Thursday, 29 March 2018

The Next Sripun

Bismillah

Pasti udah tau dong siapa Sripun?
Kalo belom, gugel aja yak, ndak usah manja :P

Kadang nih ya suka ngerasa, ya ampun, nama-nama tenar yang terkenal di seluruh dunia itu beneran ada toh ya? Mereka nyata ternyata ya!

Dan ya, mesti, aku sebagai orang kebanyakan ini juga akan norak kalau betulan ketemu. Wah, ini toh yang selama ini kita lihat cuma lewat layar. Lalu kemudian mengalirlah segala macem impresi kita akan orang itu di dunia nyata yang saat itu kita rasakan.

Terus?

Ya terus jadi bayangin aja, gimana perasaanku kemudian kalo suatu hari nanti (semoga) Allah pertemukan dengan orang-orang yang selama ini cuma ta kenal lewat namanya to'. Orang-orang yang ga pernah kita temuin di layar-layar televisi atau gadget kita.

Rasulullah misalnya.

Apa kira-kira ya yang bakal terjadi?

Yang dikuatirkan saat ini adalah, saat ketemu sama beliau, dan sahabat-sahabat beliau justru sirna norak yang ada. Norak dalam artian positif tapi ya, yang lahir berdasar perasaan mengenali dan dekat dengan orang tersebut. Yang kesisa jangan-jangan justru kebingungan sendiri cari topik pembicaraan, karena ternyata pembicaraan kita ga nyambung dengan kedudukan mereka.

Sederhana aja deh, dari bahasa misalnya. Bahasa arab cuma tau anta anti doang. Dari mengenali keluarga, mash kebolak balik mana kakek mana paman. Dari sejarah kehidupan, ga fasih menyebutkan fase-fasenya gimana dan kapan. Apalagi kalo sampai ngomongin kebiasaan, duh jauh letak kesamaannya.

Lalu jadinya ngobrolin apa coba?

Ngga tau.
Yang jelas mulai sekarang mau ngafalin satu kalimat penting yang mau pertama kali disampaikan:
يا رسول الله أشتاق إليك
Wahai Rasulullah, aku merindukanmu.

Dah, gitu aja. Itupun hasil translate pake gugel.
Haih..

Receh

Bismillah

Merhatiin ga sih? Kalo berantemannya anak-anak kecil itu kedengeran receh banget buat kita.

"BUNDAAA....INI BIJAK JOROK, NEMPELIN UPILNYA KE BAJUKUU" 

"BUNDAAA...DANG FATHANNYA KETAWAIN AKU TADI PAS AKU JATOH"

"BUNDAA BIJAK MELET-MELETIN LIDAH SAMA EJEK AKUU"

"BUNDAA..DANG FATHAN GA MAU BERBAGI"

Atau lain waktu saat Bijak laporan kalo Fathan ada pukul dia.

"Kenapa adekmu dipukul?"

"Soalnya dia liatin aku mulu, aku ga mau diliatin.."

Pelik ya.

Giliran jadi pelapor dan korban, gigih banget nyuruh bundanya supaya minta tersangka yang dimaksud minta maap. Giliran jadi tersangka, banyak banget pledoi nya >.< 

Lalu kusadari peranku di rumah tambah satu sejak beberapa tahun lalu, menjadi penegak hukum. Mulai dari terima laporan, sampe jadi hakim buat para bocah. Haih..

Etapi ya, meskipun receh buat kita, yakin deh, kalo buat mereka tuh itu serius banget. Jadi, kontrolah diri dan mukamu mak, supaya bisa menyesuaikan diri di hadapan anak, dan jadi hakim yang bijak buat mereka.

Sungguhlah, kerecehan kalian ini akan sangat dirindukan di kemudian hari.

Jangan cepet2 gede :")

29 Maret 2018

Tuesday, 27 March 2018

Transformasi

Bismillah

Ini agaknya lebih tepat disebut sebagai penegasan, yang sedikit berbau klarifikasi.

Apa yang kurasa di awalnya adalah, mencintai sebagai seorang istri pada suaminya. Aromanya adalah ketaatan.

