Thursday, 26 April 2012

ayah aku mohon maaf

Tadi udah mau turn off laptop, tapi liat desktop background nya malah jadi pengen nangis. Ditambah lagi denger lagu "ayah aku mohon maaf" nya ebiet g ade. Air mata bercucuran..

Merindukanmu, ayah. Sangat :')
Merindukan perbincangan2 singkat kita yang bermakna dan berharga..
Selalu, selamanya, kau lelaki terbaik yang pernah kutemui dalam hidupku

Dan pohon kemuning akan segera kutanam
Satu saat kelak dapat jadi peneduh
Meskipun hanya jasad bersemayam di sini
Biarkan aku tafakkur bila rindu kepadamu

Walau tak terucap aku sangat kehilangan
Sebahagian semangatku ada dalam doamu
Warisan yang kau tinggal petuah sederhana
Aku catat dalam jiwa dan coba kujalankan

Meskipun aku tak dapat menungguimu saat terakhir
Namun aku tak kecewa mendengar engkau berangkat
Dengan senyum dan ikhlas aku yakin kau cukup bawa bekal
Dan aku bangga jadi anakmu

Ayah aku berjanji akan aku kirimkan
Doa yang pernah engkau ajarkan kepadaku
Setiap sujud sembahyang engkau hadir terbayang
Tolong bimbinglah aku meskipun kau dari sana

Sesungguhnya aku menangis sangat lama
Namun aku pendam agar engkau berangkat dengan tenang
Sesungguhnyalah aku merasa belum cukup berbakti
Namun aku yakin engkau telah memaafkanku

Air hujan mengguyur sekujur kebumi
Kami yang ditinggalkan tabah dan tawakkal

Ayah aku mohon maaf atas keluputanku
Yang aku sengaja maupun tak kusengaja
Tolong padangi kami dengan sinarnya sorga
Teriring doa selamat jalan buatmu ayah tercinta..

menjadi perantara syukur

“Kehamilan bukan sekedar peristiwa biologis, tapi lebih kepada keajaiban Allah. Seperti apapun teori manusia berucap, kalau Allah berkehendak lain ya pasti lain ceritanya..”

Kalimat di atas meluncur begitu saja dari mulut saya, saat berbincang bersama adik kelas yang curhat karena sudah 10 bulan menikah, tapi belum juga dikaruniai keturunan. Padahal menurut pemeriksaan medis, dia-ataupun pasangannya tidak mengalami masalah apapun. Hanya saja memang mereka masih tinggal berjauhan, belum satu rumah.

“Teteh udah mau dua, aku satu pun belum dikasih. Suka jadi stress..”

Ah, sejenak saya tersentak.

Keturunan yang Allah karuniakan adalah kenikmatan yang tidak Dia berikan pada semua. Maka, tetap menjaga diri di depan orang yang belum dikaruniai tetaplah menjadi suatu kewajiban..

“Diambil hikmahnya aja dek, teteh dulu ga sempet loh ngalamin masa lama pacaran berdua sama suami. Begitu nikah langsung Allah kasih, langsung jadi Ibu..Sekarang malah kalau mau pacaran berdua kebingungan, ini anak-anak mau ditaro dimana? Hehe”

Tentu saja ini dimaksudkan untuk menghibur, bukan menyesali kehamilan saya dulu.

“Lagian kan sekarang masih pisah sama suami, mungkin Allah kasian kalau kamu jalanin kehamilan sendiri. Insya Allah kalau nanti udah serumah, mudah-mudahan Allah kasih ya..”

Setau saya memang begitu, seperti halnya orang tua saya dahulu. Saat pisah kota, belum dikaruniai. Begitu tinggal serumah, Alhamdulillah Allah berkenan karuniai..

“Dan yang harus tetep disyukuri dek, Alhamdulillah menurut medis ga ada masalah apa-apa. Berarti tinggal menunggu kapan Allah akan berkehendak. Yang lain ada loh dek ternyata yang harus pengobatan ini itu dulu..”

Ah, bicara seperti ini rasanya membuat hati semakin meleleh. Saya mendapatkan semuanya dengan sangat mudah, lancar, bebas hambatan. Maka, mestinya segala tantangan ketika hamil menjadi suatu hal yang harus disyukuri ya? Tidak semua bisa merasakan ‘nikmatnya’ mengalami masa mual, lemas, lelah, lesu saat kehamilan. Saya yang sudah dipercaya seharusnya bisa menerima dan bersyukur. Apalagi hanya mengalami pada trimester pertama, dibandingkan dengan kenikmatan setelahnya, seharusnya yang 3 bulan ini menjadi tidak ada apa-apanya. Ah Allah, malu.

 

Tahu, mengapa kita tak boleh terlalu senang berlebihan saat dikaruniai kenikmatan?

Agar kita menjaga yang lain untuk tetap bersyukur..

Karena, tak semestinya kita menjadi perantara orang untuk kufur nikmat..

Yang hamil, menjaga perasaan orang yang belum hamil..

