Thursday, 2 June 2016

Dibalik 2 Juni 2010



25 Mei, 6 tahun yang lalu.

Menurut taksiran dokter berdasarkan Hari Pertama Haid Terakhir (HPHT), Hari Perkiraan Lahir (HPL) janin dalam perut saya adalah hari ini. Meskipun begitu, dari hari-hari sebelumnya tak ada sedikitpun tanda-tanda yang mencirikan bahwa janin sudah akan lahir. Seolah dia tahu, emaknya masih harus menyelesaikan beberapa tugas akhir semester yang belum kunjung usai. Di hari ini pun juga saya masih asyik melenggang berkunjung ke perpustakaan Unpad Dipatiukur untuk mencari beberapa referensi untuk menyelesaikan tugas MPK 2. Dengan ditemani oleh Ayah RB tentunya, sang suami siaga ples temen diskusi sesama mahasiswa. Di rumah, semua perlengkapan bayi sudah siap dari bulan-bulan sebelumnya, maklumlah, anak pertama. Bahkan nin dan buyanya pun juga sudah menyiapkan segala macam untuk menyambut kehadiran cucu laki-laki pertamanya.

Pun begitu, agaknya memang kami masih harus bersabar, karena beberapa hari setelahnya pun masih juga belum ada tanda yang menjurus. Hikmahnya? Alhamdulillah masih bisa fokus mengerjakan tugas. Dan saya pun tak ambil pusing.

31 Mei 2010

Beberapa hari lepas HPL, saat semua tugas kuliah sudah diselesaikan.

“Hmm..udah melewati batas waktu ya? Kalo gitu besok kita induksi aja ya pake tablet. Biar saya cari dulu stok tabletnya,”kata Bidan Desi.

Esok sorenya, pada tanggal 1 Juni, saya dan suami segera mendatangi praktik Bidan Desi di bilangan Cigugur, Cimahi. Saya akan melewati proses induksi (pemberian stimulant untuk mempercepat kontraksi dan kelahiran). Induksi yang saya jalani saat itu adalah induksi melalui tablet. Setelah semalamnya saya browsing, barulah saya tahu, bahwa efek dari tablet  termasuk cepat. Ah, tentunya ini terasa kompleks bagi saya. Satu sisi ada kebahagiaan karena rindu mendalam pada si janin akan terbayar dengan pertemuan yang tak akan lama lagi. Namun, di sisi lain, sewajarnya saya merasa khawatir. Ini proses melahirkan yang pertama bagi saya. Entah akan seperti apa jadinya, saya hanya berharap bisa melahirkan secara normal saja. Selain pemulihan yang lebih cepat, biayanya pun jauh lebih ringan. Dan di Bidan Desi inilah saya berencana untuk menjalani proses melahirkan tersebut.

Sebagian tablet untuk induksi itu dimasukkan dalam jalan lahir, sebagian lagi dibekalkan ke rumah untuk diminum.

“Kalo yang udah-udah, pagi ini minum, besoknya biasanya udah lahiran,”kata bu Bidan.
Saya hanya tersenyum mengiyakan. Sambil berharap cemas.

“Ya ampun, moga prosesnya lancar. Lancarkan ya Allah..”

Dan ternyata benarlah, efek tablet itu sungguh cepat. Belum sampai di rumah, saya sudah merasakan kontraksi di daerah rahim. Awalnya hanya terasa seperti mulas mulas biasa, hanya agak melilit. Kondisi itu tak berubah, bahkan justru saya rasakan lebih parah saat menginjak malam hari. Saya ingat betul, ketika itu saya tengah ber sms ria dengan kawan baik saya, sebut saja namanya nurida.

“Ya ampun dun, emak kita tuh hebat banget ya, bisa nahan sakit sesakit ini.”

Woho, begitulah, saya merasakan sakit itu semakin berlipat. Semalam suntuk saya tak bisa tidur. Padahal malam-malam sebelumnya pun saya tak tidur, karena harus mengebut menyelesaikan  tugas MPK 2. Saat sakit datang, saya mencoba rebahan di sofa, sambil mendengarkan surah maryam.

Ya, inilah cita-cita saya. Saya ingin melahirkan dengan semangat bunda maryam. Saya ingin selalu ingat bahwa Allah akan menguatkan saya, seperti Allah menguatkan bunda Maryam. Dan tentu, bermula dari semangat itu jugalah saya berkeinginan untuk melahirkan dengan terus dibantu asupan kurma sebagai sumber tenaga. Selain emang karena ga demen juga sama telor ayam kampung mentah :)

 Semakin malam, semakin tak bisa tidur. Cemas sembari menahan sakit.

