Tuesday, 7 October 2008

merekontruksi kenangan

Salam.

Lagi gila nulis ni! Hehe. Ternyata bener, gila nulis adalah refleksi diri ketika kita sedang beraktifitas normal dengan pikiran yang lapang. Maksud lapang di sini adalah, kita sadar betul bahwa hal-hal indah ngga tercipta dari suatu hal yang luar biasa. Hal-hal indah justru tercipta ketika keadaan kita sendiri lagi indah untuk bisa memaknai hal-hal tersebut.

Saat ini hani lagi kepikiran sesuatu. Refleksi ini han dapet saat han ngobrol sama temen smp han kemarin. Sebut aja namanya nafisah..*emang nama aslinya itu si ;D*

Baru pertama kali ngobrol banyak lagi sama dia setelah dulu2 cuma basa basi aja.

Hai nap!

Hai juga

Apa kabar?

Bae2. Han gimana?

Bae juga, alhmd. Lagi ngapain?

Ngerjain tugas...

..

..

Pamit dulu ya nap, han buru2.

*ya, kurang lebih kek gitu ilustrasi kalo han ketemu naf di ym*

Tapi kemaren ngga. Kemaren kita cerita banyak...iya, buat han itu banyak sampe memory emosi han tentang masa SMP jadi terngiang lagi.

Bagi han empat tahun yang lalu, SMP adalah masa2 terindah. Tapi, ko saat ini han uda banyak lupa masa-masa indah saat itu? Ko kayaknya hal-hal yang dulu han anggep indah bakal jadi ga indah seiring perjalanan waktu[disuse theory]. Manusia itu sepelupa itu ya ternyata? Atau, keindahan saat itu sebenernya ga berarti apa2? Atau han menganggap itu indah dengan alasan yang semu? Atau, kenapa?

Banyak hal-hal indah terjadi selama hidup kita, tapi berapa banyak yang masih kita inget?

Hm, sebenernya ini berkaitan dengan permasalahan komunikasi juga. Ketika kita ngga menjaga komunikasi dengan orang-orang yang telah mengisi kehidupan kita di masa lampau, maka memori2 yang pernah ada bakal hilang terkikis dengan memori2 baru. Komunikasi hanyalah sebuah jalan di sini, sebuah jalan untuk membantu kita selalu menjaga emosi-emosi indah yang pernah terjadi di antara kita dan temen2 kita. Permasalahan utamanya lebih pada sisi psikis dari orang itu sendiri, sejauh mana memori itu berkesan buat dia. Itu bakal ngaruh sama posisi memori itu di hatinya dia..

Tiba2 saat ngobrol itu han jadi ngerasa bersalah. Han jarang kontakan lagi sama temen2 smp. *kecuali nisa, sister han*. Hal itu juga yang jadi penghambat bagi han. Han lupa sejauh mana kita deket pas dulu, han belum bisa menghadirkan kembali emosi-emosi ukhuwah yang dulu sempet menggelora.

Banyak hal yang terjadi setelah kita perpisahan sekitar empat tahun yang lalu. Frame of reference sama field of experience kita mungkin *atau pasti* udah banyak berkembang. Kita yang dulu ngga sama kayak kita yang sekarang. Kita yang merasa nyaman satu sama lain saat dulu belum tentu ngerasa nyaman saat sekarang.

Makanya dalam prinsip komunikasi dibilang, komunikasi itu irreversible. Ga bisa diulang karena terkait konteks ruang dan waktu. Manusia adalah makhluk dinamis yang berbeda antara satu dengan lainnya, antara satu waktu dengan waktu lainnya. Maka muncullah teori segitiga berimbang yang intinya mengemukakan bahwa kita semua hanya bisa mencoba untuk mendekati wilayah FOE&FOR orang lain untuk dapat menjalin komunikasi yang efektif. Kita semua selalu berusaha untuk menyesuaikan diri dengan lawan bicara kita, untuk menyampaikan maksud kita sebaik mungkin, agar bisa diterima secara utuh dan tepat, begitupun lawan bicara kita.

Kegagalan dalam berkomunikasi bisa saja terjadi, sering malah. Gagal dalam tahap sensasi ketika kita salah menangkap suatu pesan secara inderawi, ataupun gagal dalam tahap persepsi ketika kita salah memaknai pesan yang diterima.

