Tuesday, 24 April 2012

akun tak bermajikan

Belakangan, saya mempunyai kebiasaan yang agak lain. Saya suka sekali melihat akun-akun dunia maya yang pemiliknya sudah tiada. Akun facebook, ataupun juga twitter. Saya ingin melihat seperti apa kisah kehidupan mereka sebelum ajal akhirnya menjemput. Dan itu mencengangkan. Beberapa orang seolah tahu bahwa ia akan menjemput ajalnya dalam waktu dekat. Status atau tweet mereka seperti menyiratkan hal tersebut, setidaknya bagi saya yang membaca, meski entah sebenarnya apa yang ada dibalik pikiran mereka saat menulis hal tersebut. Seorang kawan menulis tentang kampung syurga serta kerinduan tentangnya, yang lainnya mengatakan bahwa saat ini sangat sedikit teladan yang bisa diikuti-kebanyakan teladan itu adalah mereka yang sudah pergi, yang lain lagi menulis “saat-saat perjumpaan itu sudah dekat, lancarkan ya Allah..”, ada juga yang bahkan menulis notes terakhir dalam hidupnya, yang isinya pun tentang kematian (ini karena beliau akan menghadapi operasi, yang ternyata memang menjadi akhir dari perjalanan hidup beliau di dunia).

Feeling. Apakah ia memang ada? Orang yang tak lama lagi meninggal konon bisa merasakan bahwa hidupnya memang tak lagi lama. Seperti itu kah? (bertanya pada rumput yang bergoyang ceritanya)  Dari situ, saya jadi terfikir, dunia maya sudah menjelma menjadi desa global. Maka, seperti layaknya kehidupan nyata, apakah kehidupan maya juga kelak akan menyediakan “kuburan” bagi akun-akun yang tak lagi bermajikan?

Karena hingga saat ini dunia maya tidak memisahkan siapa yang sudah tiada dan siapa yang masih ada, dan dunia maya juga tidak memiliki prosedur khusus kepada akun yang tak lagi bermajikan, maka kemarin saya putuskan untuk menyimpan rapih semua username beserta password saya di hp suami. Saya kirim pada dia melalui sms. Yang dikirimi merasa bingung.

“Kenapa bun, tiba-tiba kirim gituan?”

“Bisi bunda meninggal duluan. Terus ayah nanti mau bangun rumah tangga lagi sama orang dan ga mau keganggu bayang-bayang bunda. Jadi bisa update status married to yang baru dan deactivate-in akun bunda..”

Yang dibilangin malah mencibir, tidak suka dengan tema pembicaraan itu, hehe.Tapi ketika itu saya memang serius ko. Saya ingin dia menyimpan baik2 arsip itu, hingga suatu ketika saya sudah tiada, dia bisa membaca-baca perjalanan hidup saya, bahkan sejak saya dan dia belum dipertemukan. Saya ingin dia menyimpan baik-baik semua itu, agar dia bisa membaca catatan-catatan yang tidak saya publish kepada semua orang (di email misalnya). Saya hanya ingin dia menjaganya untuk saya, itu saja.

Coba tengok akunmu di dunia maya, berkunjunglah ke akun-akun yang sudah tak bermajikan, dan belajarlah banyak dari sana. Kelak, nasib akun kita pun akan serupa dengan mereka. Lalu, status2 kita, tweets kita, notes kita, blog kita, akan juga kita pertanggung jawabkan di hadapan Allah. Maka, berhati-hatilah terhadapnya seperti engkau berhati-hati dengan lidahmu di dunia nyata. Yang juga harus dijaga adalah, sejauh mana kesamaan antara kita di dunia maya dan dunia nyata. Allah membenci orang yang berkata tapi tidak melakukan yang dikatakannya bukan? Maka jika kita gemar sekali melakukan pencitraan di dunia maya tanpa membaikkan diri kita di dunia nyata, bukankah itu adalah hal yang sama dengan bentuk yang berbeda- berkata tanpa melakukan tindak nyata terhadap apa yang dikatakan?

 

Kematian selalu menjadi sebaik-baik nasihat, semoga dengan berkunjung ke akun tanpa majikan, bisa sedikit mengganti kebiasaan baik yang jarang kita lakukan : ziarah kubur dan mengingat mati..

Cimahi, 25 April 2012

“Wa amithaa ‘alaa syahadati fii sabiilik..”

6 comments:

  1. Semoga postingan2 kita memberikan kesan positif sewaktu kita tinggalkan. Hik..hik..hik...

    ReplyDelete
  2. aku juga kemarenan ngasih akun dan password ke suami.. biar nanti pas aku meninggal,akun aku ditutup sama dia.. atau dikasih pemberitahuan kalo aku udah meninggal

    ReplyDelete
  3. aamiin. minimal jadi poin amal kebaikan buat kita ya :) *bukan malah nambah dosa :D

    ReplyDelete
  4. hihi. sepikiran berarti kita ya teh :P

    ReplyDelete
  5. Han, jadi inget akunnya Nita Febri, waktu dia meninggal mendadak setelah sakit yang sebenarnya lama, kami melarang adiknya nutup akun itu, karena isinya banyak manfaatnya. Eh, pada suatu hari ada orang masuk masih dengan identitas "kepala gundul" yang maknanya pasti orang terpaksa bikin akun di sini biar bisa ngomentarin atau nanya di blognya Nita. Dan benar, orang itu tertarik baca jurnal-jurnalnya Nita serta berniat minta tolong menghadapi persoalan keluarganya. Ya, berhubung Nita udah nggak bisa jawab sendiri, ya tante lah yang numpang jawabin bahwa ybs sudah wafat.

    Jadi, sepanjang ngeblog, kalau bisa mah, tinggalkan tulisan-tulisan yang bermanfaat, begitu lho.

    ReplyDelete
  6. hal sama terpikirkan han..
    bahkan 10 tahun kedepan ada brp banyak akun tak bertuan..
    dan entah kapan akun ai tak lagi bertuan..:)

    ReplyDelete