Kita ke bidan sekarang aja apa, han?”tanya suami yang terlihat cemas melihat kondisi saya ketika itu.

“Ah, ngga. Ntaran aja bang, nunggu sakitnya sakit banget.” Hmm, ini tentu jawaban yang sangat beralasan. Pasalnya, kemarin ibu bidan cerita bahwa ada pasiennya yang sudah masuk ke pembukaan 5, dan diminta untuk pulang lagi, masih lama katanya, kasihan. Ah, saya nggak ingin ketika saya ke bidan nanti disuruh pulang lagi. Harapan saya, saat sampai di bidan, sudah dinyatakan pembukaan 9 dan siap melahirkan. Makanya saya ingin menunggu agar benar-benar merasakan sakit.

02 Juni 2010

“Han, bangun. Sholat..”

Suamiku baru saja pulang sholat subuh dari masjid. Adapun saya masih tergeletak antara tidur dan tidak. Saat mencoba untuk bangkit tiba-tiba..

“Loh, ko ada cairan keluar yah?”

“Hah, masa sih?”

“Iya bener.” Sambil mencoba duduk. Namun yang terjadi malah..

Byuur..byuur..cairan itu keluar dengan volume yang tak sedikit. Cukup untuk membasahi baju, seprai, kasur, dan lantai kamar.

“Hah, ko makin banyak. Aduh, panggil umi..”

Kondisi hening ketika itu berubah ramai. Umi, adik, dan bibi-bibi dapur serentak mendatangi kamar. Ada rasa cemas dalam wajah mereka. Namun mereka tutupi dan mencoba untuk tegar sambil menguatkanku.

“Wah, neng, bentar lagi bakal ngelahirin. Sing kuat nya neng..”kata bi Tati

Sementara umi sibuk berdiskusi dengan abi yang saat itu hendak pergi ke luar kota. Sembari bibi dan adik menyiapkan keperluan melahirkan saya, umi datang lagi.

“Kata abi udah melahirkan di rumah sakit herm*na aja..” Keputusan ini muncul tentu karena peristiwa munculnya air itu.

Tapi mi, kami udah menghubungi bidannya. Udah bilang akan ke sana sekarang..”kata suami.

Akhirnya sepakatlah kami untuk terlebih dahulu ke bidan, baru jika tidak memungkinkan akan dibawa ke rumah sakit. Saya, suami, dan umi berangkat ke bidan ketika itu. Baju saya sudah kuyup dengan air yang hingga saat ini masih kontroversi, ada yang mengatakannya sebagai ketuban, ada juga yang mengatakannya sebagai cairan pembuka. Saya tak terlalu mengerti. Yang jelas ketika itu badan sudah lemas karena cemas si bayi akan kehabisan air dan tak bisa bernafas.

Sampai di bidan, bidan langsung memeriksa tahap pembukaan, Dan ternyata, saya baru pembukaan satu, itu pun belum lengkap. Posisi baby pun masih di atas. Haduh. Lengkap sudah. Merasa makin cemas, umi memohon bidan untuk mendampingi kami ke rumah sakit saja. Berhubung bidan Desi ini bidan yang kami kenal baik, ia pun bersedia memenuhi permintaan kami.

Umi mengubungi abi bahwa kami akan segera ke rumah sakit. Abi langsung bergerak ke rumah sakit, sembari siap-siap untuk pergi keluar kota setelahnya. Tak lupa, abi juga yang menghubungi kawan dekatnya, yang tak lain adalah dokter obgin yang membantu proses kelahiran saya. Malangnya, kami terjebak kemacetan pagi hari di daerah Gunung Batu. Aaargghh,,, lengkap sudah kecemasan saya.  Abi yang sudah sampai di rumah sakit terus-terusan menelpon menanyakan kondisi, khawatir.

Begitu datang, saya melihat abi tengah berbincang dengan sang dokter. Namun saya tak dapat berbuat banyak, karena langsung diminta menaiki kursi roda dan menuju ruang bersalin. Saat melahirkan semakin dekat. Dan saya semakin cemas. Untung saja, selain umi dan suami, ada juga tetangga baik kami, Bu Neneng yang bersedia menemani saya. Ya, berhubung umi tidak sanggup untuk menunggui proses saya secara penuh.

Di ruang persalinan, saya segera mendapatkan perawatan. Bagian yang paling penting adalah, mereka mengukur detak jantung buah hati saya. Alhamdulillah, masih dalam kondisi baik. Sejenak si cemas mulai mereda. Waktu menunjukkan pukul 06.30 pagi ketika itu. Saya tak tahu bahwa perjalanan saya masih panjang.

