Thursday, 2 June 2016

Karena Iman Tak Diwariskan

“Apakah kamu menjadi saksi saat maut akan menjemput Ya’kub, ketika dia berkata kepada anak-anaknya, “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab, “Kami akan menyembah Tuhan nenek moyangmu, yaitu Ibrahim, Ismail, dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa, dan kami (hanya) berserah diri kepadaNya.” (QS Albaqarah : 133)

Malam ke 26 ramadhan, pukul 02.30 dini hari. Tubuh mungilnya menggeliat, perlahan matanya terbuka. Begitu menyadari  bundanya tengah terjaga, matanya semakin membulat.

“Assalamualaikum, bangun sayang? Mau ikut bunda makan?”

Memang ada sepiring nasi dengan lauk empat potong nugget di atasnya. Sengaja kutawari karena tadi malam sebelum tidur dia memang belum sempat makan. Tanpa memberi komentar apapun, dia lantas memakan suapan yang sudah saya sodorkan sebelumnya.

“Da..bunda..” panggilnya lepas habis suapan itu dari mulut kecilnya.

“Apa,nak?”

“Gajah juga coyat..hayimau juga coyat..buyung juga coyat..” (Gajah juga shalat, harimau juga shalat, burung juga shalat)

“Betul nak, hewan-hewan itu ciptaan Allah. Semua menyembah Allah..”

“Oo..gitu..” Lantas dia memasukkan suapan lainnya, tak menghiraukan ada rasa heran yang menggelayuti bundanya. Entah kenapa dia tiba-tiba terpikir hal itu, mungkin karena dia melihat setelan bundanya masih lengkap bermukena lalu terpikir tentang hal tersebut.

Lain waktu, ketika diberikan sepiring makanan, dia langsung menyambutnya dengan kata 

“Waaahh…” , diambilnyalah kemudian piring itu, dia  duduk, dan lantas mengucapkan 

“Alhamdulillah…Ayo makaann..”

Ada haru di sana, ya, ada haru yang tak bisa diungkapkan dengan berbait kata. Selalu ada getar tersendiri saat mengajarkan dan mengenalkan si kecil tentang Allah. Membuat dia kenal dan merasa dekat dengan asma-asmaNya. Dan ketika lafal Allah itu terucap dari mulut kecilnya, ada embun yang titisnya terasa sejuk di hati. Ah iya, ini yang kuinginkan, ini yang kuimpikan..

Menjadi madrasah pertama bagi anak-anak : mengajari mereka konsep ketuhanan, mengajari mereka membaca tulis huruf al-qur’an, menuntun mereka mengeja huruf latin, mengajarkan kosakata baru, menjadi pengawas sekaligus teman terbaik bagi mereka, mendengar mereka, menghargai setiap pendapat mereka, menjadi ibu  terbaik bagi mereka di dunia, dan di akhirat.

Maka cukuplah saya dengan hal tersebut. Anak, seyogianya tak cukup menjadi sekedar anak biologis saja. Jika menjadi seorang ibu hanya tentang memberi makan dan membesarkan anak saja, maka hewan pun melakukan hal tersebut. Ini tentang menjadikan mereka anak-anak ideologis kita. Mentransferkan ideology-ideologi kebaikan yang pernah kita dapatkan sebelumnya melalui orang tua kita, guru kita, kerabat kita, lingkungan sekitar kita.

Dogmatiskah? Memaksakan kehendakkah?

Kalau memang saya memahami bahwa hal tersebut merupakan kebaikan, maka justru merupakan kesalahan apabila saya tak menyampaikannya pada yang lain, terutama pada darah daging saya sendiri. Soal dogmatis, pemaksaan kehendak, itu tak lebih dari hanya soal cara. Cara baik insya Allah akan diterima dengan baik juga.

Iman tak dapat diwarisi dari seorang ayah yang bertakwa..-Raihan

Iya, iman memang tak dapat diwarisi.  Oleh karenanya menjadi bagian dari kewajiban kita mengenalkan nilai-nilai keimanan itu agar dekat dengan keseharian hidup mereka, sedini mungkin, hingga mereka terbiasa dengan nilai-nilai keimanan tersebut. Jika sudah terbiasa dan merasa nyaman, maka tinggal mendo’akan agar nilai-nilai itu tetap Allah jaga kemurniannya di hati mereka, Allah jaga tumbuh kembangnya seiring pertumbuhan mereka, dan Allah pelihara mereka hingga mereka menjadi prajurit-prajurit Allah yang menegakkan kalimatNya di muka bumi.

Dan, lengkaplah kebahagiaan di hati saya, sebagai Bunda..

my kids my teacher



0 comments:

Post a Comment