Sunday, 30 September 2012

mars vs venus : yang dekat tapi tidak membersamai


“Aku ga tau lagi harus pake cara apa supaya dia bisa lepas dari PSP nya,”curhat seorang kawan suatu hari. “Udah pernah didoain supaya tuh barang jatuh ke, rusak ke, eh…tapi tetep aja, sekalinya jatuh kayak tahan banting gitu. Bikin geram..”tambahnya.

Aku hanya tersenyum. Sabar menanti yang curhat menuntaskan hajatnya.

“Apa ada yang salah apa ya sama aku? Apa aku ini terlalu ga menarik untuk diajakin ngobrol? Atau..apa anak kami ga cukup lucu untuk dia ajak main? Heran banget..kenapa ko kayaknya keranjingan banget main game.”makin kesini nada suara pemilik cerita semakin melemah. Bertanya-tanya, entah pada siapa, yang jelas tidak untuk dijawab olehku.

“Udah pernah dibicarain sama suami?” tanyaku.

“Udah, sejenak dia lepas dari PSP nya, tapi ga lama kemudian nempel lagi. Capek juga kalau harus terus-terus cerewet nuntut perhatian. Padahal kita para istri kan kalau di rumah sendirian aja ya, bareng anak-anak paling. Jadi kan pengennya pas ada suami jadi ada temen cerita. Gitu ngga sih?”

Aku mengangguk, sambil tersenyum, mencoba menenangkan hati yang gundah di hadapan sana.

Ini bukan kejadian pertama. Lain waktu, dalam kisah yang dimiliki orang yang berbeda, bukan PSP yang jadi penyebabnya, melainkan smartphone yang saking smartnya bikin pemakainya asyik sendiri dan lupa dunia nyata di sekelilingnya. Teknologi yang mendekatkan orang-orang yang jauh, tapi beresiko menjauhkan orang-orang yang dekat.

Sejenak pikiranku melayang.

Perempuan, yang konon berasal dari venus, memang membutuhkan bicara sebagai sarana melepaskan kegundahan hatinya. Alangkah tersiksanya mereka, ketika tidak menemukan seseorang yang bisa dijadikan tempat mereka menumpahkan semua cerita dan uneg-uneg setelah seharian mengurus rumah tangga. Memang tidak semua perempuan, tapi sepertinya mayoritas seperti itu. Kadang mereka hanya bercerita tentang kegiatan anak-anak, seharian ini apa saja yang mereka lakukan, tentang perkembangan-perkembangan mereka, atau juga tentang baju setrikaan yang menumpuk, harga sayur dan daging yang naik-turun. Hal-hal remeh temeh yang memang diceritakan perempuan sebagai bentuk berbagi. Dan sesungguhnya mereka tak sedang mencari solusi atas pembicaraan mereka, hanya sekedar berbagi saja, kegiatan yang membuat mereka jauh merasa lega.

Ini yang mungkin seringkali tidak atau kurang difahami oleh lelaki yang berasal dari mars. Lelaki yang simple dan logis, hanya menjadikan bicara –terlebih membicarakan suatu permasalahan- sebagai sarana mencari solusi. Jadi mungkin, pembicaraan perempuan di mata laki-laki kadang dianggap aneh kali ya. “Ya ampun, yang begituan aja pake diobrolin..” Begitu mungkin ya. Hihi.

Lantas bagaimana? Ah, kalau dirunut satu-satu, perbedaan antara kedua makhluk ciptaan Allah ini memang banyak. Perbedaan yang bukan untuk disamakan, tetapi untuk di-menej. Bagiku, dalam setiap rumah tangga yang sehat, baik suami atau istri harus bisa secara bebas mengutarakan hal apa yang mereka sukai dan tidak mereka sukai dari pasangan mereka. Minimal, dengan saling mengetahui selera masing-masing bisa meminimalkan ketidakpahaman yang mungkin bisa terjadi. Yang jelas, dari pengalaman aku belajar, tak ada gunanya menggunakan komunikasi telepati dengan lelaki :D

“Harusnya dia cukup ngerti aja dong kalau aku ngga suka. Kalau aku udah diem dan sinis ya berarti aku ngga suka. Masa gitu aja harus dikasih tauin..”

Kalau untuk perempuan yang punya sensitifitas lebih mungkin body gesture itu bisa terbaca dan dimengerti, tapi bagi lelaki, seringkali mereka ga bisa menangkap hal itu. Alih-alih mengerti, mereka malah bertanya..