Sang dokter  kemudian datang, memeriksa kondisi dan menyatakan bahwa saya akan menjalani induksi dengan menggunakan balon. Ada kecemasan, teman dan kakak saya melahirkan dengan cara yang sama, dan kesan mereka hanya satu. Sakit. Ah..tadinya padahal saya berharap semua akan baik-baik saja dan lancar tanpa induksi sana sini. Namun, inilah jalan satu-satunya bagi saya untuk tetap bisa melahirkan secara normal. Dan saya memilih untuk menghadapi saja semua yang akan terjadi.

Cairan bercampur darah tak berhenti keluar. Bahkan untuk berjalan pun saya merasa kepayahan. Padahal pembukaan masih tahap awal. Lalu, dipasangilah alat induksi balon itu. Bentuknya seperti pipa karet yang akan menggembung pada mulut rahim, membantu proses pembukaan. Parahnya, kira-kira pukul 12 si balon itu pecah setelah mengalami tekanan akibat buang air besar. Padahal suster meyakinkan bahwa itu tidak akan berakibat apa-apa, nyatanya tidak begitu.

Kau bisa bayangkan, ada balon pecah  dalam perutmu. Duar! Aneh. Tak lama suster datang, membersihkan sisa-sisa balon. Kalau tidak salah saat itu sudah masuk pembukaan 3.

“Udah dibersihin, sekarang pasang lagi yang baru ya balonnya?”

Hah. Gusti…

Perasaan saya udah banyak jalan, pernah senam (p.e.r.n.ah), dan beberapa kali melakukan peregangan. Merasa sedih? Iyah! Biasalah, masih abege 20 tahun. Heheh, minim persiapan, banyak keinginan. Emak baru yang minim pengalaman dan masih sensitip pake pe :P Dan balon keduapun terpasang hingga sekitar jam 4 sore. Setelah di cek, sudah masuk pembukaan 5. Saya mulai lega. Tapi juga mulai bertanya-tanya, sudah sore, hampir malam. Ah, mungkin tak lama lagi. Etapi ternyata hingga maghrib, bocil dalem perut masih aja anteng. Seolah enggan meninggalkan tempat nyamannya dalam rahim. Emang sih nak, rahim bundamu mestilah anget karena terbungkus lemak yang tebal, hihi. Tapi atulah..kangen..

Sudah maghrib. Sejak pagi masuk ke rumah sakit, sudah berapa ibu yang melahirkan anaknya. Entah itu melalui proses caesar ataupun normal. Deperatos? Iya. Heheh. Padahal mah ga tau kapan mereka datangnya, tapi ngerasanya ya gitulah~ rumput tetangga tampak lebih hijau. Ko orang gampang bener ya lahirannya, kaya ser-seran langsung keluar begitu aja dengan sekali bersin (?). Hahah. Baiklah itu imajinasi lebay yang datang dari jiwa putus asa yang ngga boleh dibiarkan merajalela.

Akhirnya dalam sisa-sisa tenaga, langsung membayangkan perjuangan ibu-ibu di Palestina. Atulah, mereka mah ga pake dibantu dokter..di bawah ancaman bom dan peluru yang berdesingan. Ga ada kata manja. Anggap aja ini jihad qital yang sedang Allah berikan sebagai peluruh dosa. Ah yes! Semangat lagi, mulai mengendalikan nafas lagi. Mengingat teori yang selama ini dipelajari. Nafas panjang untuk pembukaan awal, nafas pendek dan cepat untuk pembukaan akhir. Okeeeyy! Berhasil? Ngga juga. Hihi. Masih berasa sakitnya. Duh, harus mulai berimajinasi lagi untuk mengalihkan perhatian dan mengendalikan rasa sakit.

Saat itu, qodarullah tengah memanas tragedi mavi marmara (bisa googling apa yang terjadi ketika itu). Sesaat sebelum proses lahiran saya memang sempatkan untuk update berita yang sedang terjadi. Ah kemudian langsung membayangkan, barangkali inilah rasanya perjuangan yang dialami oleh para mujahid mujahidah di berbagai wilayah konflik. Sakit yang teramat sakit. Namun mereka bisa kuat, mereka bisa, dan saya juga harus bisa. Sesaat kemudian, rasa sakit mulai bisa dikendalikan kembali. Iya, sebelum akhirnya mencoba induksi tahap 3.

“Oke, karena masih berjalan lambat, kita akan coba dengan jalan induksi lewat cairan infusan ya..”kata perawatnya ketika itu.

