Thursday, 31 July 2008

buat lil..

[lil, nih teksnya. maap telat ya bu..]

Yang saya hormati bapak ibu dewan juri

Yang saya hormati bapak direksi PT.inti beserta jajarannya

Yang saya banggakan teman-teman pelajar islam se bandung raya

 

Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh

 

Ba'da tahmid dan shalawat…

 

Tiada kata yang pantas terucap melainkan ungkap sejuta syukur atas kasih sayang Allah yang dapat mempertemukan kita kembali dalam indahnya jalinan ukhuwah islamiyah. Untai rasa rindu yang mendalam sudah sepantasnyalah selalu kita haturkan kepada kekasih tercinta, Rasul junjungan, Nabi Muhammad SAW, beserta seluruh barisan perjuangan yang tetap setia hingga titik darah penghabisan, amin.

 

Dihari yang berbahagia ini, izinkanlah saya berdiri di hadaoan teman-teman sekalian untuk menyampaikan sebuah pidato yang berjudul "peran pelajar islam dalam menyikapi krisis multidimensi bangsa".

 

Hadirin yang saya cintai dan dicintai oleh Allah, insya Allah..

 

Bangsa Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama islam dikenal dengan sebutan masyarakat yang religius. Suatu sebutan yang menggambarkan bahwa masyarakat kita itu dalam bersikap dan berprilaku selalu berpedoman kepada nilai-nilai islam. Namun beberapa tahun terakhir, terjadi pergeseran nilai yang semakin mengkhawatirkan. Saya dengan tegas dan berani mengatakan, bahwa krisis multidimensi bangsa berawal dari 1 titik kecil yang sangat krusial, yaitu krisis moral.

 

Sebagai contoh, korupsi di Negara kita ternyata telah menempati urutan no 3 di dunia setelah China dan Vietnam, bahkan hal ini diperkirakan tidak akan teratasi dalam kurun waktu 100 tahun. Berkaitan dengan korupsi, saya teringat sebuah intermezzo, bahwa dahulu kala prang melakukan korupsi di bawah meja, dalam artian sembunyi-sembunyi. Seiring berjalan waktu, mereka kian berani melakukan korupsi di atas meja. Sekarang, hari ini, tak tanggung-tanggung mejanya pun bahkan sudah berani mereka panggul dan turut dikorupsi. Masya Allah, suatu fenomena yang sangat mengkhawatirkan sekali. Berawal dari penurunan kualitas moral,, berakhir dengan kerugian bangsa yang tak bisa dikatakan sedikit jumlahnya.

 

Itu baru dari sisi ekonomi, belum lagi disisi pendidikan. Kita sebagai pelajaar tentusudah sangat akrab dengan kata mencontek. Lemparan kertas berisi jawaban, sms, bisikan, kerdipan mata, gerakan tangan…dan semua strategi mencontek telah saya lihat dengan mata kepala saya sendiri. Astaghfirullah, miris hati saya melihatnya.Saya teringat sebuah puisi karya Agus R sarjono yang sangat mengetuk hati saya kala itu. Saya akan mencoba membacakannya, special untuk anda..

 

Selamat pagi pak, selamat pagi bu, ucap anak sekolah, dengan sapaan palsu.

Lalu mereka pun belajar sejarah palsu dari buku-buku palsu. Diakhir sekolah,

mereka terperangah melihat hamparan nilai mereka, yang palsu . Karena tak cukup nilai, maka berdatanganlah merkan ke rumah bapak ibu guru, untuk menyerahkan amplop berisi perhatian, dan rasa hormat palsu. Sambil tersenyum palsu, akhirnya pak guru dan bu guru terima juga amplop itu, sambil berjanji palsu, untuk mengubah nilai nilai palsu dengan nilai -nilai palsu yang baru. Masa sekolah demi masa sekolah berlalu, merekapun lahir sebagai ekonom ekonom palsu, ahli hukum palsu, ahli pertanian palsu. Sebagian menjadi guru, ilmuwan, atau seniman palsu.

 

Masha Allah…Pantaslah bangsa ini mengalami krisis multidimensi yang mengkhawatirkan, jika hanya dengan dua aspek yaitu eknonomi dan pendidikan saja, sudah mampu menjelaskan gambaran-gambaran betapa rusaknya moralitas bangsa.

