Friday, 21 November 2008

citizen journalism

Ada orang yang mengatakan bahwa setiap kita sebenarnya adalah seorang jurnalis bagi diri kita sendiri. Sadar ataupun tidak, hidup kita memang penuh dengan pencarian tentang sesuatu dan refleksi diri atas hal tersebut. Meskipun memang kadar di setiap orangnya akan berbeda-beda. Beberapa orang mungkin hanya menyukai proses mencari sesuatu dan menjadikannya sebagai pengetahuan bagi dirinya pribadi. Namun, ada juga beberapa orang yang setelah proses pencarian itu lalu memuat hasil refleksinya di situs pribadi, atau bahkan memublikasikannya di media massa.

                Sahat Sahala Tua Saragih mengatakan dalam artikelnya, “Wawancara  Dalam Konteks Jurnalisme”, bahwa pada dasarnya manusia memiliki naluri untuk tahu dan untuk diberi tahu. Hal inilah yang menjadi sebuah alasan kuat yang dapat menjelaskan pendapat bahwa setiap kita adalah jurnalis. Dalam perkembangannya, fenomena ini kemudian disebut orang sebagai citizen journalism.

                Pada dasarnya, citizen journalism tetap melibatkan kegiatan seperti mengumpulkan, mengolah, dan menyebarluarskan berita. Namun, bila biasanya yang melakukan hal tersebut adalah wartawan, maka dalam istilah citizen journalism subjeknya adalah publik secara luas dan terbuka.

                Ada beberapa konsep yang menyangkut citizen journalism yaitu, public journalism, advocacy, journalism, participatory journalism, participatory media, open source reporting, distributed journalism, citizens media, advocacy journalism, grassroot journalism, hingga we-media.

Definisi citizen journalism

Tak sedikit orang yang tertarik dengan bahasan tentang citizen journalism. Ketertarikan-ketertarikan itu memacu mereka untuk membuatkan definisi khusus bagi citizen journalism.

                Wikipedia, dalam situsnya menjelaskan bahwa citizen journalism adalah kegiatan warga dalam memainkan peranan aktif dalam proses pengumpulan, pelaporan, analisis dan penyebaran berita dan informasi.

                Bentuk spesifik dari citizen journalism adalah citizen media dengan content  yang berasal dari publik. Banyak istilah lain yang juga merupakan bentukan yang memiliki makna yang sama dengan citizen journalism. Di wilayah Indonesia sendiri, istilah yang ada adalah jurnalisme partisipatoris atau jurnalisme warga.

Citizen journalism sendiri memiliki media dengan beberapa kategori. Dalam hal ini, J.D. Lasica berpendapat dalam Online Journalism Review (2003) mengategorikannya ke dalam lima tipe:

1. Situs penyiaran radio

2. Partisipasi audiens

3. Situs web

4. Situs media kolaboratif

5. Bentuk lain dari media ‘tipis’

6. Situs berita partisipatoris murni

Sejarah citizen journalism

Kehadiran media internet di akhir tahun 1989 diduga adalah sebuah pemacu kuat terjadinya citizen journalism.Internet, dengan kecanggihan yang dimilikinya menawarkan kesempatan yang luas bagi publik untuk dapat menumpahkan ide dan gagasan mereka di situs-situs pribadi yang gratis dan simple yang lebih akrab disebut sebagai blog.

                Fenomena berjamurnya blog ini mungkin adalah sebuah bentuk eksistensi diri di dunia, maya bagi seseorang. Namun, lebih dari itu, bila kita lihat dari aspek lain, keberadaan blog ini memacu dunia tulis menulis di kalangan publik.

                Informasi yang dulu hanya bisa dinikmati dari berbagai media massa melalui goresan tangan seorang wartawan, kini bisa dinikmati di berbagai tempat dengan berbagai tangan selain tangan wartawan.

                Sebenarnya citizen journalism tidak hanya terpatok pada satu media saja, seperti internet. Akan tetapi, mencakup semua jenis media. Hanya saja, memang media internet memiliki kelebihan-kelebihan yang tidak dimiliki media lain. Selain karena aksesnya yang lebih murah dan cepat, media internet pun menawarkan sebuah fasilitas berdialog langsung dengan audiens yang menjadi pembaca atau penikmatnya.

                Dalam salah satu situs di internet, ada yang berpendapat bahwa kehadiran citizen journalism salah satunya dipicu oleh sebuah peristiwa yang terjadi di Amerika Serikat, tepatnya tahun 2004. Saat itu dilaksanakan pemilihan presiden Amerika. Bush dari partai Republik dan Kerry dari partai democrat yang bersaing ketat memperebutkan kursi kepresidenan.

                Dikatakan dalam situs tersebut bahwa masyarakat AS saat itu merasa jenuh dengan pemberitaan-pemberitaan yang ada di media. Pada akhirnya, mereka melampiaskan seluruh pendapat dan perasaannya ke dalam wadah weblog di mana semua yang mereka fikirkan dan mereka rasakan bisa dipublikasikan dan dibagikan dengan yang lainnya.