Duh, lemes. Kata orang (lagi-lagi kata orang, hehe) itu rasanya lebih sakit dari tipe induksi manapun. Meskipun belakangan saya akhirnya sadar, sakit ga sakit itu sangat relatif. Banyak juga yang tak mempan dengan diinfus. Kalau saya termasuk yang kembang kempis dengan induksi infusan. Nikmatnya polll bangetttt...dan emang cepet pisaaaan..

Sejak dipasang induksi infusan ba’da maghrib, pembukaan berlangsung lebih cepat. Dan tentu, semakin bertambah pembukaan, kenikmatan itu pun semakin bertambah. Ga salah orang bilang kalau melahirkan itu adalah puncak pengalaman spiritual bagi seorang perempuan, dimana ia akan merasakan jiwanya berada di ambang batas antara hidup dan mati. Makin nambah pembukaan, makin pengen ngeden seperti layaknya orang kebelet BAB. Etapi kata perawat dan bidannya bilang, jangan ngeden sebelum ada aba-aba ngeden. Sampe nangis ngemis-ngemis minta ngeden..

“Mau ngeden ya? Udah boleh belum?” :’(

“Sabar ya bu..belum lengkap bukaannya..”

“Aaaa maaf jadi ngedeen, ga bisa nahaan..” hahaha, dan itu beberapa kali saya ga bisa menahan diri untuk ga ngeden dulu. Spontanitas aja. Sampai akhirnya ga lama dari situ, saat di puncaknya saya bertanya-tanya tentang akhir dari perjuangan ini..para perawat dan bidan mulai sibuk mempersiapkan alat-alat medis menjelang kelahiran bayi. Betulan ga lama lagi dari sekarang.

Dokter baru datang di saat menjelang kelahiran memang, dan alhamdulillah..dokternya sangat santai dan mampu membawa suasana menjadi lebih tenang. Ia mulai membimbing saya untuk mengejan dengan baik dan benar. Di tengah proses itu, saya mengingat dengan baik bagaimana sang dokter akhirnya menggunting dengan sengaja jalan lahir untuk membantu proses kelahiran bayi saya. Bisa mengingat dengan baik karena memang terasa dengan baik pula seperti apa rasanya ketika itu, hihi.

Akhirnya, setelah proses mengejan selama 3 kali, lahirlah ke dunia seorang bayi shalih yang sangat manis. Rabu, 2 Juni 2010, pukul 21.35, dengan berat badan 3,415 dan tinggi badan 49 cm. Usai melahirkannya, tak ada lagi rasa sakit yang bisa kukenali. Seolah sakit menuju kelahiran adalan anestesi dengan dosisi tertinggi yang membuatmu kebal terhadap sakit apapun yang setelahnya kau jalani. Proses penjahitan jalan lahir pun menjadi hal yang biasa saja ketika itu, kalah dengan suka cita yang dirasa saat melihatnya hadir dalam kondisi sehat dan sempurna.

Fathan Syamil Alkautsar, nama yang kami sematkan padanya. Sang Pembuka, Sang Pemenang, yang menyeluruh (sempurna), dan berlimpah kenikmatan. Dan bayi kecil itulah yang hingga 6 tahun ini menjadi teman setia perjalanan biduk rumah tangga kami. Bayi kecil yang membuat saya berubah status menjadi seorang Ibu, penghargaan tertinggi bagi perempuan manapun di dunia. Bersamanya kami melalui masa-masa indah ngampus bersama, mengerjakan tugas akhir bersama, wisuda (yang tak sama-sama :P), menikmati menjadi kontraktor bersama, hingga di masa sekarang saat perjuangan terus berlanjut dan bertransformasi dalam bentuk yang berbeda. 

Ia adalah Fathan, putra pertama kami. Cerdas, keras, dan berkeinginan kuat. Meskipun begitu, di sisi lain Ia sangat penyayang dan protektif terhadap orang-orang yang Ia sayangi. Curahan do’a kami untukmu, nak. Moga Allah selalu menjagamu dengan sebaik-baik penjagaanNya, membimbingmu untuk selalu berada di jalanNya dalam semua kondisi, dalam ramai dan sendirimu, dan menjadikanmu sebaik-baik generasi muslim di akhir zaman. Aamiin Ya Rabbal Aalamiin.

Depok, 2 Juni 2016
Tulisan lama yang baru diselesaikan.
Peluk hangat: Bunda

pandangan pertama

menjadi ibu :)
Sebulan kemudian..

Beberapa bulan kemudian..



Hingga akhirnya kini menjadi seorang teman diskusi dan bertukar pendapat :)

1 comment:

  1. Dangggg semoga jadi anak sholih,yang doanya senantiasa mengalir utk bunda dan ayah
    Jadi kaka yg hebat utk bijak
    Salam dari amah intan ya :)

    ReplyDelete