Thursday, 2 June 2016

Kala Cinta Tak Lagi Setia

Mata itu hanya sendu menatap kosong ke depan. Genggaman tangannya erat memegang handphone yang sedari awal bolak-balik ia sodorkan ke saya, memperlihatkan berbagai bukti yang menguatkan ceritanya. Cerita yang kemudian membuat saya belajar tentang arti tegar dan sabar..

Tiga belas tahun sudah kami tak bertemu. Ia teman masa kecil saya, yang saya ingat sebagai perempuan paling cantik dan paling berada diantara kami. Kami tak pernah lagi bertemu sejak saya memutuskan untuk hijrah lepas masa SD, dan menuntut ilmu masa SMP di Depok. Pun begitu saat saya menjalani SMA di Bandung, kami tak pernah bertemu. Sampai pada akhirnya belum lama ini saya mendapatkan kontak BBM nya, dan kami merancang untuk bertemu pada hari yang kami tentukan.

Tak ada yang jauh berbeda darinya, kecuali kini Ia sudah berhijab. Perawakannya mungil, dengan balutan jilbab yang sungguh manis. Setelah bernostalgia tentang masa kecil kami, yang selalu mengundang tawa –dan rindu pada khususnya-, Ia pun memulai kisahnya. Kisah tentang pasangan hidup yang berkali-kali menelikung dan mengkhianatinya. Kisah yang membuat saya berkali-kali menghela nafas, mengundang emosi marah, sekaligus membuat saya ingin memeluknya.

“Ko kamu tetep bisa bertahan siiih? Aku udah ga tau banget kalo ada dalam posisimu udah kaya gimana..,”kataku sedikit mempertanyakan. Bagiku, apa yang menimpanya sudah melebihi ambang batas kewajaran permasalahan rumah tangga pada umumnya. Ini selingkuh loh! Hal yang bagi saya sangat tidak termaafkan.

“Aku masih menaruh harap sama dia, aku pengen jadi jalan bagi dia untuk menemukan kebaikan. Aku pengen ini jadi ibadah utamaku di sisi Allah,”begitu kurang lebih Ia menjawab. Intinya dia merasa tak tega dan kasihan, karena dalam feelingnya, memang ada gangguan yang dialami oleh pasangannya. Gangguan jin, begitu singkatnya. Dari beberapa cerita dan argument yang ia berikan, saya cukup yakin bahwa yang bersangkutan bisa jadi memang mengalami hal tersebut.

“Ya tapi sebenernya kamu juga berhak bahagia kaan? Kamu udah mencoba berkali-kali loh, dan berkali-kali juga kamu diginiin terus apa yang mau kamu perjuangin? Kamu kalo terus-terusan gini emang bahagia?”tanya saya cemas. Disakitin loh, berkali-kali, dalam hal yang sama. Denger ceritanya saya malah misuh-misuh. –Duh ini sayah yang emang orangnya dendaman apa emang dia yang extraordinary dalam memberi maaf siiih. Ko jadi saya yang gemes?-

“Kalo ditanya bahagia, menurut kamu kalo ngeliat aku gini, aku bahagia? Ngga lah han. Udah lewat masa-masa nangisku. Udah beku air mataku. Kadang juga aku bingung, ko bisa ya aku bertahan..”katanya pelan. Berkali-kali ia perlihatkan screenshoot yang membuktikan suaminya selingkuh, berbohong, dan tak mengakui perbuatannya. Berkali-kali juga aku lemas dibuatnya.

“Aku salut sama kamu. Meskipun juga jujur aku ga tau, kamu ini baik banget atau malah gimana ya? Ko bisa gitu loh masih aja baik sama pasanganmu setelah digituin. Moga Allah kasih yang terbaik buatmu ya, dan moga Allah selalu bahagiakan kamu dalam urusan yang lain..”kataku, menyerah. Gagal faham, dan mendadak merasa terhina dina. Dia begitu malaikat..dan selama dia cerita, tanggepan saya ko kayaknya evil banget -.- Sama sekali ga bermaksud untuk ngomporin dia untuk pisah, naudzubillah. Lebih ke arah, kamu tuh berhak bahagia loooh, betulan ga tega dan ga terima kalo liat kamu selalu digituin :( *pengen nangis rasanya* Itu kalo ketemu pasangannya, bawaan saya pengen ngelabrak aja kali ya. Persis kaya waktu prajab, nemu seorang bapak yang kecentilan dan pdkt sama seorang gadis. Pengen ta labrak aja rasanya! Apalagi istrinya lagi hamil di rumah sana..Haiissshh!

