaku untuk romantis. Aku betul-betul ga paham..ga tau bagaimana menata diri menjadi orang romantis di tengah badai yang berkecamuk. Naluriku saat badai itu tiba-tiba hadir hanyalah menjauh menunggu amarah itu mereda..karena aku tak pernah tau perbuatanku yang mana lagi yang bisa membangkitkan amarahnya.”

Kutatap lekat muka itu. Muka milik sosok yang kukenal sebagai orang yang ceria, sekaligus rapuh. Sosok yang kuat, namun juga sangat sensitive.

“Kau tahu..”kataku.

“Bagaimana perasaan Rasul saat pengemis buta terus mencacinya ketika Rasul terus saja menyuapi dan mendengarkan ocehannya? Kau tahu, bagaimana perasaan Rasul saat dengan kasih sayangnya Ia ingin mengajak warga Thaif untuk mengenal Allah, tapi justru lontaran batu dan hujaman caci maki yang harus beliau terima?”

Dia mulai berhenti dari isak tangisnya.

“Tak selalu rasa sayang kita diterima dan difahami oleh orang lain, dan tak selamanya mereka bisa membalasnya dengan kebaikan.”

Hening sejenak.

“Kini aku yang ingin bertanya padamu. Tidakkah kau menyayangimu pasanganmu?”

“Saat ini rasanya tidak.”

Aku terkekeh dengan jawabannya.

“Tapi kau sebetulnya masih berharap Ia bisa memperlakukanmu dengan lebih baik bukan?”

“Iya”

“Kalau begitu kau memang menyayanginya.”

“…”

“Kini tugasmu hanyalah, menata hati. Allah masih berikan itu untukmu karena bisa jadi kau belum lulus dalam ujian tersebut. Bagaimana menata hati yang tengah perih, bagaimana membangun jiwa saat kondisi di luar sana terasa pedih, sebaik dan sesegera mungkin.”

“Lalu semua menjadi tugasku lagi?”

“Hanya jika kau memang masih beriman pada Allah. Bukankah tugasmu hanya terus berusaha? Setelahnya biar Allah yang tentukan.”

“Andai Allah ganti hatinya dengan hati baru yang lembut dan penuh kasih sayang. Pastilah tak sulit membuat diriku menjadi manusia yang paling romantis di dunia.”

Lagi-lagi aku dibuat terkekeh dengan jawaban manusia ajaib di depanku.

“Mengapa hanya andai? Berdoalah dengan kesungguhan. Mintakan selalu padaNya. Allah yang memilihkan ia untukmu, maka kembalikan lagi pada Allah saat dalam perjalananmu ada hal yang kau rasa tak bisa lagi tertangani..”

Tangis sudah mulai mereda.

“Bagaimana aku harus mengatakannya pada Allah?”

“Beristighfarlah. Beristighfarlah saat hajatmu terlalu banyak hingga engkau bingung bagaimana mengutarakannya pada Allah. Beristighfarlah dan biarkan logika Allah yang kemudian mengatur hidupmu..”ujarku.

Sejak itu kulihat Ia menarik nafas yang amat panjang. Memejamkan matanya mencari gelap yang mendamaikan. Sedang bibirnya mulai komat-kamit melafalkan istighfar. Lalu kubisikkan padanya:

“Setelah ini keluarlah, dan perhatikan betapa banyak orang yang miliki hidup yang lebih sedih dari kisahmu. Akan tetapi mereka kuat menjalaninya. Belajarlah dari mereka,”ujarku sembari meninggalkannya dalam kesendirian yang tengah Ia nikmati.

Depok, 21 Mei 2018
"Semoga Allah selalu menuntunmu dalam kebaikan, saudariku.."