Perkembangan citizen journalism

Dapat dipastikan bahwa citizen journalism hadir dari sebuah perkembangan teknologi yang cepat yang dipelopori oleh kehadiran internet di akhir tahun 1990-an. Oleh karena citizen journalism hadir dari sebuah perkembangan teknologi, maka perkembangannya pun tak pernah terlepas dari perkembangan teknologi.

                Hubungan yang terjadi berbentuk linear, semakin tinggi perkembangan teknologi, semakin marak dan mendunia pula fenomena citizen journalism. Kita bisa melihat hal ini dengan studi realita yang ada.

                Dahulu mungkin ingin membuat berita yang dibaca banyak orang itu susah. Ada beberapa cara sebenarnya, diantaranya dengan menyebarkan leaflet-leaflet gelap yang kemudian akan dibaca masyarakat secara luas. Ini adalah bentuk dari citizen journalism. Dalam konteks yang lebih berkembang lagi, kesemua perkembangan itu tidak lepas dari hal yang bernama ‘internet’.

                Begitu erat kaitan antara internet dengan citizen journalism. Tidak ada alasan lain yang bisa disampaikan kecuali memang dalam  internet itu ada sebuah keunikan berbeda.Selain karena hingga saat ini internet diakui sebagai sebuah media tercanggih yang memungkinkan orang untuk mengetahui banyak hal dengan hanya mengetikkan alamat situs saja.

                Apalagi dewasa ini kebebasan berpendapat adalah sebuah hal yang sangat dijaga keberlangsungannya. Orang-orang semakin asik dengan kesenangannya mengomentari hal-hal terkecil yang bahkan mungkin kurang penting. Segala hal yang ada, baik itu tentang dirinya atau tentang lingkungan terdekatnya akan diungkapkan dalam sebuah tulisan. Fenomena ini adalah bentuk implikasi nyata dari berbagai kemudahan fasilitas teknologi yang disediakan.

                Tak perlu kirim artikel lewat pos lagi ketika ingin artikel tersebut dibaca orang banyak di sebuah media massa cetak, misalnya. Saat ini yang cukup dilakukan adalah menulis dengan baik dan mengelola sebuah weblog dengan cermat.

                Perkembangan citizen journalism di Indonesia bisa dikatakan belum begitu lama dan mengakar. Fenomena yang mengawali mungkin adalah situs detik.com, yang menampilkan berita-berita segar dan tidak terkungkung. Akan tetapi situs ini dibuat oleh insitusi untuk banyak orang. Berbeda dengan blog, majalah memiliki keterbatasan usia yang menjadi indikator bahwa tugas ini adalah sebuah bentuk dari wartawan dalam arti yang sempit.

                 WW memberikan analisanya bahwa blog ini akan booming dan meluas. Perpaduan antara fun dan hobby menjadikan blog semakin populer, selain itu di sini setiap orang bisa berpartisipasi di dalamnya. Contoh-contoh web 2.0 lain adalah seperti Friendster, Flickr, dimana lewat hal-hal itu kita bisa membangun jaringan social juga. 

                Hanya sedikit saja mungkin hal-hal yang berkaitan dengan perkembangan citizen journalism secara keseluruhan. Satu hal yang perlu disadari adalah bahwa perkembangan citizen journalism ini tak lepas dari perbincangan masalah perkembangan media internet.

Kelemahan citizen journalism

Suatu fenomena memang tak terlepas dengan implikasi-implikasi yang mengikutinya. Diantara beragam implikasi yang mungkin terjadi, salah satunya tentu adalah implikasi negative yang berujung pada sebuah kategori akhir bahwa hal tersebut adalah kelemahan dari suatu hal yang kita teliti.

                Citizen journalism. Menceritakan sebuah kisah tentang kebebasan berpendapat yang kemudian dalam pelaksanaannya cukup membuat insan pers ‘aga’ khawatir. Bagaimana tidak, hal tersebut bisa dikatakan adalah sebuah ladang yang tadinya ekslusif bagi para wartawan, sekarang bisa dimasuki oleh siapapun juga.

                Dalam sebuah situs dikatakan, hal ini bisa jadi adalah sebuah ancaman tentang terbentuknya kekuatan baru di samping kekuatan pers yang legal di mata pemerintah. Ancaman ataupun tidak sebenarnya hal tersebut tergantung dari bagaimana cara kita menyikapinya.

                Suatu fenomena akan menjadi suatu masalah bila kita melihatnya dari sudut pandang negatifnya, tapi bisa saja berubah menjadi suatu hal yang baik bila kita memang bisa mencari nilai-nilai baik dari fenomena itu. Meskipun terkadang pencapaian kea rah itu memerlukan perjuangan yang tidak mudah.

                Berbicara tentang kelemahan dari citizen journalism, yang saya pikirkan saat ini adalah adanya kebebasan berpendapat yang cenderung tidak bertanggung jawab.