Yang sudah menikah, menjaga perasaan orang yang belum menikah..

Yang kaya, menjaga perasaan orang yang miskin..

Yang sempurna fisiknya, menjaga perasaan orang yang memiliki kekurangan fisik..

Indah.

Kita menjaga diri bukan lantaran orang-orang disekitar kita iri..

Kita menjaga diri bukan berarti kita tidak berhak mengekspresikan rasa senang dan syukur kita..

Kita menjaga diri karena kita ingin sama-sama bersyukur dengan mereka yang belum mendapati nikmat yang sudah kita dapati..

Karena menjadi perantara syukur bagi orang lain adalah kenikmatan dan kebahagiaan yang sesungguhnya J

 

Cimahi, 27 April 2012

Tuesday, 24 April 2012

akun tak bermajikan

Belakangan, saya mempunyai kebiasaan yang agak lain. Saya suka sekali melihat akun-akun dunia maya yang pemiliknya sudah tiada. Akun facebook, ataupun juga twitter. Saya ingin melihat seperti apa kisah kehidupan mereka sebelum ajal akhirnya menjemput. Dan itu mencengangkan. Beberapa orang seolah tahu bahwa ia akan menjemput ajalnya dalam waktu dekat. Status atau tweet mereka seperti menyiratkan hal tersebut, setidaknya bagi saya yang membaca, meski entah sebenarnya apa yang ada dibalik pikiran mereka saat menulis hal tersebut. Seorang kawan menulis tentang kampung syurga serta kerinduan tentangnya, yang lainnya mengatakan bahwa saat ini sangat sedikit teladan yang bisa diikuti-kebanyakan teladan itu adalah mereka yang sudah pergi, yang lain lagi menulis “saat-saat perjumpaan itu sudah dekat, lancarkan ya Allah..”, ada juga yang bahkan menulis notes terakhir dalam hidupnya, yang isinya pun tentang kematian (ini karena beliau akan menghadapi operasi, yang ternyata memang menjadi akhir dari perjalanan hidup beliau di dunia).

Feeling. Apakah ia memang ada? Orang yang tak lama lagi meninggal konon bisa merasakan bahwa hidupnya memang tak lagi lama. Seperti itu kah? (bertanya pada rumput yang bergoyang ceritanya)  Dari situ, saya jadi terfikir, dunia maya sudah menjelma menjadi desa global. Maka, seperti layaknya kehidupan nyata, apakah kehidupan maya juga kelak akan menyediakan “kuburan” bagi akun-akun yang tak lagi bermajikan?

Karena hingga saat ini dunia maya tidak memisahkan siapa yang sudah tiada dan siapa yang masih ada, dan dunia maya juga tidak memiliki prosedur khusus kepada akun yang tak lagi bermajikan, maka kemarin saya putuskan untuk menyimpan rapih semua username beserta password saya di hp suami. Saya kirim pada dia melalui sms. Yang dikirimi merasa bingung.

“Kenapa bun, tiba-tiba kirim gituan?”

“Bisi bunda meninggal duluan. Terus ayah nanti mau bangun rumah tangga lagi sama orang dan ga mau keganggu bayang-bayang bunda. Jadi bisa update status married to yang baru dan deactivate-in akun bunda..”

Yang dibilangin malah mencibir, tidak suka dengan tema pembicaraan itu, hehe.Tapi ketika itu saya memang serius ko. Saya ingin dia menyimpan baik2 arsip itu, hingga suatu ketika saya sudah tiada, dia bisa membaca-baca perjalanan hidup saya, bahkan sejak saya dan dia belum dipertemukan. Saya ingin dia menyimpan baik-baik semua itu, agar dia bisa membaca catatan-catatan yang tidak saya publish kepada semua orang (di email misalnya). Saya hanya ingin dia menjaganya untuk saya, itu saja.

Coba tengok akunmu di dunia maya, berkunjunglah ke akun-akun yang sudah tak bermajikan, dan belajarlah banyak dari sana. Kelak, nasib akun kita pun akan serupa dengan mereka. Lalu, status2 kita, tweets kita, notes kita, blog kita, akan juga kita pertanggung jawabkan di hadapan Allah. Maka, berhati-hatilah terhadapnya seperti engkau berhati-hati dengan lidahmu di dunia nyata. Yang juga harus dijaga adalah, sejauh mana kesamaan antara kita di dunia maya dan dunia nyata. Allah membenci orang yang berkata tapi tidak melakukan yang dikatakannya bukan? Maka jika kita gemar sekali melakukan pencitraan di dunia maya tanpa membaikkan diri kita di dunia nyata, bukankah itu adalah hal yang sama dengan bentuk yang berbeda- berkata tanpa melakukan tindak nyata terhadap apa yang dikatakan?

 

Kematian selalu menjadi sebaik-baik nasihat, semoga dengan berkunjung ke akun tanpa majikan, bisa sedikit mengganti kebiasaan baik yang jarang kita lakukan : ziarah kubur dan mengingat mati..

