Tuesday, 23 January 2018

Gempa!

Bismillah

Ada dua kejadian besar versi medan merdeka barat no.15.

Pertama,kejadian kebakaran gedung. Sumbernya di lantai 1 (yang secara tingkatan berada di lantai 5 karena lantai 2-4 adalah parkiran), tapi bahkan kami yang di lantai 1 ngga sadar dengan hal itu. Pas ada perintah evakuasi dari teman di luar, barulah sadar dengan kondisi yang ada. Tangga darurat sudah ramai dengan orang yang sibuk menyelamatkan diri. Ruangan di lantai 1 sudah dipenuhi bau asap yang cukup tebal, memang belum sampai ke ruangan kami asapnya.
Sampai di titik berkumpul di depan gedung,ternyata cukup banyak teman-teman yang sudah berada di sana. Kondisi saat itu hiruk pikuk dengan suara yang bersahutan saling bercerita kisah yang dialaminya di dalam sana. Tak butuh waktu lama,pihak keamanan gedung menyatakan sumber api sudah dipadamkan, dan gedung sudah dinyatakan aman kembali.

Kejadian kedua, hari ini. Lama tak bermain ke kantor, hari ini kusempatkan mampir ke kantor untuk suatu keperluan. Qodarullah, bayi kuajak pergi bersamaku. Selagi asyik mengobrol sembari menggandakan beberapa dokumen yang dibutuhkan, tiba-tiba seorang teman berseru :
"Eh gempa ya?"
"Masa sih?"
"Iya lihat goyang-goyang!"
"Eh iya..eh masih ya..eh ya Allah.."

Posisi ketika itu sedang di depan mesin foto kopi sambil menggendong bayi yang sedari tadi tak mau lepas dari gendongan. Barulah kemudian orang ramai untuk menyelamatkan diri. Semua tertuju dengan dirinya. Maka sembari menggendong bayi, dari lantai 2 gedung (atau lantai 6 secara posisi), kami bergegas menuruni tangga darurat. Selama di tangga, gempa masih berlangsung dan jelas terasa.
Tapak demi tapak anak tangga tak henti membayangkan alangkah kerdilnya manusia di hadapan Yang Maha Kuasa.

Sampai di titik berkumpul yang sudah ramai (lagi-lagi), tampaklah pemandangan orang-orang yang sibuk dengan handphone di telinga mereka. Berkabar sembari menanyakan kabar orang-orang yang mereka cintai di kejauhan sana.

Aku masih menenangkan diri dengan nafas lelah lepas menuruni puluhan anak tangga. Entah berapa jumlah tepatnya, yang jelas cukup untuk membuatku terengah-engah. Kutatap gedung-gedung di sekitar. Ah, si kerdil ini yang seringkali menyombongkan diri di hadapanNya. Yang mengeluh dengan perintahNya, yang menjauh dari rengkuhanNya karena merasa bisa sendiri berusaha.

Sungguh ini hanyalah sepersekian dari kuasaMu yang terbatas. Namun dengan yang sepersekian ini saja aku sudah tak berdaya.

Dari kejauhan kukirim doa untuk mereka di pusat gempa. Semoga Allah selalu menaungi kita dengan rahmatNya..

0 comments:

Post a Comment