Kemudian mencintai sebagai seorang ibu pada  ayah bagi anak-anak yang telah kukandung. Aromanya adalah kasih sayang. Senang melihat dia di sisi anak-anak dan turut serta melindungi mereka.

Dan yang belum lama ini kurayakan adalah transformasi baru,mencintai sebagai seorang teman baik. Aromanya adalah persahabatan.

Jadi, bukan baru mencinta sebetulnya. Hanya baru bertemu dengan bentuk cinta baru yang lebih menyenangkan :")

Alhamdulillah..

Iya cuma mau ngomong itu aja😂😂

Monday, 26 March 2018

Go Internesyenel

Bismillah

Ada satu hal, mimpi yang belum kesampaian hingga hari ini. Mimpi yang bagi sebagian yang lain mungkin terlalu sederhana. Mimpi yang baru teringatkan kembali sejak beberapa hari yang lalu menjalin komunikasi dengan Ummu Rahaf, ibu dari teman sekelas Fathan dari Suriah (beberapa yang lain menyebutnya dari Palestina).

Impian itu adalah tentang menjadi manusia internesyenel.

Bukan hanya sering menjejakkan kaki di luar untuk wisata, akan tetapi memang ada hal yang harus dikerjakan di luar sana. Berkarya, singkatnya. Juga untuk mengenal manusia-manusia di belahan bumi yang lain.

Karena ini impian sudah sejak lamaa, maka sejak zaman yahoo messenger dulu, kusudah memulainya dengan masuk ke chatroom dan berinteraksi dengan manusia dari berbagai tempat yang berbeda. Ada beberapa teman yang masih kuingat hingga sekarang. Masih diingat karena memang dulu pernah diajari bahasa asal mereka. Bahasa urdu, salah satunya. Hingga saat ini ada satu dua kosakata yang masih bisa kulafalkan, meski tak yakin betul artinya apa. Kesan yang tertinggal amat dalam, bahwa pertemanan dengan mereka-orang dari berbaga belahan dunia sana selalu menyenangkan. Banyak hal baru yang bisa kita saling ceritakan satu sama lain.

Rasa senang itu juga yang membuatku senang-senang saja saat ditawari almarhum papap untuk kuliah di luar. Dulu yang ditawarkan beliau ada dua negara, antara Belgia atau Turki, dan ku memilih Turki, ingat sekali. Namun, karena pengumuman tes di dalam negeri lebih dulu diumumkan, apalagi dengan jurusan yang lebih kusukai dibanding jurusan di luar sana, maka akhirnya rencana tersebut berhenti begitu saja.

Meski begitu bukan berarti impian itu padam. Justru sebaliknya, lebih menggebu hingga berkali-kali terbawa mimpi. Aku ingin menengok dunia dan mulai berkarya di luar sana, sungguh..

"Yo wes, nyebrang ke negeri tetangga yuk,"katamu.
"Emoh."

"Ada tour ke Jepang, bisa nih buat kita berangkat berdua,"ajakmu lain waktu.
"Ngga.."

Hingga akhirnya lelaki di sebelah tahu, percuma mengajakku pergi ke tempat-tempat indah di luar sana, sebelum tunai satu impian lain yang lebih penting lagi.

"Aku ingin ziarah dulu ke makam Baginda Nabi. Setelah itu terserah kau akan mengajakku kemana :)"
"Kalau begitu insyaa Allah sesegera mungkin kita ke sana,"tukasmu mantap.

Ah iyaa...sungguh di balik menjadi manusia internesyenel yang selalu terbayang, ada sebuah impian yang lebih dahsyat yang harus ditunaikan. Impian untuk terlebih dahulu menziarahi lelaki istimewa, yang tak hanya dipuja manusia di dunia, tetapi juga sangat dielukan oleh seluruh penduduk langit. Dan ku ingin menziarahinya sebagai pengingat, bahwa menjadi apapun, siapapun, dan kemanapun kita, jadilah dulu yang terbaik bagi Sang Pemilik Bumi dan Langit. Setelahnya tunggulah cara Dia memberimu jalan untuk menjejakkan kaki di seluruh penjuru dunia, seperti impianmu sedari dulu.

