Wednesday, 14 March 2018

Andai [1]


Bismillah

Seberapapun inginnya kita, bayangan tetap merupakan sebuah bayang-tak nyata, meski mungkin ada wujudnya dalam imajinasi kita.

Ini adalah cerita mengenai andai, yang menyebut namanya sajapun tak dianjurkan bagi kita. Tak lain, karena ia hanya akan menerbitkan sejuta bayang tak nyata, yang kemudian akan membuka gerbang bagi musuh abadi tuk wujudkan sesal yang tiada guna. Sesal yang berujung pada hilangnya rasa paling berharga –rasa syukur dalam dada.

Sungguhpun cerita mengenai saling mencinta dalam sendiri yang berujung pada kebersamaan selalu menarik –setidaknya bagiku, tapi bukan lantas berarti akupun harus memiliki kisah yang sama bukan? Meski pernah jua merasanya suatu hari di masa lalu. Berdebar saat bertemu, tersiksa atas pedihnya rindu, tersenyum atas hal kecil yang bermakna untukku, seraya berharap gejolak itu lekas berujung di satu titik temu. Namun ternyata cerita itu tak berlaku bagiku. Ceritaku berakhir demikian saja. Tak seperti cerita yang semula ku favoritkan, selangkah demi selangkah menuju kebersamaan dengan cara yang kerapkali membuat tersipu malu.  

Ini adalah cerita mengenai andai, yang menyebut namanya sajapun tak dianjurkan bagi kita. Tak lain, karena ia hanya akan menerbitkan sejuta bayang tak nyata, yang kemudian akan membuka gerbang bagi musuh abadi tuk wujudkan sesal yang tiada guna. Sesal yang lalu berujung pada hilangnya rasa paling berharga –rasa syukur dalam dada.

Mulanya bukan tak sakit, sakit. Sakit dan pahit saat mulai menyadarkan diri bahwa bayang itu tak pernah mewujud secara nyata ke hadapan. Sakit dan pahit saat harus mengakhiri cerita tidak seperti yang pernah diharapkan. Sakit dan pahit, seperti menenggak obat. Ah ya! Obat! Bahkan aku baru menyadarinya sekarang, bahwa setelah menenggak pahit itu aku justru merasa lebih baik. Merasa bahwa yang telah hadir dan mewujud ke hadapan adalah takdir terbaik dari Tuhan. Merasa bahwa kisah milikku akan jauh lebih kaya dari apa yang pernah kudambakan.

Maka hari ini, aku menerima ceritaku sebagai bagian dari masa lalu, yang tentu tak hendak kuhapus dari ingatan. Ia akan selalu selamanya menjadi pelajaran, bahwa ada banyak hal yang mulanya kita kira akan baik jika terjadi untuk kita, namun ternyata tak selalu demikian.

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 216)

Puncak, 15 Maret 2018

0 comments:

Post a Comment