Monday, 9 July 2018

Untukmu Diri

Padamu diri kubertanya
Siapa engkau
Apa yang kau cari
Hendak kemana kau pergi

Ada banyak jalan terbentang di depanmu
Dan banyak dari jalan itu membuatmu silau karena gemerlapnya yang menggodamu
Banyak dari jalan itu yang lantas membuatmu kufur dengan segala nikmat yang ada padamu kini
Banyak dari jalan itu yang hanya semakin membuatmu membenci diri sendiri seraya merutuk tak bertepi

Namun di antara jalan itu
Lihatlah
Masih ada satu dua jalan terjal lagi sulit dilalui
Jalan yang tak biasa
Jalan yang tak ramai orang melaluinya
Namu  jalan itulah yang sebenarnya kau cari di antara hingar bingar potret duniawi yang silih berganti

Berhentilah sejenak
Tanyakan pada dirimu apa yang benar benar kau cari
Hal apa yang berhak membuatmu bahagia
Hal apa yang tidak

Hingganya dengan itu kau akan merasa ringan
Dan dapat melihat segalanya dalam nuansa yang lebih baik

10072018

Sunday, 20 May 2018

Tangis Seorang Saudari


Terisak-isak, perempuan itu mendatangiku. Bahunya sesenggukan diiringi tangis yang pilu.

“Kami berantem lagi,”ujarnya.

Aku tersenyum. Percakapan yang sangat jamak kudengar darinya.

“Kenapa? Aku bisa bantu apa?”

“Dia mengatakan..aku bukan istri yang romantis. Dia ingin sesosok istri yang romantis. Yang memanggilnya dengan kata sayang, memilihkannya baju dan memasangkannya dasi..”

“Lalu..kau merasa tidak sanggup?”

“Tidak..sebenarnya aku sanggup-sanggup saja..”

Hening. Aku masih menunggu dia melanjutkan maksudnya. Kalau tidak sanggup lalu kenapa? 
Benakku diliputi banyak pertanyaan.

“Akan tetapi..” dia melanjutkan. “Tak mudah bagiku untuk menyiapkan diri menjadi orang yang selalu bisa romantis dalam segala suasana. Maksudku, Ia bahkan masih belum bisa menjaga moodnya dengan baik. Ia bisa meledak-ledak karena hal kecil yang bahkan tidak pernah kusangka sebelumnya. Lalu dia memintaku untuk romantis. Aku betul-betul ga paham..ga tau bagaimana menata diri menjadi orang romantis di tengah badai yang berkecamuk. Naluriku saat badai itu tiba-tiba hadir hanyalah menjauh menunggu amarah itu mereda..karena aku tak pernah tau perbuatanku yang mana lagi yang bisa membangkitkan amarahnya.”

Kutatap lekat muka itu. Muka milik sosok yang kukenal sebagai orang yang ceria, sekaligus rapuh. Sosok yang kuat, namun juga sangat sensitive.

“Kau tahu..”kataku.

“Bagaimana perasaan Rasul saat pengemis buta terus mencacinya ketika Rasul terus saja menyuapi dan mendengarkan ocehannya? Kau tahu, bagaimana perasaan Rasul saat dengan kasih sayangnya Ia ingin mengajak warga Thaif untuk mengenal Allah, tapi justru lontaran batu dan hujaman caci maki yang harus beliau terima?”

Dia mulai berhenti dari isak tangisnya.

“Tak selalu rasa sayang kita diterima dan difahami oleh orang lain, dan tak selamanya mereka bisa membalasnya dengan kebaikan.”

Hening sejenak.

“Kini aku yang ingin bertanya padamu. Tidakkah kau menyayangimu pasanganmu?”

“Saat ini rasanya tidak.”

Aku terkekeh dengan jawabannya.

“Tapi kau sebetulnya masih berharap Ia bisa memperlakukanmu dengan lebih baik bukan?”

“Iya”

“Kalau begitu kau memang menyayanginya.”

“…”

“Kini tugasmu hanyalah, menata hati. Allah masih berikan itu untukmu karena bisa jadi kau belum lulus dalam ujian tersebut. Bagaimana menata hati yang tengah perih, bagaimana membangun jiwa saat kondisi di luar sana terasa pedih, sebaik dan sesegera mungkin.”

“Lalu semua menjadi tugasku lagi?”

“Hanya jika kau memang masih beriman pada Allah. Bukankah tugasmu hanya terus berusaha? Setelahnya biar Allah yang tentukan.”

“Andai Allah ganti hatinya dengan hati baru yang lembut dan penuh kasih sayang. Pastilah tak sulit membuat diriku menjadi manusia yang paling romantis di dunia.”

Lagi-lagi aku dibuat terkekeh dengan jawaban manusia ajaib di depanku.

“Mengapa hanya andai? Berdoalah dengan kesungguhan. Mintakan selalu padaNya. Allah yang memilihkan ia untukmu, maka kembalikan lagi pada Allah saat dalam perjalananmu ada hal yang kau rasa tak bisa lagi tertangani..”

Tangis sudah mulai mereda.

“Bagaimana aku harus mengatakannya pada Allah?”

“Beristighfarlah. Beristighfarlah saat hajatmu terlalu banyak hingga engkau bingung bagaimana mengutarakannya pada Allah. Beristighfarlah dan biarkan logika Allah yang kemudian mengatur hidupmu..”ujarku.

Sejak itu kulihat Ia menarik nafas yang amat panjang. Memejamkan matanya mencari gelap yang mendamaikan. Sedang bibirnya mulai komat-kamit melafalkan istighfar. Lalu kubisikkan padanya:

“Setelah ini keluarlah, dan perhatikan betapa banyak orang yang miliki hidup yang lebih sedih dari kisahmu. Akan tetapi mereka kuat menjalaninya. Belajarlah dari mereka,”ujarku sembari meninggalkannya dalam kesendirian yang tengah Ia nikmati.

Depok, 21 Mei 2018
"Semoga Allah selalu menuntunmu dalam kebaikan, saudariku.."

Monday, 23 April 2018

FathanBijak's Story: Belajar Bobo Sendiri

Bismillah

Tengah malam begini random zekali ya mak. Hahaha. Gegara lagi punya proyek besar di rumah.

Eta..proyek lama yang mangkrak ga kelar-kelar. Ngajarin duo bujang tidur di kamar mereka sendiri. Susahnya minta ampun ternyata ya -.-'
Sebenernya udah mulai pas kapan tau,tapi ga serius,dan ga konsisten. Dimulai dari permintaan mereka yang menjebak, boleh tidur sendiri, tapi temenin dulu sampe mereka bobo. Lah, mereka bobo kita juga bobolaah. Piye jal. Jadilah menyerah di tengah.

Akhirnya mamak lebih sering mengalah, membiarkan mereka tidur sama ayahnya, dan mamak tidur sama bayi kecil. Kalo ayahnya ga ada, kamipun tidur rame-rame. Mereka bed atas, mamak dan bayi bed bawah, kudu banget double bed, karena kalo tidur di single bed kelamaan berantemnya pemirsa. Semua pengen deket mamak, pusiang.

Dan ya polanya selalu begitu, dipisahkan berdasarkan perempuan dan laki-laki. Walhasil saya dan orang sebelah harus terpisah selalu tidurnya, karena jelas dia laki tulen, dan mamak juga perempuan tulen. Anak-anak ga mau peduli kalo kami udah mengantongi surat nikah yang sah. Laki sama laki, perempuan sama perempuan, peraturan tak tertulisnya tetep begitu. Hadeuh..

Sampe akhirnya kemarin ngerasa sendiri, ko kayaknya belakangan hubungan sama orang sebelah lagi kurang nyambung. Lalu qodarullah baca tulisan pak cah, tentang membiasakan pergi tidur bersama pasangan di waktu yang sama. Plus juga pegangan tangan untuk meningkatkan bonding antara suami dan istri. Wow.

