Thursday, 29 January 2009

sepucuk surat untuk athena

“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin2 selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya).” Al-a’raf: 3

Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh

 Ng, ada kesenangan tersendiri ketika bisa berbagi pendapat, tentu dengan sikap terbuka, tidak mengenyampingkan pendapat2 baru yang bisa jadi memang lebih baik, kayak yang maula bilang.

Han ngerasain banget kalo bersikap terbuka itu bukan suatu hal yang mudah. Terkadang, saking uda percayanya sama suatu hal, akhirnya bener2 ga nerima lagi hal yang lain. Padahal mungkin kepercayaan han terhadap sesuatu itu baru bersifat emosional, bukan dilandaskan pada keilmuan.

Arkian, ketika han sama temen2 lagi ngerumpi, temen han bilang gini..
‘hani itu orangnya tertutup untuk masalah menerima pemikiran baru ya..’
Sempet kaget, tapi akhirnya kata2 itulah yang sampai saat ini ngajarin han bahwa perbedaan hanyalah alat pencari kebenaran yang bisa membuat segala sesuatu menjadi jelas posisinya. Dan sejak itulah han belajar tentang seni menghadapi perbedaan. 

Kalo bahasa langitan kepunyaan Allah gini katanya :

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. “ Alhujurat 13
Hehe.
Seru2! Bhineka tunggal ika betulan ini...
Meskipun berbeda, tetep satu jua..

Kayak yang lagi dibahas kemaren, tentang fatwa haram golput MUI.

Tertantang buat....hm, buat mengenalkan bahwa politik itu indah. *tetep..
Yayaya, han selalu bilang kayak gitu. Bukan karena di kampus digembleng sebagai anak siyasi, tapi memang karena kesadaran bahwa sebenarnya politik itu indah, kayak indahnya islam itu sendiri.

Dan menjadi sebuah tantangan besar untuk memutarbalikkan pandangan yang selama ini ada bahwa politik itu keji kotor merusak, dll. Jujur, han sedih betul dengernya. Sedihnya setara kayak kesedihan saat orang bilang kalo islam itu teroris, hehe. Tapi sedihnya campur aneh, sesempit itukah kata politik dipandang orang?

‘Politik adalah kecerdasan membaca dan memanfaatkan momentum’

    Dan ternyata setiap laju hidup kita ga lepas dari politik. Ketika kita milih perguruan tinggi, ketika kita milih sebuah lingkungan, itu sebenernya bentuk kegiatan2 berpolitik kita. Jadi suka aneh sendiri kalo ada orang bilang, ‘saya benci politik!’. Loh? Hehe. Mungkin politik yang mereka maksud adalah –sebuah bentuk rezim kekuasaan ditangan penguasa tiran dengan cara2 yang kotor ketika berusaha mendapatkannya-.

Wallahualam.
Han ga hendak mengubah pandangan temen2 tentang apa itu politik, keknya temen2 juga uda lebih tau. Sama2 mengajak untuk berekspresi aja, karena mau ga mau han sangat mengakui bahwa dengan cara ginilah han makin semangat untuk mencari-dan mencari. semoga kita semua dapet kebaikan2 dari semua ini. Amin2.
                                                       ***
Menanggapi ashkar tentang jangan memilih siapa yang minta dipilih. Han memahami bahwa ternyata konteksnya ga sesempit itu.
Ketika ada orang minta dipilih, jgleg, langsung di judge kalo orang kayak gitu ga boleh dipilih karena dia berambisi. Dalam hal ini, han inget kisahnya Nabi Yusuf..

“Berkata Yusuf: Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan.” QS Yusuf:55

Dan ternyata, Allah ga negur nabi Yusuf atas perkataannya itu.

Wallahualam, tapi yang han fahami tentang hadist Abu Dzar itu seperti ini..

Saat itu Abu Dzar minta dijadiin gubernur, tapi Rasulullah menolak, karena –kayak yang kita tau- abu dzar ini sahabat nabi yang bertemperamen pemarah-eh bukan pemarah mungkin ya, reaktif banget yang cenderung nekat. Dan menurut Rasul, sahabatnya yang satu ini belum mampu memikul amanah tersebut. 

“Memilih siapa yang minta dipilih dengan keadaan yang minta dipilih ini ga mampu, tentu bukan suatu pilihan yang tepat.” 

