Wednesday, 18 April 2012

baikkan kita, maka kondisi pun akan membaik ^^

Akhir-akhir ini, saya sangat senang membaca dan menulis tentang hikmah dan pembelajaran di balik pernikahan. Bagi saya, ini hal yang menyenangkan. Selain bisa berbagi kepada banyak orang, saya juga secara tidak sadar sembari mengevaluasi pernikahan yang saya jalani. Seperti kemarin, membaca tulisan di blog seorang kawan yang juga menuliskan tentang renungan pernikahan.Ada hal yang menarik dan saya ingat hingga saat ini, meski redaksinya tidak detil saya ingat..

Pada intinya, teman saya –sebut saja reisha- hihi :P menulis, bahwa seyogianya sepasang suami istri harus saling peka dan menghargai. Baik istri, maupun suami, sama-sama memiliki peran,dan  pernikahan bukan tempat untuk menimbang siapa yang lebih berat bebannya siapa yang lebih ringan, siapa yang berhak untuk merasa lelah, siapa yang tidak, bukan. Intinya, dengan perbedaan peran itulah justru suatu pernikahan menjadi indah- kala orang orang didalamnya belajar untuk saling menghargai.

Ini betul-betul saya alami. Seharian mengerjakan pekerjaan rumah sendiri sambil mengurus anak –yang padahal baru satu- rasanya badan ini ga karuan. Lelah. (ini lebih ke faktor tidak membiasakan diri sejak dini, hihi). Jadi, ketika suami pulang dari kantor, inginnya dia yang gantian –minimal untuk jaga fathan- sambil saya rehat sejenak. Tetapi suami juga ternyata pulang ke rumah dengan harapan yang sama. Pulang dari kantor dengan berbagai pekerjaan yang melelahkan, inginnya di rumah disambut dengan muka ceria, rumah yang rapih, plus penampilan yang segar. Kondisi seperti ini terkadang sangat rawan, rawan konflik jika tidak berupaya saling memahami dan menghargai. Terlebih, latar belakang saya sebelum menikah, apa-apa selalu dibantu sama pembantu. Suami pun, dibesarkan oleh seorang ibu yang sangat memanjakan anaknya. Apa-apa disiapkan. Bisa dibayangkan, dua orang dengan latar belakang mirip bertemu dalam bingkai pernikahan. Kalau tidak ada yang mau mengalah dan berbesar hatiiii…bisa-bisa perang dunia ketiga pecah. Heheh.

Seringkali, suami yang mengalah duluan untuk hal ini. Saya minta, setelah sampai rumah, sempatkan waktu minimal 10 menit untuk menanyakan kabar saya, juga untuk bermain bersama fathan. Selanjutnya biasanya kami makan malam bersama, lalu dia bersih-bersih diri, kemudian menyempatkan lagi sejenak menikmati family time, dan kami rehat..Tak banyak memang waktu yang kami miliki bersama pada hari kerja. Pergi kerja jam 6 pagi dan pulang ke rumah jam 7 malam membuat kami tak memiliki banyak kesempatan bertemu tatap muka. Meski komunikasi selalu berjalan selagi dia di kantor.

Dan yah, inilah pernikahan bagi saya. Pembelajaran luar biasa tentang bagaimana kita harus hidup. Intinya, baikkan diri kita, maka orang pun akan berangsur membaik. It works! Terlebih, bagi saya seorang istri dan ibu ideal adalah suhu penghangat keluarga. Ia yang harus selalu menjaga agar keharmonisan itu ada dalam keluarga.Hingganya, seorang suami berangkat bekerja dengan hati yang riang gembira, tidak berbekal geram dan amarah dengan carut marut rumah tangga. Hingganya, seorang anak bisa beraktifitas dengan penuh ceria, menikmati hari-hari pengasuhan yang luar biasa bersama sang bunda. See, ini jauh lebih baik daripada selalu menuntut pasangan supaya selalu baik tanpa kita membaikkan sikap kita pada pasangan. Kalau versi Aa Gym,  semua selalu dimulai dari diri sendiri, mulai dari hal-hal kecil, daaan, mulai dari sekarang. Kalau kata Mario Teguh, pantaskan diri kita untuk menerima kebaikan-kebaikan yang kita harapkan. Saat kita tak cukup baik, maka pantaskah kita mengharap yang baik2? J

Beautiful life, Alhamdulillah. Bimbing kami selalu ya Allah..

Cimahi, 19 April 2012

Makasih teh echa atas bingkai pernikahannya. Its sooo touchy J

6 comments:

  1. Ehm, sebut merk :p
    Alhamdulillaah, senang jg bs 'berkenalan' sm Nichan disini :)

    ReplyDelete
  2. heheh. aku mengagumi caramu nulis teh, dari segi kualitas dan kuantitas. ada waktu khusus untuk nulis ya?

    ReplyDelete
  3. Alhamdulillaah, berkat dikomporin suami utk mengarsipkan tulisan. Smg bs bermanfaat buat yg ikut baca :)
    Waktu khusus? Ga mengkhususkan sih, hehe. Yang penting tiap hari ditarget punya satu judul utk ditulis. Kebanyakan dari yg dialami, sekalian muhasabah ;)
    Aku juga suka baca tulisan2 bunda Fathan, hehe. Bakal sering2 ngintip blog-nya nii, hehe

    ReplyDelete
  4. waaah.. ayo han,banyak banyak nulis tentang pernikahan biar aku bisa banyak belajar.. masih baru banget ini aku :p

    ReplyDelete
  5. uwaw! 1 hari satu judul! pantes banyak bangeet..tapi tetep ga kehilangan keindahan dari tiap-tiap tulisan. keep writing teteh, aku bakal selalu jadi pembaca setia :))
    aku sih targetnya masih satu bulan satu tulisan, tapi lagi ditingkatin lagi, satu minggu satu tulisan. kalo harus jadi satu hari...uwaaah, ga kebayang tunggakan utangnya :P hehe

    ReplyDelete
  6. eh aku juga belajar dari teteh lah, supaya pernikahannya tetep seger kaya di awal-awal pernikahan, hihi..*dulu kerjaan kita ngacak2 dapur ave, tau2 sekarang udah saling berbagi cerita dapur rumah tangga aje ya teh :D

    ReplyDelete