Thursday, 13 September 2012

walau hanya dalam mimpi

Senandung itu terdengar berbeda di telingaku,hangat meresap karena miliki ruh dan kenangan yang begitu kuat tentang seseorang..

"Ayah..dengarkanlah,aku ingin berjumpa,walau hanya dalam mimpi.."

Kudengar lirik itu kembali kemarin siang.Tepat saat kami hendak mulai berkendaraan dari Depok menuju Bandung.Dari radio tape di depan,kudengar beberapa lagu lawas yang memang harus kuakui,berlirik mendalam dan tidak norak seperti kebanyakan lagu masa kini.Termasuk salah satu diantaranya,lagu di atas.

Entah apa yang membawaku memimpikan sosok itu dua hari ini,secara berturut-turut.Kutemui dia dalam sosoknya yang terakhir kuingat,sudah tua dengan uban di janggut,alis,juga rambut kepalanya.Namun,dalam mimpiku,Ia masih asyik mengajak kami berjalan-jalan dari satu tempat ke tempat lain.Meskipun,ya,meskipun dalam mimpi itu sebenarnya Ia sudah dalam kondisinya yang tidak lagi fit.

Keharuan itu yang lantas membangunkanku di tengah malam,dua hari ini.Membuat keheningan tengah malam terasa lebih pilu,karena merindu,kembali merindu.Dan menjadi pedih kala rindu yang dirasakan tidak lagi miliki penawarnya.Kisah perjalanannya telah berakhir.Keberadaannya membersamai hari-hariku pun usai sudah.Tak akan ada lagi temu nyata,selain kelak di alam berikutnya.

Kupanggil sosok itu dengan sebutan papap.Sebutan yang tak ada lagi sosok yang kupanggil dengan sebutan sama.Khusus hanya untuknya,lelaki pertama dalam hidupku.Lelaki yang mengajariku banyak hal.Lelaki yang juga mengantarkanku pada episode lelaki baru dalam kehidupanku.

Tak ada lelaki yang semulia Ia,dimataku.Ia keras dalam mendidik,namun begitu penyayang.Ia kuat dan menguatkan.Ia adalah dasar yang meletakkan berjuta nilai yang kuingat hingga kini.

Pernah,suatu kali dalam usiaku yang masih kurang dari 5tahun.Ia memanggilku,dan adikku masuk ke rumah.Kala itu ba'da maghrib,kami sudah miliki janji bahwa ba'da maghrib adalah waktunya membaca Al-qur'an.Lantas dia dengan tegas menyuruh kami membawa mushaf masing-masing.Dan bergantian,Ia simak baik-baik bacaan tilawah kami sambil membetulkan bagian-bagian yang masih salah pelafalan.Ia marah ketika kami tidak sungguh-sungguh mempelajari kitabullah.Hingganya Ia begitu tekun membimbing setiap bacaan kami.Sungguh,yang kuingat,Ia dan mamah lah yang mengenalkaku pada setiap huruf hijaiyah,hingga kami mampu merangkainya dan lancar membaca ayat-ayat Allah.

Episode lainnya,saat usiaku belum lagi genap sekira 6tahun,dan adikku masih 4 tahun.Ia diutus ummat untuk menjelajahi benua biru,Eropa.Masih tahun 1996 ketika itu.Dan kondisi perekonomian keluargapun belum kokoh.Ia tinggalkan kami dengan berat hati-ah untuk episode kali ini mamah pasti akan lebih menjiwai,bagaimana Ia memberikan bekal seadanya yang Ia miliki dan Ia berada dalam rasa khawatirnya karena rasa tanggung jawab yang sedemikan besar yang Ia miliki atas kami.Namun lantas,kecintaannya pada kami tak menghalangi kecintaannya pada da'wah ini.

Ia menjadi lelaki yang sangat tega meninggalkan kami kesana kemari,namun entah mengapa tak pernah aku merasakan kehangatannya berkurang.Sesekali Ia mengajakku dan adikku mengikuti kegiatan-kegiatannya.Dari situ aku mulai mengenali siapa Ia dan apa yang dikerjakannya selama ini.Hingga,setiap kepergiannya tak pernah kusesali.Aku hanya bangga,Ia menjadi sosok yang bermanfaat,tidak hanya bagiku,bagi keluargaku,tapi juga bagi ummat.

Ah,lelaki itu memenuhi ruang batinku kini.Aku merindu,tak pernah selama ini terpisah tak bertemu..

Hanya do'a,yang kini bisa kukirimkan padanya.Dan,duhai Rabb,bila ada nilai-nilai kebaikan yang kumiliki dan masih kupegang teguh ianya hingga kini,maka catatkanlah baginya juga kebaikan.Karena tak ada lagi sosok yang begitu tekun menanamkan nilai kebaikan pada benakku,seperti dia menanamkannya padaku dalam usia kanakku..

Cimahi,13-9-12

0 comments:

Post a Comment