Tuesday, 23 January 2018

Mendua

Bismillah.

Lepas shubuh tadi, Ia bergegas menghampiriku. Baju koko, sarung, dan peci yang Ia pakai saat shalat shubuh berjamaah di masjid belum lagi Ia tanggalkan.

"Kau selingkuh!"katanya sambil mendorong badanku.

Keningku mengkerut. Sedang bayi di pangkuan masih asyik saja dengan mimiknya, tak peduli dengan suara tinggi lelaki yang dipanggilnya ayah itu.

"Iya, aku lihat kau selingkuh dengan ustadz tua! Ustadz tua yang sok-sok masih muda, yang sok-sok nasehati aku saat kulabrak Ia. Antum ga boleh gitu..begitu katanya. HAH! Ga usah lah sok-sok an pake antum kalau berani selingkuh sama perempuan bersuami kayak gitu!"

Aku masih tak mengerti.

"Sebelnya, kau pake acara ngebelain ustadz itu pula! Katamu dia itu dikenal sama orangtuamu. Haih, pengen segera kuusir aja kau dari rumah pas itu.Untung cuma mimpi.."ceritamu, masih dengan nada geram.

Terkekeh aku dibuatnya. Sementara itu Ia semakin menjadi-jadi mengungkapkan kedongkolannya.
Sungguh buatku, kegeramannya itu menjadi suatu hal yang lucu. Lucu sekaligus menenangkan.

Hoo, ternyata dia beneran cinta toh, haha.

**

Rutinitas pagi masih berjalan seperti biasa. Menyiapkan sarapan, hingga mengantar mereka, para lelaki menuju medan perjuangan mereka masing-masing.

Sungguh masih terngiang pesanmu ketika itu:

"Hati-hati kau! jangan main hati!"

**

Seulas senyum kembali terukir pagi itu..

0 comments:

Post a Comment