Thursday, 17 May 2012

membangun harap

Tak ada hal yang lebih membahagiakan,daripada dibangunkan kekasih untuk bersama menghadap Sang Kekasih..

Inilah cinta sebenarnya.
Saling membangun dalam meraih kecintaanNya.
Dan tak pernah ada hal yang lebih menyenangkan dan membahagiakan daripada ini.

Tuhanku,
Sang Maha Pembolak balik hati..
Mohon tetapkan hati kami pada agamaMu.
Bimbing kami saat banyak khilaf dan terlupa..
Kasihi kami..
Jika Engkau hanya mengasihi orang2 yg selalu ingat padaMu,maka siapa lagi yang bisa mengasihi kami?
Orang2 yang dalam bangkit dan tenggelam mencoba mengeja asmaMu.

Mohon,beri kami kenikmatan untuk setiap waktu yang kami habiskan untuk mendekat padaMu
Dan berikan pula kami keresahan untuk setiap waktu dimana kami bermaksiat padaMu

Kabulkanlah,ya Rahman..

Depok,18 Mei 12
Penuh cinta untukmu dan untukNya

Tuesday, 15 May 2012

Monday, 14 May 2012

Ssst, Awas Ibu Galak! (2)

Marah = sayang?

Sebagai orangtua, seringkali kita luput dari memikirkan efek buruk apa yang terjadi ketika kita memarahi anak kita. Entah karena kesalahan berpikir yang membuat kita merasa anak itu milik kita dan bebas kita apakan atau apa, rasanya marah memarahi menjadi hal yang sangat lumrah. Iya, ketika itu kita menyesal, tapi apakah itu membawa kita pada diri kita yang lebih baik? Maksudnya, ketika saya menyesal telah mencubit, apakah saya memastikan diri saya tidak terjebak pada cubitan-cubitan yang lain? Apakah kita belajar untuk lebih baik?

Mudah-mudahan iya, setidaknya melalui tulisan ini saya mencoba kembali mengingatkan diri saya untuk sedikit saja lebih bersabar terhadap anak. Iya, sabar, kata yang seringkali terlupakan aplikasinya. Padahal, saat saya sedikit lebih bersabar, ternyata itulah yang akan meredakan suasana. Sebaliknya, saat nada suara meninggi, apalagi diiringi omelan2, anak sangat bisa menangkap hal tersebut, dan itu akan memperburuk suasana hatinya. Jika ia tengah menangis, maka tangisannya makin kencang. Dan seperti lingkaran setan, itu justru akan memacu sang Ibu menjadi lebih kesal. Judulnya, kacau. Hehe.

Yang juga harus disadari, kita sebagai orang tua seringkali lupa bagaimana menjadi seorang anak. Semua hal kita lihat dari sudut pandang kita. Melarangnya bermain air, padahal dulu juga kita suka main air. Melarangnya ‘menghias’ rumah dengan menebar barang2 di seluruh penjuru rumah, padahal dulu juga kita begitu. Melarangnya bermain kotor-kotoran, padahal itu mainan favorit kita dulu. Seringkali kita melihatnya dari sudut pandang dewasa kita, nanti rumah jadi kotor, nanti jadi ngga indah, nanti lebih capek, nanti malu kalo ada tamu. Padahal, kegiatan-kegiatan itu yang sebenarnya menstimulus perkembangan anak.

Jadi, marah kita, betulkah karena sayang? Kalau kita sayang, mengapa kita memilih melukai hati anak kita untuk bisa menyampaikan rasa sayang tersebut. Pasti ada cara yang lebih baik, yang bisa dimengerti oleh kita dan anak kita. Karena otak anak sangat luar biasa, bisa merekam dan membentuk kepribadiannya di masa mendatang. Menyakiti dan mengecilkan anak hanya akan menghambat kecemerlangannya di masa datang.

Lalu tentang melarang dan dilarang, pada prinsipnya, bagi saya, selama itu adalah kegiatan yang tidak berhubungan dengan aqidah dan akhlaq dia, saya usahakan tidak melarangnya. Namun, jika telah menyangkut masalah etika, kesopanan, ketaatan beragama, akan lain lagi ceritanya.


Belajar meredam si marah..

Dalam beberapa kesempatan lain, saya bisa cukup bersabar dengan meredam kemarahan saya pada fathan. Indikatornya bagi saya, saya tidak mengeluarkan kalimat bernada tinggi, tidak pula menyentuhnya dengan sentuhan marah yang cenderung kasar. Seperti ketika saya tengah sangat lelah menyiapkan sidang komprehensif, lalu dengan cerianya dia mencelupkan modem yang saya pinjam dari mamah untuk browsing bahan sidang.

“Da..lihat! berenang..”

Isy. Kalau ngga inget itu amanah Allah, bukan milik kita, rasanya pengen ngapain aja. Hehe. Saya cuma bisa ngeluarin modemnya, duduk lemas, setelah itu tiduran. Dalam diam. Menyadari bundanya ga berkenan, dia juga jadi nangis. Saya tetap cuma diam dan tiduran, menenangkan diri. Sampai sudah benar2 tenang, saya peluk dia, saya ajak tidur.

