Wednesday, 14 March 2018

Andai [2]


Bismillah

Suatu hari aku tersadar, bahwa kenangan adalah jelmaan dua sisi pisau yang sangat tajam. Satu sisi ia akan membantumu mengingat hal inspiratif yang mendorongmu untuk menjadi lebih baik. Di sisi lain, ia bisa menyiksamu dengan pengandaian atas kenangan yang menyelinap hadir. Pengandaian yang serupa racun, namun mewujud bak madu manis nan menggiurkan.

Barangkali ini juga jawaban atas kisah-kisah kebersamaan, yang harus terceraiberai karena kisah masa lalu yang tak (atau belum) tuntas. Menyimpan kenangan sembari memelihara pengandaian dari sejak ia terlahir hingga membesar tak terelakkan. Lantas saat ada satu dua kesempatan, pengandaian tak ubahnya bagai bensin yang tersambar api, seketika membara dan menyambar apa saja yang ada di sekitarnya. Meluluh lantakkan bangunan kebersamaan yang telah terjalin jauh hari sebelumnya.

Suatu hari aku tersadar, bahwa kenangan adalah jelmaan dua sisi pisau yang sangat tajam. Satu sisi ia akan membantumu mengingat hal inspiratif yang mendorongmu untuk menjadi lebih baik. Di sisi lain, ia bisa menyiksamu dengan pengandaian atas kenangan yang menyelinap hadir. Pengandaian yang serupa racun, namun mewujud bak madu manis nan menggiurkan.

Seperti hari itu, saat dengan ajaibnya, pertama kali dalam kehidupanku setelah menjadi ibu, aku mengikuti cerita drama. Drama korea lebih tepatnya. Seseorang menyarankanku untuk menonton itu. Meski untuk bisa menikmatinya bukan hal yang mudah. Pertama, aku harus menerima tatapan yang luar biasa tajam darinya –kau tau siapa, teman hidupku. Kedua, akupun harus menerima agaknya serupa olokan dari anakku. Mereka tak percaya hari itu aku menjadi perempuan penonton drama korea.

Namun hei, entah mengapa sebegitu terhubungnya aku dengan cerita dalam drama itu. Cerita yang kutahu, fiktif belaka. Akan tetapi, hikmah yang didapat dalamnya, sungguh aku sangat suka. Kisah sepasang manusia, yang berkomitmen untuk hidup sama karena saling cinta. Seiring waktu, cinta membara yang semula dipunya mulai memudar. Hingga berujung pada kata cerai dengan lebih dahulu saling mengungkapkan bahwa andai tak hidup bersama denganmu, maka aku akan lebih bahagia dari hari ini. Andai yang lagi-lagi, serupa racun namun mewujud bak madu.

Singkat cerita, mereka menerima kesempatan untuk bisa kembali ke masa lalu dan mulai mewujudkan apa yang mereka andaikan. Namun ternyata, apa mau dikata, kembali pada masa lalu justru menyadarkan mereka bahwa bukan alur ceritanya yang salah. Bahkan mereka meyakini, pada akhirnya, bahwa apa yang mereka telah miliki sesungguhnya adalah yang terbaik bagi mereka. Kesalahan justru ada pada diri mereka yang tak bijak dalam menyikapi masa kini. Kesalahan ada pada mereka yang ebih memilih berlari menuju masa lalu dengan berbagai iming iming kebahagiaan yang bermula dari sebuah kata sederhana: andai.  

Maka andai dan pengandaian, tak pernah luput dari awasku sejak itu. Sempat suatu ketika ia terbit, maka seketika juga kubenamkan. Setidaknya begitu pelajaran dari yang pernah kualami. Lalai sedikit, ia mulai tumbuh serupa tanaman liar yang tanpa dipupukpun mampu tumbuh sedemikian rupa. Sejak hari itu aku tahu, akan lebih baik meluangkan waktu untuk sejenak melihat ladang kenangan kita, memastikan tidak ada hama yang menyerang di sana. Tak ada pengandaian apapun terlahir di sana, hanya suka cita atas beragam kenangan yang kita miliki. Bahkan untuk kenangan terpahit sekalipun.

15 Maret 2018
04.22, dalam dingin yang menusuk

0 comments:

Post a Comment