Agak ngerasa amazing sendiri. Selama ini ko ya pikirannya kenapa selalu membangun bonding sama anak. Ngerasa kalo sesama orang dewasa mah insyaa Allah bisa saling memahami. Tapi ternyata ga gitu yaa..hampun deh. Menjalin bonding dengan hal-hal kecil gitu juga akan sangat berpengaruh ke keharmonisan kehidupan berumahtangga, yang jelas bakal berefek positif ke iklim pengasuhan anak. Jiaaahh..emak kemana aje.

Akhirnya terjadilah percakapan singkat antara mamak dan bujang sebelum tidur.

"Jadi mulai kapan mau belajar tidur sendiri?"
"Nantilah usia 10 tahun"

Ini fathan, si sulung yang agak takutan.

"A, aa berani kah tidurnya berdua dang fathan aja? Nanti bunda siapkan hadiah istimewa kalo aa berani dan bisa tidur sendiri 30 hari. Aa boleh pilih hadianya mau apa. Mau?"
"Mauuu..aku berani ko tidur sendiri. Ga apa dang fathan tidur sama bunda sama ayah sama bebeb juga!"

Ini bijak, anak tengah yang selalu selow.

Singkat cerita, mamak dan bujang deal. Fathan gengsi juga ngeliat adeknya semangat dan berani gitu. Hahahaha. Untuk malem ini, seenggaknya sampai menjelang tengah malem, mereka bisa tidur mandiri. Jadi simpulannya malem ini misi berhasil. Alhamdulillah.

Moga konsisten sampe 29 hari ke depan ya, dan bisa sukses sampe seterusnya juga. Aamiin ya Allah.

Depok 23 menjelang 24 April 2018
Mamak yang lagi seneng tidur lagi di samping suamiknya😚

Tuesday, 17 April 2018

Jejak Tesis [7] : Untukmu, Sang Hitam Manis

Bismillah

Planning sudah berkali-kali diubah. Pun begitu ada satu hal yang wajib disyukuri: kecenderungan untuk terus bergerak meski hanya runtutan dari tapak demi tapak kecil. Aah..sangat bersyukur dengan anugerah ini. Setidaknya ada progress yang dilakukan setiap hari. Jika tak menulis, maka sedang membaca. Jika tak menulis atau membaca, maka sedang merenung.

Harus selalu ada interaksi setiap harinya. Harus, jika tak ingin terlupa. Toh sudah berinteraksi secara rutin setiap hari pun target masih saja mundur, apalagi jika tak rutin. Tak bisa membayangkan bagaimana jadinya.

Satu pelajaran penting dalam fase ini: selalu temukan tempat dan cara baru dalam mengerjakan penelitian. Karena sungguh sayang jika fase ini berlalu dengan cerita mengenai stres dan penderitaan yang tiada tara. Akan jauh lebih menyenangkan saat setiap fasenya dinikmati dan dirayakan dengan cara-cara sederhana namun amat membahagiakan. Seperti mengerjakan ditemani bergelas-gelas kopi misalnya -.-'

Baiklah, ada kebiasaan ga baik di balik rutinitas baik ini. Tapi percayalah, aku berjanji ini tak selamanya. Tidak sampai aku tuntaskan penelitian yang telah kumulai ini.

Maka tulisan ini dipersembahkan untukmu, kopi. Terima kasih sudah menemani sejauh ini :")

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang sudah menciptakan kopi, sahabat baik para pejuang kampus di akhir masa bakti mereka ♡

Crystal Library
17 April 2018
Member of Javaroma

Monday, 9 April 2018

Jejak Tesis [6]

Bismillah

Sudah lama ya ga gossipin tesis. Saat ini waktu menunjukkan pukul 19.34, dan emak-emak ini baru saja menyelesaikan tugas besar yang selama ini sangat mengganggu. Iyaaaa...revisi jurnal 'bekas' conference di UGM kemarin.

Jadi ceritanya September lalu kan presentasi penelitian yang udah dilakukan kaaan, penelitiannya ga linear sama tesis sebetulnya. Dapet ide spontan dan nulis spontan aja. Laaah qodarullah ternyata direkomendasikan untuk dimuat di jurnal bahasa inggrisnya ugm. Apalah banget tulisan emak-emak yang doyan curhat gini tetiba harus masuk jurnal ilmiah,bersanding sama tulisan keren orang-orang? Haduh.

Maka dari ituuu...karena sungguh ini adalah perkara baik dan kesempatan emas, tak akan kusia-siakan ia begitu saja. Wkwkwk. Padahal sebelumnya udah kirim email minta didrop saja,kutakkuat dengan double blind review yang sungguh takda habisnya ituuu. Etapi mereka malah ngasih keluangan waktu supaya emak rempong ini bisa nyelsein artikelnya sesuai masukan reviewer. Huwaaaaaa...terharuuu. Awalnya. Hahahaha. Awalnya ngira karena tulisanku sedipengenin itu yaaa???

Ternyata bukan karena itu. BWAHAHAHAHA. Alesannya karena mereka udah ngeluarin biaya untuk bayar reviewer. Rrrrrrr. Jadi mau ga mau gitulah kudu dilanjutin prosesnya. Dan hari ini kelar juga akhirnyaaaaa (sampe tahap ini). Makanya kusenang walo dunia ini cuma sementara *sigh

Jadi apa relevansinya sama tesis.
Ya jelas adalah. Jadi besok udah bisa kencan lagi sama tesiskuuu. Yes yes!

Kerjakanlah tesis karena itu super kereeen!!

So proud of u today,yeyy!! *sambil ngaca

9 April 2018
Warunk upnormal membuat hidupku abnormal

Wednesday, 4 April 2018

Tentang Pemecatan (3)


Pemecatan kedua, yaitu dipecatnya Iblis dari syurgaNya. Nah ini kita bakal belajar menempatkan diri di posisi Nabi Adam AS sebagai leluhur kita.

Gitu-gitu, Iblis itu dulunya makhluk yang taat banget sama Allah. Kedudukannya di sisi Allah juga baik. Hingga ya di hari itu semua berubah. Saat Allah menciptakan manusia pertama, Nabi Adam. Sebagai makhluk yang taat, sebetulnya Iblis secara logika berhak siih untuk dapet reward dari Allah. Etapi ternyata hari itu, Allah ‘malah’ mengangkat Nabi Adam sebagai khalifah. Suatu jabatan yang keren!

Padahal kan Nabi Adam baru aja diciptain, nyubi di syurgaNya Allah. Belum kelihatan ketaatannya, dan apalagi, oh apalagi dia ‘cuma’ tercipta dari tanah. Sedang iblis terbuat dari api yang lagi-lagi secara logika makhluk, lebih mulia dan lebih hebat daripada sekedar tanah. Makanya, saat Allah memberi perintah untuk sujud kepada Adam, Iblis enggan. Ingredients lebih oke, kualitas selama ini sudah terjamin, kurang apalagi buat ‘promosi’ kan.  Kenapa bukan guwe? Gitulah kira-kira suara hati iblis saat itu.

Sampailah akhirnya dialog itu terjadi. Iblis memohon usianya ditangguhkan hingga hari akhir, seraya berjanji akan teruss gangguin anak cucu Adam supaya bisa membersamainya di seburuk-buruk tempat kembali, neraka. Kedengkian yang hakiki memang. Hisy.

Lantas apa kabar dengan Adam AS? Apakah beliau baper merasa karena dirinyalah Iblis diusir dari syurga? Ya enggalaaah, emangnya kita segala macem dibaperin. Nabi Adam AS tahu betul, Tuhan yang telah menciptanya adalah Tuhan Yang Maha Mengatur lagi Maha Berkehendak. Absolut, mutlak. Jadi tinggal jalani saja perintahNya. Perkara dengan kehadiran dia Iblis jadi dipecat, ya itu kehendak Allah. Perkara kemudian ada gangguan dari pihak yang dipecat, dalam hal ini iblis, ya fahami aja kalo itu bentuk ujian untuk membuktikan kualitas diri yang sejati di hadapanNya. Ga kurang dan ga lebih.

