Thursday, 4 September 2008

politik itu menyenangkan!

Kadang rasanya gemes banget kalo lagi inget tentang bangsa tercinta ini. Ng, apa ya? Heran, prihatin, bercampur takjub akan berbagai kedodolan mayoritas masyarakat yang menurut han susah ditolerir. Ini bicara mayoritas ya, ngga berarti semua masyarakat kita ni kek gini. Han mengakui ko kalo sebagian dri kita adalah ilmuwan terpandang di tingkat dunia, sebagian dari kita adalah juara olimpiade science tingkat dunia, sebagian dari kita adalah bisnismen yang terkenal se dunia...tapi ga bisa disangkal kalo mayoritas dari kita adalah orang dengan pendidikan yang masih rendah dengan pola pikir yang masih sederhana.

Perasaan yang lama terpendam ini kemarinan muncul lagi waktu han lagi jaga papap di rumah sakit. *loh?*.  Saat itu cuma ada han sama papap, sampai akhirnya tamu pertama pagi itu datang. Abu syauqi dan beberapa rekannya di rzi. Setelah nyapa ala kadarnya, han mempersilakan mereka untuk ngobrol ala lelaki, tanpa keberadaan han. Lama juga ternyata ngobrolnya. Ng, singkatnya abu syauqi pulang. Habis itu han tanya papap, ‘ngobrol apaan aja pap?’ *penasaran juga sama obrolan lelaki*. ‘biasa, tentang pilkada..’. apa katanya pap?’ tebak..apa coba yang han denger???

Money politic uda bikin masyarakat kita terlena dengan pilihan yang ada. Cukup dikasih 150 ribu beberapa saat sebelum pemilihan kepala daerah, dibaiat untuk milih pasangan tertentu, langsung ngangguk dan dapat diyakinkan kalo dia langsung milih pasangan tersebut. WALOPUN, si orang itu sebenernya adalah orang yang rutin dibiayai oleh rzi.

Ini yang bikin gemes..SUNGGUH ORANG YANG BENAR2 PELUPA. Pelupa di sini bukan dalam konteks ‘ kenapa ga inget sama jasa orang yang lebih sering menebar kebaikan’ tapi, pelupa dalam hal...’apa 5 tahun ke belakang uda memberi kebaikan buat mereka?’ kalo mayoritas adalah belom, kenapa harus memilih hal yang sama? kenapa 5 tahun ke belakang ga bisa jadi pertimbangan rasional bagi mereka untuk menentukan pillihan? Ng, maaf, ini bukan subjektif tak beralasan. Ibarat kata, kalo ada barang yang kurang kerasa manfaatnya secara konkret, maka kita secara alami akan meninggalkan barang tersebut dan cari yang kira2 akan terasa manfaatnya. Iya kan? Cuma masalahnya adalah, KADANG KITA GA MAU MENINGGALKAN YANG LAMA KARENA GA BERANI NGAMBIL RESIKO BARU.

Sebenernya gini, masalah pilihan si mangga aja, kita hidup di Negara demokrasi. Cuman, alasan memilih itulah yang jadi masalah. Kalo emang alasannya adalah karena menurut kita kinerjanya uda bagus, kerasa, bisa membawa kebaikan, ya ga masalah. Tapi amat sangat ga bisa diterima kalo seseorang pilih suatu pasangan pemimpin karena uang yang ga seberapa!

Bayangin, 150ribu untuk menggadaikan kehidupan mereka 5 tahun mendatang!! Haduh,akut.

 

Jadi inget cerita mama. Saat ini mama memang diamanahi untuk jadi pengumpul suara di daerah pemilihan tasikmalaya dan sekitarnya. Mama mulai silaturahmi ke saudara2 di pedalaman [karena emang ma2 asli tasik]. Dan apa coba ketika mereka mulai ditawari sebuah alternative partai?

‘iya, bisa aja kita milih itu. Gampang. Asal uangnya dari sekarang. yah..daripada keduluan partai lain. Masyarakat sini sih ga biasa kalo ga ada duit..’

WHAT??? Itu orang pedalaman loh yang bicara! Dahsyat emang money politic itu, sampe ke pelosok disambangi!

Dibilang gitu mama naik pitam.ga nyangka saudaranya sendiri bakal bilang gitu. Habis itu mama bilang..

‘harusnya kita semua ini uda mulai sadar, kenapa politikus nakal itu ngasih kita duit. Ga lain adalah karena mereka gila kekuasaan! Nih, pemimpin yang baik itu ga akan berbuat segala cara, bahkan yang haram, untuk membuat mereka memiliki suatu kekuasaan. Pemimpin yang baik itu lahir dengan cara yang baik! Tau ga, itu uang yang kalian pegang itu, suatu saat ketika dia jadi penguasa, dia bakal ngeruk harta sebanyak mungkin, walopun harta itu haram, untuk gantiin uang yang pernah dipake buat nyogok  kalian dulu. Gini nih, makanya Indonesia belom bebas dari korupsi karena emang masyarakatnya sendiri memberi jalan bagi para koruptor untuk korupsi! Masyarakatnya sendiri menikmati cara koruptor untuk berkorupsi! Gimana kita mau berubah kalo milih pemimpin aja berlandaskan duit???’

Hweh, pokonya habis itu diceramahin ma2 panjang lebar. Akhirnya mereka cuman ngangguk2 doang. Entah faham atau ngga. Menyedihkan emang.