Cimahi, 25 April 2012

“Wa amithaa ‘alaa syahadati fii sabiilik..”

hikmah di balik misteri

“Hal yang misterius selalu berharga, karena ketidaktahuan kita akan hal itu, maka semua hal harus kita pertaruhkan untuk meraih kepastian terbaik”

Dulu, sebelum menikah, saya membenci hal-hal misterius. Pasalnya sangat sederhana, hal-hal misterius seperti menyuruh saya menunggu tentang kepastian dibaliknya. Dan itu melelahkan. Hingga akhirnya setelah menikah, saya semakin banyak belajar, bahwa dibalik hal yang misterius itu selalu ada hikmah yang Ia selipkan. Mengapa tonggaknya pernikahan? Karena jodoh pun adalah bagian dari misteri, bukan? Dulu pernikahan adalah hal yang sangat misterius bagi saya. Dengan siapa saya akan menikah, seperti apa pernikahan saya, semua sangat misterius. Ada kekuatan di luar kekuatan kita yang bergerak mengatur itu..

Lagi, mengapa tonggaknya pernikahan? Karena setelah menikah pula lah saya kehilangan sosok lelaki yang sangat berpengaruh dalam perjalanan hidup saya, dia yang tak terganti, papap. Seperti halnya jodoh, saya faham bahwa maut pun adalah misteri milikNya. Tak pernah terbayangkan pedih dan sakit karena ditinggal seorang ayah, terlebih karena saya pun memiliki kedekatan khusus dengannya. Dia yang selalu bertanya seberapa banyak saya sudah menulis, dia yang selalu bertanya perkembangan saya dan keluarga kecil saya, dia yang diamnya selalu meneduhkan hati siapa saja yang melihatnya.

Ah, kita memang tak pernah tahu seperti apa akhir hidup kita dan kehidupan setelahnya, benar-benar tak terbayangkan. Kadang saya benar-benar super penasaran, ingin tahu seperti apa rasanya mati? seperti apa saya akan mati? Dan seperti apa kehidupan saya setelah mati? Saya, anda, kita semua tak pernah tahu akan hal tersebut. Hanya tahu bahwa itu kepastian, akan terjadi, tanpa tahu detil-detilnya. Dan karena kita tidak pernah tahu siapa akan meninggalkan siapa, maka setiap perjalanan hidup kita menjadi sangat berharga, orang-orang yang berada di sekeliling kita pun menjadi sangat berharga. Siapa bisa menjamin kita bisa bersama suami kita hingga tua? Siapa bisa menjamin kita masih berkesempatan melihat anak-anak kita tumbuh besar? Bahkan siapa yang bisa menjamin bahwa esok masih menjadi jatah hidup kita? Tidak ada yang bisa menjamin. Tidak saya, tidak juga Anda.

Maka sekali lagi, renungan saya sampai pada, hal-hal misterius itu selalu berharga. Karena kita diberikan peluang untuk menciptakan kepastian dibalik hal misterius tersebut. Jodoh, seberapapun misteriusnya, Allah menyuruh kita membaikkan diri hingga kita pantas mendapatkan yang juga baik. Itulah bagian dari usaha kita. Kematian, seberapapun misteriusnya, Allah menyuruh kita membiasakan diri melakukan hal-hal kebaikan, karena kematian seseorang tak akan jauh dari bagaimana caranya hidup. Rezeki, seberapapun misteriusnya, Allah menyuruh kita berusaha meraihnya sekuat tenaga kita, hingga sampailah rezeki itu di tangan kita. Sesuatu diciptakan Allah secara misterius untuk melihat, siapa yang lebih baik usahanya, siapa yang hanya seadanya dan sebisanya saja. Andailah masing-masing kita mengetahui kapan akan mati, mungkin akan lain ceritanya. Kita, atau saya, mungkin akan berpikir, oh..masih lama ini matinya. Nanti kan bisa dikebut menjelang kematian (logika yang sama saat menghadapi deadline tugas kuliah, atau saat menghadapi uas). Kemungkinan lain  yang bisa saja terjadi saat kita mengetahui kapan akhir hidup kita, mungkin kita malah tak bisa mengerjakan apa-apa, saking takutnya menghadapi waktu kematian.

Karenanya, Allah jadikan ia tetap sebagai suatu misteri. Seperti juga Allah menyimpan rezeki kita sebagai misteri. Tak bisa terbayangkan apa jadinya kalau seseorang sudah diberi tahu bahwa dia diciptakan menjadi si miskin, pastilah untuk berusaha saja rasanya sangat malas. Karena kita tidak pernah tahu seperti apa rezeki kita, maka kita pun mengusahakan yang terbaik untuknya. Bagaimana juga jika kita sudah mengetahui dari awal siapa yang akan jadi pasangan kita? Mungkin kita tidak bisa menjaga diri karena merasa pede bahwa pada akhirnya dia juga akan menjadi pasangan kita. *idih. Atau mungkin juga malah jadi hopeless, karena pengennya sama yang lain. Hehe. See, sangat menyenangkan mengetahui bahwa semua itu adalah misteri yang masih bisa diusahakan.