27 Maret 2018
Crystal Library

Andai [3]

Bismillah

Ada satu andai yang kufahami menjadi pengandaian terbaik yang harus selalu dipelihara dalam benak kita. "Andai bukan seperti ini, mungkin aku tak akan belajar tentang hal ini.."

Iya! ternyata andai tak selamanya berasosiasi pada penyesalan yang berujung pada ketidaksyukuran. Setidaknya begitu hal sederhana yang kudapati belakangan. Hal yang meruntuhkan semua buruk sangkaku atas andai, sebelum ini.

Andai tak bersamamu, andai tak disisimu, andai bukan kau orang itu...maka tak ada aku yang seperti ini hari ini. Aku yang mendapati banyak pembelajaran Tuhan yang diselipkan dalam kehadiranmu. Aku yang mulai mengenal sisi-sisi gelap dalam diri setelah bercermin padamu. Aku yang berbeda dari hari-hari yang lalu sebelum hadirmu.

Dan aku menyukai diriku saat bersamamu.

Memang membingungkan pada awalnya, mendapati keasinganmu dalam perjalanan hidupku. Kita tak pernah miliki masa-masa dimana kita saling menyimpan kagum diam-diam sebagai seorang teman. Cerita kita juga tak dihiasi dengan rasa berbunga setiap berjumpa, atau bahkan berharap -sangat berharap untuk segera bersama dalam mahligai cinta. Tak ada cerita karena benar-benar tak banyak momen kebersamaan yang tercipta antara kita, sebelum akhirnya kita benar-benar bersama.

Lantas 'tiba-tiba' saja kita bersama dan harus saling menerima satu sama lain XD

Tentu tak mudah bagiku untuk kemudian beradaptasi dengan segala perbedaan latar belakang yang ada. Ditambah lagi kehadiran anak yang langsung Allah hadirkan di antara kita. Ada tangis di sana, ada marah di sana, ada pula kecewa. Dan aku tahu kau pun merasakan hal yang sama di sana. Ah, ya jujur saja. Toh hari itu kita masih sepasang manusia yang sedang tertatih mengeja maksud Dia atas kebersamaan kita. Lantas semuanya semakin terasa menyedihkan saat mulai membandingkan diri dengan pasangan lain. Ah, yang terakhir ini memang kebiasaan buruk yang saat itu belum bisa kuhilangkan. 

Hingga akhirnya kini, 9 tahun berlalu dalam kebersamaan denganmu. Aku bisa dengan bangga mengenalkan bahwa kau adalah sahabat terbaik sepanjang hidupku. 9 tahun memang bukan waktu yang singkat. Namun, tak pernah kusesali seutuhnya, karena ia adalah 9 tahunku yang berharga. 

Jika banyak cerita bahagia di luar sana karena mereka menikah dengan sahabat terbaiknya, menikahi seseorang yang mereka puja -dalam diam dan nyata-, maka justru kebahagiaanku bermula dari menikahi lelaki asing yang kujadikan sahabat  terbaikku selama-lamanya. Dan kini tak ada lagi andai di sana, hanya pengandaian terbaik bahwa andai orang itu bukan dirimu, mungkin tak akan ada aku dengan buncahan syukurku hari ini.

Kau tahu, aku mencintaimu.

Upnormal, 26 Maret 2018

Wednesday, 14 March 2018

Andai [2]


Bismillah

Suatu hari aku tersadar, bahwa kenangan adalah jelmaan dua sisi pisau yang sangat tajam. Satu sisi ia akan membantumu mengingat hal inspiratif yang mendorongmu untuk menjadi lebih baik. Di sisi lain, ia bisa menyiksamu dengan pengandaian atas kenangan yang menyelinap hadir. Pengandaian yang serupa racun, namun mewujud bak madu manis nan menggiurkan.

