Wednesday, 4 April 2018

Tentang Pemecatan (3)


Pemecatan kedua, yaitu dipecatnya Iblis dari syurgaNya. Nah ini kita bakal belajar menempatkan diri di posisi Nabi Adam AS sebagai leluhur kita.

Gitu-gitu, Iblis itu dulunya makhluk yang taat banget sama Allah. Kedudukannya di sisi Allah juga baik. Hingga ya di hari itu semua berubah. Saat Allah menciptakan manusia pertama, Nabi Adam. Sebagai makhluk yang taat, sebetulnya Iblis secara logika berhak siih untuk dapet reward dari Allah. Etapi ternyata hari itu, Allah ‘malah’ mengangkat Nabi Adam sebagai khalifah. Suatu jabatan yang keren!

Padahal kan Nabi Adam baru aja diciptain, nyubi di syurgaNya Allah. Belum kelihatan ketaatannya, dan apalagi, oh apalagi dia ‘cuma’ tercipta dari tanah. Sedang iblis terbuat dari api yang lagi-lagi secara logika makhluk, lebih mulia dan lebih hebat daripada sekedar tanah. Makanya, saat Allah memberi perintah untuk sujud kepada Adam, Iblis enggan. Ingredients lebih oke, kualitas selama ini sudah terjamin, kurang apalagi buat ‘promosi’ kan.  Kenapa bukan guwe? Gitulah kira-kira suara hati iblis saat itu.

Sampailah akhirnya dialog itu terjadi. Iblis memohon usianya ditangguhkan hingga hari akhir, seraya berjanji akan teruss gangguin anak cucu Adam supaya bisa membersamainya di seburuk-buruk tempat kembali, neraka. Kedengkian yang hakiki memang. Hisy.

Lantas apa kabar dengan Adam AS? Apakah beliau baper merasa karena dirinyalah Iblis diusir dari syurga? Ya enggalaaah, emangnya kita segala macem dibaperin. Nabi Adam AS tahu betul, Tuhan yang telah menciptanya adalah Tuhan Yang Maha Mengatur lagi Maha Berkehendak. Absolut, mutlak. Jadi tinggal jalani saja perintahNya. Perkara dengan kehadiran dia Iblis jadi dipecat, ya itu kehendak Allah. Perkara kemudian ada gangguan dari pihak yang dipecat, dalam hal ini iblis, ya fahami aja kalo itu bentuk ujian untuk membuktikan kualitas diri yang sejati di hadapanNya. Ga kurang dan ga lebih.

Inti hikmahnya adalaah, kalo posisimu justru sebagai orang yang menggantikan orang lain yang dipecat, ga usah baper. Kematianmu ga akan ujug-ujug maju jadwalnya lantaran kamu menduduki posisi tersebut. RezekiNya dalam berbagai bentuk pun juga ga akan ujug-ujug menghilang. Kalaulah akhirnya Nabi Adam pun harus keluar dari syurga lantaran ulah Iblis, tapi kan Allah ganti dengan rezekiNya yang lain. Pun Allah juga berjanji bahwa Nabi Adam dan anak cucunya kelak akan pulang kampung ke tempat asal, di keabadian syurga. Syarat dan ketentuan berlaku pastinya.

Memang, semua udah ada yang atur, Allah. Kalo tentang perilaku usil dari pihak yang dipecat sih ya itu tantangan besar yang harus dihadapin. Tapi, seperti kata para motivator, selama tantangan itu ga membunuhmu, maka dia hanya akan menempamu menjadi seseorang yang lebih baik dan lebih kuat dari sebelumnya.

Begitulah kira-kira 2 cerita besar tentang pemecatan yang bisa kita petik hikmahnya. Semoga kita semua bisa bijak menempatkan diri, baik sebagai orang yang dipecat, sebagai orang yang menggantikan orang yang dipecat, ataupun hanya sebagai penonton yang menyaksikan berbagai jenis pemecatan.

Wallahu’alam

Depok, 5 April 2018
Belakangan lagi rame kasus pemecatan ini itu



0 comments:

Post a Comment