“Eh, kenapa sih? Lagi ngga enak badan ya?” ~ Pertanyaan yang tentu bikin nambah geram >:P

Yaah, gitulah dinamika membangun hubungan harmonis dengan pasangan. Makanya saya selalu percaya, sakinah mawaddah warrahmah itu ya memang diperjuangkan. Dan selalu ada pahala terserak di sana bagi mereka yang meniatkannya sebagai kebaikan. Memahami pasangan bukanlah hal yang mudah, namun jika kita meniatkannya untuk kebaikan, sembari terus menerus berdoa dan berusaha menemukan titik keseimbangan, iAllah Allah yang akan langsung membimbing kita. Dan itu yang selalu kusampaikan pada mereka, yang hatinya tengah gundah dengan ombak-ombak dalam bahtera rumah tangga mereka..

Jadi ingat juga hasil suatu penelitian, bahwa memaafkan bisa jadi hal yang bagus dalam hubungan keseharian kita dengan banyak orang. Namun, terlalu banyak memaafkan dalam suatu hubungan antara suami-istri, bisa jadi pertanda hubungan itu tidak sehat. Karena bisa jadi keterbukaan dalam hubungan tersebut mulai berkurang. “Daripada ribut, mendingan udahlah..maapin aja..”

Dan aku hanya tersenyum. Memaafkan bisa jadi baik, tapi bagiku, biar ribut sejenak dulu, tapi setelah itu aku dan dia sama-sama bisa lebih memahami dan memaafkan. Itu jauh lebih menenangkan dibandingkan harus sakit memendamnya dalam hati seorang diri :D

Thursday, 13 September 2012

jiwa yang tenang

Entah berapa lamanya saya mulai sangat menyukai ayat ke 27 dan 28 dalam surah Al-Fajr.

"Wahai jiwa yang tenang,kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhaiNya.."

Setiap mendengar ataupun sekedar membaca ayat tersebut selalu hadir kesan yang berbeda.Ada getar tersendiri,ada rasa merinding di sana.

Mungkin..
sebenarnya,tak ada yang lebih kita rindukan di dunia ini,kecuali ketenangan jiwa.Puncaknya lagi,ketenangan jiwa saat akhirnya kita harus menghadap Allah..

dan tiadalah akan mendapatkan ketenangan jiwa,jika tidak mengikuti sumber-sumber ketenangan tersebut.

Ketenangan jiwa..

Mereka yang sanggup mencapai tingkat ketenangan jiwa,mampu mengendalikan diri dan nafsunya,hingga tiap ucap,tingkah,dan laku selalu tersaring dengan baik.Mereka,para jiwa yang tenang,tak perlu banyak berkata demi membaikkan sekitarnya.Dengan ketenangan jiwanya,mereka akan mendamaikan jiwa-jiwa bergejolak yang ada di sekitar mereka..

Ketenangan..
Hanya akan dimiliki oleh mereka yang mengerti,untuk apa dan kemana arah hidup bermuara.Mereka tidak takut dengan kematian,karena bagi mereka hakikat mati adalah cara untuk menemui Rabb yang mereka rindukan.Mereka menyadari kematian,sebagai suatu hal yang sudah Allah takdirkan.Dan tiadalah hari-hari berlalu bagi mereka,kecuali semakin merindulah jiwa mereka untuk bertemu dengan Sang Kekasih.Mereka menyadari,waktu kematian telah ditentukan,tak lantas akan menjadi lebih cepat atau tertunda.

Karenanya,mereka amat tenang menjalani hidup.Mereka berani menyuarakan apa yang benar bagi Tuhan mereka.Tak sedikitpun takut dengan ancaman apapun,karena tak ada yang lebih mengancam mereka kecuali murka Allah..

Jiwa yang tenang..
Nafsul Muthmainnah..menemukan bahagia dalam setiap ketaatan,menemukan duka dalam setiap maksiat yang dilakukan.

Allah..
Jadikanlah aku pemilik jiwa yang tenang itu,jiwa yang akan kembali kepadaMu dengan ridha,dan keridhaanMu..

Cimahi,1 Ramadhan,1433H
Jiwa-jiwa yang tenang itu ada di sekeliling kita,kenali dan belajarlah yang banyak tentang kehidupan mereka :')
This entry was posted in

walau hanya dalam mimpi

Senandung itu terdengar berbeda di telingaku,hangat meresap karena miliki ruh dan kenangan yang begitu kuat tentang seseorang..

"Ayah..dengarkanlah,aku ingin berjumpa,walau hanya dalam mimpi.."