Han juga gemes liat pilpres mendatang. Calon2 uda bermunculan. Kampanye terselubung uda gencar. Anehnya, beberapa calon presiden adalah orang2 lama yang uda ketauan kinerjanya selagi mereka berkuasa di masa silam. Heran, bener2 heran, masiiiiih aja ada orang yang dukung. Gila emang! ORANG ITU KAN UDA PERNAH MIMPIN, KITA UDA TAU BELANGNYA DIA KEK APA! Tapi kenapa.....kenapa ko kita ga inget masa2 itu. Huhu, gemes sampe pengen nangis.

Inilah syndrome pelupa masyarakat kita. Sangat disayangkan emang, disaat yang apatis politik banyak, ternyata yang ga apatis pun masih partisipatif berdasar duit atau ketokohan semata. Bisa dibayangin, berapa masyarakat kita yang partisipatif dan aktif karena memang mengerti masalah. Sedikit banget berarti ya?

Ada satu pertanyaan besar kayak yang pernah pak hari, dosen sosiologi komunikasi han, bilang...

‘apa sebenernya kita uda siap berubah???’ ng, silakan jawab  pribadi aja..karena perubahan itu bukan masalah iya atau ngga, tapi siap apa ngga?!

Bicara tentang perubahan, menurut han perubahan itu adalah saat kita mampu untuk tidak mengkotak2an sesuatu. Yang han maksud adalah, mulai untuk berpikir global, menyeluruh, dan komprehensif tentang suatu masalah.

Contohnya aja, politik. Kenapa masih aja banyak orang yang anti kata politik, yang bilang politik itu kotor? Jangan jauh2 kesitu de. Di lingkungan han sendiri aja, ketika han banyak memegang jabatan apapun, dibilangnya gila kekuasaan. Padahal  han tuh ga gila kekuasaan, han  cuma gila kepempimpinan. Beda, kan? mempimpin ga harus berkuasa. Maaf kawan, tapi itu bawaan orang koleris si pemimpin. Lagipun, mempunyai kekuasaan bagi han bukanlah hal yang salah, ketika emang kekuasaan itu dipergunakan untuk kemaslahatan.

Itu dia, politik adalah cara untuk mengatur, ketika kita ada di puncak sebagai penguasa yang membuat peraturan, asik kan? Kita bisa bikin peraturan2 yang punya nilai2 islam dan bermanfaat buat semua orang? Ini nih yang kadang dilupain. Politik itu adalah da’wah!! Ya, sayap da’wah yang ga bisa diilangin!!

Han bicara gini bukan karena han lagi jadi anak sospol, tapi karena emang kesadaran diri kalo politik itu perlu! Seperti perlunya kita belajar fiqih, belajar aqidah akhlaq, dll. Nah kan, nyambung..

Perubahan adalah saat kita bisa berhenti mengkotak2an sesuatu dan memandang masalah secara global. Pesan sponsornya adalah, ‘jangan anak tirikan politik, karena ia pun adalah ilmu!’.

Hal inilah yang mendasari cita2 han untuk jadi jurnalis di bidang politik. Yah, meskipun ga gitu ngerti politik, tapi han mau belajar ko...jadi ga masalah, learning by doing.

 

Well, selese sudah cuap2 han di pagi hari ke 5 bulan ramadhan. Semoga bermanfaat. Mari2, salam.

 

 

This entry was posted in

5 comments:

  1. Jangan tabu terhadap politik karena politik bukan barang haram.

    ReplyDelete
  2. SEPAKAT!!! Islam itu syumul kok ^^
    Saya juga bingung kalau ada orang yang anti sama politik. Hehehe

    ReplyDelete
  3. ngomongin dakwah sama politik... emang ga ada abisnya...

    jadi inget dulu pas masa2 pencarian jati diri... (ce ileh...)
    sebelum tertarik sama dunia dakwah, saya lebih dulu tertarik ke dunia politik (walopun ga ngerti2 amat)
    dan akhirnya setelah menemukan bahwa politik adalah salah satu bentuk dakwah, wah... makin tertrik aja rasanya!

    soal masyarakat kita yang masih perlu pendidikan politik, saya bener2 sepakat...

    akhirnya saya berkesimpulan, kerja dakwah itu bukan hanya sekedar mengajak2 atau kampanye, tapi mendidik.
    pola politik dakwah bukanlah kampanye2 kosong tapi mendidik masyarakat, karena pada akhirnya ketika masyarakat sudah cerdas toh yang akan muncul juga akhirnya pemimpin yang berkualitas. Pemimpin berkualitas lahir dari tengah2 masyarakat yang berkualitas juga...

    itulah luarbiasanya dakwah-politik...

    udah ah, mau buka.

    ReplyDelete
  4. bismillahirrahmaniirrahiim

    "Kemenangan hakiki adalah saat kita bisa memenangkan hati masyarakat Indonesia, karena hakikat kemenangan adalah saat tersebarnya kebaikan keseluruh masyarakat Indonesia, siapa pun mereka, walaupun mereka adalah orang yang anti terhadap politik yang diusung partai Islam atau mereka yang menjadi korban dari kebodohan kolektif bangsa ini karena kemenangan tersebut merupakan representasi dari Islam sebagai Rahmatan lil 'Alamin."

    Jatinangor, 06-09-08
    -irwan setiawan-

    ReplyDelete
  5. Iya,ayo2 kita brg2 bkin pnyadaran bru k masy ttg arti penting politik!han sndri br mulai dr kalangan tmen2 dket,jlasin perlahan knp kta hrs b'politik.Nah,kalo makin bnyk yg gerak kan iAllah mkin bnyk yg t'sdarkan..Amin.Ayo2,sama2 blajar lbh bnyk ttg sisi2 indah politik..!

    ReplyDelete