Inti hikmahnya adalaah, kalo posisimu justru sebagai orang yang menggantikan orang lain yang dipecat, ga usah baper. Kematianmu ga akan ujug-ujug maju jadwalnya lantaran kamu menduduki posisi tersebut. RezekiNya dalam berbagai bentuk pun juga ga akan ujug-ujug menghilang. Kalaulah akhirnya Nabi Adam pun harus keluar dari syurga lantaran ulah Iblis, tapi kan Allah ganti dengan rezekiNya yang lain. Pun Allah juga berjanji bahwa Nabi Adam dan anak cucunya kelak akan pulang kampung ke tempat asal, di keabadian syurga. Syarat dan ketentuan berlaku pastinya.

Memang, semua udah ada yang atur, Allah. Kalo tentang perilaku usil dari pihak yang dipecat sih ya itu tantangan besar yang harus dihadapin. Tapi, seperti kata para motivator, selama tantangan itu ga membunuhmu, maka dia hanya akan menempamu menjadi seseorang yang lebih baik dan lebih kuat dari sebelumnya.

Begitulah kira-kira 2 cerita besar tentang pemecatan yang bisa kita petik hikmahnya. Semoga kita semua bisa bijak menempatkan diri, baik sebagai orang yang dipecat, sebagai orang yang menggantikan orang yang dipecat, ataupun hanya sebagai penonton yang menyaksikan berbagai jenis pemecatan.

Wallahu’alam

Depok, 5 April 2018
Belakangan lagi rame kasus pemecatan ini itu



Tentang Pemecatan (2)


Bismillah

Seenggaknya ada dua kisah besar tentang pemecatan yang layak kita tuai hikmahnya.
Pertama, pemecatan Khalid bin Walid sebagai panglima perang di zaman Umar bin Khattab. Ngga usah panjang lebar lah ya, gugling aja gimana kisah detailnya. Biar penasaran. Wkwk, padahal males cerita. Intinya ya demikian lah, Khalid gitu loh! Gitu gimana? Ya gitu, gugel dong ah, plis.

Ngga ada cerita Khalid bikin Kubu Khalifah Perjuangan, sambil intimidasi kubu khalifah yang lagi dipegang Umar. Padahal fansnya Khalid banyaakkk. Sebenernya sih bisa aja Khalid begitu, ngelaporin Umar ke pihak berwenang misalnya *eeeeehhhh, tapi gimana lagi, dia emang sebener-bener panglima yang luar biasa. Beda lepel ama kita yang demen drama-drama manjah. Padahal Khalid dipecat dalam kondisi ga ada kesalahan apapun yang dibuatnya. ‘Cuman’ karena kekhawatiran Umar akan pengkultusan Khalid yang bakal berbuntut seolah-olah menang itu karena Khalid, bukan karena Allah. Umar juga menjaga Khalid dari perasaan-perasaan sombong yang dikhawatirkan timbul di hati Khalid.

Ada satu kalimat dari Khalid yang layak kita renungin bersama saat tahu dirinya dipecat Umar. Kurang lebih begini katanya: “Saya berperang buat Allah, bukan buat Khalifah Umar.” Dan emang beneran terbukti, dia masih terussss lanjutin perjuangannya di medan perang sebagai prajurit bawahan. Berkelas banget memang sahabat Rasul satu ini!

Yang ga kalah unik juga adalah penggantinya Khalid. Namanya Abu Ubaidah Ibnu Jarrah. Beda karakter sama Umar dan Khalid yang sama-sama Koleris, Abu Ubaidah ini orangnya ademm. Plegmatis kalo kata orang sekarang. Damaii banget kalo ada di sampingnya. Sebagai orang plegmatis, Abu Ubaidah ga enak hati mau ngabarin ke Khalid ada surat pemecatan yang tertuju buat Khalid sebagai panglima. Etapi, ternyata Khalid memang Khalid. Ga pernah sekalipun Khalid ada dikisahkan melecehkan kepemimpinan Abu Ubaidah lepas kepemimpinan dia. Khalid menempatkan diri sebagai prajurit sejati, tepat seperti julukan Rasul atasnya: pedang Allah yang terhunus.

Nah, dari cerita itu, kira-kira hikmahnya adalah apa bukibuk? Ngga lain ga bukan, NIAT yang IKHLAS. Balikin lagi ke diri kita, kita ngelakuin itu karena apa? Kalo karena Allah, yodah minta balasannya sama Allah. Selesai. Kecuali kalo kita ngelakuin itu karena selain Allah, karena diri kita sendiri misalnya. Karena ingin kejayaan diri atau karena ingin dikenali. Kalo gitu ceritanya sih monmaap, ga ada yang bisa bales. Punya apa juga kita sebagai manusia, hidup aja numpang di bumiNya. Jangankan bisa membalas, salah salah, prestasi kita yang udah jauh-jauh hari keukir pun bisa jadi rontok sekejap karena sama sekali ga bernilai di sisi Dia.

Dan itulah kerugian yang nyata.

(Lanjut Part III)

Tentang Pemecatan (1)




Bismillah

Asli deh, di dunia ini barangkali ga akan ada orang yang suka jika dirinya dipecat, dipecat dari jabatan apa aja. Meski bahasanya diberhentikan dengan hormat sekalipun, rasanya tetep negatif. Kau dibuang dan tergantikan. Pedih.

Bakal berasa lagi pedihnya saat kejadian pemecatan itu ada di puncak kejayaan kita. Wow. Pasti ga mudah. Saat diri merasa sedang berprestasi dan penuh kontribusi, tiba-tiba diberhentikan gitu aja. Respon biasa mestilah: m.e.l.a.w.a.n. Iyalah, ko yo ga tau diri betul itu yang mecat. Ga lihat-lihat kontribusi kita udah sejauh mana. Dikiranya gampang apa ngukir prestasi gede kaya gitu? Belum tentu ada orang lain yang bisa kaya kita, rasain aja akibatnya!

Gambar dipinjam dari sini
             
Maka sejak hari itu, muncullah benih-benih dengki dalam diri. Pas lihat ternyata penggantinya ga lebih baik dari kita, malah seneng sambil keprok nyinyir heboh. Tentu ga lupa sambil terus memuji diri. Giliran yang gantiin kelihatan lebih baik dari kita, dongkol juga dibuatnya. Akhirnya sibuk cari celah di mana kita bisa tetep kelihatan lebih oke punya. Capek-capek deh jalanin idup model begitu, ga tau kapan bahagianya. Padahal katanya yang punya jalan emas (golden Weiss), bahagia itu kita yang nentuin. Katanya sih gitu, beneran apa ngga nya, silakan buktiin sendiri aja :)

Balik lagi ke pemecatan. Ternyata, bukan cuma yang dipecat yang ngerasa ga enak. Orang yang gantiin posisi orang yang dipecat pun juga ga jarang ngerasa ga enak hati. Apalagi saat yang gantiin ini adalah orang yang low profile abiss, dan tahu diri kalo sebetulnya dirinya ga lebih baik dari yang dipecat. Hanya karena mengikuti titah pimpinan, ya semua dijalanin aja gitu. Meskipun lumayan juga risikonya, termasuk risiko dinyinyirin sampe digangguin sama pihak yang dipecat.

(Bersambung ke part II)

Thursday, 29 March 2018

The Next Sripun

Bismillah

Pasti udah tau dong siapa Sripun?
Kalo belom, gugel aja yak, ndak usah manja :P

Kadang nih ya suka ngerasa, ya ampun, nama-nama tenar yang terkenal di seluruh dunia itu beneran ada toh ya? Mereka nyata ternyata ya!

