Wednesday, 18 April 2012

Panggil Aku Sarjana Ilmu Komunikasi :D

Setiap hal memiliki pangkal juga ujung. Pun begitu dengan studi yang saya jalani hampir lima tahun ke belakang ini. Saya memulainya pada Agustus 2007, dan berakhir 16 April 2012 kemarin. Ini tentang kisah saya sebagai (mantan) mahasiswa jurusan Jurnalistik, Universitas Padjadjaran. Ada haru menyelinap ketika detik-detik yudisium bergulir. Takut dan khawatir dengan hasil yang tidak diharapkan, tapi juga senang karena tahu semua akan segera berakhir. Dan semua, sampai pada puncaknya ketika bu Pandan (dosen kami) mengumumkan bahwa kami (saya beserta 8 kawan lainnya) semua dinyatakan lulus dengan hasil yang sangat memuaskan, Alhamdulillah. Saya sendiri meraih nilai A untuk skripsi dan dengan IPK cumlaude 3,6. Hamdan laka ya Allah, bersyukur sekali dengan nikmat yang telah Allah anugerahi..

Sampai akhirnya di suatu titik di tengah yudisium, bulir-bulir air mata saya perlahan ke luar, semakin lama justru semakin deras dan sulit terbendung. Ini perasaan yang sulit dijelaskan. Spontanitas. Beberapa kali saya menengok ke belakang, menghapus bulir yang terlanjur jatuh. Malu, jika orang lain melihat dan menyadarinya. Namun, tetap saja, seorang kawan menyadari. “Wah, bunda nangis..”. Sontaklah saya menjadi bulan-bulanan kawan-kawan dan dosen. (Hal yang dihindari terjadi juga :D). Dan parahnya air mata semakin menderas saja hingga saya harus menengadahkan kepala agar ia terhenti, juga menggigit bibir agar tak terdengar suara isakan. Cukup sulit.

Ada sekelebat ingat yang tiba-tiba saja melintas ketika itu. Sekelebat ingat yang buat saya haru sampai menangis dan terisak, sekelebat ingat itu adalah bayang fathan. Wajah sendunya ketika ia ditinggalkan pergi, wajah manjanya saat ia ingin sang bunda mengalihkan perhatian dari laptop kepada dirinya, wajah lemasnya saat ia lelah setelah sebelumnya diajak menemani bunda getting berita, wajahnya yang menghitam setelah satu bulan dibawa KKN, hidup di pedalaman kabupaten Garut dengan orang-orang yang asing, dan episode-episode lainnya yang tiba-tiba saja berhamburan. Fathan, dengan segala tingkah dan polahnya memberikan banyak warna yang begitu berarti dalam kelulusan saya. Saya baru sadar, fathan telah mengubah banyak hal dalam hidup saya. Ia lebih dari sekedar berarti. Ia sangat berarti. Ia ada dan selalu menemani. Ia luar biasa. Hingga pernah suatu saat saya merasa khawatir ketika tahu fathan akan segera punya adik, saya khawatir perasaan saya pada fathan akan berubah. Saya khawatir fathan merasa tersaingi hingga perasaan cinta saya tak sampai padanya dengan sempurna. Karena fathan bagi saya, begitu istimewa. Hingga, cerita tentang fathan selalu saya ingat sebagai kisah yang mewarnai perjalanan saya meraih gelar sarjana.

Selain fathan, episode bersama Ia yang telah tiada pun juga menempati tempat yang khusus. Ah, papap. Apa kabarmu disana? Sayang kau tak sempat melihatku bertoga awal Mei kelak. Terima kasih atas keringat-keringat yang bercucuran untuk menafkahiku, membiayai setiap kebutuhan studiku. Laptop pemberianmu masih tersimpan, meski sudah rusak. Buku-buku pemberianmu juga masih kusimpan, ia sebaik-baik warisan yang kau berikan. Terima kasih papap, semoga kita berjumpa lagi, kelak di syurga Allah..

Atas kelulusan ini, saya juga sangat berterima kasih pada Senior Fathan, kembaran yang terpaut jarak usia jauh, ayah Fathan. Hehe. Ia selalu memberikan masukan dalam setiap perjalanan pengerjaan skripsi. Sembari saya juga sedikit membantu dia membuat transkrip wawancara untuk disertasinya. Bersama-sama mendiskusikan metode penelitian, kultur universitas, dan lain-lain. Semua begitu menyenangkan, saat semua kita kerjakan bersama sama J

Untuk mamah juga, atas supportnya yang luar biasa. Mamah, seseorang yang membuatku menjadi anak-anak lagi saat Ia mengantar ke kampus pada saat sidang kompre dan sidang skripsi. (Teman-teman yang lain diantar pacarnya) Aku yang udah emak2 ini dianter emak sendiri, sesuatu banget :D

Teh dewi dan Mas Amin yang ikut kecipratan repotnya karena harus jaga fathan selagi emaknya sidang. A ihsan dan teh syahidah yang ikut mendoakan dalam jauhnya jarak mereka dengan saya. Rodiah yang juga ikut membantu dengan doanya. Bapak dan Ibu mertua serta kakak dan adik ipar yang juga selalu menanti-nanti kabar kelulusan saya, here I am!

Terima kasih semuanyaaa..terima kasih jurnal 07 yang luar biasa, terima kasih agnes, gama, yasun, cahoy, dika, rivki, albi, dan lingga atas kenangan-kenangan manis dalam upaya peraihan gelar sarjana. Semoga Mei nanti bukan wisuda terakhir kita (masih lanjutin belajar ke tingkat berikutnyaa J). Dan yang lebih penting, semoga ilmu ini bisa bermanfaat untuk kebaikan ummat, Negara, bangsa, dan agama. Aamiin J

5 comments:

  1. Nah ternyata sangat mampu lulus dengan baik kan? Selamat ya Han. ikut bahagia bersama keluargamu.

    Di FISIP HI ada yang cumlaude IPKnya di atas anak saya, 3,72. Second bestnya 3.45 doang.

    ReplyDelete
  2. Oh ini beneran ya ada yang dianterin? Anak saya nggak, jalan sendiri aja, saya cukup shalat untuk dia di rumah. Dia juga nggak mau dilihat keluarga sih. :-D

    ReplyDelete
  3. Sedikit mirip kata pengantar skripsi. Tapi tetep bikin terharu :')
    Titip cubit Fathan ya :p

    ReplyDelete
  4. iya bun, alhamdulillah. seneng juga denger anak bunda lulus :))

    hehe. itu juga habis dianterin langsung pulang sih. akunya ga mau ditungguin, pertama kasian mamah karena bakal lama, kedua jadi grogi kalau ada keluarga :P

    ReplyDelete
  5. hihi.iya teh emang..ga bisa ngerem diri untuk mengutarakan terima kasih :D :D

    kata fathan, dia berhasil menghindar dari cubitannya. ammah echa belum beruntung, heheh

    ReplyDelete