Sunday, 30 September 2012

mars vs venus : yang dekat tapi tidak membersamai


“Aku ga tau lagi harus pake cara apa supaya dia bisa lepas dari PSP nya,”curhat seorang kawan suatu hari. “Udah pernah didoain supaya tuh barang jatuh ke, rusak ke, eh…tapi tetep aja, sekalinya jatuh kayak tahan banting gitu. Bikin geram..”tambahnya.

Aku hanya tersenyum. Sabar menanti yang curhat menuntaskan hajatnya.

“Apa ada yang salah apa ya sama aku? Apa aku ini terlalu ga menarik untuk diajakin ngobrol? Atau..apa anak kami ga cukup lucu untuk dia ajak main? Heran banget..kenapa ko kayaknya keranjingan banget main game.”makin kesini nada suara pemilik cerita semakin melemah. Bertanya-tanya, entah pada siapa, yang jelas tidak untuk dijawab olehku.

“Udah pernah dibicarain sama suami?” tanyaku.

“Udah, sejenak dia lepas dari PSP nya, tapi ga lama kemudian nempel lagi. Capek juga kalau harus terus-terus cerewet nuntut perhatian. Padahal kita para istri kan kalau di rumah sendirian aja ya, bareng anak-anak paling. Jadi kan pengennya pas ada suami jadi ada temen cerita. Gitu ngga sih?”

Aku mengangguk, sambil tersenyum, mencoba menenangkan hati yang gundah di hadapan sana.

Ini bukan kejadian pertama. Lain waktu, dalam kisah yang dimiliki orang yang berbeda, bukan PSP yang jadi penyebabnya, melainkan smartphone yang saking smartnya bikin pemakainya asyik sendiri dan lupa dunia nyata di sekelilingnya. Teknologi yang mendekatkan orang-orang yang jauh, tapi beresiko menjauhkan orang-orang yang dekat.

Sejenak pikiranku melayang.

Perempuan, yang konon berasal dari venus, memang membutuhkan bicara sebagai sarana melepaskan kegundahan hatinya. Alangkah tersiksanya mereka, ketika tidak menemukan seseorang yang bisa dijadikan tempat mereka menumpahkan semua cerita dan uneg-uneg setelah seharian mengurus rumah tangga. Memang tidak semua perempuan, tapi sepertinya mayoritas seperti itu. Kadang mereka hanya bercerita tentang kegiatan anak-anak, seharian ini apa saja yang mereka lakukan, tentang perkembangan-perkembangan mereka, atau juga tentang baju setrikaan yang menumpuk, harga sayur dan daging yang naik-turun. Hal-hal remeh temeh yang memang diceritakan perempuan sebagai bentuk berbagi. Dan sesungguhnya mereka tak sedang mencari solusi atas pembicaraan mereka, hanya sekedar berbagi saja, kegiatan yang membuat mereka jauh merasa lega.

Ini yang mungkin seringkali tidak atau kurang difahami oleh lelaki yang berasal dari mars. Lelaki yang simple dan logis, hanya menjadikan bicara –terlebih membicarakan suatu permasalahan- sebagai sarana mencari solusi. Jadi mungkin, pembicaraan perempuan di mata laki-laki kadang dianggap aneh kali ya. “Ya ampun, yang begituan aja pake diobrolin..” Begitu mungkin ya. Hihi.

Lantas bagaimana? Ah, kalau dirunut satu-satu, perbedaan antara kedua makhluk ciptaan Allah ini memang banyak. Perbedaan yang bukan untuk disamakan, tetapi untuk di-menej. Bagiku, dalam setiap rumah tangga yang sehat, baik suami atau istri harus bisa secara bebas mengutarakan hal apa yang mereka sukai dan tidak mereka sukai dari pasangan mereka. Minimal, dengan saling mengetahui selera masing-masing bisa meminimalkan ketidakpahaman yang mungkin bisa terjadi. Yang jelas, dari pengalaman aku belajar, tak ada gunanya menggunakan komunikasi telepati dengan lelaki :D

“Harusnya dia cukup ngerti aja dong kalau aku ngga suka. Kalau aku udah diem dan sinis ya berarti aku ngga suka. Masa gitu aja harus dikasih tauin..”

Kalau untuk perempuan yang punya sensitifitas lebih mungkin body gesture itu bisa terbaca dan dimengerti, tapi bagi lelaki, seringkali mereka ga bisa menangkap hal itu. Alih-alih mengerti, mereka malah bertanya..

“Eh, kenapa sih? Lagi ngga enak badan ya?” ~ Pertanyaan yang tentu bikin nambah geram >:P

Yaah, gitulah dinamika membangun hubungan harmonis dengan pasangan. Makanya saya selalu percaya, sakinah mawaddah warrahmah itu ya memang diperjuangkan. Dan selalu ada pahala terserak di sana bagi mereka yang meniatkannya sebagai kebaikan. Memahami pasangan bukanlah hal yang mudah, namun jika kita meniatkannya untuk kebaikan, sembari terus menerus berdoa dan berusaha menemukan titik keseimbangan, iAllah Allah yang akan langsung membimbing kita. Dan itu yang selalu kusampaikan pada mereka, yang hatinya tengah gundah dengan ombak-ombak dalam bahtera rumah tangga mereka..

Jadi ingat juga hasil suatu penelitian, bahwa memaafkan bisa jadi hal yang bagus dalam hubungan keseharian kita dengan banyak orang. Namun, terlalu banyak memaafkan dalam suatu hubungan antara suami-istri, bisa jadi pertanda hubungan itu tidak sehat. Karena bisa jadi keterbukaan dalam hubungan tersebut mulai berkurang. “Daripada ribut, mendingan udahlah..maapin aja..”

Dan aku hanya tersenyum. Memaafkan bisa jadi baik, tapi bagiku, biar ribut sejenak dulu, tapi setelah itu aku dan dia sama-sama bisa lebih memahami dan memaafkan. Itu jauh lebih menenangkan dibandingkan harus sakit memendamnya dalam hati seorang diri :D

Thursday, 13 September 2012

jiwa yang tenang

Entah berapa lamanya saya mulai sangat menyukai ayat ke 27 dan 28 dalam surah Al-Fajr.

"Wahai jiwa yang tenang,kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhaiNya.."

Setiap mendengar ataupun sekedar membaca ayat tersebut selalu hadir kesan yang berbeda.Ada getar tersendiri,ada rasa merinding di sana.

Mungkin..
sebenarnya,tak ada yang lebih kita rindukan di dunia ini,kecuali ketenangan jiwa.Puncaknya lagi,ketenangan jiwa saat akhirnya kita harus menghadap Allah..

dan tiadalah akan mendapatkan ketenangan jiwa,jika tidak mengikuti sumber-sumber ketenangan tersebut.

Ketenangan jiwa..

Mereka yang sanggup mencapai tingkat ketenangan jiwa,mampu mengendalikan diri dan nafsunya,hingga tiap ucap,tingkah,dan laku selalu tersaring dengan baik.Mereka,para jiwa yang tenang,tak perlu banyak berkata demi membaikkan sekitarnya.Dengan ketenangan jiwanya,mereka akan mendamaikan jiwa-jiwa bergejolak yang ada di sekitar mereka..

Ketenangan..
Hanya akan dimiliki oleh mereka yang mengerti,untuk apa dan kemana arah hidup bermuara.Mereka tidak takut dengan kematian,karena bagi mereka hakikat mati adalah cara untuk menemui Rabb yang mereka rindukan.Mereka menyadari kematian,sebagai suatu hal yang sudah Allah takdirkan.Dan tiadalah hari-hari berlalu bagi mereka,kecuali semakin merindulah jiwa mereka untuk bertemu dengan Sang Kekasih.Mereka menyadari,waktu kematian telah ditentukan,tak lantas akan menjadi lebih cepat atau tertunda.

Karenanya,mereka amat tenang menjalani hidup.Mereka berani menyuarakan apa yang benar bagi Tuhan mereka.Tak sedikitpun takut dengan ancaman apapun,karena tak ada yang lebih mengancam mereka kecuali murka Allah..

Jiwa yang tenang..
Nafsul Muthmainnah..menemukan bahagia dalam setiap ketaatan,menemukan duka dalam setiap maksiat yang dilakukan.

Allah..
Jadikanlah aku pemilik jiwa yang tenang itu,jiwa yang akan kembali kepadaMu dengan ridha,dan keridhaanMu..

Cimahi,1 Ramadhan,1433H
Jiwa-jiwa yang tenang itu ada di sekeliling kita,kenali dan belajarlah yang banyak tentang kehidupan mereka :')
This entry was posted in

walau hanya dalam mimpi

Senandung itu terdengar berbeda di telingaku,hangat meresap karena miliki ruh dan kenangan yang begitu kuat tentang seseorang..

"Ayah..dengarkanlah,aku ingin berjumpa,walau hanya dalam mimpi.."

Kudengar lirik itu kembali kemarin siang.Tepat saat kami hendak mulai berkendaraan dari Depok menuju Bandung.Dari radio tape di depan,kudengar beberapa lagu lawas yang memang harus kuakui,berlirik mendalam dan tidak norak seperti kebanyakan lagu masa kini.Termasuk salah satu diantaranya,lagu di atas.

Entah apa yang membawaku memimpikan sosok itu dua hari ini,secara berturut-turut.Kutemui dia dalam sosoknya yang terakhir kuingat,sudah tua dengan uban di janggut,alis,juga rambut kepalanya.Namun,dalam mimpiku,Ia masih asyik mengajak kami berjalan-jalan dari satu tempat ke tempat lain.Meskipun,ya,meskipun dalam mimpi itu sebenarnya Ia sudah dalam kondisinya yang tidak lagi fit.