Dan ya, mesti, aku sebagai orang kebanyakan ini juga akan norak kalau betulan ketemu. Wah, ini toh yang selama ini kita lihat cuma lewat layar. Lalu kemudian mengalirlah segala macem impresi kita akan orang itu di dunia nyata yang saat itu kita rasakan.

Terus?

Ya terus jadi bayangin aja, gimana perasaanku kemudian kalo suatu hari nanti (semoga) Allah pertemukan dengan orang-orang yang selama ini cuma ta kenal lewat namanya to'. Orang-orang yang ga pernah kita temuin di layar-layar televisi atau gadget kita.

Rasulullah misalnya.

Apa kira-kira ya yang bakal terjadi?

Yang dikuatirkan saat ini adalah, saat ketemu sama beliau, dan sahabat-sahabat beliau justru sirna norak yang ada. Norak dalam artian positif tapi ya, yang lahir berdasar perasaan mengenali dan dekat dengan orang tersebut. Yang kesisa jangan-jangan justru kebingungan sendiri cari topik pembicaraan, karena ternyata pembicaraan kita ga nyambung dengan kedudukan mereka.

Sederhana aja deh, dari bahasa misalnya. Bahasa arab cuma tau anta anti doang. Dari mengenali keluarga, mash kebolak balik mana kakek mana paman. Dari sejarah kehidupan, ga fasih menyebutkan fase-fasenya gimana dan kapan. Apalagi kalo sampai ngomongin kebiasaan, duh jauh letak kesamaannya.

Lalu jadinya ngobrolin apa coba?

Ngga tau.
Yang jelas mulai sekarang mau ngafalin satu kalimat penting yang mau pertama kali disampaikan:
يا رسول الله أشتاق إليك
Wahai Rasulullah, aku merindukanmu.

Dah, gitu aja. Itupun hasil translate pake gugel.
Haih..

Receh

Bismillah

Merhatiin ga sih? Kalo berantemannya anak-anak kecil itu kedengeran receh banget buat kita.

"BUNDAAA....INI BIJAK JOROK, NEMPELIN UPILNYA KE BAJUKUU" 

"BUNDAAA...DANG FATHANNYA KETAWAIN AKU TADI PAS AKU JATOH"

"BUNDAA BIJAK MELET-MELETIN LIDAH SAMA EJEK AKUU"

"BUNDAA..DANG FATHAN GA MAU BERBAGI"

Atau lain waktu saat Bijak laporan kalo Fathan ada pukul dia.

"Kenapa adekmu dipukul?"

"Soalnya dia liatin aku mulu, aku ga mau diliatin.."

Pelik ya.

Giliran jadi pelapor dan korban, gigih banget nyuruh bundanya supaya minta tersangka yang dimaksud minta maap. Giliran jadi tersangka, banyak banget pledoi nya >.< 

Lalu kusadari peranku di rumah tambah satu sejak beberapa tahun lalu, menjadi penegak hukum. Mulai dari terima laporan, sampe jadi hakim buat para bocah. Haih..

Etapi ya, meskipun receh buat kita, yakin deh, kalo buat mereka tuh itu serius banget. Jadi, kontrolah diri dan mukamu mak, supaya bisa menyesuaikan diri di hadapan anak, dan jadi hakim yang bijak buat mereka.

Sungguhlah, kerecehan kalian ini akan sangat dirindukan di kemudian hari.

Jangan cepet2 gede :")

29 Maret 2018

Tuesday, 27 March 2018

Transformasi

Bismillah

Ini agaknya lebih tepat disebut sebagai penegasan, yang sedikit berbau klarifikasi.

Apa yang kurasa di awalnya adalah, mencintai sebagai seorang istri pada suaminya. Aromanya adalah ketaatan.

Kemudian mencintai sebagai seorang ibu pada  ayah bagi anak-anak yang telah kukandung. Aromanya adalah kasih sayang. Senang melihat dia di sisi anak-anak dan turut serta melindungi mereka.

Dan yang belum lama ini kurayakan adalah transformasi baru,mencintai sebagai seorang teman baik. Aromanya adalah persahabatan.

Jadi, bukan baru mencinta sebetulnya. Hanya baru bertemu dengan bentuk cinta baru yang lebih menyenangkan :")

Alhamdulillah..

Iya cuma mau ngomong itu aja😂😂

Monday, 26 March 2018

Go Internesyenel

Bismillah

Ada satu hal, mimpi yang belum kesampaian hingga hari ini. Mimpi yang bagi sebagian yang lain mungkin terlalu sederhana. Mimpi yang baru teringatkan kembali sejak beberapa hari yang lalu menjalin komunikasi dengan Ummu Rahaf, ibu dari teman sekelas Fathan dari Suriah (beberapa yang lain menyebutnya dari Palestina).

Impian itu adalah tentang menjadi manusia internesyenel.

Bukan hanya sering menjejakkan kaki di luar untuk wisata, akan tetapi memang ada hal yang harus dikerjakan di luar sana. Berkarya, singkatnya. Juga untuk mengenal manusia-manusia di belahan bumi yang lain.

Karena ini impian sudah sejak lamaa, maka sejak zaman yahoo messenger dulu, kusudah memulainya dengan masuk ke chatroom dan berinteraksi dengan manusia dari berbagai tempat yang berbeda. Ada beberapa teman yang masih kuingat hingga sekarang. Masih diingat karena memang dulu pernah diajari bahasa asal mereka. Bahasa urdu, salah satunya. Hingga saat ini ada satu dua kosakata yang masih bisa kulafalkan, meski tak yakin betul artinya apa. Kesan yang tertinggal amat dalam, bahwa pertemanan dengan mereka-orang dari berbaga belahan dunia sana selalu menyenangkan. Banyak hal baru yang bisa kita saling ceritakan satu sama lain.

Rasa senang itu juga yang membuatku senang-senang saja saat ditawari almarhum papap untuk kuliah di luar. Dulu yang ditawarkan beliau ada dua negara, antara Belgia atau Turki, dan ku memilih Turki, ingat sekali. Namun, karena pengumuman tes di dalam negeri lebih dulu diumumkan, apalagi dengan jurusan yang lebih kusukai dibanding jurusan di luar sana, maka akhirnya rencana tersebut berhenti begitu saja.

Meski begitu bukan berarti impian itu padam. Justru sebaliknya, lebih menggebu hingga berkali-kali terbawa mimpi. Aku ingin menengok dunia dan mulai berkarya di luar sana, sungguh..

"Yo wes, nyebrang ke negeri tetangga yuk,"katamu.
"Emoh."

"Ada tour ke Jepang, bisa nih buat kita berangkat berdua,"ajakmu lain waktu.
"Ngga.."

Hingga akhirnya lelaki di sebelah tahu, percuma mengajakku pergi ke tempat-tempat indah di luar sana, sebelum tunai satu impian lain yang lebih penting lagi.

"Aku ingin ziarah dulu ke makam Baginda Nabi. Setelah itu terserah kau akan mengajakku kemana :)"
"Kalau begitu insyaa Allah sesegera mungkin kita ke sana,"tukasmu mantap.

Ah iyaa...sungguh di balik menjadi manusia internesyenel yang selalu terbayang, ada sebuah impian yang lebih dahsyat yang harus ditunaikan. Impian untuk terlebih dahulu menziarahi lelaki istimewa, yang tak hanya dipuja manusia di dunia, tetapi juga sangat dielukan oleh seluruh penduduk langit. Dan ku ingin menziarahinya sebagai pengingat, bahwa menjadi apapun, siapapun, dan kemanapun kita, jadilah dulu yang terbaik bagi Sang Pemilik Bumi dan Langit. Setelahnya tunggulah cara Dia memberimu jalan untuk menjejakkan kaki di seluruh penjuru dunia, seperti impianmu sedari dulu.