Belum lagi jika kita ingin membahas masalah politik, social, hokum, dan lain-lain yang dapat saya pastikan mengalami berbagai masalah yang bermula dari terjadinya krisis moral. Bahkan berbagai bencana alam yang terjadi secara bertubi-tubi di Negara tercinta ini, diakibatkan oleh ulah manusia. Seperti dalam firman Allah surah Ar Ruum ayat 41 yang artinya..

"Telah nampak kerusakn di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, suapaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar."

 

Hadirin yang saya sayangi dan disayangi oleh Allah, insha Allah..

           

Tak ingin berlama-lama larut dalam dunia krisis multi dimensi, saya ingin mengajak hadirin untuk kemudian mencermati, dimana posisi pelajar muslim dan apa peranan mereka dalam menyikapi krisis ini.

 

            Sebelumnya mari kita salami apa sebenarnya potensi mereka, sehingga saydina Umar bin Khattab RA berkata, jika kamu ingin menggenggam dunia, maka genggamlah para pemudanya.Pelajar yang berarti pula seorang pemuda dikaruniai Allah kondisi fisik yang prima, tenaga yang luar biasa kuat, fikirannya tajam lagi brilian, semangatnya pun berkobar-kobar. Dalam dirinya tersimpan berbagai kemampuan yang bisa dikembangkan.

 

            Pantaslah kalau mereka memegang peranan penting dalam meyikapi krisis multidimensi. Setidaknya ada 4 peranan yang bisa mereka mainkan :

 

1. Pelajar sebagai pembaharu moral ummat [Tajdiidu ma'nawayatul ummat]

            Artinya seorang pelajar harus mampu mengembalikan ummat kepada pemahaman islam yang benar, yaitu Islam yang bersih dari campur tangan manusia dan dari segala kecacatan. Islam yang universal, tidak parsial, tidak bercampur bid'ah, takhayul, dan khurafat.

 

2. Pelajar sebagai generasi penerus [Ittihaqmul Ajyaal]

            Pada setiap zaman, generasi penerus selalu terbagi menjadi 2, penerus Nabi, atau penerus tradisi/adapt nenek moyang. Tentu yang kita harapkan adalah para pelajar sebagai generasi penerus Nabi. Seperti dalam firman Allah surah Albaqarah ayat 133, yang artinya

           

"Adakah kamu hadir, ketika ya'qub kedatangan tanda-tanda maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya : "Apa yang akan kamu sembah sepeninggalku?" Mereka menjawab: "Kami akan menyembah Tuhan mu, dan Tuhan nenek moyang mu Ibrahim, Ismail, dan Ishaq, yaitu Tuhan Yang Maha Esa, dan kami hanya tunduk kepadaNya."

 

            Subhanallah, sperti itu pulalah kita haru berbuat. MEneruskan apa yang telah Nabi dan Rasul ajarkan.

 

3. Pelajar sebagai generasi pengganti [Istibdalul Ajyaal]

            Dalam surah Al-Maidah ayat 54 disebutkan beberapa criteria generasi pengganti yang telah Allah janjikan. Berikut arti dari ayat tersebut..

 

            " Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa diantara kamu murtad dari agama Allah, maka kelak Allah akan menurunkan suatu kaum, yang Allah menccintai mereka dan mereka pun mencintaiNya. Yang bersikap lemah lembut terhadap mukmin, yang bersikap keras terhadap orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut terhadap celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikannya kepada siapa yang dikehendakiNya, dan Allah mahaLuas pemberiannya, lagi Maha Mengetahui."

 

            Subhanallah sebagai pelajar yang baik, tentu merupakan suatu cita-cita bagi kita untuk dapat menjadi generasi pengganti yang telah Allah janjikan.

 

4. Pelajar sebagai generasi pengubah [Anaashirul Ajyaal]

            Menjadi seorang pengubah tentu selalu dihadapkan pada 2 pilihan, mengubah yang baik menjadi buruk, atau sebaliknya. Tentu di sini, yang kita harapkan adalah seorang pelajar mampu menjadi pengubah hal-hal yang sifatnya buruk, menjadi hal-hal yang bernilai positif. Berkaitan dengan kriteria seorang pengubah yang baik, Allah berfirman dalam surah Attaubah ayat 71, yang artinya..