Sama halnya dengan masa depan, masa lalu pun bagi saya masih banyak meninggalkan misteri yang memancing rasa penasaran yang sangat berbekas. Kadang wujudnya bisa menjadi hal yang bermanfaat, seperti dari siapa saya berasal, siapa kakek-kakek-kakeknya kakek saya, apakah saya ini memiliki hubungan kekerabatan dengan tokoh-tokoh terkenal dalam sejarah *hehe (dalam silsilah keluarga dari mamah, saya katanya keturunan sekian dari salah satu sunan di walisongo. Lupa sunan siapa ) Mengetahui tersebut adalah hal yang menyenangkan, selain karena bisa menguak misteri (meski entah benar atau tidak), pengetahuan tentang masa lalu juga bisa menjadi cermin pembelajaran untuk kita di masa sekarang. Namun, tak semua dari masa lalu saya ingin kuak kebenarannya, sebagian saya biarkan ia tetap menjadi misteri. Terkadang terlalu banyak tahu akan sesuatu membuat kita menjadi tidak nyaman, dan seperti itulah jadinya. Ah, lagipula masa lalu telah berlalu..

Simpulan saya akhirnya begini,  misteri itu bukan sesuatu yang harus kita tunggu seperti apa kepastiannya, karena itu melelahkan. Misteri adalah sesuatu yang seharusnya menggerakkan kita untuk berusaha membuat peluang-peluang tentang bagaimana kepastian misteri itu pada akhirnya.

Cimahi, 24 April 2012

Wednesday, 18 April 2012

baikkan kita, maka kondisi pun akan membaik ^^

Akhir-akhir ini, saya sangat senang membaca dan menulis tentang hikmah dan pembelajaran di balik pernikahan. Bagi saya, ini hal yang menyenangkan. Selain bisa berbagi kepada banyak orang, saya juga secara tidak sadar sembari mengevaluasi pernikahan yang saya jalani. Seperti kemarin, membaca tulisan di blog seorang kawan yang juga menuliskan tentang renungan pernikahan.Ada hal yang menarik dan saya ingat hingga saat ini, meski redaksinya tidak detil saya ingat..

Pada intinya, teman saya –sebut saja reisha- hihi :P menulis, bahwa seyogianya sepasang suami istri harus saling peka dan menghargai. Baik istri, maupun suami, sama-sama memiliki peran,dan  pernikahan bukan tempat untuk menimbang siapa yang lebih berat bebannya siapa yang lebih ringan, siapa yang berhak untuk merasa lelah, siapa yang tidak, bukan. Intinya, dengan perbedaan peran itulah justru suatu pernikahan menjadi indah- kala orang orang didalamnya belajar untuk saling menghargai.

Ini betul-betul saya alami. Seharian mengerjakan pekerjaan rumah sendiri sambil mengurus anak –yang padahal baru satu- rasanya badan ini ga karuan. Lelah. (ini lebih ke faktor tidak membiasakan diri sejak dini, hihi). Jadi, ketika suami pulang dari kantor, inginnya dia yang gantian –minimal untuk jaga fathan- sambil saya rehat sejenak. Tetapi suami juga ternyata pulang ke rumah dengan harapan yang sama. Pulang dari kantor dengan berbagai pekerjaan yang melelahkan, inginnya di rumah disambut dengan muka ceria, rumah yang rapih, plus penampilan yang segar. Kondisi seperti ini terkadang sangat rawan, rawan konflik jika tidak berupaya saling memahami dan menghargai. Terlebih, latar belakang saya sebelum menikah, apa-apa selalu dibantu sama pembantu. Suami pun, dibesarkan oleh seorang ibu yang sangat memanjakan anaknya. Apa-apa disiapkan. Bisa dibayangkan, dua orang dengan latar belakang mirip bertemu dalam bingkai pernikahan. Kalau tidak ada yang mau mengalah dan berbesar hatiiii…bisa-bisa perang dunia ketiga pecah. Heheh.

Seringkali, suami yang mengalah duluan untuk hal ini. Saya minta, setelah sampai rumah, sempatkan waktu minimal 10 menit untuk menanyakan kabar saya, juga untuk bermain bersama fathan. Selanjutnya biasanya kami makan malam bersama, lalu dia bersih-bersih diri, kemudian menyempatkan lagi sejenak menikmati family time, dan kami rehat..Tak banyak memang waktu yang kami miliki bersama pada hari kerja. Pergi kerja jam 6 pagi dan pulang ke rumah jam 7 malam membuat kami tak memiliki banyak kesempatan bertemu tatap muka. Meski komunikasi selalu berjalan selagi dia di kantor.