Barangkali ini juga jawaban atas kisah-kisah kebersamaan, yang harus terceraiberai karena kisah masa lalu yang tak (atau belum) tuntas. Menyimpan kenangan sembari memelihara pengandaian dari sejak ia terlahir hingga membesar tak terelakkan. Lantas saat ada satu dua kesempatan, pengandaian tak ubahnya bagai bensin yang tersambar api, seketika membara dan menyambar apa saja yang ada di sekitarnya. Meluluh lantakkan bangunan kebersamaan yang telah terjalin jauh hari sebelumnya.

Suatu hari aku tersadar, bahwa kenangan adalah jelmaan dua sisi pisau yang sangat tajam. Satu sisi ia akan membantumu mengingat hal inspiratif yang mendorongmu untuk menjadi lebih baik. Di sisi lain, ia bisa menyiksamu dengan pengandaian atas kenangan yang menyelinap hadir. Pengandaian yang serupa racun, namun mewujud bak madu manis nan menggiurkan.

Seperti hari itu, saat dengan ajaibnya, pertama kali dalam kehidupanku setelah menjadi ibu, aku mengikuti cerita drama. Drama korea lebih tepatnya. Seseorang menyarankanku untuk menonton itu. Meski untuk bisa menikmatinya bukan hal yang mudah. Pertama, aku harus menerima tatapan yang luar biasa tajam darinya –kau tau siapa, teman hidupku. Kedua, akupun harus menerima agaknya serupa olokan dari anakku. Mereka tak percaya hari itu aku menjadi perempuan penonton drama korea.

Namun hei, entah mengapa sebegitu terhubungnya aku dengan cerita dalam drama itu. Cerita yang kutahu, fiktif belaka. Akan tetapi, hikmah yang didapat dalamnya, sungguh aku sangat suka. Kisah sepasang manusia, yang berkomitmen untuk hidup sama karena saling cinta. Seiring waktu, cinta membara yang semula dipunya mulai memudar. Hingga berujung pada kata cerai dengan lebih dahulu saling mengungkapkan bahwa andai tak hidup bersama denganmu, maka aku akan lebih bahagia dari hari ini. Andai yang lagi-lagi, serupa racun namun mewujud bak madu.

Singkat cerita, mereka menerima kesempatan untuk bisa kembali ke masa lalu dan mulai mewujudkan apa yang mereka andaikan. Namun ternyata, apa mau dikata, kembali pada masa lalu justru menyadarkan mereka bahwa bukan alur ceritanya yang salah. Bahkan mereka meyakini, pada akhirnya, bahwa apa yang mereka telah miliki sesungguhnya adalah yang terbaik bagi mereka. Kesalahan justru ada pada diri mereka yang tak bijak dalam menyikapi masa kini. Kesalahan ada pada mereka yang ebih memilih berlari menuju masa lalu dengan berbagai iming iming kebahagiaan yang bermula dari sebuah kata sederhana: andai.  

Maka andai dan pengandaian, tak pernah luput dari awasku sejak itu. Sempat suatu ketika ia terbit, maka seketika juga kubenamkan. Setidaknya begitu pelajaran dari yang pernah kualami. Lalai sedikit, ia mulai tumbuh serupa tanaman liar yang tanpa dipupukpun mampu tumbuh sedemikian rupa. Sejak hari itu aku tahu, akan lebih baik meluangkan waktu untuk sejenak melihat ladang kenangan kita, memastikan tidak ada hama yang menyerang di sana. Tak ada pengandaian apapun terlahir di sana, hanya suka cita atas beragam kenangan yang kita miliki. Bahkan untuk kenangan terpahit sekalipun.

15 Maret 2018
04.22, dalam dingin yang menusuk

Andai [1]


Bismillah

Seberapapun inginnya kita, bayangan tetap merupakan sebuah bayang-tak nyata, meski mungkin ada wujudnya dalam imajinasi kita.

Ini adalah cerita mengenai andai, yang menyebut namanya sajapun tak dianjurkan bagi kita. Tak lain, karena ia hanya akan menerbitkan sejuta bayang tak nyata, yang kemudian akan membuka gerbang bagi musuh abadi tuk wujudkan sesal yang tiada guna. Sesal yang berujung pada hilangnya rasa paling berharga –rasa syukur dalam dada.