Keharuan itu yang lantas membangunkanku di tengah malam,dua hari ini.Membuat keheningan tengah malam terasa lebih pilu,karena merindu,kembali merindu.Dan menjadi pedih kala rindu yang dirasakan tidak lagi miliki penawarnya.Kisah perjalanannya telah berakhir.Keberadaannya membersamai hari-hariku pun usai sudah.Tak akan ada lagi temu nyata,selain kelak di alam berikutnya.

Kupanggil sosok itu dengan sebutan papap.Sebutan yang tak ada lagi sosok yang kupanggil dengan sebutan sama.Khusus hanya untuknya,lelaki pertama dalam hidupku.Lelaki yang mengajariku banyak hal.Lelaki yang juga mengantarkanku pada episode lelaki baru dalam kehidupanku.

Tak ada lelaki yang semulia Ia,dimataku.Ia keras dalam mendidik,namun begitu penyayang.Ia kuat dan menguatkan.Ia adalah dasar yang meletakkan berjuta nilai yang kuingat hingga kini.

Pernah,suatu kali dalam usiaku yang masih kurang dari 5tahun.Ia memanggilku,dan adikku masuk ke rumah.Kala itu ba'da maghrib,kami sudah miliki janji bahwa ba'da maghrib adalah waktunya membaca Al-qur'an.Lantas dia dengan tegas menyuruh kami membawa mushaf masing-masing.Dan bergantian,Ia simak baik-baik bacaan tilawah kami sambil membetulkan bagian-bagian yang masih salah pelafalan.Ia marah ketika kami tidak sungguh-sungguh mempelajari kitabullah.Hingganya Ia begitu tekun membimbing setiap bacaan kami.Sungguh,yang kuingat,Ia dan mamah lah yang mengenalkaku pada setiap huruf hijaiyah,hingga kami mampu merangkainya dan lancar membaca ayat-ayat Allah.

Episode lainnya,saat usiaku belum lagi genap sekira 6tahun,dan adikku masih 4 tahun.Ia diutus ummat untuk menjelajahi benua biru,Eropa.Masih tahun 1996 ketika itu.Dan kondisi perekonomian keluargapun belum kokoh.Ia tinggalkan kami dengan berat hati-ah untuk episode kali ini mamah pasti akan lebih menjiwai,bagaimana Ia memberikan bekal seadanya yang Ia miliki dan Ia berada dalam rasa khawatirnya karena rasa tanggung jawab yang sedemikan besar yang Ia miliki atas kami.Namun lantas,kecintaannya pada kami tak menghalangi kecintaannya pada da'wah ini.

Ia menjadi lelaki yang sangat tega meninggalkan kami kesana kemari,namun entah mengapa tak pernah aku merasakan kehangatannya berkurang.Sesekali Ia mengajakku dan adikku mengikuti kegiatan-kegiatannya.Dari situ aku mulai mengenali siapa Ia dan apa yang dikerjakannya selama ini.Hingga,setiap kepergiannya tak pernah kusesali.Aku hanya bangga,Ia menjadi sosok yang bermanfaat,tidak hanya bagiku,bagi keluargaku,tapi juga bagi ummat.

Ah,lelaki itu memenuhi ruang batinku kini.Aku merindu,tak pernah selama ini terpisah tak bertemu..

Hanya do'a,yang kini bisa kukirimkan padanya.Dan,duhai Rabb,bila ada nilai-nilai kebaikan yang kumiliki dan masih kupegang teguh ianya hingga kini,maka catatkanlah baginya juga kebaikan.Karena tak ada lagi sosok yang begitu tekun menanamkan nilai kebaikan pada benakku,seperti dia menanamkannya padaku dalam usia kanakku..

Cimahi,13-9-12

Wednesday, 4 July 2012

Monday, 2 July 2012

bukan ibu rumah tangga biasa

Ada resah yang terselip dalam beberapa kesempatan berselancar di dunia maya-jejaring sosial khususnya,dan melihat kabar teman-teman baik kita.

Resah,saat melihat ada beberapa di antara mereka telah menemukan jalan hidupnya masing-masing.Lebih resah lagi saat jalan yang mereka tempuh pun,sebenarnya juga sama dengan impian yang kita miliki.

Melihat beberapa orang teman bisa berkelana kesana kemari,berkegiatan ini itu,sungguh meresahkan.Jauh lebih meresahkan dibandingkan ketika menyelesaikan skripsi,kemarin-kemarin.Menentukan langkah hidup setelah kampus itulah yang justru jauh lebih membuat resah..

Lantas apa yang dikeluhkan?Tidak.Tidak ada satupun yang harus dikeluhkan,sebenarnya.Saya,dengan keluarga kecil yang tengah saya miliki dan saya bina,adalah kebahagiaan bagi saya.Pencapaian besar dalam hidup saya.Hanya saja,terkadang saya-kita banyak lupa untuk merumuskan sendiri,makna sukses dan bahagia bagi kita.Ya,bagi kita yang mungkin akan berbeda dengan yang lain.Hingganya,ketika suatu saat dipertemukan dengan pertanyaan-pertanyaan tentang jalan hidup ke depan,kita bisa berdiri,tegak,mengatakan dengan lantang,ini jalan kebahagiaan saya,makna sukses bagi saya,dan saya bangga bisa berada di jalan ini!

***
Rasanya waktu berjalan begitu cepat.Tak terasa,sudah sampai di titik ini.Titik di mana akhirnya saya mengalami dilema ibu rumah tangga.Sudah ada beberapa referensi yang saya baca,terkait menjadi IRT profesional.Oh,ayolah..masa muda saya yang enerjik akan sangat sayang bila dipakai dengan rutinitas rumah tangga saja.Bukan lantas meremehkan,karena saya pun merasakan-itu pekerjaan yang AMAT SANGAT melelahkan.Saya hanya ingin -not just stay at home- saja..tapi juga ingin mengembangkan potensi luar biasa yang ada dalam diri saya.

Namun tetap,keluarga adalah segalanya bagi saya,karir terbesar dalam hidup saya.Tidak ada yang berubah.Ini hanya tentang memenej,antara aktualisasi diri-dan keluarga.Bukan membenturkan keduanya..

Yang sebenarnya tengah saya perlukan saat ini adalah afirmasi diri,bahwa saya TIDAK SEDANG MENGANGGUR.Hei,saya memiliki target!Setidaknya dalam setahun ini saya ingin fokus dalam urusan non formal,mengikuti kursus peningkatan skill,juga yang paling penting,mempersiapkan kehadiran jagoan baru dengan memperbanyak aktivitas dalam dunia da'wah.Ini kesempatan,bukan?Saya yang tidak sedang berada dalam ikatan formal diberikan Allah keleluasaan untuk memberi lebih banyak di jalan kebaikan.Ah,ini sebenarnya indah.Sangat indah.

Sembari setahun ini berkegiatan informal,tekad saya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnyapun sudah bulat.Tahun depan iAllah saya akan mendaftar.Memang saat ini belum terbayangkan bagaimana nasib anak2 saya kelak saat saya kuliah lagi.Si sulung sudah 3tahun,bisa mulai disekolahkan.Si bungsu baru 1tahun,mungkin bisa dibawa ke kampus bersama pengasuhnya kelak..*masih trauma day care*.Aaah,Allah itu Maha Baik ko,iAllah jalan itu selalu ada.

Tak cukup melanjutkan pendidikan,saya juga ingin melamar menjadi dosen di salah satu perguruan tinggi daerah depok-jakarta.Sembari juga mencari kemungkinan mendapatkan program-program short course di luar. Ini hal yang paling realistis bagi saya,dibanding harus terjun langsung dalam dunia media dengan kesibukan yang luar biasa menyita waktu.Saya belum berani..*mengingat pengalaman saat job training*.Terlebih ada tiga jagoan yang juga berhak atas saya..

***

Ah,tuh kaan.Saya ini tidak sedang berdiam dan terlena dengan ke-ibu rumah tanggaan saya hingga lupa rencana pengembangan diri ko,sebenarnya.Hanya saja,saat ini hingga setaun ke depan,memang beginilah rencana saya.Rehat dari ikatan formal,entah itu pekerjaan atau perkuliahan,dan berjalan dalam lajur informal..

Maka,resah ini,kini saya kenali sebagai bagian dari jiwa saya yang tak ingin kalah.Motivasi positif.Bukan sebagai sinyal bahwa saya sudah kalah,tidak.Bahkan saya harus berterima kasih pada diri,karena sudah berani melangkah lebih awal..dan menyelesaikan segala gundah ini dari sejak dini.

Ah,great day!mari kita mencuci :) dan bangga karena bisa mencuci bukan hanya pakaian saya,tapi juga pakaian suami dan anak saya..orang-orang yang sangat berharga dalam kehidupan saya kini,hingga akhir nanti.


Depok,3 Juli 2012
Resah tanda tak tau arah,sabar saja dengan rencana yang ada :)

Wednesday, 13 June 2012

Friday, 8 June 2012

Tuesday, 5 June 2012

Monday, 4 June 2012

karena semua tak dimulai dari angka 0

Malam itu,sebelum hendak menutup hari dengan berehat,kami menyempatkan sedikit waktu untuk saling mengungkapkan perasaan masing-masing.

"Aku kadang merasa...harusnya dengan usia ayah,ayah jauh lebih dewasa dariku.."

Hening menyelinap.Dia menunggu saya menuntaskan uneg-uneg yang masih tersimpan.

"Entahlah,tapi aku ngerasa dengan usiaku yang masih segini ini,sangat wajar bagiku untuk kekanakan.Orang aku masih muda.Wajar dong..