Dan yah, inilah pernikahan bagi saya. Pembelajaran luar biasa tentang bagaimana kita harus hidup. Intinya, baikkan diri kita, maka orang pun akan berangsur membaik. It works! Terlebih, bagi saya seorang istri dan ibu ideal adalah suhu penghangat keluarga. Ia yang harus selalu menjaga agar keharmonisan itu ada dalam keluarga.Hingganya, seorang suami berangkat bekerja dengan hati yang riang gembira, tidak berbekal geram dan amarah dengan carut marut rumah tangga. Hingganya, seorang anak bisa beraktifitas dengan penuh ceria, menikmati hari-hari pengasuhan yang luar biasa bersama sang bunda. See, ini jauh lebih baik daripada selalu menuntut pasangan supaya selalu baik tanpa kita membaikkan sikap kita pada pasangan. Kalau versi Aa Gym,  semua selalu dimulai dari diri sendiri, mulai dari hal-hal kecil, daaan, mulai dari sekarang. Kalau kata Mario Teguh, pantaskan diri kita untuk menerima kebaikan-kebaikan yang kita harapkan. Saat kita tak cukup baik, maka pantaskah kita mengharap yang baik2? J

Beautiful life, Alhamdulillah. Bimbing kami selalu ya Allah..

Cimahi, 19 April 2012

Makasih teh echa atas bingkai pernikahannya. Its sooo touchy J

Panggil Aku Sarjana Ilmu Komunikasi :D

Setiap hal memiliki pangkal juga ujung. Pun begitu dengan studi yang saya jalani hampir lima tahun ke belakang ini. Saya memulainya pada Agustus 2007, dan berakhir 16 April 2012 kemarin. Ini tentang kisah saya sebagai (mantan) mahasiswa jurusan Jurnalistik, Universitas Padjadjaran. Ada haru menyelinap ketika detik-detik yudisium bergulir. Takut dan khawatir dengan hasil yang tidak diharapkan, tapi juga senang karena tahu semua akan segera berakhir. Dan semua, sampai pada puncaknya ketika bu Pandan (dosen kami) mengumumkan bahwa kami (saya beserta 8 kawan lainnya) semua dinyatakan lulus dengan hasil yang sangat memuaskan, Alhamdulillah. Saya sendiri meraih nilai A untuk skripsi dan dengan IPK cumlaude 3,6. Hamdan laka ya Allah, bersyukur sekali dengan nikmat yang telah Allah anugerahi..

Sampai akhirnya di suatu titik di tengah yudisium, bulir-bulir air mata saya perlahan ke luar, semakin lama justru semakin deras dan sulit terbendung. Ini perasaan yang sulit dijelaskan. Spontanitas. Beberapa kali saya menengok ke belakang, menghapus bulir yang terlanjur jatuh. Malu, jika orang lain melihat dan menyadarinya. Namun, tetap saja, seorang kawan menyadari. “Wah, bunda nangis..”. Sontaklah saya menjadi bulan-bulanan kawan-kawan dan dosen. (Hal yang dihindari terjadi juga :D). Dan parahnya air mata semakin menderas saja hingga saya harus menengadahkan kepala agar ia terhenti, juga menggigit bibir agar tak terdengar suara isakan. Cukup sulit.

Ada sekelebat ingat yang tiba-tiba saja melintas ketika itu. Sekelebat ingat yang buat saya haru sampai menangis dan terisak, sekelebat ingat itu adalah bayang fathan. Wajah sendunya ketika ia ditinggalkan pergi, wajah manjanya saat ia ingin sang bunda mengalihkan perhatian dari laptop kepada dirinya, wajah lemasnya saat ia lelah setelah sebelumnya diajak menemani bunda getting berita, wajahnya yang menghitam setelah satu bulan dibawa KKN, hidup di pedalaman kabupaten Garut dengan orang-orang yang asing, dan episode-episode lainnya yang tiba-tiba saja berhamburan. Fathan, dengan segala tingkah dan polahnya memberikan banyak warna yang begitu berarti dalam kelulusan saya. Saya baru sadar, fathan telah mengubah banyak hal dalam hidup saya. Ia lebih dari sekedar berarti. Ia sangat berarti. Ia ada dan selalu menemani. Ia luar biasa. Hingga pernah suatu saat saya merasa khawatir ketika tahu fathan akan segera punya adik, saya khawatir perasaan saya pada fathan akan berubah. Saya khawatir fathan merasa tersaingi hingga perasaan cinta saya tak sampai padanya dengan sempurna. Karena fathan bagi saya, begitu istimewa. Hingga, cerita tentang fathan selalu saya ingat sebagai kisah yang mewarnai perjalanan saya meraih gelar sarjana.

Selain fathan, episode bersama Ia yang telah tiada pun juga menempati tempat yang khusus. Ah, papap. Apa kabarmu disana? Sayang kau tak sempat melihatku bertoga awal Mei kelak. Terima kasih atas keringat-keringat yang bercucuran untuk menafkahiku, membiayai setiap kebutuhan studiku. Laptop pemberianmu masih tersimpan, meski sudah rusak. Buku-buku pemberianmu juga masih kusimpan, ia sebaik-baik warisan yang kau berikan. Terima kasih papap, semoga kita berjumpa lagi, kelak di syurga Allah..

