Thursday, 26 April 2012

menjadi perantara syukur

“Kehamilan bukan sekedar peristiwa biologis, tapi lebih kepada keajaiban Allah. Seperti apapun teori manusia berucap, kalau Allah berkehendak lain ya pasti lain ceritanya..”

Kalimat di atas meluncur begitu saja dari mulut saya, saat berbincang bersama adik kelas yang curhat karena sudah 10 bulan menikah, tapi belum juga dikaruniai keturunan. Padahal menurut pemeriksaan medis, dia-ataupun pasangannya tidak mengalami masalah apapun. Hanya saja memang mereka masih tinggal berjauhan, belum satu rumah.

“Teteh udah mau dua, aku satu pun belum dikasih. Suka jadi stress..”

Ah, sejenak saya tersentak.

Keturunan yang Allah karuniakan adalah kenikmatan yang tidak Dia berikan pada semua. Maka, tetap menjaga diri di depan orang yang belum dikaruniai tetaplah menjadi suatu kewajiban..

“Diambil hikmahnya aja dek, teteh dulu ga sempet loh ngalamin masa lama pacaran berdua sama suami. Begitu nikah langsung Allah kasih, langsung jadi Ibu..Sekarang malah kalau mau pacaran berdua kebingungan, ini anak-anak mau ditaro dimana? Hehe”

Tentu saja ini dimaksudkan untuk menghibur, bukan menyesali kehamilan saya dulu.

“Lagian kan sekarang masih pisah sama suami, mungkin Allah kasian kalau kamu jalanin kehamilan sendiri. Insya Allah kalau nanti udah serumah, mudah-mudahan Allah kasih ya..”

Setau saya memang begitu, seperti halnya orang tua saya dahulu. Saat pisah kota, belum dikaruniai. Begitu tinggal serumah, Alhamdulillah Allah berkenan karuniai..

“Dan yang harus tetep disyukuri dek, Alhamdulillah menurut medis ga ada masalah apa-apa. Berarti tinggal menunggu kapan Allah akan berkehendak. Yang lain ada loh dek ternyata yang harus pengobatan ini itu dulu..”

Ah, bicara seperti ini rasanya membuat hati semakin meleleh. Saya mendapatkan semuanya dengan sangat mudah, lancar, bebas hambatan. Maka, mestinya segala tantangan ketika hamil menjadi suatu hal yang harus disyukuri ya? Tidak semua bisa merasakan ‘nikmatnya’ mengalami masa mual, lemas, lelah, lesu saat kehamilan. Saya yang sudah dipercaya seharusnya bisa menerima dan bersyukur. Apalagi hanya mengalami pada trimester pertama, dibandingkan dengan kenikmatan setelahnya, seharusnya yang 3 bulan ini menjadi tidak ada apa-apanya. Ah Allah, malu.

 

Tahu, mengapa kita tak boleh terlalu senang berlebihan saat dikaruniai kenikmatan?

Agar kita menjaga yang lain untuk tetap bersyukur..

Karena, tak semestinya kita menjadi perantara orang untuk kufur nikmat..

Yang hamil, menjaga perasaan orang yang belum hamil..

Yang sudah menikah, menjaga perasaan orang yang belum menikah..

Yang kaya, menjaga perasaan orang yang miskin..

Yang sempurna fisiknya, menjaga perasaan orang yang memiliki kekurangan fisik..

Indah.

Kita menjaga diri bukan lantaran orang-orang disekitar kita iri..

Kita menjaga diri bukan berarti kita tidak berhak mengekspresikan rasa senang dan syukur kita..

Kita menjaga diri karena kita ingin sama-sama bersyukur dengan mereka yang belum mendapati nikmat yang sudah kita dapati..

Karena menjadi perantara syukur bagi orang lain adalah kenikmatan dan kebahagiaan yang sesungguhnya J

 

Cimahi, 27 April 2012

2 comments:

  1. Seharusnya demikian, tidak berlebihan dalam senang dan sedih. Bersyukur secara berlebihan (manampilkan dlm bentuk glamour) akan membuat orang lain sakit hati, melah cenderung riya.
    Di kantor lama, ada seorang karyawati yg selalu bercerita ttg anaknya, baik anaknya sdg gembira, sakit, maupun sdg menjengkelkan, padahal ada 1 karyawati yg sdh bertahun2 blm dikaruniai keturunan. Suatu saat si karyawati ini curhat bahwa sebenarnya dia kurang suka bila mendengarkan temannya itu menceritakan anaknya secara berlebihan krn ia blm memiliki keturunan. (kok, jd cerita panjang? hehehe....)

    ReplyDelete
  2. Nikmatilah karunia-Nya yang indah ya Han. Semoga hidupmu jadi semakin bermakna.

    ReplyDelete