Tapi,malah..seringkali aku merasa harus berada di posisi sebaliknya.Menuakan pola pikir.Kadang menyadari,memang ini hal yang baik buat percepatanku.Tapi kadang sisi egoku masih berontak,seolah merasa bahwa aku belum saatnya menjadi seperti ini."

"Perasaan ini kadang membuatku jadi menuntut banyak sama ayah.Ingin selalu dan selamanya ayah bisa memahami kekanakanku,menjadi peneduh untuk setiap swing mood ku.

Meski ya,aku sadar,ini cuma bakal jadi masalah.Karena ayah juga ga selamanya bisa menjadi peredam,karena ayah juga sesekali butuh buat diredam."

I'm sorry to say this,sayang-san.I just need to tell u about this feeling..

Lelaki di sampingku lantas hanya tersenyum tipis.Matanya menerawang jauh.Seperti sedang berpikir keras.

"Bunda..maaf kalo ayah belum bisa memenuhi keinginan bunda.Tapi bunda harus ingat satu hal..

Semua tidak dimulai dari 0..dan tidak pula berakhir di titik yang sama.."

Jawabannya terputus.

"Sekarang usia ayah 30,usia bunda 21.Kita ngga pernah tau,kapan usia kita berakhir.

Bunda di usia bunda,dengan pencapaian bunda,kedewasaan bunda,harusnya disyukuri.Karena ngga ada yang menjamin kan kalau hidup bunda masih panjang.."

"Jadi ayah doain bunda ngga panjang umur gitu?"

"Bukan,bukan itu poinnya.Kalo bunda mematok pada usia,misal,usia 25 tahun adalah usia ideal untuk menjadi dewasa sepenuhnya,dan ga berhak lagi jadi kekanakan..apa bunda yakin bakal mencapai usia segitu?

Semua ngga dimulai dari 0,dan ga berakhir di titik yang sama.Artinya,25 tahun bagi orang kebanyakan mungkin adalah 20 tahun bagimu.It's your turn!ngga perlu merasa terlalu muda untuk bisa melakukan kebaikan.."

"Ya,tanpa mengenyampingkan bahwa ini juga masukan buat ayah supaya lebih bijak ngadepin bunda.."

Seketika ingatan saya melayang pada pelajaran fisika,bab suhu,wa bil khusus tentang termometer.celcius,kelvin,reamur.

Titik 0 derajat celcius setara dengan sekian derajat kelvin,dan sekian reamur.(Lupa,heheh).Mungkin begitu yang dia maksudkan.Masing-masing kita memiliki rentang pemaknaan usia yang berbeda.

Titik 100 derajat bagi celcius adalah titik didih,sangat panas.Tapi tidak bagi kelvin,yang baru mencapainya di titik 273.Karena dia tak memulai dari 0..

Agak membingungkan sebenarnya.Tapi yang jelas,satu hal yang saya tangkap,saya bisa memulai menjadi apapun dalam usia berapapun.Dalam hal kebaikan,semua harus dibuat sedini mungkin,sesegera mungkin.Karena kita tak tahu,kapan titik maksimal usia kita..

***

Sementara dalam benak saya masih bergelayut banyak hal,lelaki berahang keras yang berada di samping saya justru sudah lelap setelah sebelumnya ucapkan pamit hendak tidur lebih dulu.Ia tau betul,perempuan kecil di sampingnya tengah mencerna dan mencari makna dari kata-katanya.

Kutatap Ia,lelaki itu.Haru.Allah tak pernah mengizinkan segala sesuatu terjadi tanpa menitipkan hikmah di dalamnya.Maka kehadirannya,lelaki itu,suamiku pun bukan tanpa maksud.Aku tau,Allah ingin aku belajar banyak hal darinya..Ya, darinya.Satu yang istimewa dari sekian banyak guru kehidupanku.

Cimahi,5 juni2012

Thursday, 17 May 2012

membangun harap

Tak ada hal yang lebih membahagiakan,daripada dibangunkan kekasih untuk bersama menghadap Sang Kekasih..

Inilah cinta sebenarnya.
Saling membangun dalam meraih kecintaanNya.
Dan tak pernah ada hal yang lebih menyenangkan dan membahagiakan daripada ini.

Tuhanku,
Sang Maha Pembolak balik hati..
Mohon tetapkan hati kami pada agamaMu.
Bimbing kami saat banyak khilaf dan terlupa..
Kasihi kami..
Jika Engkau hanya mengasihi orang2 yg selalu ingat padaMu,maka siapa lagi yang bisa mengasihi kami?
Orang2 yang dalam bangkit dan tenggelam mencoba mengeja asmaMu.

Mohon,beri kami kenikmatan untuk setiap waktu yang kami habiskan untuk mendekat padaMu
Dan berikan pula kami keresahan untuk setiap waktu dimana kami bermaksiat padaMu

Kabulkanlah,ya Rahman..

Depok,18 Mei 12
Penuh cinta untukmu dan untukNya

Tuesday, 15 May 2012

Monday, 14 May 2012

Ssst, Awas Ibu Galak! (2)

Marah = sayang?

Sebagai orangtua, seringkali kita luput dari memikirkan efek buruk apa yang terjadi ketika kita memarahi anak kita. Entah karena kesalahan berpikir yang membuat kita merasa anak itu milik kita dan bebas kita apakan atau apa, rasanya marah memarahi menjadi hal yang sangat lumrah. Iya, ketika itu kita menyesal, tapi apakah itu membawa kita pada diri kita yang lebih baik? Maksudnya, ketika saya menyesal telah mencubit, apakah saya memastikan diri saya tidak terjebak pada cubitan-cubitan yang lain? Apakah kita belajar untuk lebih baik?

Mudah-mudahan iya, setidaknya melalui tulisan ini saya mencoba kembali mengingatkan diri saya untuk sedikit saja lebih bersabar terhadap anak. Iya, sabar, kata yang seringkali terlupakan aplikasinya. Padahal, saat saya sedikit lebih bersabar, ternyata itulah yang akan meredakan suasana. Sebaliknya, saat nada suara meninggi, apalagi diiringi omelan2, anak sangat bisa menangkap hal tersebut, dan itu akan memperburuk suasana hatinya. Jika ia tengah menangis, maka tangisannya makin kencang. Dan seperti lingkaran setan, itu justru akan memacu sang Ibu menjadi lebih kesal. Judulnya, kacau. Hehe.

Yang juga harus disadari, kita sebagai orang tua seringkali lupa bagaimana menjadi seorang anak. Semua hal kita lihat dari sudut pandang kita. Melarangnya bermain air, padahal dulu juga kita suka main air. Melarangnya ‘menghias’ rumah dengan menebar barang2 di seluruh penjuru rumah, padahal dulu juga kita begitu. Melarangnya bermain kotor-kotoran, padahal itu mainan favorit kita dulu. Seringkali kita melihatnya dari sudut pandang dewasa kita, nanti rumah jadi kotor, nanti jadi ngga indah, nanti lebih capek, nanti malu kalo ada tamu. Padahal, kegiatan-kegiatan itu yang sebenarnya menstimulus perkembangan anak.

Jadi, marah kita, betulkah karena sayang? Kalau kita sayang, mengapa kita memilih melukai hati anak kita untuk bisa menyampaikan rasa sayang tersebut. Pasti ada cara yang lebih baik, yang bisa dimengerti oleh kita dan anak kita. Karena otak anak sangat luar biasa, bisa merekam dan membentuk kepribadiannya di masa mendatang. Menyakiti dan mengecilkan anak hanya akan menghambat kecemerlangannya di masa datang.

Lalu tentang melarang dan dilarang, pada prinsipnya, bagi saya, selama itu adalah kegiatan yang tidak berhubungan dengan aqidah dan akhlaq dia, saya usahakan tidak melarangnya. Namun, jika telah menyangkut masalah etika, kesopanan, ketaatan beragama, akan lain lagi ceritanya.


Belajar meredam si marah..

Dalam beberapa kesempatan lain, saya bisa cukup bersabar dengan meredam kemarahan saya pada fathan. Indikatornya bagi saya, saya tidak mengeluarkan kalimat bernada tinggi, tidak pula menyentuhnya dengan sentuhan marah yang cenderung kasar. Seperti ketika saya tengah sangat lelah menyiapkan sidang komprehensif, lalu dengan cerianya dia mencelupkan modem yang saya pinjam dari mamah untuk browsing bahan sidang.

“Da..lihat! berenang..”

Isy. Kalau ngga inget itu amanah Allah, bukan milik kita, rasanya pengen ngapain aja. Hehe. Saya cuma bisa ngeluarin modemnya, duduk lemas, setelah itu tiduran. Dalam diam. Menyadari bundanya ga berkenan, dia juga jadi nangis. Saya tetap cuma diam dan tiduran, menenangkan diri. Sampai sudah benar2 tenang, saya peluk dia, saya ajak tidur.

Kali lain, saat dia tantrum begitu lama, saya ajak dia ke air, berwudhu. Sekalian saya juga baru akan shalat. Setelah itu, dia membaik. Dan tahukah, kesemua cara yang saya lakukan, dan mungkin juga pernah anda lakukan ini memang anjuran Nabi untuk ummatnya yang tengah marah..

Berikut saya lampirkan beberapa hadist nabi tentang marah, yang mudah-mudahan bisa kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari kita.