27 Maret 2018
Crystal Library

Andai [3]

Bismillah

Ada satu andai yang kufahami menjadi pengandaian terbaik yang harus selalu dipelihara dalam benak kita. "Andai bukan seperti ini, mungkin aku tak akan belajar tentang hal ini.."

Iya! ternyata andai tak selamanya berasosiasi pada penyesalan yang berujung pada ketidaksyukuran. Setidaknya begitu hal sederhana yang kudapati belakangan. Hal yang meruntuhkan semua buruk sangkaku atas andai, sebelum ini.

Andai tak bersamamu, andai tak disisimu, andai bukan kau orang itu...maka tak ada aku yang seperti ini hari ini. Aku yang mendapati banyak pembelajaran Tuhan yang diselipkan dalam kehadiranmu. Aku yang mulai mengenal sisi-sisi gelap dalam diri setelah bercermin padamu. Aku yang berbeda dari hari-hari yang lalu sebelum hadirmu.

Dan aku menyukai diriku saat bersamamu.

Memang membingungkan pada awalnya, mendapati keasinganmu dalam perjalanan hidupku. Kita tak pernah miliki masa-masa dimana kita saling menyimpan kagum diam-diam sebagai seorang teman. Cerita kita juga tak dihiasi dengan rasa berbunga setiap berjumpa, atau bahkan berharap -sangat berharap untuk segera bersama dalam mahligai cinta. Tak ada cerita karena benar-benar tak banyak momen kebersamaan yang tercipta antara kita, sebelum akhirnya kita benar-benar bersama.

Lantas 'tiba-tiba' saja kita bersama dan harus saling menerima satu sama lain XD

Tentu tak mudah bagiku untuk kemudian beradaptasi dengan segala perbedaan latar belakang yang ada. Ditambah lagi kehadiran anak yang langsung Allah hadirkan di antara kita. Ada tangis di sana, ada marah di sana, ada pula kecewa. Dan aku tahu kau pun merasakan hal yang sama di sana. Ah, ya jujur saja. Toh hari itu kita masih sepasang manusia yang sedang tertatih mengeja maksud Dia atas kebersamaan kita. Lantas semuanya semakin terasa menyedihkan saat mulai membandingkan diri dengan pasangan lain. Ah, yang terakhir ini memang kebiasaan buruk yang saat itu belum bisa kuhilangkan. 

Hingga akhirnya kini, 9 tahun berlalu dalam kebersamaan denganmu. Aku bisa dengan bangga mengenalkan bahwa kau adalah sahabat terbaik sepanjang hidupku. 9 tahun memang bukan waktu yang singkat. Namun, tak pernah kusesali seutuhnya, karena ia adalah 9 tahunku yang berharga. 

Jika banyak cerita bahagia di luar sana karena mereka menikah dengan sahabat terbaiknya, menikahi seseorang yang mereka puja -dalam diam dan nyata-, maka justru kebahagiaanku bermula dari menikahi lelaki asing yang kujadikan sahabat  terbaikku selama-lamanya. Dan kini tak ada lagi andai di sana, hanya pengandaian terbaik bahwa andai orang itu bukan dirimu, mungkin tak akan ada aku dengan buncahan syukurku hari ini.

Kau tahu, aku mencintaimu.

Upnormal, 26 Maret 2018

Wednesday, 14 March 2018

Andai [2]


Bismillah

Suatu hari aku tersadar, bahwa kenangan adalah jelmaan dua sisi pisau yang sangat tajam. Satu sisi ia akan membantumu mengingat hal inspiratif yang mendorongmu untuk menjadi lebih baik. Di sisi lain, ia bisa menyiksamu dengan pengandaian atas kenangan yang menyelinap hadir. Pengandaian yang serupa racun, namun mewujud bak madu manis nan menggiurkan.

Barangkali ini juga jawaban atas kisah-kisah kebersamaan, yang harus terceraiberai karena kisah masa lalu yang tak (atau belum) tuntas. Menyimpan kenangan sembari memelihara pengandaian dari sejak ia terlahir hingga membesar tak terelakkan. Lantas saat ada satu dua kesempatan, pengandaian tak ubahnya bagai bensin yang tersambar api, seketika membara dan menyambar apa saja yang ada di sekitarnya. Meluluh lantakkan bangunan kebersamaan yang telah terjalin jauh hari sebelumnya.

Suatu hari aku tersadar, bahwa kenangan adalah jelmaan dua sisi pisau yang sangat tajam. Satu sisi ia akan membantumu mengingat hal inspiratif yang mendorongmu untuk menjadi lebih baik. Di sisi lain, ia bisa menyiksamu dengan pengandaian atas kenangan yang menyelinap hadir. Pengandaian yang serupa racun, namun mewujud bak madu manis nan menggiurkan.

Seperti hari itu, saat dengan ajaibnya, pertama kali dalam kehidupanku setelah menjadi ibu, aku mengikuti cerita drama. Drama korea lebih tepatnya. Seseorang menyarankanku untuk menonton itu. Meski untuk bisa menikmatinya bukan hal yang mudah. Pertama, aku harus menerima tatapan yang luar biasa tajam darinya –kau tau siapa, teman hidupku. Kedua, akupun harus menerima agaknya serupa olokan dari anakku. Mereka tak percaya hari itu aku menjadi perempuan penonton drama korea.

Namun hei, entah mengapa sebegitu terhubungnya aku dengan cerita dalam drama itu. Cerita yang kutahu, fiktif belaka. Akan tetapi, hikmah yang didapat dalamnya, sungguh aku sangat suka. Kisah sepasang manusia, yang berkomitmen untuk hidup sama karena saling cinta. Seiring waktu, cinta membara yang semula dipunya mulai memudar. Hingga berujung pada kata cerai dengan lebih dahulu saling mengungkapkan bahwa andai tak hidup bersama denganmu, maka aku akan lebih bahagia dari hari ini. Andai yang lagi-lagi, serupa racun namun mewujud bak madu.

Singkat cerita, mereka menerima kesempatan untuk bisa kembali ke masa lalu dan mulai mewujudkan apa yang mereka andaikan. Namun ternyata, apa mau dikata, kembali pada masa lalu justru menyadarkan mereka bahwa bukan alur ceritanya yang salah. Bahkan mereka meyakini, pada akhirnya, bahwa apa yang mereka telah miliki sesungguhnya adalah yang terbaik bagi mereka. Kesalahan justru ada pada diri mereka yang tak bijak dalam menyikapi masa kini. Kesalahan ada pada mereka yang ebih memilih berlari menuju masa lalu dengan berbagai iming iming kebahagiaan yang bermula dari sebuah kata sederhana: andai.  

Maka andai dan pengandaian, tak pernah luput dari awasku sejak itu. Sempat suatu ketika ia terbit, maka seketika juga kubenamkan. Setidaknya begitu pelajaran dari yang pernah kualami. Lalai sedikit, ia mulai tumbuh serupa tanaman liar yang tanpa dipupukpun mampu tumbuh sedemikian rupa. Sejak hari itu aku tahu, akan lebih baik meluangkan waktu untuk sejenak melihat ladang kenangan kita, memastikan tidak ada hama yang menyerang di sana. Tak ada pengandaian apapun terlahir di sana, hanya suka cita atas beragam kenangan yang kita miliki. Bahkan untuk kenangan terpahit sekalipun.

15 Maret 2018
04.22, dalam dingin yang menusuk

Andai [1]


Bismillah

Seberapapun inginnya kita, bayangan tetap merupakan sebuah bayang-tak nyata, meski mungkin ada wujudnya dalam imajinasi kita.