Sampe saat ini han masih yakin kalo meminta amanah bukanlah sebuah hal yang negative, selama niat baik yang ada dibekali dengan kapabilitas yang dipunya.
Kalo menurut han si, beneran menurut han ya, nyari pemimpin itu perkara komprehensif. Makanya, kayak kata KPU, kenali calon pemimpin anda.
Tapi masalahnya jadi rumit, ketika ternyata banyak orang uda hopeless sama semua calon pemimpin yang ada. Dan ke-hopeless-an itu akhirnya nyebabin dia jadi ga mau cari tau tentang semuanya.
Hehe, emang betul ya semua itu kembali ke niat. Kalo emang uda ga niat, ya jangankan mencari, dikasih tau juga mungkin ga mau..
                                                          ***
Balik lagi ke pro kontra fatwa MUI..
Pendapat han pribadi, mengutip sebuah hukum umum..
Haram adalah segala hal yang bersifat merusak..
Halal adalah segala hal yang bersifat baik dan membangun...
Nah, tapi kan ngga cukup dengan ini. Baik buruk mungkin perkara consensus-selama gda pegangan yang jelas. Beruntung kita dilahirkan dalam lingkungan islam, yang punya pegangan ‘abadi’, al-Qur’an dan As-Sunnah. Artinya, benar dan salah,baik dan buruk, semua harus berlandaskan pada nilai2 dari kedua sumber tersebut.
Han bukan anak seorang anggota MUI, tapi yang han sadari di sini adalah bahwa Rasul terakhir uda wafat, dan ga semua hal yang ada saat ini ada juga di masa Rasul. Artinya memang, banyak hukum2 yang kita gtw boleh apa ngga nya karena di zaman Rasul dulu ngga ada. Nah, makanya ada istilah ijtihad yang tentunya melakukan berbagai pendekatan terhadap Al-Qur’an dan AsSunnah untuk membahas perkara2 yang ga dijelasin di zaman Rasul. Inilah yang sedang dilakukan oleh MUI, berijtihad. Han inget apa kata maula, mungkin memang orang2 yang ada di sana adalah orang2 yang lebih rajin ibadahnya dari kita. Oleh karenanya han sangat menghargai keputusan itu. Toh namanya juga ijtihad. Uniknya, ijtihad ini, yang han pernah denger-tolong dibenerin kalo salah, ketika hasil ijtihadnya ternyata ga tepat pun ternyata masih bernilai 1, dan ketika bener, nilainya jadi 2. 
Keliatannya emang enak, mereka –yang berijtihad- itu ‘selalu bernilai’. Padahal, sebenernya tanggung jawab mereka yang berijtihad di hadapan Allah itu gede. Dan mereka yang berijtihad pasti tau itu.

-lah, malah bicarain ijtihad?

Ngga2, han gtw banyak tentang itu. Kalo ada yang salah tolong dibenarkan…
Han menghargai, menghormati fatwa MUI itu. Han bangga MUI bisa menyentuh sisi-sisi politik, karena Islam emang syamil-mutakammil. Ngga peduli orang bilang MUI politis banget, toh memang Islam itu menyeluruh ko.

“Politik bukan milik politisi semata, justru sebenernya setiap kita adalah politisi, dengan cara kita masing2. Karena emang itulah kehidupan dengan multi-aspeknya, ga bisa dipisah-pisahin.”

Meskipun sebenernya, -kayak yang seorang politisi bilang-, permasalahan golput adalah persoalan yang hanya bisa diselesaikan secara persuasive, ngga cukup dengan fatwa haram semata. Ini nyambung kayak yang Arsyad bilang, alasan golput itu kan macem2..
Betul2. Ngutip kata2 seseorang, golput itu bisa golput secara ideologis, administrative, atau teknis. Dan kesemua itu butuh sebuah pendekatan yang beda. Terlihat sulit kalo langsung dikerasin, HARAM. Bisa jadi fatwa golput akhirnya bisa berakibat kontra-produktif, justru orang malah nyengajain diri untuk ga milih-karena merasa tertantang dengan kata haramnya, atau milih asal-asalan, sekedar mengugurkan kewajiban.