1.Dari ibnu Abbas dari Nabi saw,beliau bersabda.”Ajarkanlah(perkara agama kepada manusia),berilah kabar gembira,dan janganlah mempersulit.Dan apabila seseorang dari kalian marah,maka hendaklah ia diam.(HR Ahmad)

‎2.Dari ‘Athiyah r a berkata,RAsulullah saw bersabda,”Sesungguhnya marah itu berasal dari syetan,dan sesungguhnya Syetan itu di ciptakan dari api,sedangkan api hanya bisa dipadamkan dengan air.Oleh karena itu,apabila seorang dari kalian marah,maka hendaklah ia berwudhu(HR Abu Dawud)

3.Dari Abdullah bin umar meriwayatkan,Rasulullah saw bersabda,”tidaklah seorang hamba menelan satu tegukan yang lebih utama (lebih disukai)disisi Allah ‘Azza wa jalla dari pada satu tegukan kemarahan yang ia telan(tahan) semata-mata karena mengharap keridhaan Allah swt(HR Ahmad)

‎4.Dari Mu’adz ra meriwayatkan bahwasanya Rasulullah saw bersabda,”barang siapa yang menahan amarahnya , padahal ia mampu untuk meluapkan marahnya,maka pada hari kiamat Allah akan memanggilnya kehadapan seluruh mahluk, lalu dia mempersilahkan padanya untuk memilih bidadari mana yang ia suka (HR Abu Dawud)

‎5.Dari Anas bin Malik ra,sesungguhnya Rasulullah saw bersabda ,”barang siapa yang menjaga lidahnya (dari membicarakan aib orang lain)maka Allah akan menutupi aibnya(kesalahannya).Barang siapa yang menhan marahnya,maka Allah akan menahan adzab-Nya terhadap dirinya pada hari kiamat,Dan barang siapa yang meminta maaf kepada Allah ‘Azza wa jalla maka Allah akan menerima permintaan maafnya (HR Baihaqi)

6.Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda : Orang kuat itu bukanlah yang menang dalam gulat tetapi orang kuat adalah yang mampu menahan nafsu amarahnya. (HR. Bukhari dan Muslim)

7.Al Imam Ahmad rahimahullah meriwayatkan hadits dari seseorang dari shahabat Nabi Shalallahu alaihi wasallam dia berkata : Aku berkata : Ya Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam berwasiatlah kepadaku. Beliau bersabda : jangan menjadi pemarah. Maka berkata seseorang : maka aku pikirkan apa yang beliau sabdakan, ternyata pada sifat pemarah itu terkumpul seluruh kejelekan. (HR. Imam Ahmad)

 

..dan masih banyak lagi hadist lainnya.

Maka, apakah kita masih memilih untuk marah?


 

Depok, 15 Mei 2012

Ssst, Awas Ibu Galak! (1)

“Dasar mamak gila!”

“Eh,elu tuh yang gila!!”

Saya yang mendengar dari sebelah hanya geleng-geleng kepala. Isy. Sudah sekitar 4 bulan ke belakang saya dan keluarga kecil saya pindah ke Kota Depok, daerah Kalimulya tepatnya. Cenderung masih daerah pinggiran yang jauh dari keramaian. Namun, tetap saja, hiruk pikuk dunia tetangga selalu menjadi hari-hari yang mewarnai kehidupan saya sekarang. Berbeda dengan rumah2 sebelumnya, saat ini kami menyewa rumah petak di dekat rumah yang sedang kami bangun. Rumah petak yang amat sederhana, hanya terdiri dari pagar, teras, ruang tamu, 1 ruang tidur, dapur, tempat cuci, dan kamar mandi. Satu baris rumah petak ini terdiri dari 4 rumah yang hanya terpisah oleh  dinding bata tak berlapis. Artinya, dinding rumah saya menjadi dinding rumah tetangga juga. Akhirnya begitu, semua pembicaraan bernada tinggi terdengar jelas di telinga saya.

Termasuk pembicaraan ibu dan anak di atas, asalnya dari tetangga sebelah. Ini yang menjadi renungan saya belakangan ini. Rasanya telinga saya sudah biasa mendengar teriakan bernada tinggi berisi omelan atau bahkan cacian, seringkali terlontar dari seorang ibu kepada anaknya.

“Dasar bengal kau ya! Udah mamak bilang jangan main air masih aja main air!” –salah satu contoh teriakan lain yang membuat saya terdiam, miris. Setelah itu sudah bisa ditebak, ada tangisan yang menggema.

Kali lain, omelan itu diiringi pula dengan sentuhan dari kayu pemukul kasur. Entah sentuhannya seperti apa, yang jelas saya melihat kayu itu menjadi sosok yang menakutkan bagi 2 anak kecil di sebelah rumah saya.


Dibalik rasa marah seorang Ibu..

Jujur saja, saya bisa memahami alasan kemarahan ibu-ibu tetangga. Jengkel karena bermain air, imbasnya pada kebersihan rumah. Karena setelah itu anak-anak pasti akan menjejakkan kaki kotornya ke lantai rumah, dan akhirnya kotor kemana-mana. Selain itu cucian pun jadi bertambah. Jengkel karena anak selalu bermain sampai lupa waktu makan,waktu sholat, waktu belajar. Ini juga tak lain untuk kebaikan si anak, sebenarnya. Intinya, saya tahu bahwa dibalik omelan-omelan mengerikan yang saya dengarkan, ibu-ibu tersebut bermaksud baik. Hanya saja begitulah jadinya..

Saya sangat bisa memahaminya dari sudut pandang keibuan saya. Terlebih, saya juga bukan tipe ibu yang sabar. Dalam beberapa kesempatan, saat lepas kontrol, saya sampai mencubit gemas pantat, atau pipinya. Cubitan yang membuat saya menyesal kemudian, dan memenjarakan saya dalam perasaan bersalah setelahnya. Atau kali lain keluar juga omelan-omelan saya (tanpa kata kotor dan kasar, harus).

Setidaknya ada beberapa hal yang dalam pandangan saya merupakan sabab musabab kemarahan seorang Ibu pada anaknya:

1.       Kelelahan dengan pekerjaan rumah yang tiada habisnya.

2.       Pelampiasan kekecewaan terhadap pasangannya, berimbas pada anaknya.

3.       Latar belakang keluarga, dibesarkan dengan cara yang keras.

4.       Bosan dengan rutinitas yang sama setiap harinya.

5.       Terakhir, karena ketidaktahuan dan ketidak fahamannya.

Beberapa hal ini membuat saya tidak lantas langsung menyalahkan seorang Ibu ketika ia marah. Di balik marah seorang Ibu, ketahuilah mungkin ia tengah lelah. Di balik marah seorang Ibu, ketahuilah mungkin dia belum faham seperti apa seharusnya menjadi seorang Ibu. Karena belum semua Ibu rajin memperkaya dirinya dengan ilmu-ilmu mendidik anak. Karena belum semua Ibu juga memiliki benteng keimanan dan kesabaran yang kokoh, yang menjadi modal dasar mendidik anak.

Anak, tanggung jawab siapa?

Banyak hal menarik saat mengikuti komunitas “yuk menjadi orang tua shalih” di salah satu situs jejaring sosial. Siapa sebenarnya yang lebih bertanggung jawab terhadap seorang anak? Ternyata jawabannya adalah Ayahnya, bukan Ibunya. Lebih lanjut, Abah Ihsan (pendiri dan pengasuh komunitas tersebut) menyebutkan bahwa Ayah seharusnya memiliki planning, akan seperti apa anaknya. Nah, eksekusinya ada di tangan Ibu.  Jadi, sebenarnya ayah dari sang anak lah yang bertanggung jawab terhadap tumbuh kembang anaknya.

Bagi saya, support sang ayah bagi tumbuh kembang anaknya pun tak berhenti sampai pada memiliki arahan saja. Akan tetapi dia juga harus memastikan bagaimana kondisi eksekutornya  (dalam hal ini ibu si anak- istrinya). Coba bayangkan, bagaimana si Ibu akan menjalankan arahan suaminya ketika waktunya habis untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga? Tentu ini bukan suruhan agar semua suami memberikan asisten rumah tangga pada istrinya. Yang saya maksudkan, ayah dari si anak harus lebih peka dengan kondisi istrinya. Tidak selalu harus dengan melengkapkan fasilitas yang memudahkan si istri, sebuah pujian hangat nan tulus pada seorang istri  sudah menjadi hadiah terbaik yang akan membuat riang harinya. Dan ketika perasaan ibu riang? Insya Allah frekuensi marahnya pada sang anak pun akan berkurang..

Ini yang mungkin masih tabu untuk kita. Bayangkan betapa indah dan luar biasanya ucapan ini:

“Makasih ya ma, udah jagain anak-anak papa. Padahal kayaknya mama capek banget, tapi mama luar biasa sabar. Papa bangga sama mama..”

(kalau bahasa ayah fathan: makasih ya bun udah ngurusin kami. Maafin dua lelakimu ini, walau kami sering ngeselin, sebenarnya kami sayang banget sama bunda. Nak, ayo sun bundaa :D) Betapa indahnya ucapan terima kasih itu terdengar di telinga saya.



(foto: dua lelaki saya)

Alih-alih pujian dan berterima kasih, sepertinya pertengkaran dan saling menyalahkanlah yang masih sering kita lihat dan dengarkan di sekitar kita. Pertengkaran yang justru akan makin merusak suasana yang ada.

Thursday, 26 April 2012

ayah aku mohon maaf

Tadi udah mau turn off laptop, tapi liat desktop background nya malah jadi pengen nangis. Ditambah lagi denger lagu "ayah aku mohon maaf" nya ebiet g ade. Air mata bercucuran..