Sungguhpun cerita mengenai saling mencinta dalam sendiri yang berujung pada kebersamaan selalu menarik –setidaknya bagiku, tapi bukan lantas berarti akupun harus memiliki kisah yang sama bukan? Meski pernah jua merasanya suatu hari di masa lalu. Berdebar saat bertemu, tersiksa atas pedihnya rindu, tersenyum atas hal kecil yang bermakna untukku, seraya berharap gejolak itu lekas berujung di satu titik temu. Namun ternyata cerita itu tak berlaku bagiku. Ceritaku berakhir demikian saja. Tak seperti cerita yang semula ku favoritkan, selangkah demi selangkah menuju kebersamaan dengan cara yang kerapkali membuat tersipu malu.  

Ini adalah cerita mengenai andai, yang menyebut namanya sajapun tak dianjurkan bagi kita. Tak lain, karena ia hanya akan menerbitkan sejuta bayang tak nyata, yang kemudian akan membuka gerbang bagi musuh abadi tuk wujudkan sesal yang tiada guna. Sesal yang lalu berujung pada hilangnya rasa paling berharga –rasa syukur dalam dada.

Mulanya bukan tak sakit, sakit. Sakit dan pahit saat mulai menyadarkan diri bahwa bayang itu tak pernah mewujud secara nyata ke hadapan. Sakit dan pahit saat harus mengakhiri cerita tidak seperti yang pernah diharapkan. Sakit dan pahit, seperti menenggak obat. Ah ya! Obat! Bahkan aku baru menyadarinya sekarang, bahwa setelah menenggak pahit itu aku justru merasa lebih baik. Merasa bahwa yang telah hadir dan mewujud ke hadapan adalah takdir terbaik dari Tuhan. Merasa bahwa kisah milikku akan jauh lebih kaya dari apa yang pernah kudambakan.

Maka hari ini, aku menerima ceritaku sebagai bagian dari masa lalu, yang tentu tak hendak kuhapus dari ingatan. Ia akan selalu selamanya menjadi pelajaran, bahwa ada banyak hal yang mulanya kita kira akan baik jika terjadi untuk kita, namun ternyata tak selalu demikian.

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 216)

Puncak, 15 Maret 2018

Monday, 12 March 2018

Jejak Tesis [5] : Kapan Nyusul

Bismillah

"Yah, kirain apaan.."
"Apa?"kataku sembari menoleh.

Dia Lail, teman sepertesisanku. Halah. Seperjuanganku mengerjakan tesis. Satu bimbingan. Satu sempro-an. Mudah-mudahan juga satu sidang akhir, kelak. Aamiin

"Ta kira fotonya Mba Tiara dan Mba Kiki habis sidang.."komentarnya sembari membuka grup Whatsapp angkatan kami.
"Ternyata?"
"Promo Wingstop, hahaha"
Ditangannya terpampanglah hape dengan gambar paha ayam yang menggoda.

"Aih..kujuga lagi nunggu foto mereka. Mau tak pake buat background laptop.."kataku mencibir
"Iyaa...terus captionnya : Mereka aja bisa, masa kamu ngga bisa. Gitu ya?"
"Hooh, yang lebih singkatnya lagi, Kapan Nyusul?"sahutku

Dan kamipun tertawa lagi sembari menyimpulkan, kalo sesuatu cuma dipikir tuh pasti akan berat. Coba perlahan lakukan, insya Allah akan ringan rasanya.

*
Sudah 12 Maret 2018, dan dua perempuan hebat dari angkatan kami telah memecahkan rekor sebagai gelombang pertama di antara kami yang sudah melewati sidang tesis. Turut berbahagia untuk mereka. Semoga kami-kami ini bisa turut menyusul mereka ya..

