Tuesday, 26 January 2016

Tiga!



Nyaris 4 tahun yang lalu terakhir kali merasakan hal ini, trimester pertama kehamilan. Selalu mendebarkan mengetahui bahwa ada makhluk kecil yang tumbuh dan berkembang di dalam tubuh kita. Meski bukan yang pertama, tetapi tetap saja, debaran itu ada, dan sama. Kemudian berkembang menjadi harap, dan sedikit cemas. Lalu karena ini masih trimester pertama, maka perbendaharaan kata ditambah dengan kata : perjuangan.

Bayangkan, jika di hari-hari biasa kita amat bisa berdamai dengan segala bentuk dan jenis makanan, bahkan termasuk yang sulit menahan diri untuk berhenti makan, maka trimester pertama ini sejatinya adalah momen mengendalikan hawa nafsu dan banyak bersabar, melebihi kesabaran saat shaum. Mengapa? Karena sebenernya boleh makaaan..tapi ga bisa makaaan. Kepengen makaan..tapi susah makaan. Kaya apa dong tuh? Ujung-ujungnya ya gitu, menunggu wangsit kira-kira makanan apa yang bisa kita makan. Meskipun pada ujungnya tak jauh-jauh dari cerita bolak balik ke kamar mandi, mual dan muntah.

Tapi sesusah-susahnya makan pada masa ini, sebetulnya pengalaman yang sudah-sudah, perjuangan trimester pertama hanya sepersekian dari perjuangan di ujungnya : melahirkan. Dan perjuangan melahirkan hanya sepersekiannya dari perjuangan membesarkan dan mendidik anak-anak. Jadi, tepat sekali kalau orang bilang, perjuangan baru dimulai saat dua list merah jambu tampak dalam sebatang test pack. Yeay!

Walaupun..sangat manusiawi sekali lah kalo pada kenyataanya kita tidak se strong dan se ideal yang kita bayangkan. Ada masanya banget mempertanyakan, apa semua yang tidak membuat nyaman ini ada akhirnya? Ko rasanya sehari dengan emesis itu rasanya luamaaa betul -.-
Kalo udah begini, mesti banget banyak-banyak tafakur dan kumpul bareng orang-orang sholeh. Biar ketularan sabar dan bijaknya. Cem kemarin, obrolan saya dengan adek bungsu, yang walopun statusnya adek, tapi pemikiran dan kesabarannya bagi saya adalah kakak. Sambil tiduran lemas, saya bertanya-tanya.

“Sebetulnya semua ini ada ujungnya ga sih?”
“Ih, kaya baru pertama hamil aja. Ya adalah..”
“Ko rasanya gini banget ya..” *lemahiman*
“Kalo lagi ada kenikmatan yang dicabut, insya Allah ada juga dosa-dosa yang Allah cabut. Sabar aja lah”

Kemudian speechless.

Sejenak ingatan melayang, menampilkan slide demi slide, keluarga, sahabat, dan kerabat yang hingga kini belum dikaruniai keturunan. Mengingat kisah dan obrolan mereka demi mendapatkan momongan, dan menjadi saksi dari perjuangan panjang nan melelahkan mereka untuk mendapat sesuatu yang bisa saya dapatkan tanpa bersusah payah seperti mereka.

Lesu.

Ah, fragmen-fragmen emesis ini pasti akan berlalu. Dan tidak perlu dilawan. Hanya perlu dinikmati, dijadikan sahabat dan cerita seru selama menjalani kehamilan. Dan semua pasti akan lebih menyenangkan jika kita menikmati kan?

Maka sejak saat itu, ada secercah tekad yang sedikit demi sedikit mulai bersinar. Tak mau kalah dengan segala kondisi yang membuat jiwa lemah. Setidaknya jangan sampai jiwa melemah, meski raga harus bersusah payah. Itu!

Dan untukmu, makhluk kecil yang ada di tempat yang kokoh di dalam sana. Selamat bertumbuh kembang dengan baik, baby! Tercurah do’a dari kami semua, yang amat tak sabar menunggu hadirmu untuk meramaikan suasana.

Penuh cinta untukmu, selalu.

Jakarta, 27 Januari 2015

0 comments:

Post a Comment