Kali lain, saat dia tantrum begitu lama, saya ajak dia ke air, berwudhu. Sekalian saya juga baru akan shalat. Setelah itu, dia membaik. Dan tahukah, kesemua cara yang saya lakukan, dan mungkin juga pernah anda lakukan ini memang anjuran Nabi untuk ummatnya yang tengah marah..

Berikut saya lampirkan beberapa hadist nabi tentang marah, yang mudah-mudahan bisa kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari kita.

1.Dari ibnu Abbas dari Nabi saw,beliau bersabda.”Ajarkanlah(perkara agama kepada manusia),berilah kabar gembira,dan janganlah mempersulit.Dan apabila seseorang dari kalian marah,maka hendaklah ia diam.(HR Ahmad)

‎2.Dari ‘Athiyah r a berkata,RAsulullah saw bersabda,”Sesungguhnya marah itu berasal dari syetan,dan sesungguhnya Syetan itu di ciptakan dari api,sedangkan api hanya bisa dipadamkan dengan air.Oleh karena itu,apabila seorang dari kalian marah,maka hendaklah ia berwudhu(HR Abu Dawud)

3.Dari Abdullah bin umar meriwayatkan,Rasulullah saw bersabda,”tidaklah seorang hamba menelan satu tegukan yang lebih utama (lebih disukai)disisi Allah ‘Azza wa jalla dari pada satu tegukan kemarahan yang ia telan(tahan) semata-mata karena mengharap keridhaan Allah swt(HR Ahmad)

‎4.Dari Mu’adz ra meriwayatkan bahwasanya Rasulullah saw bersabda,”barang siapa yang menahan amarahnya , padahal ia mampu untuk meluapkan marahnya,maka pada hari kiamat Allah akan memanggilnya kehadapan seluruh mahluk, lalu dia mempersilahkan padanya untuk memilih bidadari mana yang ia suka (HR Abu Dawud)

‎5.Dari Anas bin Malik ra,sesungguhnya Rasulullah saw bersabda ,”barang siapa yang menjaga lidahnya (dari membicarakan aib orang lain)maka Allah akan menutupi aibnya(kesalahannya).Barang siapa yang menhan marahnya,maka Allah akan menahan adzab-Nya terhadap dirinya pada hari kiamat,Dan barang siapa yang meminta maaf kepada Allah ‘Azza wa jalla maka Allah akan menerima permintaan maafnya (HR Baihaqi)

6.Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda : Orang kuat itu bukanlah yang menang dalam gulat tetapi orang kuat adalah yang mampu menahan nafsu amarahnya. (HR. Bukhari dan Muslim)

7.Al Imam Ahmad rahimahullah meriwayatkan hadits dari seseorang dari shahabat Nabi Shalallahu alaihi wasallam dia berkata : Aku berkata : Ya Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam berwasiatlah kepadaku. Beliau bersabda : jangan menjadi pemarah. Maka berkata seseorang : maka aku pikirkan apa yang beliau sabdakan, ternyata pada sifat pemarah itu terkumpul seluruh kejelekan. (HR. Imam Ahmad)

 

..dan masih banyak lagi hadist lainnya.

Maka, apakah kita masih memilih untuk marah?


 

Depok, 15 Mei 2012

Ssst, Awas Ibu Galak! (1)

“Dasar mamak gila!”

“Eh,elu tuh yang gila!!”

Saya yang mendengar dari sebelah hanya geleng-geleng kepala. Isy. Sudah sekitar 4 bulan ke belakang saya dan keluarga kecil saya pindah ke Kota Depok, daerah Kalimulya tepatnya. Cenderung masih daerah pinggiran yang jauh dari keramaian. Namun, tetap saja, hiruk pikuk dunia tetangga selalu menjadi hari-hari yang mewarnai kehidupan saya sekarang. Berbeda dengan rumah2 sebelumnya, saat ini kami menyewa rumah petak di dekat rumah yang sedang kami bangun. Rumah petak yang amat sederhana, hanya terdiri dari pagar, teras, ruang tamu, 1 ruang tidur, dapur, tempat cuci, dan kamar mandi. Satu baris rumah petak ini terdiri dari 4 rumah yang hanya terpisah oleh  dinding bata tak berlapis. Artinya, dinding rumah saya menjadi dinding rumah tetangga juga. Akhirnya begitu, semua pembicaraan bernada tinggi terdengar jelas di telinga saya.

Termasuk pembicaraan ibu dan anak di atas, asalnya dari tetangga sebelah. Ini yang menjadi renungan saya belakangan ini. Rasanya telinga saya sudah biasa mendengar teriakan bernada tinggi berisi omelan atau bahkan cacian, seringkali terlontar dari seorang ibu kepada anaknya.

“Dasar bengal kau ya! Udah mamak bilang jangan main air masih aja main air!” –salah satu contoh teriakan lain yang membuat saya terdiam, miris. Setelah itu sudah bisa ditebak, ada tangisan yang menggema.