Mohon doakan pemirsa..doakan dengan yang sebenar-benarnya :")
*
Penting banget mengingat momen ini dengan jelas, supaya makin sadar bahwa ga ada lagi waktu buat leha-leha. Kebahagiaan dicapai dengan kerja keras. Bukan dengan bengong sembari berharap penelitian kelar tanpa ngelakuin apapun sebelumnya. Zzzzzz -.-

*

Perpus Kristal, 12 Maret 2018
Mari Bung Rebut Kembali

Friday, 9 March 2018

Super CCTV

Bismillah.

Apa jadinya sih jika hal-hal konyol yang kau lakukan dalam kesendirian ternyata terekam dan menjadi konsumsi banyak orang?

Aku sendiri betul-betul tak dapat membayangkannya.

Ini semua bermula dari postingan mamah di grup whatsapp keluarga. Kali itu mamah memposting sebuah video yang menampilkan seorang imam sholat yang sedang memperdengarkan bacaan qur'an dengan suara merdu. Sedang di belakang imam itu terlihat makmum yang khusyuk mengikuti sang imam. Semua rasanya normal saja di detik-detik awal. Apalagi caption mamah pada video itu sekedar mengklarifikasi, "Ini si A bukan sih?"

Sampai pada detik-detik selanjutnya terjadilah hal yang mencengangkan. Terdengar notifikasi pada hp sang imam,lalu dengan ajaib,imam pun mengambil hp dalam sakunya. Kukira awalnya hp itu akan dinonaktifkan. Pikirku imam lupa mengubah mode nya menjadi hening. Akan tetapi ternyata tebakanku salah. Alih-alih mengubah mode dan mengembalikannya ke dalam saku,sang imam justru tampak beralih fokus pada hp nya. Sedang bacaan dari mulutnya masih tetap terlantun dengan merdu seperti tak ada apa-apa.

Pertama kali memutar video tersebut aku terkekeh sembari berkomentar. 'Canggih' ni ustadz! Tentu canggih yang kumaksud lebih ke arah,parah ni ustadz,bisa-bisanya -.- Berkali-kali melihat videonya,ternyata justru menghadirkan rasa yang lain dalam benakku. Bukan,tentu saja bukan perasaan semacam "Ustadznya ganteng juga ternyata" rrrr,ini lebih semacam: "Ya ampun,padahal kalo semua khilafku dalam sendiri Allah bukakan tabirnya ke banyak orang saat ini,pastilah lebih parah dari apa yang sekarang kulihat dari sang imam..."

Lalu speechless. Hilang sudah rasa ingin tertawa.

Hei, video singkat itu hanya sepersekian dari cuplikan hidupnya sang imam. Bisa-bisanya aku menertawakan orang yang hidupnya sangat bisa jadi lebih baik dari hidupku. Sedangkan CCTV atasku pun terus berjalan merekam semua gerak gerik dalam hidupku. Dalam ramai dan sendiri, dalam gelap dan terang, dalam taat dan maksiat. Semua terekam di sana.

Sayangnya, malah sering terlupa, atau pura-pura lupa. Padahal Sang Pemilik CCTV bisa kapan saja membeberkan hasil rekamannya pada seisi dunia. Namun hingga saat ini, banyak dari khilafku yang -hanya atas kasih sayangNya- masih juga Ia tutupi. Itupun kadang tak ingat untuk berterima kasih. Masih melenggang dengan nyaman dan mengira diri ini baik-baik saja. Sangat menyedihkan.

“Sungguh saya telah mengetahui bahwa ada suatu kaum dari ummatku yang datang pada hari Kiamat dengan membawa kebaikan sebesar gunung Tihamah yang putih, lantas Allah menjadikannya sia-sia.”Tsauban berkata; “Wahai Rasulullah, sebutkanlah ciri-ciri mereka kepada kami, dan jelaskanlah tentang mereka kepada kami, supaya kami tidak menjadi seperti mereka sementara kami tidak mengetahuinya.” Beliau bersabda:“Sesungguhnya mereka adalah saudara-saudara kalian dan dari golongan kalian, mereka shalat malam sebagaimana kalian mengerjakannya, tetapi mereka adalah kaum yang jika menyepi (tidak ada orang lain yang melihatnya) dengan apa-apa yang di haramkan Allah, maka mereka terus (segera) melanggarnya.”(HR Ibnu Majah – 4235)

Faghfirlana ya Rabbana..