Atas kelulusan ini, saya juga sangat berterima kasih pada Senior Fathan, kembaran yang terpaut jarak usia jauh, ayah Fathan. Hehe. Ia selalu memberikan masukan dalam setiap perjalanan pengerjaan skripsi. Sembari saya juga sedikit membantu dia membuat transkrip wawancara untuk disertasinya. Bersama-sama mendiskusikan metode penelitian, kultur universitas, dan lain-lain. Semua begitu menyenangkan, saat semua kita kerjakan bersama sama J

Untuk mamah juga, atas supportnya yang luar biasa. Mamah, seseorang yang membuatku menjadi anak-anak lagi saat Ia mengantar ke kampus pada saat sidang kompre dan sidang skripsi. (Teman-teman yang lain diantar pacarnya) Aku yang udah emak2 ini dianter emak sendiri, sesuatu banget :D

Teh dewi dan Mas Amin yang ikut kecipratan repotnya karena harus jaga fathan selagi emaknya sidang. A ihsan dan teh syahidah yang ikut mendoakan dalam jauhnya jarak mereka dengan saya. Rodiah yang juga ikut membantu dengan doanya. Bapak dan Ibu mertua serta kakak dan adik ipar yang juga selalu menanti-nanti kabar kelulusan saya, here I am!

Terima kasih semuanyaaa..terima kasih jurnal 07 yang luar biasa, terima kasih agnes, gama, yasun, cahoy, dika, rivki, albi, dan lingga atas kenangan-kenangan manis dalam upaya peraihan gelar sarjana. Semoga Mei nanti bukan wisuda terakhir kita (masih lanjutin belajar ke tingkat berikutnyaa J). Dan yang lebih penting, semoga ilmu ini bisa bermanfaat untuk kebaikan ummat, Negara, bangsa, dan agama. Aamiin J

Sunday, 15 April 2012

forever i love you

ini lagi iseng banget di tengah persiapan buat sidang skripsi pagi ini. ngeliat wajah fathan tidur bikin hati bergejolak, heheh. i do love him so much. atas semua hal yang pernah terjadi, hal yang paling kusyukuri adalah kehadirannya dan melihat tumbuh kembangnya yang luar biasa. he is my everything :)) 

My first, my last, my everything..
And the answer to all my dreams..
You’re my sun, my moon, my guiding star..
My kind of wonderful, that’s what you are..

I know there’s only, only one like you..
There’s no way they could have made two..
You’re, you’re all I’m living for..
Your love I’ll keep for evermore..
You’re the first, my last, my everything..

In you I’ve found so many things..
A love so new, only you could bring..
Can’t you see if you..
You’ll make me feel this way..
You’re like a first morning dew on a brand new day..

I see so many ways that..
I can love you..
Till the day I die..

You’re my reality, yet I’m lost in a dream..
“YOU’RE MY FIRST, MY LAST, MY EVERYTHING"



*fathan tempo doeloe :* :*

selamat datang, adik fathan :))

Adalah hal yang menyenangkan saat pertama kali mengetahui bahwa ada seseorang telah hadir di dalam sana, dalam rahimku yang Allah buat sangat kokoh. Syukur Alhamdulillah, Allah Maha Pencipta, Allah Maha Pemberi Rizki. Sudah 6 bulan terakhir ini memang kami menunggu kembali kehadiran buah hati yang akan menambah semarak keluarga kecil kami. Dan Alhamdulillah, saat ini Allah telah mempercayakan lagi seorang hambaNya dalam Rahim saya.

Senyum merekah. Ada perasaan haru di sana. Mengetahui bahwa saatnya telah tiba, saat untuk semakin bijak, semakin shalihah, dan semakin-semakin kebaikan yang lainnya. Karena kelak, mungkin tak hanya satu dua saja hamba Allah yang dititipkan pada saya, pada kami. Dan rasanya sayang sekali jika setiap kehadiran buah hati tidak membuat kita semakin baik, di mata Allah tentu. Ada mereka yang bisa dekat dengan Allah di saat senggangnya, tetapi berapa dari mereka yang bisa dekat dan makin dekat lagi kepada Allah di saat sibuknya. Luar biasa. Ini baru hanya akan menginjak jumlah dua, anak yang Allah dititipkan pada saya-kami. Belum 10 atau 11 seperti ummahat-ummahat ternama yang luar biasa. Akan sangat memalukan jika yang dua ini kelak tidak dipersembahkan pada Allah sebagai sebuah investasi  masa depan yang luar biasa bagi kami, sebagai orang tuanya. 