                Menurut saya pernyataan di atas adalah sebuah kelemahan besar dari fenomena citizen journalism. Seorang jurnalis yang professional dan memang bernaung dalam sebuah lembaga yang legal di mata pemerintah dan publik, akan lebih bertanggung jawab dalam hal penyampaian pesan yang ia terima untuk di transfer ke khalayak ramai/

                Berbeda mungkin dengan kebanyakan dari citizen journalism yang hanya mementingkan keperluan pribadinya saja, tanpa memikirkan lebih lanjut tentang dampak dari berita yang ia siarkan, atau bahkan tanggung jawab apa yang dia emban setelah menuliskan berita itu.

                Contoh konkret dari hal ini misalnya. Seseorang menaruh tulisan provokatif tanpa klarifikasi terlebih dahulu kepada pihak-pihak yang bersangkutan sehingga membuat adanya ketidakstabilan kondisi yang terjadi.

                Seorang wartawan, pada umumnya akan lebih memerhatikan masalah tersebut. Meski wartawan pun bisa memprovokasi, tetapi dia tetap memprovokasi secara bertanggung jawab karena dia berada dalam sebuah tatanan hukum yang tak bisa lepas mengikat.

                Dengan adanya kebebasan yang kadang kebablasan ini juga, akhirnya banyak tindakan-tindakan criminal yang terjadi. Semakin bebas mengelurakan pendapat, semakin banyak pula kesempatan untuk terjadinya jurang-jurang yang mendalam antara pihak satu dengan pihak yang lainnya.

Kelebihan citizen journalism

Dibandingkan dengan implikasi-implikasi negatif yang ada, saya dapat mengakui bahwa pada hakikatnya fenomena citizen journalism ini cukup banyak juga manfaatnya. Beberapa dampak baik dari citizen journalism sudah saya singgung di atas tulisan ini. Namun, untuk lebih jelasnya lagi, akan saya hadirkan kembali di sini.

                Citizen journalism memacu orang untuk dapat berkarya lebih giat lagi dalam hal tulis menulis. Semakin banyak penulis-penulis muda yang terlahir dengan bantuan fenomena citizen journalism.

                Saya merupakan salah satu penggemar blog. Sebagai seorang penggemar, saya merasakan betul dampak kegemaran saya mengelola blog dengan penempatan minat saya dalam wadah yang sesuai.

                Sebagai penyuka baca dan tulis, bagi saya keadaan citizen journalism sangat membantu pembelajaran yang ada. Meskipun pada akhirnya bidang yang saya tekuni di kampus, jurnalistik, ‘direbut’ lahannya oleh publik, tetapi saya percaya bahwasanya kehadiran citizen journalism ini sangat bermanfaat bagi sebuah dinamisasi perkembangan yang dialami oleh insan pers selama ini.

                Selain itu, sebenarnya ketika seseorang menyukai aktivitas tulis menulis, maka ia akan terbiasa dengan sebuah sistematika yang ada dalam kaidah tulis menulis. Artinya apa, dengan adanya citizen journalism, sadar ataupun tidak sebenarnya masyarakat kita sedang belajar bagaimana mengorganisasikan pesan sehingga ia menjadi pesan yang enak dibaca dan bermanfaat bagi orang lain.

                Keberadaan citizen journalism juga sudah barang tentu meningkatkan wawasan masyarakat luas tentang perkembangan isu yang terjadi di dunia. Uniknya lagi, masyarakat sebagai subjek dan objek dari citizen journalism ini akan lebih kritis dalam menghadapi persoalan.

                Satu hal yang terakhir yang diajrkan dari citizen journalism adalah ia mengajari kita arti sebuah perbedaan. Selalu ada perbedaan pendapat, sikap, perilaku. Semua hal itu adalah hal yang wajar, tergantung dari bagaimana masyarakat yang bersangkutan menghadapi perbedaan tersebut.

 

 

 

Sumber :

Daisyawondatu.wordpress.com

En.wikipedia.org

Jurnalistikuinsgd.wordpress.com

Melekmedia.files.wordpress.com

2 comments:

  1. Terima kasih ya darling, udah sharing ilmu baru baut tante yang dulunya nggak pernah ada di bangku sekolah. Jadilah penulis dan sumber berita yang bisa dipertanggungjawabkan, sekalipun cuma jadi citizen journalist. He....he....he....

    ReplyDelete
  2. hehe, iya bun. tapi banyak ngutip sebenernya itu..
    trus juga karena ngerjainnya malem2, jadi ada kalimat yang aneh..
    "Berbeda dengan blog, majalah memiliki keterbatasan usia yang menjadi indikator bahwa tugas ini adalah sebuah bentuk dari wartawan dalam arti yang sempit."
    hehe. itu pasti han lagi ngantuk2, tapi tetep ngetik. jadi suka ngetikkin apa yang ada di mimpi. hahah. aneh.

    ReplyDelete