Monday, 26 March 2018

Go Internesyenel

Bismillah

Ada satu hal, mimpi yang belum kesampaian hingga hari ini. Mimpi yang bagi sebagian yang lain mungkin terlalu sederhana. Mimpi yang baru teringatkan kembali sejak beberapa hari yang lalu menjalin komunikasi dengan Ummu Rahaf, ibu dari teman sekelas Fathan dari Suriah (beberapa yang lain menyebutnya dari Palestina).

Impian itu adalah tentang menjadi manusia internesyenel.

Bukan hanya sering menjejakkan kaki di luar untuk wisata, akan tetapi memang ada hal yang harus dikerjakan di luar sana. Berkarya, singkatnya. Juga untuk mengenal manusia-manusia di belahan bumi yang lain.

Karena ini impian sudah sejak lamaa, maka sejak zaman yahoo messenger dulu, kusudah memulainya dengan masuk ke chatroom dan berinteraksi dengan manusia dari berbagai tempat yang berbeda. Ada beberapa teman yang masih kuingat hingga sekarang. Masih diingat karena memang dulu pernah diajari bahasa asal mereka. Bahasa urdu, salah satunya. Hingga saat ini ada satu dua kosakata yang masih bisa kulafalkan, meski tak yakin betul artinya apa. Kesan yang tertinggal amat dalam, bahwa pertemanan dengan mereka-orang dari berbaga belahan dunia sana selalu menyenangkan. Banyak hal baru yang bisa kita saling ceritakan satu sama lain.

Rasa senang itu juga yang membuatku senang-senang saja saat ditawari almarhum papap untuk kuliah di luar. Dulu yang ditawarkan beliau ada dua negara, antara Belgia atau Turki, dan ku memilih Turki, ingat sekali. Namun, karena pengumuman tes di dalam negeri lebih dulu diumumkan, apalagi dengan jurusan yang lebih kusukai dibanding jurusan di luar sana, maka akhirnya rencana tersebut berhenti begitu saja.

Meski begitu bukan berarti impian itu padam. Justru sebaliknya, lebih menggebu hingga berkali-kali terbawa mimpi. Aku ingin menengok dunia dan mulai berkarya di luar sana, sungguh..

"Yo wes, nyebrang ke negeri tetangga yuk,"katamu.
"Emoh."

"Ada tour ke Jepang, bisa nih buat kita berangkat berdua,"ajakmu lain waktu.
"Ngga.."

Hingga akhirnya lelaki di sebelah tahu, percuma mengajakku pergi ke tempat-tempat indah di luar sana, sebelum tunai satu impian lain yang lebih penting lagi.

"Aku ingin ziarah dulu ke makam Baginda Nabi. Setelah itu terserah kau akan mengajakku kemana :)"
"Kalau begitu insyaa Allah sesegera mungkin kita ke sana,"tukasmu mantap.

Ah iyaa...sungguh di balik menjadi manusia internesyenel yang selalu terbayang, ada sebuah impian yang lebih dahsyat yang harus ditunaikan. Impian untuk terlebih dahulu menziarahi lelaki istimewa, yang tak hanya dipuja manusia di dunia, tetapi juga sangat dielukan oleh seluruh penduduk langit. Dan ku ingin menziarahinya sebagai pengingat, bahwa menjadi apapun, siapapun, dan kemanapun kita, jadilah dulu yang terbaik bagi Sang Pemilik Bumi dan Langit. Setelahnya tunggulah cara Dia memberimu jalan untuk menjejakkan kaki di seluruh penjuru dunia, seperti impianmu sedari dulu.

27 Maret 2018
Crystal Library

1 comment:

  1. Love it Hani.. aaamiin..
    Moga kita dimampukan Allah kesana yaa

    ReplyDelete