Saya memahami bahwa tingkatan kesulitan dalam hidup itu bertahap, sesuai dengan kemampuan dan seiring pertambahan usia kita. Saat TK dulu, masa tersulit kita adalah memilih pensil warna dengan warna apa yang akan kita pakai untuk mewarnai sebuah gambar. Saat SD, masa tersulit adalah saat buku pelajaran kita tertinggal dan harus rela numpang buku orang lain. Atau saat ketinggalan buku PR. Atau saat kita marahan dengan teman baik kita. Dan saat-saat yang menurut kita kini, sangatlah sepele. Masa SMP dan SMA masa tersulit mungkin UN dan SNMPTN. Semua kesulitan yang jika kita ingat kini rasanya tak terlalu sulit. Entah kita melaluinya dengan seperti apa, tapi yang harus diingat, semua kesulitan itu akan terlewati dan akan menjadi hal yang biasa saja bagi kita ke depan.

Dulu bagi saya menikah itu terasa menyulitkan, kebebasan akan terkekang. Setelah menikah, yang terasa lebih sulit ternyata adalah mendidik dan membesarkan anak. Dan setelah dengan satu anak, mungkin bayang-bayang jumlah anak yang sekian pun bisa saja membuat saya khawatir, mampukah saya. Pertanyaan wajar manusia, seorang ibu, yang ingin memberikan yang terbaik bagi keluarganya, anak-anaknya. Tak mengapa pertanyaan itu ada, atau justru berbahagialah karena masih mempertanyakan hal itu. Beberapa ibu mungkin tidak terlalu peduli akan hal itu. Maka kekhawatiran itu, kenali saja sebagai anugerah yang akan membimbing kita agar tetap dalam jalur-jalur kebaikan.

Kini, lihatlah ke depan. Masa depan terbentang luas- meski entah berapa lama lagi kita akan hidup. Namun kesempatan ini, kesempatan usia, kesehatan, akal, pikiran, harta, keluarga, adalah sebuah tawaran Allah yang bisa kita jadikan jalan menuju kebaikan, atau sebaliknya. Tak perlu khawatir berlebihan, karena kita seyogianya kita sering bertemu dengan berbagai kesulitan, dan bisa melaluinya. Semua kesulitan di masa datang itu tak ubahnya seperti multivitamin dengan rasa pahit yang tak lain hanya akan menguatkan imunitas kita, dan semakin membuat kita kuat dari hari ke hari. Hadapi saja dengan senyuman, insya Allah lebih mudah.

Anak rewel, hadapi dengan senyuman. Cucian numpuk, hadapi dengan senyuman. Tandem nursing, hadapi dengan senyuman. Skripsi belum kelar, hadapi dengan senyuman. Intinya, hadapi. Bukan disembunyikan apalagi lari dari tanggung jawab, yakin, nurani kita pasti tak tenang. Hadapi, kerjakan, mengeluh hanya pada Allah, dan yakin, Allah akan makin sayang pada kita. Dan tak ada kebahagiaan yang lebih membahagiakan dibanding dicintai oleh Allah. Hasbunallah wa ni’mal wakiil, ni’mal maula wa ni’mannashiir..

*selamat datang di dunia rahim bunda sayang, selamat berjumpa kelak,-6 bulan mendatang.love u :*

Depok, Maret 2012

Friday, 13 April 2012

menulis dari masa ke masa

Pernah membaca tulisanmu terdahulu? Jangankan tulisan di masa SD yang mungkin sudah jauh belasan tahun yang lalu, tulisan di masa awal perkuliahan saja mungkin akan terasa asing bagimu. Begitukah? Karena begitu yang kurasakan, contoh yang paling dekat ya saat membuka file-file lama multiply. its not so meee, heheh J

Mencermati tulisan dari masa-ke masa memang suatu hal yang menyenangkan. Bila mungkin kita merasa bahwa kita tak berubah apa-apa sejak dulu hingga sekarang, maka tengok saja tulisan kita di masa silam. Gaya bahasa yang dipakai pasti amat sangat berbeda dengan gaya bahasa kita saat ini. Fokus pembicaraan pun mungkin menjadi hal yang konyol bagi kita saat ini, padahal ketika itu hal tersebut adalah hal yang sangat serius bagi kita J

Menyadari apa? Kita berubah ya kawan. Kita berubah menjadi lebih dewasa, dalam ucap, sikap, tingkah dan laku. Kita semakin mampu memilah mana yang layak kita perbincangkan, mana yang tidak. Kita juga semakin memahami bahwa menata emosi secara perlahan, menuangkannya dalam bentuk tulisan yang indah akan jauh lebih baik dibanding hanya menuangkan secara mentah apa-apa yang ada dalam fikiran kita. Bukan berarti kita menjauhi tingkah tingkah natural dan spontan, tetapi berarti kita menyesuaikan hidup kita dengan bilangan usia sekian, dengan tingkat kenaturalan yang sepadan. Tentu saja kenaturalan anak SD akan berbeda dengan kenaturalan anak kuliahan. Bukan berarti anak kuliah menjadi tidak natural dan penuh polesan kepura-puraan, tetapi memang mereka memiliki kenaturalan yang berbeda seiring pengalaman hidup yang mereka alami.