Merindukanmu, ayah. Sangat :')
Merindukan perbincangan2 singkat kita yang bermakna dan berharga..
Selalu, selamanya, kau lelaki terbaik yang pernah kutemui dalam hidupku

Dan pohon kemuning akan segera kutanam
Satu saat kelak dapat jadi peneduh
Meskipun hanya jasad bersemayam di sini
Biarkan aku tafakkur bila rindu kepadamu

Walau tak terucap aku sangat kehilangan
Sebahagian semangatku ada dalam doamu
Warisan yang kau tinggal petuah sederhana
Aku catat dalam jiwa dan coba kujalankan

Meskipun aku tak dapat menungguimu saat terakhir
Namun aku tak kecewa mendengar engkau berangkat
Dengan senyum dan ikhlas aku yakin kau cukup bawa bekal
Dan aku bangga jadi anakmu

Ayah aku berjanji akan aku kirimkan
Doa yang pernah engkau ajarkan kepadaku
Setiap sujud sembahyang engkau hadir terbayang
Tolong bimbinglah aku meskipun kau dari sana

Sesungguhnya aku menangis sangat lama
Namun aku pendam agar engkau berangkat dengan tenang
Sesungguhnyalah aku merasa belum cukup berbakti
Namun aku yakin engkau telah memaafkanku

Air hujan mengguyur sekujur kebumi
Kami yang ditinggalkan tabah dan tawakkal

Ayah aku mohon maaf atas keluputanku
Yang aku sengaja maupun tak kusengaja
Tolong padangi kami dengan sinarnya sorga
Teriring doa selamat jalan buatmu ayah tercinta..

menjadi perantara syukur

“Kehamilan bukan sekedar peristiwa biologis, tapi lebih kepada keajaiban Allah. Seperti apapun teori manusia berucap, kalau Allah berkehendak lain ya pasti lain ceritanya..”

Kalimat di atas meluncur begitu saja dari mulut saya, saat berbincang bersama adik kelas yang curhat karena sudah 10 bulan menikah, tapi belum juga dikaruniai keturunan. Padahal menurut pemeriksaan medis, dia-ataupun pasangannya tidak mengalami masalah apapun. Hanya saja memang mereka masih tinggal berjauhan, belum satu rumah.

“Teteh udah mau dua, aku satu pun belum dikasih. Suka jadi stress..”

Ah, sejenak saya tersentak.

Keturunan yang Allah karuniakan adalah kenikmatan yang tidak Dia berikan pada semua. Maka, tetap menjaga diri di depan orang yang belum dikaruniai tetaplah menjadi suatu kewajiban..

“Diambil hikmahnya aja dek, teteh dulu ga sempet loh ngalamin masa lama pacaran berdua sama suami. Begitu nikah langsung Allah kasih, langsung jadi Ibu..Sekarang malah kalau mau pacaran berdua kebingungan, ini anak-anak mau ditaro dimana? Hehe”

Tentu saja ini dimaksudkan untuk menghibur, bukan menyesali kehamilan saya dulu.

“Lagian kan sekarang masih pisah sama suami, mungkin Allah kasian kalau kamu jalanin kehamilan sendiri. Insya Allah kalau nanti udah serumah, mudah-mudahan Allah kasih ya..”

Setau saya memang begitu, seperti halnya orang tua saya dahulu. Saat pisah kota, belum dikaruniai. Begitu tinggal serumah, Alhamdulillah Allah berkenan karuniai..

“Dan yang harus tetep disyukuri dek, Alhamdulillah menurut medis ga ada masalah apa-apa. Berarti tinggal menunggu kapan Allah akan berkehendak. Yang lain ada loh dek ternyata yang harus pengobatan ini itu dulu..”

Ah, bicara seperti ini rasanya membuat hati semakin meleleh. Saya mendapatkan semuanya dengan sangat mudah, lancar, bebas hambatan. Maka, mestinya segala tantangan ketika hamil menjadi suatu hal yang harus disyukuri ya? Tidak semua bisa merasakan ‘nikmatnya’ mengalami masa mual, lemas, lelah, lesu saat kehamilan. Saya yang sudah dipercaya seharusnya bisa menerima dan bersyukur. Apalagi hanya mengalami pada trimester pertama, dibandingkan dengan kenikmatan setelahnya, seharusnya yang 3 bulan ini menjadi tidak ada apa-apanya. Ah Allah, malu.

 

Tahu, mengapa kita tak boleh terlalu senang berlebihan saat dikaruniai kenikmatan?

Agar kita menjaga yang lain untuk tetap bersyukur..

Karena, tak semestinya kita menjadi perantara orang untuk kufur nikmat..

Yang hamil, menjaga perasaan orang yang belum hamil..

Yang sudah menikah, menjaga perasaan orang yang belum menikah..

Yang kaya, menjaga perasaan orang yang miskin..

Yang sempurna fisiknya, menjaga perasaan orang yang memiliki kekurangan fisik..

Indah.

Kita menjaga diri bukan lantaran orang-orang disekitar kita iri..

Kita menjaga diri bukan berarti kita tidak berhak mengekspresikan rasa senang dan syukur kita..

Kita menjaga diri karena kita ingin sama-sama bersyukur dengan mereka yang belum mendapati nikmat yang sudah kita dapati..

Karena menjadi perantara syukur bagi orang lain adalah kenikmatan dan kebahagiaan yang sesungguhnya J

 

Cimahi, 27 April 2012

Tuesday, 24 April 2012

akun tak bermajikan

Belakangan, saya mempunyai kebiasaan yang agak lain. Saya suka sekali melihat akun-akun dunia maya yang pemiliknya sudah tiada. Akun facebook, ataupun juga twitter. Saya ingin melihat seperti apa kisah kehidupan mereka sebelum ajal akhirnya menjemput. Dan itu mencengangkan. Beberapa orang seolah tahu bahwa ia akan menjemput ajalnya dalam waktu dekat. Status atau tweet mereka seperti menyiratkan hal tersebut, setidaknya bagi saya yang membaca, meski entah sebenarnya apa yang ada dibalik pikiran mereka saat menulis hal tersebut. Seorang kawan menulis tentang kampung syurga serta kerinduan tentangnya, yang lainnya mengatakan bahwa saat ini sangat sedikit teladan yang bisa diikuti-kebanyakan teladan itu adalah mereka yang sudah pergi, yang lain lagi menulis “saat-saat perjumpaan itu sudah dekat, lancarkan ya Allah..”, ada juga yang bahkan menulis notes terakhir dalam hidupnya, yang isinya pun tentang kematian (ini karena beliau akan menghadapi operasi, yang ternyata memang menjadi akhir dari perjalanan hidup beliau di dunia).

Feeling. Apakah ia memang ada? Orang yang tak lama lagi meninggal konon bisa merasakan bahwa hidupnya memang tak lagi lama. Seperti itu kah? (bertanya pada rumput yang bergoyang ceritanya)  Dari situ, saya jadi terfikir, dunia maya sudah menjelma menjadi desa global. Maka, seperti layaknya kehidupan nyata, apakah kehidupan maya juga kelak akan menyediakan “kuburan” bagi akun-akun yang tak lagi bermajikan?

Karena hingga saat ini dunia maya tidak memisahkan siapa yang sudah tiada dan siapa yang masih ada, dan dunia maya juga tidak memiliki prosedur khusus kepada akun yang tak lagi bermajikan, maka kemarin saya putuskan untuk menyimpan rapih semua username beserta password saya di hp suami. Saya kirim pada dia melalui sms. Yang dikirimi merasa bingung.

“Kenapa bun, tiba-tiba kirim gituan?”

“Bisi bunda meninggal duluan. Terus ayah nanti mau bangun rumah tangga lagi sama orang dan ga mau keganggu bayang-bayang bunda. Jadi bisa update status married to yang baru dan deactivate-in akun bunda..”

Yang dibilangin malah mencibir, tidak suka dengan tema pembicaraan itu, hehe.Tapi ketika itu saya memang serius ko. Saya ingin dia menyimpan baik2 arsip itu, hingga suatu ketika saya sudah tiada, dia bisa membaca-baca perjalanan hidup saya, bahkan sejak saya dan dia belum dipertemukan. Saya ingin dia menyimpan baik-baik semua itu, agar dia bisa membaca catatan-catatan yang tidak saya publish kepada semua orang (di email misalnya). Saya hanya ingin dia menjaganya untuk saya, itu saja.

Coba tengok akunmu di dunia maya, berkunjunglah ke akun-akun yang sudah tak bermajikan, dan belajarlah banyak dari sana. Kelak, nasib akun kita pun akan serupa dengan mereka. Lalu, status2 kita, tweets kita, notes kita, blog kita, akan juga kita pertanggung jawabkan di hadapan Allah. Maka, berhati-hatilah terhadapnya seperti engkau berhati-hati dengan lidahmu di dunia nyata. Yang juga harus dijaga adalah, sejauh mana kesamaan antara kita di dunia maya dan dunia nyata. Allah membenci orang yang berkata tapi tidak melakukan yang dikatakannya bukan? Maka jika kita gemar sekali melakukan pencitraan di dunia maya tanpa membaikkan diri kita di dunia nyata, bukankah itu adalah hal yang sama dengan bentuk yang berbeda- berkata tanpa melakukan tindak nyata terhadap apa yang dikatakan?

 

Kematian selalu menjadi sebaik-baik nasihat, semoga dengan berkunjung ke akun tanpa majikan, bisa sedikit mengganti kebiasaan baik yang jarang kita lakukan : ziarah kubur dan mengingat mati..