Ini adalah cerita mengenai andai, yang menyebut namanya sajapun tak dianjurkan bagi kita. Tak lain, karena ia hanya akan menerbitkan sejuta bayang tak nyata, yang kemudian akan membuka gerbang bagi musuh abadi tuk wujudkan sesal yang tiada guna. Sesal yang berujung pada hilangnya rasa paling berharga –rasa syukur dalam dada.

Sungguhpun cerita mengenai saling mencinta dalam sendiri yang berujung pada kebersamaan selalu menarik –setidaknya bagiku, tapi bukan lantas berarti akupun harus memiliki kisah yang sama bukan? Meski pernah jua merasanya suatu hari di masa lalu. Berdebar saat bertemu, tersiksa atas pedihnya rindu, tersenyum atas hal kecil yang bermakna untukku, seraya berharap gejolak itu lekas berujung di satu titik temu. Namun ternyata cerita itu tak berlaku bagiku. Ceritaku berakhir demikian saja. Tak seperti cerita yang semula ku favoritkan, selangkah demi selangkah menuju kebersamaan dengan cara yang kerapkali membuat tersipu malu.  

Ini adalah cerita mengenai andai, yang menyebut namanya sajapun tak dianjurkan bagi kita. Tak lain, karena ia hanya akan menerbitkan sejuta bayang tak nyata, yang kemudian akan membuka gerbang bagi musuh abadi tuk wujudkan sesal yang tiada guna. Sesal yang lalu berujung pada hilangnya rasa paling berharga –rasa syukur dalam dada.

Mulanya bukan tak sakit, sakit. Sakit dan pahit saat mulai menyadarkan diri bahwa bayang itu tak pernah mewujud secara nyata ke hadapan. Sakit dan pahit saat harus mengakhiri cerita tidak seperti yang pernah diharapkan. Sakit dan pahit, seperti menenggak obat. Ah ya! Obat! Bahkan aku baru menyadarinya sekarang, bahwa setelah menenggak pahit itu aku justru merasa lebih baik. Merasa bahwa yang telah hadir dan mewujud ke hadapan adalah takdir terbaik dari Tuhan. Merasa bahwa kisah milikku akan jauh lebih kaya dari apa yang pernah kudambakan.

Maka hari ini, aku menerima ceritaku sebagai bagian dari masa lalu, yang tentu tak hendak kuhapus dari ingatan. Ia akan selalu selamanya menjadi pelajaran, bahwa ada banyak hal yang mulanya kita kira akan baik jika terjadi untuk kita, namun ternyata tak selalu demikian.

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 216)

Puncak, 15 Maret 2018

Monday, 12 March 2018

Jejak Tesis [5] : Kapan Nyusul

Bismillah

"Yah, kirain apaan.."
"Apa?"kataku sembari menoleh.

Dia Lail, teman sepertesisanku. Halah. Seperjuanganku mengerjakan tesis. Satu bimbingan. Satu sempro-an. Mudah-mudahan juga satu sidang akhir, kelak. Aamiin

"Ta kira fotonya Mba Tiara dan Mba Kiki habis sidang.."komentarnya sembari membuka grup Whatsapp angkatan kami.
"Ternyata?"
"Promo Wingstop, hahaha"
Ditangannya terpampanglah hape dengan gambar paha ayam yang menggoda.

"Aih..kujuga lagi nunggu foto mereka. Mau tak pake buat background laptop.."kataku mencibir
"Iyaa...terus captionnya : Mereka aja bisa, masa kamu ngga bisa. Gitu ya?"
"Hooh, yang lebih singkatnya lagi, Kapan Nyusul?"sahutku

Dan kamipun tertawa lagi sembari menyimpulkan, kalo sesuatu cuma dipikir tuh pasti akan berat. Coba perlahan lakukan, insya Allah akan ringan rasanya.

*
Sudah 12 Maret 2018, dan dua perempuan hebat dari angkatan kami telah memecahkan rekor sebagai gelombang pertama di antara kami yang sudah melewati sidang tesis. Turut berbahagia untuk mereka. Semoga kami-kami ini bisa turut menyusul mereka ya..

Mohon doakan pemirsa..doakan dengan yang sebenar-benarnya :")
*
Penting banget mengingat momen ini dengan jelas, supaya makin sadar bahwa ga ada lagi waktu buat leha-leha. Kebahagiaan dicapai dengan kerja keras. Bukan dengan bengong sembari berharap penelitian kelar tanpa ngelakuin apapun sebelumnya. Zzzzzz -.-

*

Perpus Kristal, 12 Maret 2018
Mari Bung Rebut Kembali

Friday, 9 March 2018

Super CCTV

Bismillah.

Apa jadinya sih jika hal-hal konyol yang kau lakukan dalam kesendirian ternyata terekam dan menjadi konsumsi banyak orang?

Aku sendiri betul-betul tak dapat membayangkannya.

Ini semua bermula dari postingan mamah di grup whatsapp keluarga. Kali itu mamah memposting sebuah video yang menampilkan seorang imam sholat yang sedang memperdengarkan bacaan qur'an dengan suara merdu. Sedang di belakang imam itu terlihat makmum yang khusyuk mengikuti sang imam. Semua rasanya normal saja di detik-detik awal. Apalagi caption mamah pada video itu sekedar mengklarifikasi, "Ini si A bukan sih?"

Sampai pada detik-detik selanjutnya terjadilah hal yang mencengangkan. Terdengar notifikasi pada hp sang imam,lalu dengan ajaib,imam pun mengambil hp dalam sakunya. Kukira awalnya hp itu akan dinonaktifkan. Pikirku imam lupa mengubah mode nya menjadi hening. Akan tetapi ternyata tebakanku salah. Alih-alih mengubah mode dan mengembalikannya ke dalam saku,sang imam justru tampak beralih fokus pada hp nya. Sedang bacaan dari mulutnya masih tetap terlantun dengan merdu seperti tak ada apa-apa.

Pertama kali memutar video tersebut aku terkekeh sembari berkomentar. 'Canggih' ni ustadz! Tentu canggih yang kumaksud lebih ke arah,parah ni ustadz,bisa-bisanya -.- Berkali-kali melihat videonya,ternyata justru menghadirkan rasa yang lain dalam benakku. Bukan,tentu saja bukan perasaan semacam "Ustadznya ganteng juga ternyata" rrrr,ini lebih semacam: "Ya ampun,padahal kalo semua khilafku dalam sendiri Allah bukakan tabirnya ke banyak orang saat ini,pastilah lebih parah dari apa yang sekarang kulihat dari sang imam..."

Lalu speechless. Hilang sudah rasa ingin tertawa.

Hei, video singkat itu hanya sepersekian dari cuplikan hidupnya sang imam. Bisa-bisanya aku menertawakan orang yang hidupnya sangat bisa jadi lebih baik dari hidupku. Sedangkan CCTV atasku pun terus berjalan merekam semua gerak gerik dalam hidupku. Dalam ramai dan sendiri, dalam gelap dan terang, dalam taat dan maksiat. Semua terekam di sana.

Sayangnya, malah sering terlupa, atau pura-pura lupa. Padahal Sang Pemilik CCTV bisa kapan saja membeberkan hasil rekamannya pada seisi dunia. Namun hingga saat ini, banyak dari khilafku yang -hanya atas kasih sayangNya- masih juga Ia tutupi. Itupun kadang tak ingat untuk berterima kasih. Masih melenggang dengan nyaman dan mengira diri ini baik-baik saja. Sangat menyedihkan.

“Sungguh saya telah mengetahui bahwa ada suatu kaum dari ummatku yang datang pada hari Kiamat dengan membawa kebaikan sebesar gunung Tihamah yang putih, lantas Allah menjadikannya sia-sia.”Tsauban berkata; “Wahai Rasulullah, sebutkanlah ciri-ciri mereka kepada kami, dan jelaskanlah tentang mereka kepada kami, supaya kami tidak menjadi seperti mereka sementara kami tidak mengetahuinya.” Beliau bersabda:“Sesungguhnya mereka adalah saudara-saudara kalian dan dari golongan kalian, mereka shalat malam sebagaimana kalian mengerjakannya, tetapi mereka adalah kaum yang jika menyepi (tidak ada orang lain yang melihatnya) dengan apa-apa yang di haramkan Allah, maka mereka terus (segera) melanggarnya.”(HR Ibnu Majah – 4235)

Faghfirlana ya Rabbana..