Ah, menulis memang menyenangkan. Menulis apapun. Meski ketika itu terasa sampah, tetapi bagi diri kita beberapa tahun mendatang, hal tersebut sangatlah berharga. Karena si diri butuh sejenak menengok ke belakang, mengetahui bahwa dirinya sudah maju beberapa langkah. Karenanya amatlah malu jika dalam majunya usia tidak diiringi juga dengan kemajuan-kemajuan lain yang menopang diri menuju tujuan utama hidup ini, keridhoaan Allah.

Ini aku yang kini tengah menginjak usia 22 tahun, dengan gaya bahasa yang kuanggap pantas untuk usiaku saat ini. Meski entah apa artinya bagi aku 10 tahun mendatang. Apapun itu, aku nanti akan sangat berterima kasih karena aku kini telah meluangkan waktu untuk menuliskan sejarah, sejarah kehidupan tentangku sendiri. Terimakasih diri J

Thursday, 12 April 2012

pernak pernik pernikahan

Kalau pernikahan dibangun atas dasar cinta, maka siapapun yang saling mencinta dalam sebuah pernikahan mestinya selalu merasakan bahagia tanpa cela. Kalau pernikahan dibangun –hanya- berdasarkan cinta, maka mestinya orang yang saling mencintai yang terikat dalam suatu pernikahan, tak pernah mengenal kata cerai, atau mungkin bosan, atau rasa-rasa ketidakcocokan lain yang sering kali menjadi biang keladi ketidak harmonisan. Maka tak perlu terlalu banyak berteori bahwa aku akan menikahi orang yang kucinta, karena sejatinya bukan cinta yang akan menjadi bahan bakar keharmonisanmu kelak. Cinta mungkin bukan modal awal yang fantastic, akan lebih baik jika kita menjadikan niat yang ikhlas sebagai modal awal dalam menikah. Niat tulus, semata untuk memenuhi sunnah rasul membangun keluarga sakinah mawaddah warrahmah.

Karena,pernikahan bukan hanya aku cinta, kamu cinta, mari kita ikat cintakita dalam suatu bingkai pernikahan. Tidak. Pernikahan adalah komitmen, dan hanya orang-orang yang teguh dengan komitmennya, mereka akan menjaga pernikahan mereka dengan sepenuh jiwa raga. Pernikahan adalah komitmen, dan tiadalah sebuah komitmen tanpa diuji dengan suatu ujian yang membuat kekuatan komitmen itu nampak. Pernikahan adalah komitmen, karena cintamu suatu saat akan pudar, akan layu, hingga mungkin kau tak lagi menemukan alas an untuk mencinta. Tentu akan mudah bagi orang yang tak berkomitmen untuk menjadikan alas an tersebut menjadi tameng atas ketidakmampuan mereka menjaga komitmen, hingga akhirnya memilih berpisah. Meskipun mungkin untuk kasus-kasus yang luarbiasa, perpisahan itu baik jadinya bagi kedua belah pihak. Ingat, hanya pada kasus-kasus luar biasa, itupun masih Dia benci, meskipun Dia bolehkan.

Sejatinya dalam pernikahan, tidak selalu indah yang kita dapatkan. Tak seperti, mungkin, bayangan dan angan kita sebelum menikah. Gambaran kebersamaan bersama orang yang dicinta memang terasa begitu nikmat, tetapi ingat, hidup ini berwarna. Dan begitupula dengan perjalanan cinta. Maka, mungkin cinta dalam pernikahan memang harus selalu diusahakan, ditumbuhkan, dipupuk, dipelihara, dan ditumbuhkembangkan. Cinta dalam pernikahan adalah sesuatu  yang timbul karena usaha kita, bukan sesuatu yang selalu ada. Karena cinta, maka kita akan berusaha banyak toleransi, berlapang dada, dan ikhlas atas banyak hal yang mungkin di luar keinginan kita. Karena cinta, maka kita akan berusaha untuk selalu memberi, tak peduli berapa yang diterima. Karena cinta, kita akan berhenti berekspektasi panjang lebar tentang pasangan, kita akan berhenti membayangkan dia sebagai manusia sempurna dalam benak kita.

Pernikahan bukan menyatukan dua orang yang sempurna, tetapi saling menyempurnakan orang-orang yang mengikat janji menjadi satu. Saling menyempurnakan, dalam kata lain, masing-masing memiliki lebih, memiliki kurang. Dan akan menjadi indah jika itu dipadupadankan, diisi satu sama lain hingganya menjadi sempurna. Sempurna dalam kebersamaan.

Inilah cinta dalam pernikahan, yang sekali lagi harus diusahakan. Maka, banyaklah meminta kepada yang Maha Cinta, moga Dia tetapkan hati kita, dan hatinya untuk tetap dalam mahligai cinta yang diridhaiNya. Mahligai cinta yang dibangun berlandaskan keinginan untuk taat pada Dia dengan wujud membahagiakan pasangan kita. Landasan cinta abadi yang tak akan tertelah waktu dan masa. 


Depok, maret 2012