Kudengar lirik itu kembali kemarin siang.Tepat saat kami hendak mulai berkendaraan dari Depok menuju Bandung.Dari radio tape di depan,kudengar beberapa lagu lawas yang memang harus kuakui,berlirik mendalam dan tidak norak seperti kebanyakan lagu masa kini.Termasuk salah satu diantaranya,lagu di atas.

Entah apa yang membawaku memimpikan sosok itu dua hari ini,secara berturut-turut.Kutemui dia dalam sosoknya yang terakhir kuingat,sudah tua dengan uban di janggut,alis,juga rambut kepalanya.Namun,dalam mimpiku,Ia masih asyik mengajak kami berjalan-jalan dari satu tempat ke tempat lain.Meskipun,ya,meskipun dalam mimpi itu sebenarnya Ia sudah dalam kondisinya yang tidak lagi fit.

Keharuan itu yang lantas membangunkanku di tengah malam,dua hari ini.Membuat keheningan tengah malam terasa lebih pilu,karena merindu,kembali merindu.Dan menjadi pedih kala rindu yang dirasakan tidak lagi miliki penawarnya.Kisah perjalanannya telah berakhir.Keberadaannya membersamai hari-hariku pun usai sudah.Tak akan ada lagi temu nyata,selain kelak di alam berikutnya.

Kupanggil sosok itu dengan sebutan papap.Sebutan yang tak ada lagi sosok yang kupanggil dengan sebutan sama.Khusus hanya untuknya,lelaki pertama dalam hidupku.Lelaki yang mengajariku banyak hal.Lelaki yang juga mengantarkanku pada episode lelaki baru dalam kehidupanku.

Tak ada lelaki yang semulia Ia,dimataku.Ia keras dalam mendidik,namun begitu penyayang.Ia kuat dan menguatkan.Ia adalah dasar yang meletakkan berjuta nilai yang kuingat hingga kini.

Pernah,suatu kali dalam usiaku yang masih kurang dari 5tahun.Ia memanggilku,dan adikku masuk ke rumah.Kala itu ba'da maghrib,kami sudah miliki janji bahwa ba'da maghrib adalah waktunya membaca Al-qur'an.Lantas dia dengan tegas menyuruh kami membawa mushaf masing-masing.Dan bergantian,Ia simak baik-baik bacaan tilawah kami sambil membetulkan bagian-bagian yang masih salah pelafalan.Ia marah ketika kami tidak sungguh-sungguh mempelajari kitabullah.Hingganya Ia begitu tekun membimbing setiap bacaan kami.Sungguh,yang kuingat,Ia dan mamah lah yang mengenalkaku pada setiap huruf hijaiyah,hingga kami mampu merangkainya dan lancar membaca ayat-ayat Allah.

Episode lainnya,saat usiaku belum lagi genap sekira 6tahun,dan adikku masih 4 tahun.Ia diutus ummat untuk menjelajahi benua biru,Eropa.Masih tahun 1996 ketika itu.Dan kondisi perekonomian keluargapun belum kokoh.Ia tinggalkan kami dengan berat hati-ah untuk episode kali ini mamah pasti akan lebih menjiwai,bagaimana Ia memberikan bekal seadanya yang Ia miliki dan Ia berada dalam rasa khawatirnya karena rasa tanggung jawab yang sedemikan besar yang Ia miliki atas kami.Namun lantas,kecintaannya pada kami tak menghalangi kecintaannya pada da'wah ini.

Ia menjadi lelaki yang sangat tega meninggalkan kami kesana kemari,namun entah mengapa tak pernah aku merasakan kehangatannya berkurang.Sesekali Ia mengajakku dan adikku mengikuti kegiatan-kegiatannya.Dari situ aku mulai mengenali siapa Ia dan apa yang dikerjakannya selama ini.Hingga,setiap kepergiannya tak pernah kusesali.Aku hanya bangga,Ia menjadi sosok yang bermanfaat,tidak hanya bagiku,bagi keluargaku,tapi juga bagi ummat.

Ah,lelaki itu memenuhi ruang batinku kini.Aku merindu,tak pernah selama ini terpisah tak bertemu..

Hanya do'a,yang kini bisa kukirimkan padanya.Dan,duhai Rabb,bila ada nilai-nilai kebaikan yang kumiliki dan masih kupegang teguh ianya hingga kini,maka catatkanlah baginya juga kebaikan.Karena tak ada lagi sosok yang begitu tekun menanamkan nilai kebaikan pada benakku,seperti dia menanamkannya padaku dalam usia kanakku..

Cimahi,13-9-12