***
Lima tahun sudah (akan memasuki usia ke enam) saya menjalani pernikahan. Selama itu pula saya akrab dengan berbagai cerita rumah tangga dari teman, sahabat, saudara, bahkan seseorang yang tidak dikenal. Sampailah pada simpulan, cinta memang perlu dipelihara. Dan catet ya! Tugas itu BUKAN CUMA TUGAS ISTRI. Gemes ga sih kalo denger, “Iya,dia ditinggalin sama suaminya, gara-gara udah ga ‘fit’ lagi.”You know what I mean lah ya. Tapi kan dia itu ibu yang udah ngelahirin anak-anakmu loh para bapaaak! Dan emang pernikahan dan Cinta cuma tentang itu doang ya? Sempit amat cara mikirnya. ADA LOH suami yang tetap bertahan setia sama istrinya yang sakit dan tanpa daya, dan meski sudah diberikan lampu hijau dari istri untuk menikah lagi, dia MEMILIH untuk setia. Dan rasanya itu lebih menggambarkan apa itu cinta..(Let me being so subjective now!)

Memelihara cinta seharusnya menjadi tugas bersama, saling berusaha satu sama lain. Ah, kalo urusan ini sih saya juga masih belum terbukti handal. Seringkali masih ego di depan Bapak RB *sungkem pak RB*. Tapi intinya, sudah sepatutnya suami istri saling memahami apa yang diharapkan dari masing-masing pasangannya, dan berusaha keras untuk memenuhinya, dan saling memahami hal-hal apa saja yang dibenci pasangannya dan berusaha keras untuk menghindarinya.

Bener ga sih? Kalo ditanya pengen bahagia, semua pasangan pasti bilang “Iya” kan?

Pertanyaannya, kita tau ga apa yang bikin pasangan kita bahagia? Jangan malah merasa sudah membahagiakan, PADAHAL apa yang kita lakukan bukan indikator kebahagiaan bagi pasangan kita.  Jatuhnya malah menuntut, gw udah ngebahagiaan lo, tapi lo ga bisa membahagiakan gw. Padahal mungkin di sisi lain pasangannya merasakan hal yang sama -.-. Terus ya udah, hidup berumah tangga hanya untuk saling menyakiti. Isy, mana enak sih bertahun-tahun hidup dalam kondisi gitu? Tiap hari ketemu, tiap malem sekasur, tapi kerjaannya berantem mulu? Hayooo..Masak sama temen sendiri bisa akur, bisa ngobrol asik, tapi sama pasangan malah diem-dieman dan saling nyerah satu sama lain sih?

Ini ya yang pertama, TAHU PERSIS apa yang pasangan kita HARAPKAN dan BENCI, sehingga kita bisa berfokus saling mencinta dan membahagiakan SESUAI dengan keinginan pasangan. Bukan hanya dalam angan. Karena percayalah, setiap orang punya CARA SPESIAL yang membuat dia merasa dicintai. Jangan pernah pake standarmu  dalam mencintai, karena bisa jadi beda.Ada yang ngerasa dikasih bunga itu bentuk romantisme dan akan membuat dia dicintai, tapi ada juga yang apaan sih, lebay banget. Cukup misalnya didengerin curhatnya aja deh, ga usah pake bunga-bunga an, misalnyaa..

Kedua, ya KOMIT sama poin pertama tadi! Kita punya resep untuk membahagiakan  dia, pun dia sama. Jangan kurangi takaran resepnya, pastikan sudah sesuai dengan takaran yang dibutuhkan. Fokus sama tugas kita aja, jangan heboh nuntut dari pasangan, tapi sendirinya lupa kalo ternyata dia belum mengerjakan proyek kebahagiaan bagi pasangannya. Insya Allah kalo kita udah focus sama tugas kita, kita juga bakal dapet hal yang sama dari pasangan kita. *kalo ngga, ketok aja pasangannya :P

Ah, tapi balik lagi sih kalo kita cuma manusia yang butuh proses. GA GAMPANG memang membuat perubahan. Saya yakin, dalam list kebahagiaan pasangan kita, mesti ada satu dua hal yang baru bagi kita. Dan hal itu menuntut kita untuk melakukan kebiasaan baru, dan melakukan kebiasaan baru pun butuh beradaptasi, dan waktu untuk beradaptasi bagi orang itu beda-beda. Jadii..BERSABARLAH! dan BERHUSNUDZONLAH! Just stay focus on ur list! Dan lihatlah perubahan apa yang terjadi..(cuma liat aja sih, ga janjiin apa2 :D)
***
Pada akhirnya, memelihara cinta bermuara pada simpulan untuk selalu bernaung di bawah Sang Pemilik Cinta. Bila Dia yang miliki cinta, maka Dia juga yang berhak membolak-balikkan cinta. Minta selalu Dia semaikan cinta kita pada pasangan sah kita, dan kita pinta pula dariNya cinta pasangan kita pada kita. Hingga setiap detak cinta yang kita rasa, setiap tetes keringat  yang bercucuran dalam upaya memeliharanya, menjadi suatu nilai kebaikan di sisiNya..


Bogor 11 Mei 2015
Tulisan lama, baru ditemukan dan diposting di mari

0 comments:

Post a Comment