Cimahi, 25 April 2012

“Wa amithaa ‘alaa syahadati fii sabiilik..”

hikmah di balik misteri

“Hal yang misterius selalu berharga, karena ketidaktahuan kita akan hal itu, maka semua hal harus kita pertaruhkan untuk meraih kepastian terbaik”

Dulu, sebelum menikah, saya membenci hal-hal misterius. Pasalnya sangat sederhana, hal-hal misterius seperti menyuruh saya menunggu tentang kepastian dibaliknya. Dan itu melelahkan. Hingga akhirnya setelah menikah, saya semakin banyak belajar, bahwa dibalik hal yang misterius itu selalu ada hikmah yang Ia selipkan. Mengapa tonggaknya pernikahan? Karena jodoh pun adalah bagian dari misteri, bukan? Dulu pernikahan adalah hal yang sangat misterius bagi saya. Dengan siapa saya akan menikah, seperti apa pernikahan saya, semua sangat misterius. Ada kekuatan di luar kekuatan kita yang bergerak mengatur itu..

Lagi, mengapa tonggaknya pernikahan? Karena setelah menikah pula lah saya kehilangan sosok lelaki yang sangat berpengaruh dalam perjalanan hidup saya, dia yang tak terganti, papap. Seperti halnya jodoh, saya faham bahwa maut pun adalah misteri milikNya. Tak pernah terbayangkan pedih dan sakit karena ditinggal seorang ayah, terlebih karena saya pun memiliki kedekatan khusus dengannya. Dia yang selalu bertanya seberapa banyak saya sudah menulis, dia yang selalu bertanya perkembangan saya dan keluarga kecil saya, dia yang diamnya selalu meneduhkan hati siapa saja yang melihatnya.

Ah, kita memang tak pernah tahu seperti apa akhir hidup kita dan kehidupan setelahnya, benar-benar tak terbayangkan. Kadang saya benar-benar super penasaran, ingin tahu seperti apa rasanya mati? seperti apa saya akan mati? Dan seperti apa kehidupan saya setelah mati? Saya, anda, kita semua tak pernah tahu akan hal tersebut. Hanya tahu bahwa itu kepastian, akan terjadi, tanpa tahu detil-detilnya. Dan karena kita tidak pernah tahu siapa akan meninggalkan siapa, maka setiap perjalanan hidup kita menjadi sangat berharga, orang-orang yang berada di sekeliling kita pun menjadi sangat berharga. Siapa bisa menjamin kita bisa bersama suami kita hingga tua? Siapa bisa menjamin kita masih berkesempatan melihat anak-anak kita tumbuh besar? Bahkan siapa yang bisa menjamin bahwa esok masih menjadi jatah hidup kita? Tidak ada yang bisa menjamin. Tidak saya, tidak juga Anda.

Maka sekali lagi, renungan saya sampai pada, hal-hal misterius itu selalu berharga. Karena kita diberikan peluang untuk menciptakan kepastian dibalik hal misterius tersebut. Jodoh, seberapapun misteriusnya, Allah menyuruh kita membaikkan diri hingga kita pantas mendapatkan yang juga baik. Itulah bagian dari usaha kita. Kematian, seberapapun misteriusnya, Allah menyuruh kita membiasakan diri melakukan hal-hal kebaikan, karena kematian seseorang tak akan jauh dari bagaimana caranya hidup. Rezeki, seberapapun misteriusnya, Allah menyuruh kita berusaha meraihnya sekuat tenaga kita, hingga sampailah rezeki itu di tangan kita. Sesuatu diciptakan Allah secara misterius untuk melihat, siapa yang lebih baik usahanya, siapa yang hanya seadanya dan sebisanya saja. Andailah masing-masing kita mengetahui kapan akan mati, mungkin akan lain ceritanya. Kita, atau saya, mungkin akan berpikir, oh..masih lama ini matinya. Nanti kan bisa dikebut menjelang kematian (logika yang sama saat menghadapi deadline tugas kuliah, atau saat menghadapi uas). Kemungkinan lain  yang bisa saja terjadi saat kita mengetahui kapan akhir hidup kita, mungkin kita malah tak bisa mengerjakan apa-apa, saking takutnya menghadapi waktu kematian.

Karenanya, Allah jadikan ia tetap sebagai suatu misteri. Seperti juga Allah menyimpan rezeki kita sebagai misteri. Tak bisa terbayangkan apa jadinya kalau seseorang sudah diberi tahu bahwa dia diciptakan menjadi si miskin, pastilah untuk berusaha saja rasanya sangat malas. Karena kita tidak pernah tahu seperti apa rezeki kita, maka kita pun mengusahakan yang terbaik untuknya. Bagaimana juga jika kita sudah mengetahui dari awal siapa yang akan jadi pasangan kita? Mungkin kita tidak bisa menjaga diri karena merasa pede bahwa pada akhirnya dia juga akan menjadi pasangan kita. *idih. Atau mungkin juga malah jadi hopeless, karena pengennya sama yang lain. Hehe. See, sangat menyenangkan mengetahui bahwa semua itu adalah misteri yang masih bisa diusahakan.

Sama halnya dengan masa depan, masa lalu pun bagi saya masih banyak meninggalkan misteri yang memancing rasa penasaran yang sangat berbekas. Kadang wujudnya bisa menjadi hal yang bermanfaat, seperti dari siapa saya berasal, siapa kakek-kakek-kakeknya kakek saya, apakah saya ini memiliki hubungan kekerabatan dengan tokoh-tokoh terkenal dalam sejarah *hehe (dalam silsilah keluarga dari mamah, saya katanya keturunan sekian dari salah satu sunan di walisongo. Lupa sunan siapa ) Mengetahui tersebut adalah hal yang menyenangkan, selain karena bisa menguak misteri (meski entah benar atau tidak), pengetahuan tentang masa lalu juga bisa menjadi cermin pembelajaran untuk kita di masa sekarang. Namun, tak semua dari masa lalu saya ingin kuak kebenarannya, sebagian saya biarkan ia tetap menjadi misteri. Terkadang terlalu banyak tahu akan sesuatu membuat kita menjadi tidak nyaman, dan seperti itulah jadinya. Ah, lagipula masa lalu telah berlalu..

Simpulan saya akhirnya begini,  misteri itu bukan sesuatu yang harus kita tunggu seperti apa kepastiannya, karena itu melelahkan. Misteri adalah sesuatu yang seharusnya menggerakkan kita untuk berusaha membuat peluang-peluang tentang bagaimana kepastian misteri itu pada akhirnya.

Cimahi, 24 April 2012

Wednesday, 18 April 2012

baikkan kita, maka kondisi pun akan membaik ^^

Akhir-akhir ini, saya sangat senang membaca dan menulis tentang hikmah dan pembelajaran di balik pernikahan. Bagi saya, ini hal yang menyenangkan. Selain bisa berbagi kepada banyak orang, saya juga secara tidak sadar sembari mengevaluasi pernikahan yang saya jalani. Seperti kemarin, membaca tulisan di blog seorang kawan yang juga menuliskan tentang renungan pernikahan.Ada hal yang menarik dan saya ingat hingga saat ini, meski redaksinya tidak detil saya ingat..

Pada intinya, teman saya –sebut saja reisha- hihi :P menulis, bahwa seyogianya sepasang suami istri harus saling peka dan menghargai. Baik istri, maupun suami, sama-sama memiliki peran,dan  pernikahan bukan tempat untuk menimbang siapa yang lebih berat bebannya siapa yang lebih ringan, siapa yang berhak untuk merasa lelah, siapa yang tidak, bukan. Intinya, dengan perbedaan peran itulah justru suatu pernikahan menjadi indah- kala orang orang didalamnya belajar untuk saling menghargai.

Ini betul-betul saya alami. Seharian mengerjakan pekerjaan rumah sendiri sambil mengurus anak –yang padahal baru satu- rasanya badan ini ga karuan. Lelah. (ini lebih ke faktor tidak membiasakan diri sejak dini, hihi). Jadi, ketika suami pulang dari kantor, inginnya dia yang gantian –minimal untuk jaga fathan- sambil saya rehat sejenak. Tetapi suami juga ternyata pulang ke rumah dengan harapan yang sama. Pulang dari kantor dengan berbagai pekerjaan yang melelahkan, inginnya di rumah disambut dengan muka ceria, rumah yang rapih, plus penampilan yang segar. Kondisi seperti ini terkadang sangat rawan, rawan konflik jika tidak berupaya saling memahami dan menghargai. Terlebih, latar belakang saya sebelum menikah, apa-apa selalu dibantu sama pembantu. Suami pun, dibesarkan oleh seorang ibu yang sangat memanjakan anaknya. Apa-apa disiapkan. Bisa dibayangkan, dua orang dengan latar belakang mirip bertemu dalam bingkai pernikahan. Kalau tidak ada yang mau mengalah dan berbesar hatiiii…bisa-bisa perang dunia ketiga pecah. Heheh.

Seringkali, suami yang mengalah duluan untuk hal ini. Saya minta, setelah sampai rumah, sempatkan waktu minimal 10 menit untuk menanyakan kabar saya, juga untuk bermain bersama fathan. Selanjutnya biasanya kami makan malam bersama, lalu dia bersih-bersih diri, kemudian menyempatkan lagi sejenak menikmati family time, dan kami rehat..Tak banyak memang waktu yang kami miliki bersama pada hari kerja. Pergi kerja jam 6 pagi dan pulang ke rumah jam 7 malam membuat kami tak memiliki banyak kesempatan bertemu tatap muka. Meski komunikasi selalu berjalan selagi dia di kantor.