Tapi toh, tujuan dari fatwa MUI ini, bagi han adalah kebaikan. Pada akhirnya han melihat kesemua ini sebagai sebuah kesatuan peran kerja kita sebagai muslim. MUI biarlah dengan peran MUI sebagai pemberi fatwa, perkara penyadaran politik secara persuasive, biarlah itu jadi bagian peran kita (ga terdefinisi kita itu siapa, yang jelas han mau ikut ke dalam kata kita itu :P)

Kan saling bekerja sama dalam hal kebaikan ceritanya…
                                                                  ***
Ada satu hal yang selalu han inget. Kata2nya seorang ulama..
Memilih hal baik ketika ada dua hal yang baik, itu gampang. Memilih yang baik ketika yang lain jelas2 buruk, itu juga gampang. Nah, memilih yang baik ketika semua terlihat buruk, inilah yang susah.

Dan kuncinya, carilah hal yang lebih sedikit buruknya di antara yang buruk.

Hidup adalah perkara pilihan, dan tiada hari dalam hidup kita tanpa kegiatan memilih.
Dan itu yang lagi han liat saat ini, berkaitan dengan masalah pemerintahan. Kita butuh sebuah pemerintahan, mutlak butuh. Lebih baik sebuah negara dengan pemerintahan yang amburadul, dibanding dengan sebuah negara tanpa pemerintahan. Kalo dinilai pake angka, negara tanpa pemerintahan itu nol, negara dengan pemerintahan yang amburadul itu satu, dan negara dengan pemerintahan yang baik itu adalah dua-yang akan berbuah jadi tiga-empat-dan ga kebates. Dan Indonesia tengah ada di nilai ke satu yang –insya Allah akan beranjak ke nilai kedua, ketiga, dan seterusnya..

 “Anda kecewa dengan pemerintahan yang tidak amanah?

Berarti anda tengah berharap untuk sebuah pemerintahan yang amanah.
Jika anda memiliki harap, maka kejarlah harapan itu, niscaya Allah akan memberikan jalan bagi mereka yang tak berhenti berharap untuk suatu hal yang lebih baik.”
                                                                  ***
Hehe, kalo maula (lagi2 maula..) berkata tentang tafsiran, maka kira2 seperti inilah tafsiran han dengan keterbatasan pikiran yang ada. 

Yang memutuskan untuk tetep golput, mangga kalo emang menurut yang bersangkutan golput itu adalah pilihan, meskipun bagi han bukan pilihan...

Yang masih bingung, han sarankan untuk mempergunakan hak-sekaligus kewajibannya..

Yang emang mau mempergunakan hak-yang sekaligus jadi kewajibannya, ayo pergunakannya sebaik mungkin..!

Jangan berhenti berharap, jangan berhenti mencari..


Akhirnya.....sekian ‘saja’lah, uda panjang betul ini.
Kalo banyak kata2 han yang salah, itu pasti banget datangnya dari hani, mangga dibenerin. Dan yang bener , itu kepunyaan Allah...maka berikanlah sedikit ruang, barangkali dengan sedikit menekan tingkat kesombongan diri, Allah jadikan kita pribadi yang lebih baik di hadapanNya.

Yang kesel, hehe, maaf yo kalo mungkin uda menyinggung perasaan. Beneran, han cuman pengen berbagi aja. Menerima dan memberi pendapat, mencari dan terus mencari.

Yang bĂȘte karena han uda mengisi forum dengan hal2 yang mungkin ngeselin dan membosankan-meski menurut han menyenangkan :P-maaf2 juga...
Ini yang terakhir dari han untuk issu fatwa MUI. Ditanggapi mangga, ganti topik juga hayu banget. Keknya uda jenuh...hehe.
Piss, damai. Perbedaan adalah anugerah, jangan dijadikan jarak, tapi jadikanlah perekat. Karena dengan perbedaan itulah kita hidup!

Wassalamualaikum warahmatullah wabarakatuh...
Athena never dies..
-makasi banyak untuk ashkar, reza r, arsyad, maula, dan adisa atas semua inspirasinya..

[jadinya han nge post-in yang ini gara2 tulisan kemaren uda dilengkapin sama beberapa tambahan bahan lainnya. nama2 yang tercantum di situ adalah nama2 temen SMP han yang ngomentarin tulisan han sebelumnya..]

0 comments:

Post a Comment