 

            "Dan orang-0rang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka adalah menjadi penolong sebagian yang lain. Mereka meyeru untuk mengerjakan yang ma'ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan RasulNya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah, sesungguhnya Allah Maha Perkasa, lagi Maha Bijaksana."

 

Hadirin yang saya kasihi dan dikasihi oleh Allah, insya Allah…

           

Setelah memahamibetapa pentingnya peranan pelajar dalam menentukan warna dunia, maka bagi kita seorang pelajar muslim yang merasa harus memikul amanah Allah sebagai seorang khalifah di bumiNya, sudah barang tentu harus menyiapkan berbagai bekal menghadapi samudera kehidupan. Meniti sukses dunia akhirat. Adapun bekal-bekal itu adalah sebagai berikut:

 

1. Pendidikan yang suci [at-Tarbiyatul Fithriyah]

            Tarbiyah islamiyah merupakan bekal pertama yang harus dimiliki oleh setiap pelajar Islam untuk komitmen kepada dien Islam. Banyak pelajar Islam yang pengetahuan Islamnya masih dangkal, sebab mereka tak mempelajari Islam secara sungguh-sungguh. Bahkan pemahaman yang dangkal itu pun kadangkala menyimpang karena bersumber dari referensi yang tidak tepat, yang justru meracun pengertian tentang Islam.

 

2. Hikmah dan Ilmu Pengetahuan [Al-Hikmah wal Ma'rifah]

            Hikmah berarti pelajar bisa mengetahui mana yang benar, dan mana yang salah. Sedangkan ilmu pengetahuan sudah selayaknya pelajar islam miliki sebagai bekal penting menghadapi krisis multidimensi.

 

3. Pribadi pemimpin [Asy-syakhshiyatul qiyaadah]

            Rasulullah bersabda dalam hadisnya bahwa setiap kita adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawabannya. Minimal kita menjadi pemimpin bagi diri sendiri. Yaitu pemimpin yang sikapnya terhadap Allah dan Rasul bak seorang perwira kepada panglimanya yang selalu dalam kondisi siap sedia serta waspada.

 

4. Pribadi prajurit [Asy-syakhshiyatul Jundiyah]

            Seorang pelajar Islam hendaknya berkepribadian prajurit, yang mengatakan sami'na wa atho'na, ketika mendengar seruan Allah dan RasulNya, ia tidak berhenti sejenak untuk memikirkannya, karena keyakinannya terhadap semua hal yang berasal dari Allah adalah Haq.

 

Hadirin yang saya cintai, dan dicintai oleh Allah, insha Allah..

           

 

+*+

Sebelum saya akhiri pidato kali ini, dapat saya simpulkan bahwa 4 peran pelajar dalam menyikapi krisis multidimensi seperti yang telah saya uraikan tadi, insha Allah akan terwujud, manakala terjalin kerjasama yang kuat antara pelajar, guru, anggota masyarakat, atau bahkan pemerintah. Oleh karena itu, marilah sama-sama menyikapi krisis multidimensi dengan Allah dan RasulNya sebagai penunjuk jalan.

           

Kiranya demikianlah pidato yang dapat saya sampaikan. Semoga hal ini dapat memberikan kontribusi bagi seluruh pelajar islam dalam mengahadapi krisis multidimensi. Terima kasih atas segala perhatiannya. Mohon maaf bila ada kata-kata yang kurang berkenan di hati. Sesungguhnya yang benar datangnya dari Allah, dan yang salah datangnya murni dari saya sebagai manusia. Akhir kata, saya ucapkan selamat berjuang mengahadapi krisis multidimensi dengan gelora semangat yang membara, Allahu Akbar!!!!

 

Wassalamualaikum warahmatullah wabarakatuh…

This entry was posted in

6 comments:

  1. thanks...sista jazakillah... ini diapalin ya?

    ReplyDelete
  2. eh tapi bukannya yang di depag tea ataw dimana gitu, orasi yang hani nya juara satu trus nama han ada di internet.

    ReplyDelete
  3. haha... haduh...

    anda2 ini... kok suka aneh ya?

    ReplyDelete
  4. Loh lil?Teks ini mah yg juara3.Yg juara1 teks nya lupa ditaro mana.Klo emg btuh nanti han criin..

    ReplyDelete
  5. oh sudahlah tak perlu, tes orasi nya juga udah...

    ReplyDelete