Jejak Tesis [4] : Serangan Distraksi dari Berbagai Lini

Bismillah
Sayang sekali ya Februari tidak ada cerita di sini. Padahal sudah bertekad minimal sebulan sekali ada cerita yang tertorehkan. Untuk kesekian kalinya, tekad tinggal tekad..tanpa kesungguhan di dalamnya. *sigh

Beberapa waktu yang lalu, orang sebelah semangat sekali bercerita. Katanya tak lama lagi akan ada kampus bertaraf internasional yang akan dibangun tak jauh dari rumah, khusus untuk mahasiswa pascasarjana saja. Lantas dengan semangat dia menyuruh saya:

"Bun, pokonya kamu nanti habis lulus ini sekolah lagi ya! Jangan berhenti sampai sini.."

Yang berbicara adalah orang yang telah menyelesaikan jenjang pendidikannya hingga jenjang tertinggi, lalu menukik kembali, mencari jenjang di bawahnya dalam ranah keilmuan lain. Jika sulit untuk dimengerti, singkatnya dia memang terobsesi dengan dunia pendidikan. Begitu kira-kira.

"Memang menurutmu aku ini ada tampang layak jadi mahasiswa Ph. D?"
Haih. Ini saja jika tidak dia yang menyemangati rasanya ko ya mau melambaikan bendera putih saja.

"Kan, kau suka gitu, Meng-under estimate kemampuan diri sendiri. Menurutku kemampuanmu melebihi keyakinanmu atas kemampuan dirimu.."sahutnya.

Aku termangu. Ko ya pede sekali dia komentar begitu.

"Makasih loh, kalimatmu sungguh berarti buatku." kulanjutkan dalam hati, tapi entahlah apa ajakanmu itu juga akan sanggup kupenuhi..

Entah ya, aku senang dengan dunia pendidikan, dengan orang-orang yang penuh dengan gagasan pemikiran, dengan diskusi-diskusi hangat yang menutrisi otak. Tak ada yang tak kusenangi dari sini. Hanya saat di akhirnya, ujian itu memang selalu ada. Menyusun tugas akhir!

Alasannya sederhana, karena tugas akhir ngga seperti mata kuliah lain yang jelas kapan harus berakhirnya. Kalau belum selesai sekarang bisa nambah lagi semester depan. Maka tantangan besarnya adalah membuat deadline sendiri dan berdisiplin dengan diri sendiri. Ini beneran tantangan besar kali lah buat orang yang terlalu baik dengan dirinya macam aku XD XD

Tapi gimanapun juga, kali ini ngga bisa banget berhenti di tengah jalan kaya yang udah pernah terjadi sebelumnya. Kali ini HARUS banget selesai. Selain karena ini adalah kesempatan kedua, kali ini juga yang membiayai adalah negara. Ya ampun, negara gitu! Padahal masih banyak yang lebih membutuhkan dibanding aku ini. Fakir miskin dan anak terlantar masih bertebaran. Dan diantara uang negara itu, ada yang tersalurkan untuk menyekolahkanku. Berharap sesuatu dariku di kemudian hari. Oh sungguhlah terlalu jika aku tidak menyelesaikan tugasku kali ini -.-

Jadi marilah kita hilangkan berbagai distraksi yang mulai hadir dari berbagai lini. Pasti akan banyak kegiatan yang menyita perhatian kita selama pengerjaan ini. Kegiatan yang kita kira tidak akan mengganggu, semata hanya akan jadi penghibur di sela-sela pengerjaan tugas akhir ini. Tapi harap berhati-hati, karena bisa jadi itu hanya kamuflase nafsumu semata yang berasal dari keinginan untuk melarikan diri dari tanggung jawab. Haih.

Yuk ah, waspadalah..waspadalah..
Distraksi ada bukan semata hadir begitu saja, tapi juga bisa jadi kita yang mengundangnya menjadi bagian dari diri kita :)

Crystal Library
09032018