Thursday, 2 June 2016

Menanti Muhammad Panglima Bijaksana

Melahirkan itu sakit? Iya. Lantas mengapa seperti tak sabar sekali ingin segera melahirkan? Ah, tentu saja karena perasaan bertemu dengan buah hati yang dinanti selama lebih dari sembilan bulan, jauuuh lebih mendominasi dibandingkan dengan rasa sakit saat melahirkan.

Maka rasa sakit ketika melahirkan adalah rasa sakit yang dirindukan, rasa sakit yang akan membawa pada kebahagiaan besar setelahnya. Mungkinkah ini sama dengan kematian? Konon, rasa kematian itu pahit. Sakratul maut itu pedih. Tapi mungkinkah kita bisa bertemu dengan Sang Maha Cinta jika tak alami kematian? Tidak. Kematian itu satu-satunya jalan. Sakit ketika menghadapi sakratul maut adalah sakit yang akan membawa pada perjumpaan dengan Sang Kekasih, jika saja memang kita menganggap Dia sebagai Kekasih yang kita rindukan.

Ya, itu titik tekannya. Seberapa dalam kita merindukan Allah? Seberapa kuat bayang akan pertemuan denganNya melekat dalam ingatan kita? Jika kita masih takut mati, maka mungkin betul, kita tidak sungguh-sungguh menginginkan pertemuan denganNya. Kita masih lebih senang dengan kehampaan dunia dengan kesenangannya yang menipu daya. Semua ini sepertinya masih jauh lebih menyenangkan bagi kita, dibandingkan pertemuan agung dengan Pemilik Dunia.

Kini, aku hanya termenung. Dalam penantian panjang untuk bertemu dengan buah hati yang telah kukandung selama Sembilan bulan ke belakang, kucoba mencari-cari hikmah apa gerangan yang Ia ingin aku memetiknya. Dia biarkan waktu itu terasa panjang bagiku. Hingga mungkin aku bisa belajar dari waktu yang bergulir. Hingga waktu-waktu yang kulewati menjadi lebih berarti. Bukankah Dia tak pernah zhalim atas hambaNya? Maka apapun yang Ia kehendaki, maka itu yang terbaik.

Dan kini, kuterima ujian ini Tuhanku. Muliakan aku atas kesabaran yang tengah kuusahakan. Kesabaran menunggu, kesabaran ketika akhirnya berhadapan, dan bersabar dengan segala hal yang terjadi setelahnya. Sabarkan aku dengan kesabaranMu yang tanpa batas. Biarlah aku menunggu, menunggu, menunggu, hingga waktu yang telah Kau tetapkan tiba. Dengan itu semoga Kau terima aku menjadi hambaMu yang bersabar…

 5 Nov 2012

Menunggu panglima bijaksana


0 comments:

Post a Comment