Kali lain, omelan itu diiringi pula dengan sentuhan dari kayu pemukul kasur. Entah sentuhannya seperti apa, yang jelas saya melihat kayu itu menjadi sosok yang menakutkan bagi 2 anak kecil di sebelah rumah saya.


Dibalik rasa marah seorang Ibu..

Jujur saja, saya bisa memahami alasan kemarahan ibu-ibu tetangga. Jengkel karena bermain air, imbasnya pada kebersihan rumah. Karena setelah itu anak-anak pasti akan menjejakkan kaki kotornya ke lantai rumah, dan akhirnya kotor kemana-mana. Selain itu cucian pun jadi bertambah. Jengkel karena anak selalu bermain sampai lupa waktu makan,waktu sholat, waktu belajar. Ini juga tak lain untuk kebaikan si anak, sebenarnya. Intinya, saya tahu bahwa dibalik omelan-omelan mengerikan yang saya dengarkan, ibu-ibu tersebut bermaksud baik. Hanya saja begitulah jadinya..

Saya sangat bisa memahaminya dari sudut pandang keibuan saya. Terlebih, saya juga bukan tipe ibu yang sabar. Dalam beberapa kesempatan, saat lepas kontrol, saya sampai mencubit gemas pantat, atau pipinya. Cubitan yang membuat saya menyesal kemudian, dan memenjarakan saya dalam perasaan bersalah setelahnya. Atau kali lain keluar juga omelan-omelan saya (tanpa kata kotor dan kasar, harus).

Setidaknya ada beberapa hal yang dalam pandangan saya merupakan sabab musabab kemarahan seorang Ibu pada anaknya:

1.       Kelelahan dengan pekerjaan rumah yang tiada habisnya.

2.       Pelampiasan kekecewaan terhadap pasangannya, berimbas pada anaknya.

3.       Latar belakang keluarga, dibesarkan dengan cara yang keras.

4.       Bosan dengan rutinitas yang sama setiap harinya.

5.       Terakhir, karena ketidaktahuan dan ketidak fahamannya.

Beberapa hal ini membuat saya tidak lantas langsung menyalahkan seorang Ibu ketika ia marah. Di balik marah seorang Ibu, ketahuilah mungkin ia tengah lelah. Di balik marah seorang Ibu, ketahuilah mungkin dia belum faham seperti apa seharusnya menjadi seorang Ibu. Karena belum semua Ibu rajin memperkaya dirinya dengan ilmu-ilmu mendidik anak. Karena belum semua Ibu juga memiliki benteng keimanan dan kesabaran yang kokoh, yang menjadi modal dasar mendidik anak.

Anak, tanggung jawab siapa?

Banyak hal menarik saat mengikuti komunitas “yuk menjadi orang tua shalih” di salah satu situs jejaring sosial. Siapa sebenarnya yang lebih bertanggung jawab terhadap seorang anak? Ternyata jawabannya adalah Ayahnya, bukan Ibunya. Lebih lanjut, Abah Ihsan (pendiri dan pengasuh komunitas tersebut) menyebutkan bahwa Ayah seharusnya memiliki planning, akan seperti apa anaknya. Nah, eksekusinya ada di tangan Ibu.  Jadi, sebenarnya ayah dari sang anak lah yang bertanggung jawab terhadap tumbuh kembang anaknya.

Bagi saya, support sang ayah bagi tumbuh kembang anaknya pun tak berhenti sampai pada memiliki arahan saja. Akan tetapi dia juga harus memastikan bagaimana kondisi eksekutornya  (dalam hal ini ibu si anak- istrinya). Coba bayangkan, bagaimana si Ibu akan menjalankan arahan suaminya ketika waktunya habis untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga? Tentu ini bukan suruhan agar semua suami memberikan asisten rumah tangga pada istrinya. Yang saya maksudkan, ayah dari si anak harus lebih peka dengan kondisi istrinya. Tidak selalu harus dengan melengkapkan fasilitas yang memudahkan si istri, sebuah pujian hangat nan tulus pada seorang istri  sudah menjadi hadiah terbaik yang akan membuat riang harinya. Dan ketika perasaan ibu riang? Insya Allah frekuensi marahnya pada sang anak pun akan berkurang..

Ini yang mungkin masih tabu untuk kita. Bayangkan betapa indah dan luar biasanya ucapan ini:

“Makasih ya ma, udah jagain anak-anak papa. Padahal kayaknya mama capek banget, tapi mama luar biasa sabar. Papa bangga sama mama..”

(kalau bahasa ayah fathan: makasih ya bun udah ngurusin kami. Maafin dua lelakimu ini, walau kami sering ngeselin, sebenarnya kami sayang banget sama bunda. Nak, ayo sun bundaa :D) Betapa indahnya ucapan terima kasih itu terdengar di telinga saya.



(foto: dua lelaki saya)

Alih-alih pujian dan berterima kasih, sepertinya pertengkaran dan saling menyalahkanlah yang masih sering kita lihat dan dengarkan di sekitar kita. Pertengkaran yang justru akan makin merusak suasana yang ada.