Monday, 14 May 2012

Ssst, Awas Ibu Galak! (1)

“Dasar mamak gila!”

“Eh,elu tuh yang gila!!”

Saya yang mendengar dari sebelah hanya geleng-geleng kepala. Isy. Sudah sekitar 4 bulan ke belakang saya dan keluarga kecil saya pindah ke Kota Depok, daerah Kalimulya tepatnya. Cenderung masih daerah pinggiran yang jauh dari keramaian. Namun, tetap saja, hiruk pikuk dunia tetangga selalu menjadi hari-hari yang mewarnai kehidupan saya sekarang. Berbeda dengan rumah2 sebelumnya, saat ini kami menyewa rumah petak di dekat rumah yang sedang kami bangun. Rumah petak yang amat sederhana, hanya terdiri dari pagar, teras, ruang tamu, 1 ruang tidur, dapur, tempat cuci, dan kamar mandi. Satu baris rumah petak ini terdiri dari 4 rumah yang hanya terpisah oleh  dinding bata tak berlapis. Artinya, dinding rumah saya menjadi dinding rumah tetangga juga. Akhirnya begitu, semua pembicaraan bernada tinggi terdengar jelas di telinga saya.

Termasuk pembicaraan ibu dan anak di atas, asalnya dari tetangga sebelah. Ini yang menjadi renungan saya belakangan ini. Rasanya telinga saya sudah biasa mendengar teriakan bernada tinggi berisi omelan atau bahkan cacian, seringkali terlontar dari seorang ibu kepada anaknya.

“Dasar bengal kau ya! Udah mamak bilang jangan main air masih aja main air!” –salah satu contoh teriakan lain yang membuat saya terdiam, miris. Setelah itu sudah bisa ditebak, ada tangisan yang menggema.

Kali lain, omelan itu diiringi pula dengan sentuhan dari kayu pemukul kasur. Entah sentuhannya seperti apa, yang jelas saya melihat kayu itu menjadi sosok yang menakutkan bagi 2 anak kecil di sebelah rumah saya.


Dibalik rasa marah seorang Ibu..

Jujur saja, saya bisa memahami alasan kemarahan ibu-ibu tetangga. Jengkel karena bermain air, imbasnya pada kebersihan rumah. Karena setelah itu anak-anak pasti akan menjejakkan kaki kotornya ke lantai rumah, dan akhirnya kotor kemana-mana. Selain itu cucian pun jadi bertambah. Jengkel karena anak selalu bermain sampai lupa waktu makan,waktu sholat, waktu belajar. Ini juga tak lain untuk kebaikan si anak, sebenarnya. Intinya, saya tahu bahwa dibalik omelan-omelan mengerikan yang saya dengarkan, ibu-ibu tersebut bermaksud baik. Hanya saja begitulah jadinya..

Saya sangat bisa memahaminya dari sudut pandang keibuan saya. Terlebih, saya juga bukan tipe ibu yang sabar. Dalam beberapa kesempatan, saat lepas kontrol, saya sampai mencubit gemas pantat, atau pipinya. Cubitan yang membuat saya menyesal kemudian, dan memenjarakan saya dalam perasaan bersalah setelahnya. Atau kali lain keluar juga omelan-omelan saya (tanpa kata kotor dan kasar, harus).

Setidaknya ada beberapa hal yang dalam pandangan saya merupakan sabab musabab kemarahan seorang Ibu pada anaknya:

1.       Kelelahan dengan pekerjaan rumah yang tiada habisnya.

2.       Pelampiasan kekecewaan terhadap pasangannya, berimbas pada anaknya.

3.       Latar belakang keluarga, dibesarkan dengan cara yang keras.

4.       Bosan dengan rutinitas yang sama setiap harinya.

5.       Terakhir, karena ketidaktahuan dan ketidak fahamannya.

Beberapa hal ini membuat saya tidak lantas langsung menyalahkan seorang Ibu ketika ia marah. Di balik marah seorang Ibu, ketahuilah mungkin ia tengah lelah. Di balik marah seorang Ibu, ketahuilah mungkin dia belum faham seperti apa seharusnya menjadi seorang Ibu. Karena belum semua Ibu rajin memperkaya dirinya dengan ilmu-ilmu mendidik anak. Karena belum semua Ibu juga memiliki benteng keimanan dan kesabaran yang kokoh, yang menjadi modal dasar mendidik anak.

Anak, tanggung jawab siapa?

Banyak hal menarik saat mengikuti komunitas “yuk menjadi orang tua shalih” di salah satu situs jejaring sosial. Siapa sebenarnya yang lebih bertanggung jawab terhadap seorang anak? Ternyata jawabannya adalah Ayahnya, bukan Ibunya. Lebih lanjut, Abah Ihsan (pendiri dan pengasuh komunitas tersebut) menyebutkan bahwa Ayah seharusnya memiliki planning, akan seperti apa anaknya. Nah, eksekusinya ada di tangan Ibu.  Jadi, sebenarnya ayah dari sang anak lah yang bertanggung jawab terhadap tumbuh kembang anaknya.

Bagi saya, support sang ayah bagi tumbuh kembang anaknya pun tak berhenti sampai pada memiliki arahan saja. Akan tetapi dia juga harus memastikan bagaimana kondisi eksekutornya  (dalam hal ini ibu si anak- istrinya). Coba bayangkan, bagaimana si Ibu akan menjalankan arahan suaminya ketika waktunya habis untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga? Tentu ini bukan suruhan agar semua suami memberikan asisten rumah tangga pada istrinya. Yang saya maksudkan, ayah dari si anak harus lebih peka dengan kondisi istrinya. Tidak selalu harus dengan melengkapkan fasilitas yang memudahkan si istri, sebuah pujian hangat nan tulus pada seorang istri  sudah menjadi hadiah terbaik yang akan membuat riang harinya. Dan ketika perasaan ibu riang? Insya Allah frekuensi marahnya pada sang anak pun akan berkurang..

Ini yang mungkin masih tabu untuk kita. Bayangkan betapa indah dan luar biasanya ucapan ini:

“Makasih ya ma, udah jagain anak-anak papa. Padahal kayaknya mama capek banget, tapi mama luar biasa sabar. Papa bangga sama mama..”

(kalau bahasa ayah fathan: makasih ya bun udah ngurusin kami. Maafin dua lelakimu ini, walau kami sering ngeselin, sebenarnya kami sayang banget sama bunda. Nak, ayo sun bundaa :D) Betapa indahnya ucapan terima kasih itu terdengar di telinga saya.



(foto: dua lelaki saya)

Alih-alih pujian dan berterima kasih, sepertinya pertengkaran dan saling menyalahkanlah yang masih sering kita lihat dan dengarkan di sekitar kita. Pertengkaran yang justru akan makin merusak suasana yang ada.

1 comment:

  1. Ah hani, sekali lagi menginspirasi...
    yosh!, insyaallah belajar jadi ibu yg baik dari sekarang..:)
    jzk hanhan,,

    ReplyDelete