Ini mungkin ya hikmah kenapa Allah selalu wanti2 hambaNya untuk selalu menjaga tali persaudaraan, untuk selalu mengerti saudara kita, untuk selalu menjalin hubungan yang harmonis dengan semua saudara kita. Ketika perintah Allah itu ga dijalankan sebaik-baiknya, akibatnya kayak han sekarang. Jadi ngerasa banyak kehilangan kenangan-kenangan indah di masa lalu. Han pengen mencintai temen2 han dengan utuh, kayak di masa lampau. Han ga pengen kehilangan orang-orang yang pernah mengisi kehidupan han, yang pernah bantu han, yang pernah selalu ada saat han sedih dan seneng.

*temen2, hani sayang kalian...*

Hm, sayangnya kadang sayang itu hanya berbentuk lisan, tak mampu menyentuh hati karena lupa bagaimana rasanya menyayangi mereka dengan utuh. Han jarang tanya kabar mereka, han jarang bahkan doain mereka. Huwaaa...

*temen2, maafin han...*

Ada banyak hal yang bisa dilakuin sebenernya untuk memanggil memory itu. Kalo dalam ilmu psikologi komunikasi, pemanggilan memori itu bisa dilakukan dengan empat cara:

Pertama, pengingatan [recall]. Ini hal yang biasa, nginget2 ulang apa aja yang pernah kita alemin di masa lampau.

Kedua, pengenalan [recognition]. Mengenal kembali orang2 atau benda2 yang bisa ngebuat memory kita tergugah untuk memberikan kembali kenangannya.

Ketiga, belajar kembali [relearning]. Belajar untuk menyayangi mereka kayak dulu..

Keempat, redintegrasi [redintegration]. Merekontruksi kepingan kenangan di masa lalu jadi kenangan utuh. Mungkin bisa juga lewat lagu2 yang dulu sering diputer sama temen2 smp, khususnya aqustic hingga memory emosi itu bakal terkuak lagi.

 

Hff, finally. Han cuma bisa berharap, semoga memory yang hilang itu bisa han kumpulin lagi jadi sebuah kenangan yang indah. Kayak anggapan han dulu kalo masa-masa itu adalah masa indah. Han yakin, itu emang indah. Han cuma  terlalu banyak lupa...

 

Baiklah, makasih buat semua orang yang pernah ngisi kehidupan han. Kalian semua, tanpa kecuali, berharga..

Allah, sayangi mereka seperti mereka menyayangi han atau bahkan meski mereka uda lupa siapa han..

 

Saudarimu, hani noor ilahi, di tanah perjuangannya.

This entry was posted in

7 comments:

  1. kamu ngomong apa sih? heheheh...
    *cengo...*

    hooo... keliatannya banyak aspek psikologis yang dibahas ya?

    ReplyDelete
  2. kan memadukan warna hati sama warna akal..

    jadi ga sekedar tulisan, ada unsur2 ilmunya juga.

    ReplyDelete
  3. Postingan cerdas!
    Kok bisa ya Han, teori di bangku sekolahan dikati-kaitin sama kondisi kekinianmu?
    Hua...ha....ha..... hidup anak jurnlaistik!!! Eh, hidup Hani!!!
    Bune cuma mo bilang, bahwa Hani super cerdas!! Makanya banyak orang butuh perempuan kayak dirimu.....

    ReplyDelete
  4. hehe, bunda ini selalu aja bikin han semangat berkarya.
    bunda keren, han pengen sekeren bunda.

    iya bun! hidup anak jurnalistik! hidup prof deddy! *lho2*

    eia bun, di indo lagi anget bahasan tentang citizen journalism.
    trus pa sahala tanya kita kan bun..

    'apa kelebihan anak jurnalistik sama anak itb yang jago nulis?'

    hm bun, profesi kita emang profesi terbuka. tapi hal itu juga yang bikin han tancap semangat.
    anak jurnal harus punya keahlian yang ga dimiliki anak2 lain.

    iya bun! kita harus liatin kalo kita beda.
    cuman ya itu..

    apa ya bun yang harus diperbuat?
    menurut bunda?

    ReplyDelete
  5. Kita harus menulis tidak saja dengan pikiran (kecerdasan pengetahuan yang luas), tapi juga dengan hati dan perasaan. Jadi tulisan kita nggak terkesan menggurui orang......

    Iya nggak ya Han?! *auk ah 'lap* sebab bunda mah nggak habat............

    ReplyDelete
  6. hii, tapi jawaban bunda ngga nunjukin kalo bunda ngga hebat..

    okeh2, han akan mencoba menulis dengan hati dan perasaan. makasi bun!

    ReplyDelete