Jejak Tesis [4] : Serangan Distraksi dari Berbagai Lini

Bismillah
Sayang sekali ya Februari tidak ada cerita di sini. Padahal sudah bertekad minimal sebulan sekali ada cerita yang tertorehkan. Untuk kesekian kalinya, tekad tinggal tekad..tanpa kesungguhan di dalamnya. *sigh

Beberapa waktu yang lalu, orang sebelah semangat sekali bercerita. Katanya tak lama lagi akan ada kampus bertaraf internasional yang akan dibangun tak jauh dari rumah, khusus untuk mahasiswa pascasarjana saja. Lantas dengan semangat dia menyuruh saya:

"Bun, pokonya kamu nanti habis lulus ini sekolah lagi ya! Jangan berhenti sampai sini.."

Yang berbicara adalah orang yang telah menyelesaikan jenjang pendidikannya hingga jenjang tertinggi, lalu menukik kembali, mencari jenjang di bawahnya dalam ranah keilmuan lain. Jika sulit untuk dimengerti, singkatnya dia memang terobsesi dengan dunia pendidikan. Begitu kira-kira.

"Memang menurutmu aku ini ada tampang layak jadi mahasiswa Ph. D?"
Haih. Ini saja jika tidak dia yang menyemangati rasanya ko ya mau melambaikan bendera putih saja.

"Kan, kau suka gitu, Meng-under estimate kemampuan diri sendiri. Menurutku kemampuanmu melebihi keyakinanmu atas kemampuan dirimu.."sahutnya.

Aku termangu. Ko ya pede sekali dia komentar begitu.

"Makasih loh, kalimatmu sungguh berarti buatku." kulanjutkan dalam hati, tapi entahlah apa ajakanmu itu juga akan sanggup kupenuhi..

Entah ya, aku senang dengan dunia pendidikan, dengan orang-orang yang penuh dengan gagasan pemikiran, dengan diskusi-diskusi hangat yang menutrisi otak. Tak ada yang tak kusenangi dari sini. Hanya saat di akhirnya, ujian itu memang selalu ada. Menyusun tugas akhir!

Alasannya sederhana, karena tugas akhir ngga seperti mata kuliah lain yang jelas kapan harus berakhirnya. Kalau belum selesai sekarang bisa nambah lagi semester depan. Maka tantangan besarnya adalah membuat deadline sendiri dan berdisiplin dengan diri sendiri. Ini beneran tantangan besar kali lah buat orang yang terlalu baik dengan dirinya macam aku XD XD

Tapi gimanapun juga, kali ini ngga bisa banget berhenti di tengah jalan kaya yang udah pernah terjadi sebelumnya. Kali ini HARUS banget selesai. Selain karena ini adalah kesempatan kedua, kali ini juga yang membiayai adalah negara. Ya ampun, negara gitu! Padahal masih banyak yang lebih membutuhkan dibanding aku ini. Fakir miskin dan anak terlantar masih bertebaran. Dan diantara uang negara itu, ada yang tersalurkan untuk menyekolahkanku. Berharap sesuatu dariku di kemudian hari. Oh sungguhlah terlalu jika aku tidak menyelesaikan tugasku kali ini -.-

Jadi marilah kita hilangkan berbagai distraksi yang mulai hadir dari berbagai lini. Pasti akan banyak kegiatan yang menyita perhatian kita selama pengerjaan ini. Kegiatan yang kita kira tidak akan mengganggu, semata hanya akan jadi penghibur di sela-sela pengerjaan tugas akhir ini. Tapi harap berhati-hati, karena bisa jadi itu hanya kamuflase nafsumu semata yang berasal dari keinginan untuk melarikan diri dari tanggung jawab. Haih.

Yuk ah, waspadalah..waspadalah..
Distraksi ada bukan semata hadir begitu saja, tapi juga bisa jadi kita yang mengundangnya menjadi bagian dari diri kita :)

Crystal Library
09032018

Thursday, 25 January 2018

Jejak Tesis [3] : Aroma Pasca Sidang

Bismillah..

Dari dulu ada satu hal yang nyaris tak pernah dilupakan saat akan menghadapi suatu hal yang besar: minta restu orangtua. Sungguh lisan mereka denganNya nyaris seperti tanpa jeda.

Seperti halnya yang kulakukan pagi itu saat hendak berangkat ke kampus untuk menjalani sidang proposal. Tentu ini adalah tonggak penting dalam perjalanan akademisku. Pun begitu,sedari malam sebelum sidang,aku baru menyadari masih banyak kekurangan pada draft yang kukumpulkan.

Jangan ditanya perasaannya seperti apa, dag dig dug pastinya. Semua bermuara pada kekhawatiran kalau-kalau penguji fokus pada yang cacat tersebut. Memang selalu saja ada yang rasanya kurang pas ya,padahal sebelumnya sudah sebisa mungkin memastikan semuanya baik-baik saja. Ga heran kalo kata dia,penelitian yang baik indikator utamanya adalah penelitian yang selesai.

Percuma ide besar, metode canggih,kalau diselesaikan pun tidak. Oleh karenanya mengejar sempurna bagi sebuah penelitian nyaris dikatakan susah dicapai. Pertama karena manusia sulit berpuas diri,kedua karena sepandai-pandai manusia sekalipun, tak pernah ia terhindar dari keliru. Jadi cukup jalani sebaik mungkin, dan selesaikan. Biarkan setelah itu kita membuka diri untuk pandangan-pandangan lain yang akan memperkaya penelitian kita.

Begitu sabda seseorang :D

Lalu di titik inilah aku berada kini. Telah melewati hal yang sebelumnya pernah menghantui. Dan lihatlah di hadapan sana hantu-hantu itu tak pernah berhenti menampakkan diri. Patah tumbuh hilang berganti. Keniscayaan yang tak dapat dipungkiri.

Pun begitu, satu hal yang harus selalu dan terus diingat. Jika ia sudah hadir di hadapan kita,maka sungguh Dia yakin kita bisa. Lantas jangan merendahkan dirimu dengan berlemah diri.

Bangkitlah, lalu hadapi, jalani, nikmati😎

Menuju sidang tesis April 2018, bi idznillah..

Tuesday, 23 January 2018

Mendua

Bismillah.

Lepas shubuh tadi, Ia bergegas menghampiriku. Baju koko, sarung, dan peci yang Ia pakai saat shalat shubuh berjamaah di masjid belum lagi Ia tanggalkan.

"Kau selingkuh!"katanya sambil mendorong badanku.

Keningku mengkerut. Sedang bayi di pangkuan masih asyik saja dengan mimiknya, tak peduli dengan suara tinggi lelaki yang dipanggilnya ayah itu.

"Iya, aku lihat kau selingkuh dengan ustadz tua! Ustadz tua yang sok-sok masih muda, yang sok-sok nasehati aku saat kulabrak Ia. Antum ga boleh gitu..begitu katanya. HAH! Ga usah lah sok-sok an pake antum kalau berani selingkuh sama perempuan bersuami kayak gitu!"

Aku masih tak mengerti.

"Sebelnya, kau pake acara ngebelain ustadz itu pula! Katamu dia itu dikenal sama orangtuamu. Haih, pengen segera kuusir aja kau dari rumah pas itu.Untung cuma mimpi.."ceritamu, masih dengan nada geram.

