Monday, 14 May 2012

Ssst, Awas Ibu Galak! (2)

Marah = sayang?

Sebagai orangtua, seringkali kita luput dari memikirkan efek buruk apa yang terjadi ketika kita memarahi anak kita. Entah karena kesalahan berpikir yang membuat kita merasa anak itu milik kita dan bebas kita apakan atau apa, rasanya marah memarahi menjadi hal yang sangat lumrah. Iya, ketika itu kita menyesal, tapi apakah itu membawa kita pada diri kita yang lebih baik? Maksudnya, ketika saya menyesal telah mencubit, apakah saya memastikan diri saya tidak terjebak pada cubitan-cubitan yang lain? Apakah kita belajar untuk lebih baik?

Mudah-mudahan iya, setidaknya melalui tulisan ini saya mencoba kembali mengingatkan diri saya untuk sedikit saja lebih bersabar terhadap anak. Iya, sabar, kata yang seringkali terlupakan aplikasinya. Padahal, saat saya sedikit lebih bersabar, ternyata itulah yang akan meredakan suasana. Sebaliknya, saat nada suara meninggi, apalagi diiringi omelan2, anak sangat bisa menangkap hal tersebut, dan itu akan memperburuk suasana hatinya. Jika ia tengah menangis, maka tangisannya makin kencang. Dan seperti lingkaran setan, itu justru akan memacu sang Ibu menjadi lebih kesal. Judulnya, kacau. Hehe.

Yang juga harus disadari, kita sebagai orang tua seringkali lupa bagaimana menjadi seorang anak. Semua hal kita lihat dari sudut pandang kita. Melarangnya bermain air, padahal dulu juga kita suka main air. Melarangnya ‘menghias’ rumah dengan menebar barang2 di seluruh penjuru rumah, padahal dulu juga kita begitu. Melarangnya bermain kotor-kotoran, padahal itu mainan favorit kita dulu. Seringkali kita melihatnya dari sudut pandang dewasa kita, nanti rumah jadi kotor, nanti jadi ngga indah, nanti lebih capek, nanti malu kalo ada tamu. Padahal, kegiatan-kegiatan itu yang sebenarnya menstimulus perkembangan anak.

Jadi, marah kita, betulkah karena sayang? Kalau kita sayang, mengapa kita memilih melukai hati anak kita untuk bisa menyampaikan rasa sayang tersebut. Pasti ada cara yang lebih baik, yang bisa dimengerti oleh kita dan anak kita. Karena otak anak sangat luar biasa, bisa merekam dan membentuk kepribadiannya di masa mendatang. Menyakiti dan mengecilkan anak hanya akan menghambat kecemerlangannya di masa datang.

Lalu tentang melarang dan dilarang, pada prinsipnya, bagi saya, selama itu adalah kegiatan yang tidak berhubungan dengan aqidah dan akhlaq dia, saya usahakan tidak melarangnya. Namun, jika telah menyangkut masalah etika, kesopanan, ketaatan beragama, akan lain lagi ceritanya.


Belajar meredam si marah..

Dalam beberapa kesempatan lain, saya bisa cukup bersabar dengan meredam kemarahan saya pada fathan. Indikatornya bagi saya, saya tidak mengeluarkan kalimat bernada tinggi, tidak pula menyentuhnya dengan sentuhan marah yang cenderung kasar. Seperti ketika saya tengah sangat lelah menyiapkan sidang komprehensif, lalu dengan cerianya dia mencelupkan modem yang saya pinjam dari mamah untuk browsing bahan sidang.

“Da..lihat! berenang..”

Isy. Kalau ngga inget itu amanah Allah, bukan milik kita, rasanya pengen ngapain aja. Hehe. Saya cuma bisa ngeluarin modemnya, duduk lemas, setelah itu tiduran. Dalam diam. Menyadari bundanya ga berkenan, dia juga jadi nangis. Saya tetap cuma diam dan tiduran, menenangkan diri. Sampai sudah benar2 tenang, saya peluk dia, saya ajak tidur.

Kali lain, saat dia tantrum begitu lama, saya ajak dia ke air, berwudhu. Sekalian saya juga baru akan shalat. Setelah itu, dia membaik. Dan tahukah, kesemua cara yang saya lakukan, dan mungkin juga pernah anda lakukan ini memang anjuran Nabi untuk ummatnya yang tengah marah..

Berikut saya lampirkan beberapa hadist nabi tentang marah, yang mudah-mudahan bisa kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari kita.

1.Dari ibnu Abbas dari Nabi saw,beliau bersabda.”Ajarkanlah(perkara agama kepada manusia),berilah kabar gembira,dan janganlah mempersulit.Dan apabila seseorang dari kalian marah,maka hendaklah ia diam.(HR Ahmad)

‎2.Dari ‘Athiyah r a berkata,RAsulullah saw bersabda,”Sesungguhnya marah itu berasal dari syetan,dan sesungguhnya Syetan itu di ciptakan dari api,sedangkan api hanya bisa dipadamkan dengan air.Oleh karena itu,apabila seorang dari kalian marah,maka hendaklah ia berwudhu(HR Abu Dawud)

3.Dari Abdullah bin umar meriwayatkan,Rasulullah saw bersabda,”tidaklah seorang hamba menelan satu tegukan yang lebih utama (lebih disukai)disisi Allah ‘Azza wa jalla dari pada satu tegukan kemarahan yang ia telan(tahan) semata-mata karena mengharap keridhaan Allah swt(HR Ahmad)

‎4.Dari Mu’adz ra meriwayatkan bahwasanya Rasulullah saw bersabda,”barang siapa yang menahan amarahnya , padahal ia mampu untuk meluapkan marahnya,maka pada hari kiamat Allah akan memanggilnya kehadapan seluruh mahluk, lalu dia mempersilahkan padanya untuk memilih bidadari mana yang ia suka (HR Abu Dawud)

‎5.Dari Anas bin Malik ra,sesungguhnya Rasulullah saw bersabda ,”barang siapa yang menjaga lidahnya (dari membicarakan aib orang lain)maka Allah akan menutupi aibnya(kesalahannya).Barang siapa yang menhan marahnya,maka Allah akan menahan adzab-Nya terhadap dirinya pada hari kiamat,Dan barang siapa yang meminta maaf kepada Allah ‘Azza wa jalla maka Allah akan menerima permintaan maafnya (HR Baihaqi)

6.Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda : Orang kuat itu bukanlah yang menang dalam gulat tetapi orang kuat adalah yang mampu menahan nafsu amarahnya. (HR. Bukhari dan Muslim)

7.Al Imam Ahmad rahimahullah meriwayatkan hadits dari seseorang dari shahabat Nabi Shalallahu alaihi wasallam dia berkata : Aku berkata : Ya Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam berwasiatlah kepadaku. Beliau bersabda : jangan menjadi pemarah. Maka berkata seseorang : maka aku pikirkan apa yang beliau sabdakan, ternyata pada sifat pemarah itu terkumpul seluruh kejelekan. (HR. Imam Ahmad)

 

..dan masih banyak lagi hadist lainnya.

Maka, apakah kita masih memilih untuk marah?


 

Depok, 15 Mei 2012

1 comment:

  1. aaah itu Fathan msh bayi banget.. diajak wudhu kan ya han.. bukan maen air.. kan emak sama aja suka aer.. hehe

    huhu baca yg pertama aku merindiiiing...beneran ada teriak2 gt? ampunlah ke jawa aja haaaan.. lembut2.. hehe

    ReplyDelete