Monday, 26 March 2018

Andai [3]

Bismillah

Ada satu andai yang kufahami menjadi pengandaian terbaik yang harus selalu dipelihara dalam benak kita. "Andai bukan seperti ini, mungkin aku tak akan belajar tentang hal ini.."

Iya! ternyata andai tak selamanya berasosiasi pada penyesalan yang berujung pada ketidaksyukuran. Setidaknya begitu hal sederhana yang kudapati belakangan. Hal yang meruntuhkan semua buruk sangkaku atas andai, sebelum ini.

Andai tak bersamamu, andai tak disisimu, andai bukan kau orang itu...maka tak ada aku yang seperti ini hari ini. Aku yang mendapati banyak pembelajaran Tuhan yang diselipkan dalam kehadiranmu. Aku yang mulai mengenal sisi-sisi gelap dalam diri setelah bercermin padamu. Aku yang berbeda dari hari-hari yang lalu sebelum hadirmu.

Dan aku menyukai diriku saat bersamamu.

Memang membingungkan pada awalnya, mendapati keasinganmu dalam perjalanan hidupku. Kita tak pernah miliki masa-masa dimana kita saling menyimpan kagum diam-diam sebagai seorang teman. Cerita kita juga tak dihiasi dengan rasa berbunga setiap berjumpa, atau bahkan berharap -sangat berharap untuk segera bersama dalam mahligai cinta. Tak ada cerita karena benar-benar tak banyak momen kebersamaan yang tercipta antara kita, sebelum akhirnya kita benar-benar bersama.

Lantas 'tiba-tiba' saja kita bersama dan harus saling menerima satu sama lain XD

Tentu tak mudah bagiku untuk kemudian beradaptasi dengan segala perbedaan latar belakang yang ada. Ditambah lagi kehadiran anak yang langsung Allah hadirkan di antara kita. Ada tangis di sana, ada marah di sana, ada pula kecewa. Dan aku tahu kau pun merasakan hal yang sama di sana. Ah, ya jujur saja. Toh hari itu kita masih sepasang manusia yang sedang tertatih mengeja maksud Dia atas kebersamaan kita. Lantas semuanya semakin terasa menyedihkan saat mulai membandingkan diri dengan pasangan lain. Ah, yang terakhir ini memang kebiasaan buruk yang saat itu belum bisa kuhilangkan. 

Hingga akhirnya kini, 9 tahun berlalu dalam kebersamaan denganmu. Aku bisa dengan bangga mengenalkan bahwa kau adalah sahabat terbaik sepanjang hidupku. 9 tahun memang bukan waktu yang singkat. Namun, tak pernah kusesali seutuhnya, karena ia adalah 9 tahunku yang berharga. 

Jika banyak cerita bahagia di luar sana karena mereka menikah dengan sahabat terbaiknya, menikahi seseorang yang mereka puja -dalam diam dan nyata-, maka justru kebahagiaanku bermula dari menikahi lelaki asing yang kujadikan sahabat  terbaikku selama-lamanya. Dan kini tak ada lagi andai di sana, hanya pengandaian terbaik bahwa andai orang itu bukan dirimu, mungkin tak akan ada aku dengan buncahan syukurku hari ini.

Kau tahu, aku mencintaimu.

Upnormal, 26 Maret 2018

0 comments:

Post a Comment