Tuesday, 10 March 2015

Acute School Refusal Behavior

“Bunda aku kan lagi demam dan batuk, jadi ga usah sekolah ya?” lain waktu,
“Bunda, aku kan lagi sariawan. Jadi ga mau pergi sekolah..”

Awalnya rengekan-rengekan itu hanya jadi selingan yang membuat saya geli, bisa banget ya..anak TK cari alesan buat pergi sekolah. Tapi lama-lama, rasa geli saya berubah menjadi kekhwatiran yang teramat sangat. Ngga bermaksud lebay, tapi betulan…ini hal yang membingungkaan :’(

Lama-lama alasan-alasan yang pada awalnya benar adanya, berubah menjadi alasan yang kadang nonsense banget. “Atuhlah dang…sariawan mah bukan sakit serius. Nanti bunda kasih vitamin C lagi, dan dang fathan bisa berangkat sekolah ya!” Terakhir, semua alasan itu sudah tak lagi ia pakai. Saat ditanya kenapa tidak berangkat sekolah, jawabannya selalu konsisten. “Bunda, aku bosan! Aku ga mau sekolah. Di sekolah mainannya dikit, ga boleh bawa mainan juga..” Hff. Dan minggu ini agaknya sudah masuk hitungan 1 bulan, fathan tidak berangkat sekolah.


Acute School Refusal Behavior

Begitu katanya tentang kondisi yang sedang dialami fathan, sebuah kondisi di mana sikap penolakan yang bisa berlangsung 2 minggu hingga 1 tahun, dan selama itu anak mengalami masalah setiap kali hendak berangkat sekolah.  Awalnya alasannya nampak masuk akal, lama-lama mulai ga masuk akal, dan setelah melakukan eksplorasi lebih dalam..ternyata terungkap bahwa alasannya adalah : bosan.
Sebagai seorang ibu, menghadapi anak yang mogok sekolah –meskipun masih TK Kecil, rasanya sungguh membingungkan. Entahlah, meskipun katanya masih TK inih, tapi bagi saya persoalannya tidak semudah itu. Bagaimana jika ia memang tak pernah mau lagi sekolah? Ini menjadi hal yang menakutkan rasanya. Meskipun terkadang, ah..sudahlah..orang-orang besar pun banyak yang ternyata tidak menempuh jalur pendidikan formal. Tapi tapi tapi…ah, anggap saja saya belum siap menjadi anti mainstream. Atau, jika tidak dikatan belum siap, anggap saja..saya belum belajar bagaimana cara menghadapi kemungkinan anti mainstream bahwa ia tak akan mau ke sekolah selama lama lama lamaaanya? Bagaimana jika? Bagaimana jika?

Berlebihan kah?

Saya tak tahu. Hanya saja, sulit untuk tidak lepas memikirkannya. Saya sudah mencoba solusi lain, mendatangkan pengajar yang hanya akan menemani fathan untuk bermain agar terpola permainan yang dilakukannya. Baru dua kali, dan hanya sebentar saja untuk tiap sesinya. Jadi, sulit bagi saya untuk mengatakan hal tersebut efektif atau tidak. Terlebih, pengajar  tersebut pun adalah teman saya yang masih kuliah dan harus berbagi kesibukan dengan perkuliahan dan pekerjaannya. Bisa dikatakan, belum ada hasilnya..

Solusi yang lain, teman saya tersebut menawarkan pada saya untuk menyekolahkan fathan di tempat ia mengajar, di TK lain. Saya kira ini bisa menjadi jalan solusi yang bisa ditempuh, tetapi bagi ayahnya fathan, kasihan fathan kalau  harus menempuh jarak agak jauh –letak TK yang dimaksud cukup jauh dari rumah. Ah, saya pun memaksa diri untuk kembali berpikir..apa setelah ini?

Menurut teman-teman di ruangan, coba diikutkan di komunitas saja. Komunitas olahraga atau kesenian. Wow, ini aha erlebnis bagi otak saya yang tengah tumpul karena terlalu melankolis menghadapi ini semua. Terlalu menghayati hingga susah berpikir jernih dan mencari solusi menyenangkan ^^ Fathan suka sekali bermain futsal, dan dia juga suka sekali memanah dan belajar bela diri. Mungkin ini bisa menjadi solusi, who knows?

Ya, oke..siang ini saya menemukan sebuah ide, untuk mencoba membuat fathan belajar hal lain dari guru-gurunya yang tersebar luas di muka bumi, untuk sekolahnya yang tak terbatas ruang dan waktu..
Ah, Fathaaan..ayo kita belajar naak!


Jakarta, 10 Maret 2015
Semoga Allah selalu melindungimu, nak..


2 comments:

  1. Duuuh jadi ingat pernah sebangku dg anakku di TK selama sebulan karena doi nolak sekolah :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. maak, baru ngeh kalo ini mak lusi..
      makasih ya mak udah mampir ^^

      Delete