Terkekeh aku dibuatnya. Sementara itu Ia semakin menjadi-jadi mengungkapkan kedongkolannya.
Sungguh buatku, kegeramannya itu menjadi suatu hal yang lucu. Lucu sekaligus menenangkan.

Hoo, ternyata dia beneran cinta toh, haha.

**

Rutinitas pagi masih berjalan seperti biasa. Menyiapkan sarapan, hingga mengantar mereka, para lelaki menuju medan perjuangan mereka masing-masing.

Sungguh masih terngiang pesanmu ketika itu:

"Hati-hati kau! jangan main hati!"

**

Seulas senyum kembali terukir pagi itu..

Gempa!

Bismillah

Ada dua kejadian besar versi medan merdeka barat no.15.

Pertama,kejadian kebakaran gedung. Sumbernya di lantai 1 (yang secara tingkatan berada di lantai 5 karena lantai 2-4 adalah parkiran), tapi bahkan kami yang di lantai 1 ngga sadar dengan hal itu. Pas ada perintah evakuasi dari teman di luar, barulah sadar dengan kondisi yang ada. Tangga darurat sudah ramai dengan orang yang sibuk menyelamatkan diri. Ruangan di lantai 1 sudah dipenuhi bau asap yang cukup tebal, memang belum sampai ke ruangan kami asapnya.
Sampai di titik berkumpul di depan gedung,ternyata cukup banyak teman-teman yang sudah berada di sana. Kondisi saat itu hiruk pikuk dengan suara yang bersahutan saling bercerita kisah yang dialaminya di dalam sana. Tak butuh waktu lama,pihak keamanan gedung menyatakan sumber api sudah dipadamkan, dan gedung sudah dinyatakan aman kembali.

Kejadian kedua, hari ini. Lama tak bermain ke kantor, hari ini kusempatkan mampir ke kantor untuk suatu keperluan. Qodarullah, bayi kuajak pergi bersamaku. Selagi asyik mengobrol sembari menggandakan beberapa dokumen yang dibutuhkan, tiba-tiba seorang teman berseru :
"Eh gempa ya?"
"Masa sih?"
"Iya lihat goyang-goyang!"
"Eh iya..eh masih ya..eh ya Allah.."

Posisi ketika itu sedang di depan mesin foto kopi sambil menggendong bayi yang sedari tadi tak mau lepas dari gendongan. Barulah kemudian orang ramai untuk menyelamatkan diri. Semua tertuju dengan dirinya. Maka sembari menggendong bayi, dari lantai 2 gedung (atau lantai 6 secara posisi), kami bergegas menuruni tangga darurat. Selama di tangga, gempa masih berlangsung dan jelas terasa.
Tapak demi tapak anak tangga tak henti membayangkan alangkah kerdilnya manusia di hadapan Yang Maha Kuasa.

Sampai di titik berkumpul yang sudah ramai (lagi-lagi), tampaklah pemandangan orang-orang yang sibuk dengan handphone di telinga mereka. Berkabar sembari menanyakan kabar orang-orang yang mereka cintai di kejauhan sana.

Aku masih menenangkan diri dengan nafas lelah lepas menuruni puluhan anak tangga. Entah berapa jumlah tepatnya, yang jelas cukup untuk membuatku terengah-engah. Kutatap gedung-gedung di sekitar. Ah, si kerdil ini yang seringkali menyombongkan diri di hadapanNya. Yang mengeluh dengan perintahNya, yang menjauh dari rengkuhanNya karena merasa bisa sendiri berusaha.

Sungguh ini hanyalah sepersekian dari kuasaMu yang terbatas. Namun dengan yang sepersekian ini saja aku sudah tak berdaya.

Dari kejauhan kukirim doa untuk mereka di pusat gempa. Semoga Allah selalu menaungi kita dengan rahmatNya..

Monday, 22 January 2018

Jejak Tesis [2] : Menuju Sidang Proposal

Bismillah

Hari ini tunai sudah draft proposal penelitian diserahkan ke bagian akademik. Apa rasanya berada di titik ini? Kau tau? Takut.

Takut saat harus mempertanggungjawabkan apa yang telah ditulis dengan tangan ini. Takut dengan pertanyaan sulit. Takut dengan hal yang mungkin tak terpikirkan harus dijawab seperti apa,dikarenakan sulitnya tanya tersebut.

Agak mengherankan memang manusia ya. Seringkali dibuat khawatir dengan yang sedikit,padahal ada hal besar dan pertanyaan maha banyak yang benar-benar akan dihadapi untuk pilihab hidup atau mati. Untuk pilihan bahagia atau sengsara. Selamanya.

Namun justru mata dan hati lalai dari yang besar,lantas bersibuk ria dengan yang sepele. Satu dari sekian keherananku atas manusia,atas diriku sendiri.

*

Coba berikan aku kalimat penawar, kataku padamu suatu hari. Di tengah kepenatan menjalani hari-hari dengan renungan panjang yang seperti tak berkesudahan.
Katamu : "Kita sudah melalui banyak sekolah sebelum ini. Kau tahu,sekolah sekolah kita dalam kehidupan sebenarnya. Dan kita bisa. Sekolah formalmu saat ini, sungguh tak seberapa dengan jejak-jejak sekolah yang pernah kau alami, pernah kita alami bersama. Nikmatilah," kerlingmu santai.

Ah kau memang selalu begitu. Tak ada guna mengeluhkan hujan pada mereka yang menikmatinya. Pun demikian aku saat mengeluhkan dinamika ini padamu,karena sejatinya kau adalah penikmat kehidupan.

*

H-3 Sidang proposal penelitian. Sungguh hanya meminta yang terbaik dari sisiMu :"

Wednesday, 10 January 2018

Jejak Tesis [1] : Mengejar Sempro

Postingan perdana di tahun 2018 ya? Ya Allah entah kapanlah rasanya bisa menulis dengan disiplin ini. Mudah-mudahan di tahun ini ada perbaikan lah yaa..karena akan banyak kisah juga di tahun ini.

Seperti hari ini. Iya! hari ini aku menjadi tim hore untuk teman se-gank bimbingan ku, Tia dan Vanya. Wuhuuu...senang rasanya melihat mereka akhirnya sudah menjejakkan kaki ke langkah yang sudah lebih jauh. Tia dengan penelitiannya tentang sharenting di IG, dan Vanya tentang komodifikasi goyangan perempuan pedangdut. Seru? Banget! Bukan sekedar seru mendengarkan tema penelitian yang mereka sampaikan, tapi juga seru dengan nuansa Sempro yang kusuka. Dosen pembimbing yang oke punya, dan dosen penguji yang tenang dan substantif. Ngga ada kesan serem sama sekali. Semua berjalan layaknya sebuah diskusi yang mengalir dan interaktif di cafe-cafe, santai~

Aku dan Lail, teman seperjuanganku hanya bisa saling memandang. Sambil sama-sama menguatkan bahwa pekan depan kita harus segera mendaftar untuk Sempro. Hal itu berarti, mulai hari ini sampai Senin esok, tiada hari tanpa progress yang berarti untuk tesis ini. Harus, wajib, kudu.

Targetnya ngga jauh, Januari kelar Sempro dan mulai penelitian lapangan dan wawancara ini itu. Februari Maret fokus menyusun, April daftar sidang. Insyaa Allah pasti bisa lah ya! Banyak orang sudah melalui ini sebelumnya, dan mereka bisa melaluinya dengan baik. Bahkan sangat baik. Maka tak ada alasan untuk tidak bisa menyelesaikannya sesuai jadwal yang ditetapkan.

SEMANGAT!

Oya, anyway tentang kelanjutan blog ini, insyaa Allah akan ada progress yang lebih baik tahun ini. Sedang mendesain sedemikian rupa agar blog ini kembali produktif. Pokonya, tahun 2018 adalah tahun produktif. Produktif loh ya, bukan reproduktif, wkwk.

Suatu hari saat nge perpus bareng duo bujang..