Dan yah, inilah pernikahan bagi saya. Pembelajaran luar biasa tentang bagaimana kita harus hidup. Intinya, baikkan diri kita, maka orang pun akan berangsur membaik. It works! Terlebih, bagi saya seorang istri dan ibu ideal adalah suhu penghangat keluarga. Ia yang harus selalu menjaga agar keharmonisan itu ada dalam keluarga.Hingganya, seorang suami berangkat bekerja dengan hati yang riang gembira, tidak berbekal geram dan amarah dengan carut marut rumah tangga. Hingganya, seorang anak bisa beraktifitas dengan penuh ceria, menikmati hari-hari pengasuhan yang luar biasa bersama sang bunda. See, ini jauh lebih baik daripada selalu menuntut pasangan supaya selalu baik tanpa kita membaikkan sikap kita pada pasangan. Kalau versi Aa Gym,  semua selalu dimulai dari diri sendiri, mulai dari hal-hal kecil, daaan, mulai dari sekarang. Kalau kata Mario Teguh, pantaskan diri kita untuk menerima kebaikan-kebaikan yang kita harapkan. Saat kita tak cukup baik, maka pantaskah kita mengharap yang baik2? J

Beautiful life, Alhamdulillah. Bimbing kami selalu ya Allah..

Cimahi, 19 April 2012

Makasih teh echa atas bingkai pernikahannya. Its sooo touchy J

Panggil Aku Sarjana Ilmu Komunikasi :D

Setiap hal memiliki pangkal juga ujung. Pun begitu dengan studi yang saya jalani hampir lima tahun ke belakang ini. Saya memulainya pada Agustus 2007, dan berakhir 16 April 2012 kemarin. Ini tentang kisah saya sebagai (mantan) mahasiswa jurusan Jurnalistik, Universitas Padjadjaran. Ada haru menyelinap ketika detik-detik yudisium bergulir. Takut dan khawatir dengan hasil yang tidak diharapkan, tapi juga senang karena tahu semua akan segera berakhir. Dan semua, sampai pada puncaknya ketika bu Pandan (dosen kami) mengumumkan bahwa kami (saya beserta 8 kawan lainnya) semua dinyatakan lulus dengan hasil yang sangat memuaskan, Alhamdulillah. Saya sendiri meraih nilai A untuk skripsi dan dengan IPK cumlaude 3,6. Hamdan laka ya Allah, bersyukur sekali dengan nikmat yang telah Allah anugerahi..

Sampai akhirnya di suatu titik di tengah yudisium, bulir-bulir air mata saya perlahan ke luar, semakin lama justru semakin deras dan sulit terbendung. Ini perasaan yang sulit dijelaskan. Spontanitas. Beberapa kali saya menengok ke belakang, menghapus bulir yang terlanjur jatuh. Malu, jika orang lain melihat dan menyadarinya. Namun, tetap saja, seorang kawan menyadari. “Wah, bunda nangis..”. Sontaklah saya menjadi bulan-bulanan kawan-kawan dan dosen. (Hal yang dihindari terjadi juga :D). Dan parahnya air mata semakin menderas saja hingga saya harus menengadahkan kepala agar ia terhenti, juga menggigit bibir agar tak terdengar suara isakan. Cukup sulit.

Ada sekelebat ingat yang tiba-tiba saja melintas ketika itu. Sekelebat ingat yang buat saya haru sampai menangis dan terisak, sekelebat ingat itu adalah bayang fathan. Wajah sendunya ketika ia ditinggalkan pergi, wajah manjanya saat ia ingin sang bunda mengalihkan perhatian dari laptop kepada dirinya, wajah lemasnya saat ia lelah setelah sebelumnya diajak menemani bunda getting berita, wajahnya yang menghitam setelah satu bulan dibawa KKN, hidup di pedalaman kabupaten Garut dengan orang-orang yang asing, dan episode-episode lainnya yang tiba-tiba saja berhamburan. Fathan, dengan segala tingkah dan polahnya memberikan banyak warna yang begitu berarti dalam kelulusan saya. Saya baru sadar, fathan telah mengubah banyak hal dalam hidup saya. Ia lebih dari sekedar berarti. Ia sangat berarti. Ia ada dan selalu menemani. Ia luar biasa. Hingga pernah suatu saat saya merasa khawatir ketika tahu fathan akan segera punya adik, saya khawatir perasaan saya pada fathan akan berubah. Saya khawatir fathan merasa tersaingi hingga perasaan cinta saya tak sampai padanya dengan sempurna. Karena fathan bagi saya, begitu istimewa. Hingga, cerita tentang fathan selalu saya ingat sebagai kisah yang mewarnai perjalanan saya meraih gelar sarjana.

Selain fathan, episode bersama Ia yang telah tiada pun juga menempati tempat yang khusus. Ah, papap. Apa kabarmu disana? Sayang kau tak sempat melihatku bertoga awal Mei kelak. Terima kasih atas keringat-keringat yang bercucuran untuk menafkahiku, membiayai setiap kebutuhan studiku. Laptop pemberianmu masih tersimpan, meski sudah rusak. Buku-buku pemberianmu juga masih kusimpan, ia sebaik-baik warisan yang kau berikan. Terima kasih papap, semoga kita berjumpa lagi, kelak di syurga Allah..

Atas kelulusan ini, saya juga sangat berterima kasih pada Senior Fathan, kembaran yang terpaut jarak usia jauh, ayah Fathan. Hehe. Ia selalu memberikan masukan dalam setiap perjalanan pengerjaan skripsi. Sembari saya juga sedikit membantu dia membuat transkrip wawancara untuk disertasinya. Bersama-sama mendiskusikan metode penelitian, kultur universitas, dan lain-lain. Semua begitu menyenangkan, saat semua kita kerjakan bersama sama J

Untuk mamah juga, atas supportnya yang luar biasa. Mamah, seseorang yang membuatku menjadi anak-anak lagi saat Ia mengantar ke kampus pada saat sidang kompre dan sidang skripsi. (Teman-teman yang lain diantar pacarnya) Aku yang udah emak2 ini dianter emak sendiri, sesuatu banget :D

Teh dewi dan Mas Amin yang ikut kecipratan repotnya karena harus jaga fathan selagi emaknya sidang. A ihsan dan teh syahidah yang ikut mendoakan dalam jauhnya jarak mereka dengan saya. Rodiah yang juga ikut membantu dengan doanya. Bapak dan Ibu mertua serta kakak dan adik ipar yang juga selalu menanti-nanti kabar kelulusan saya, here I am!

Terima kasih semuanyaaa..terima kasih jurnal 07 yang luar biasa, terima kasih agnes, gama, yasun, cahoy, dika, rivki, albi, dan lingga atas kenangan-kenangan manis dalam upaya peraihan gelar sarjana. Semoga Mei nanti bukan wisuda terakhir kita (masih lanjutin belajar ke tingkat berikutnyaa J). Dan yang lebih penting, semoga ilmu ini bisa bermanfaat untuk kebaikan ummat, Negara, bangsa, dan agama. Aamiin J

Sunday, 15 April 2012

forever i love you

ini lagi iseng banget di tengah persiapan buat sidang skripsi pagi ini. ngeliat wajah fathan tidur bikin hati bergejolak, heheh. i do love him so much. atas semua hal yang pernah terjadi, hal yang paling kusyukuri adalah kehadirannya dan melihat tumbuh kembangnya yang luar biasa. he is my everything :)) 

My first, my last, my everything..
And the answer to all my dreams..
You’re my sun, my moon, my guiding star..
My kind of wonderful, that’s what you are..

I know there’s only, only one like you..
There’s no way they could have made two..
You’re, you’re all I’m living for..
Your love I’ll keep for evermore..
You’re the first, my last, my everything..

In you I’ve found so many things..
A love so new, only you could bring..
Can’t you see if you..
You’ll make me feel this way..
You’re like a first morning dew on a brand new day..

I see so many ways that..
I can love you..
Till the day I die..

You’re my reality, yet I’m lost in a dream..
“YOU’RE MY FIRST, MY LAST, MY EVERYTHING"



*fathan tempo doeloe :* :*

selamat datang, adik fathan :))

Adalah hal yang menyenangkan saat pertama kali mengetahui bahwa ada seseorang telah hadir di dalam sana, dalam rahimku yang Allah buat sangat kokoh. Syukur Alhamdulillah, Allah Maha Pencipta, Allah Maha Pemberi Rizki. Sudah 6 bulan terakhir ini memang kami menunggu kembali kehadiran buah hati yang akan menambah semarak keluarga kecil kami. Dan Alhamdulillah, saat ini Allah telah mempercayakan lagi seorang hambaNya dalam Rahim saya.

Senyum merekah. Ada perasaan haru di sana. Mengetahui bahwa saatnya telah tiba, saat untuk semakin bijak, semakin shalihah, dan semakin-semakin kebaikan yang lainnya. Karena kelak, mungkin tak hanya satu dua saja hamba Allah yang dititipkan pada saya, pada kami. Dan rasanya sayang sekali jika setiap kehadiran buah hati tidak membuat kita semakin baik, di mata Allah tentu. Ada mereka yang bisa dekat dengan Allah di saat senggangnya, tetapi berapa dari mereka yang bisa dekat dan makin dekat lagi kepada Allah di saat sibuknya. Luar biasa. Ini baru hanya akan menginjak jumlah dua, anak yang Allah dititipkan pada saya-kami. Belum 10 atau 11 seperti ummahat-ummahat ternama yang luar biasa. Akan sangat memalukan jika yang dua ini kelak tidak dipersembahkan pada Allah sebagai sebuah investasi  masa depan yang luar biasa bagi kami, sebagai orang tuanya. 

Saya memahami bahwa tingkatan kesulitan dalam hidup itu bertahap, sesuai dengan kemampuan dan seiring pertambahan usia kita. Saat TK dulu, masa tersulit kita adalah memilih pensil warna dengan warna apa yang akan kita pakai untuk mewarnai sebuah gambar. Saat SD, masa tersulit adalah saat buku pelajaran kita tertinggal dan harus rela numpang buku orang lain. Atau saat ketinggalan buku PR. Atau saat kita marahan dengan teman baik kita. Dan saat-saat yang menurut kita kini, sangatlah sepele. Masa SMP dan SMA masa tersulit mungkin UN dan SNMPTN. Semua kesulitan yang jika kita ingat kini rasanya tak terlalu sulit. Entah kita melaluinya dengan seperti apa, tapi yang harus diingat, semua kesulitan itu akan terlewati dan akan menjadi hal yang biasa saja bagi kita ke depan.

Dulu bagi saya menikah itu terasa menyulitkan, kebebasan akan terkekang. Setelah menikah, yang terasa lebih sulit ternyata adalah mendidik dan membesarkan anak. Dan setelah dengan satu anak, mungkin bayang-bayang jumlah anak yang sekian pun bisa saja membuat saya khawatir, mampukah saya. Pertanyaan wajar manusia, seorang ibu, yang ingin memberikan yang terbaik bagi keluarganya, anak-anaknya. Tak mengapa pertanyaan itu ada, atau justru berbahagialah karena masih mempertanyakan hal itu. Beberapa ibu mungkin tidak terlalu peduli akan hal itu. Maka kekhawatiran itu, kenali saja sebagai anugerah yang akan membimbing kita agar tetap dalam jalur-jalur kebaikan.

Kini, lihatlah ke depan. Masa depan terbentang luas- meski entah berapa lama lagi kita akan hidup. Namun kesempatan ini, kesempatan usia, kesehatan, akal, pikiran, harta, keluarga, adalah sebuah tawaran Allah yang bisa kita jadikan jalan menuju kebaikan, atau sebaliknya. Tak perlu khawatir berlebihan, karena kita seyogianya kita sering bertemu dengan berbagai kesulitan, dan bisa melaluinya. Semua kesulitan di masa datang itu tak ubahnya seperti multivitamin dengan rasa pahit yang tak lain hanya akan menguatkan imunitas kita, dan semakin membuat kita kuat dari hari ke hari. Hadapi saja dengan senyuman, insya Allah lebih mudah.

Anak rewel, hadapi dengan senyuman. Cucian numpuk, hadapi dengan senyuman. Tandem nursing, hadapi dengan senyuman. Skripsi belum kelar, hadapi dengan senyuman. Intinya, hadapi. Bukan disembunyikan apalagi lari dari tanggung jawab, yakin, nurani kita pasti tak tenang. Hadapi, kerjakan, mengeluh hanya pada Allah, dan yakin, Allah akan makin sayang pada kita. Dan tak ada kebahagiaan yang lebih membahagiakan dibanding dicintai oleh Allah. Hasbunallah wa ni’mal wakiil, ni’mal maula wa ni’mannashiir..

*selamat datang di dunia rahim bunda sayang, selamat berjumpa kelak,-6 bulan mendatang.love u :*

Depok, Maret 2012

Friday, 13 April 2012

menulis dari masa ke masa

Pernah membaca tulisanmu terdahulu? Jangankan tulisan di masa SD yang mungkin sudah jauh belasan tahun yang lalu, tulisan di masa awal perkuliahan saja mungkin akan terasa asing bagimu. Begitukah? Karena begitu yang kurasakan, contoh yang paling dekat ya saat membuka file-file lama multiply. its not so meee, heheh J

Mencermati tulisan dari masa-ke masa memang suatu hal yang menyenangkan. Bila mungkin kita merasa bahwa kita tak berubah apa-apa sejak dulu hingga sekarang, maka tengok saja tulisan kita di masa silam. Gaya bahasa yang dipakai pasti amat sangat berbeda dengan gaya bahasa kita saat ini. Fokus pembicaraan pun mungkin menjadi hal yang konyol bagi kita saat ini, padahal ketika itu hal tersebut adalah hal yang sangat serius bagi kita J

Menyadari apa? Kita berubah ya kawan. Kita berubah menjadi lebih dewasa, dalam ucap, sikap, tingkah dan laku. Kita semakin mampu memilah mana yang layak kita perbincangkan, mana yang tidak. Kita juga semakin memahami bahwa menata emosi secara perlahan, menuangkannya dalam bentuk tulisan yang indah akan jauh lebih baik dibanding hanya menuangkan secara mentah apa-apa yang ada dalam fikiran kita. Bukan berarti kita menjauhi tingkah tingkah natural dan spontan, tetapi berarti kita menyesuaikan hidup kita dengan bilangan usia sekian, dengan tingkat kenaturalan yang sepadan. Tentu saja kenaturalan anak SD akan berbeda dengan kenaturalan anak kuliahan. Bukan berarti anak kuliah menjadi tidak natural dan penuh polesan kepura-puraan, tetapi memang mereka memiliki kenaturalan yang berbeda seiring pengalaman hidup yang mereka alami.

Ah, menulis memang menyenangkan. Menulis apapun. Meski ketika itu terasa sampah, tetapi bagi diri kita beberapa tahun mendatang, hal tersebut sangatlah berharga. Karena si diri butuh sejenak menengok ke belakang, mengetahui bahwa dirinya sudah maju beberapa langkah. Karenanya amatlah malu jika dalam majunya usia tidak diiringi juga dengan kemajuan-kemajuan lain yang menopang diri menuju tujuan utama hidup ini, keridhoaan Allah.

Ini aku yang kini tengah menginjak usia 22 tahun, dengan gaya bahasa yang kuanggap pantas untuk usiaku saat ini. Meski entah apa artinya bagi aku 10 tahun mendatang. Apapun itu, aku nanti akan sangat berterima kasih karena aku kini telah meluangkan waktu untuk menuliskan sejarah, sejarah kehidupan tentangku sendiri. Terimakasih diri J

Thursday, 12 April 2012

pernak pernik pernikahan

Kalau pernikahan dibangun atas dasar cinta, maka siapapun yang saling mencinta dalam sebuah pernikahan mestinya selalu merasakan bahagia tanpa cela. Kalau pernikahan dibangun –hanya- berdasarkan cinta, maka mestinya orang yang saling mencintai yang terikat dalam suatu pernikahan, tak pernah mengenal kata cerai, atau mungkin bosan, atau rasa-rasa ketidakcocokan lain yang sering kali menjadi biang keladi ketidak harmonisan. Maka tak perlu terlalu banyak berteori bahwa aku akan menikahi orang yang kucinta, karena sejatinya bukan cinta yang akan menjadi bahan bakar keharmonisanmu kelak. Cinta mungkin bukan modal awal yang fantastic, akan lebih baik jika kita menjadikan niat yang ikhlas sebagai modal awal dalam menikah. Niat tulus, semata untuk memenuhi sunnah rasul membangun keluarga sakinah mawaddah warrahmah.

Karena,pernikahan bukan hanya aku cinta, kamu cinta, mari kita ikat cintakita dalam suatu bingkai pernikahan. Tidak. Pernikahan adalah komitmen, dan hanya orang-orang yang teguh dengan komitmennya, mereka akan menjaga pernikahan mereka dengan sepenuh jiwa raga. Pernikahan adalah komitmen, dan tiadalah sebuah komitmen tanpa diuji dengan suatu ujian yang membuat kekuatan komitmen itu nampak. Pernikahan adalah komitmen, karena cintamu suatu saat akan pudar, akan layu, hingga mungkin kau tak lagi menemukan alas an untuk mencinta. Tentu akan mudah bagi orang yang tak berkomitmen untuk menjadikan alas an tersebut menjadi tameng atas ketidakmampuan mereka menjaga komitmen, hingga akhirnya memilih berpisah. Meskipun mungkin untuk kasus-kasus yang luarbiasa, perpisahan itu baik jadinya bagi kedua belah pihak. Ingat, hanya pada kasus-kasus luar biasa, itupun masih Dia benci, meskipun Dia bolehkan.

Sejatinya dalam pernikahan, tidak selalu indah yang kita dapatkan. Tak seperti, mungkin, bayangan dan angan kita sebelum menikah. Gambaran kebersamaan bersama orang yang dicinta memang terasa begitu nikmat, tetapi ingat, hidup ini berwarna. Dan begitupula dengan perjalanan cinta. Maka, mungkin cinta dalam pernikahan memang harus selalu diusahakan, ditumbuhkan, dipupuk, dipelihara, dan ditumbuhkembangkan. Cinta dalam pernikahan adalah sesuatu  yang timbul karena usaha kita, bukan sesuatu yang selalu ada. Karena cinta, maka kita akan berusaha banyak toleransi, berlapang dada, dan ikhlas atas banyak hal yang mungkin di luar keinginan kita. Karena cinta, maka kita akan berusaha untuk selalu memberi, tak peduli berapa yang diterima. Karena cinta, kita akan berhenti berekspektasi panjang lebar tentang pasangan, kita akan berhenti membayangkan dia sebagai manusia sempurna dalam benak kita.

Pernikahan bukan menyatukan dua orang yang sempurna, tetapi saling menyempurnakan orang-orang yang mengikat janji menjadi satu. Saling menyempurnakan, dalam kata lain, masing-masing memiliki lebih, memiliki kurang. Dan akan menjadi indah jika itu dipadupadankan, diisi satu sama lain hingganya menjadi sempurna. Sempurna dalam kebersamaan.

Inilah cinta dalam pernikahan, yang sekali lagi harus diusahakan. Maka, banyaklah meminta kepada yang Maha Cinta, moga Dia tetapkan hati kita, dan hatinya untuk tetap dalam mahligai cinta yang diridhaiNya. Mahligai cinta yang dibangun berlandaskan keinginan untuk taat pada Dia dengan wujud membahagiakan pasangan kita. Landasan cinta abadi yang tak akan tertelah waktu dan masa. 


Depok, maret 2012