Monday, 24 December 2007

damri sayang damri...malang?!

Ada banyak hal yang begitu menggeletik pikiran setiap kali melakukan perjalanan menggunakan bus damri jurusan elang-jatinangor. Bisa dikatakan bahwa saya adalah pelanggan setia bus tersebut. Sedikitnya seminggu sekali saya memang sudah terbiasa menggunakan jasa damri untuk mengantar saya pulang ke rumah, atau juga mengantar saya pulang ke kos-an dan kampus. Bila rumah saya adalah rumah pertama, kos-an adalah rumah ke dua, maka saya ingin menyebut damri sebagai penghubung antar keduanya. Ya, damri memang telah menjadi bagian dari dunia saya saat ini.

Meninjau damri lebih dalam, spontan saya teringat akan kelayakannya sebagai sebuah sarana transportasi. Ini mungkin adalah hal menggelitik pertama dari damri. Miris memang, damri jurusan elang-jatinangor kebanyakan adalah keluaran lama yang jika berjalan akan mengeluarkan polusi yang cukup mengganggu kebersihan udara. Berbeda dengan damri jurusan cicaheum-cibeureum yang beberapa armadanya termasuk keluaran baru, bodi mulus, polusi tidak terlalu parah, dan ber-ac. Jika anda mencoba untuk bepergian dengan damri, khususnya elang-jatinangor, bersiaplah untuk mendapatkan resiko tidak mendapatkan tempat duduk. Karena walaupun jatah tempat duduk sudah habis terpakai, bus ini seperti tak pernah berhenti memasukkan penumpang, kecuali jika kondisi bus benar2 sudah terlihat lamban dan sangat-sangat-sangat sesak. Hal ini saya alami berkali-kali. Yang paling parah adalah saat saya mencoba mengejar waktu kuliah langsung dari cimahi, sengaja saya berangkat sekitar 2 jam sebelum kuliah. Tapi ternyata, bus yang seharusnya sudah ada malah terlambat datang. Akhirnya terjadi penumpukan penumpang di daerah pangdam[pangeureunan damri] elang. Bayangkanlah, saat itu saya membawa satu koper pakaian yang hualah, besar sekali, dan saat itu saya harus rela berdesak2an dengan penumpang lain, yang juga mahasiswa. Lalu, benar2 dalam waktu yang singkat, bus penuh terisi. Penuhnya bukan sekedar penuh, tapi sangat-sangat-sangat penuh hingga saya sendiri harus rela berdiri sepanjang elang-jatinangor. Saya kira bus ini akan terus berjalan tiada henti karena sudah sesak, ternyata di tengah perjalanan, bus ini masih saja menaikkan penumpangng2nya hingga benar2 sesak. Kondisi bertambah menyebalkan ketika saya tetap harus menghafalkan teks tugas bahasa Inggris pada mata kuliah pertama. Rasanya benar2 tidak nyaman. Namun, jika saya ingat kembali harganya yang hanya 3000 sekali jalan, mungkin memang pelayanan ini yang paling pantas. Ah, benarkah seperti itu adanya? Saya tak sepenuhnya mengerti.

Jadi ingat, pengadaan mobil2 mewah untuk para pejabat di atas sana. Katanya untuk menambah profesionalitas kerja. Entah benar atau tidak, saya hanya berandai...wah, asik juga ya kalo pemerintah secara khusus memfasilitasi kendaraan khusus mahasiswa. Hitung2 menambah semangat mahasiswa untuk pergi ke kampus. Setidaknya, dengan cara seperti itu, mahasiswa cerewet seperti saya tak usah berkeluh kesah seraya berangan sepeti ini lagi. Duhai, benarkah akan ada masanya untuk masalah ini? Saya tak tahu.

Beranjak ke hal-hal menggelitik lainnya, damri selalu berhasil memunculkan beberapa musisi jalanan, pedagang, atau bahkan pengemis. Bayangkan, dalam satu bus yang penuh itu ada anak kecil si pengamen beserta teman2 yang mengiringinya dengan music, ada bapak2 penjual makanan, koran, atau bahkan dompet, ada juga pengemis, dan kesemuanya itu dikelilingi oleh segerombolan mahasiswa yang memang mendominasi isi bus. Saya baru sadar bahwa ternyata pada faktanya keberadaan damri tak hanya untuk memenuhi kebutuhan transportasi, tetapi juga menjadi ladang berusaha bagi sebagian orang. Ya, berdagang di damri memang tak perlu mengeluarkan biaya, gratis. Transaksi dagang ini sering mengingatkan saya akan sebuah filosofi.

Misal saja, seorang pedagang pulpen. Pada awalnya dia akan memberikan pulpen itu satu2 pada penumpang. Perlakuan penumpang itu berbeda2, ada yang hanya diam dan tak peduli, ada yang iseng memegangnya, ada yang mencoba, dan pada akhirnya, ada yang membeli, ada juga yang tidak. Ini seperti bagaimana Allah mengenalkan Islam. Seluruh manusia pada awalnya diberikan fitrah keislamannya. Namun, perlakuan manusia pun akan berbeda2, ada yang tak peduli, ada yang sangat tertarik. Tergantung dari sudut pandang dia tentang Islam itu. Ada yang penglihatannya masih jernih sehingga mampu merasakan keindahan Islam. Ada juga yang matanya telah dikelabui setan sehingga apa yang seharusnya nampak indah tidak kelihatan sebagaimana mestinya. Satu hal yang paling mendasari semua ini adalah, tergantung bagaimana hidayah Allah. Ya, kita memang tak pernah tahu masalah itu. Hal itu benar2 hak prerogative Sang Kuasa, tak ada yang bisa turut campur, hatta dia seorang Rasul sekalipun.

Terakhir, hal yang bagi saya menggelitik dari damri ini adalah, sedikitnya kita akan tahu karakter masing2 penumpang dari apa yang dia kerjakan ketika bus sedang melaju. Bisa dikatakan, waktu2 perjalanan adalah waktu yang sangat luang, maka akan jadi sebuah penlitian yang mengasikkan melihat bagaimana masing2 orang menggunakan waktu luangnya. Sejauh yang saya lihat, kegiatan mereka kurang lebih seperti ini;

1.      Mengobrol : Biasanya ini karena orang2 itu telah mengenal satu sama lain, atau jika tidak orang itu adalah orang yang sangat friendly dan mengajak bicara teman seperjalanannya. Jika mereka sudah mengenal, maka obrolan tak lebih seputar orang2 terdekat mereka. Jarang sekali saya mendengar obrolan masalah materi kuliah. Namun jika mereka belum mengenal, obrolan akan berputar pada basa-basi, atau juga hanya sekedar menyamakan FOE agar komunikasi yang terjalin cukup mampu membuat mereka nyaman..

2.      Diam : diam ini bisa berarti macam2. Ada yang benar2 hanya melamun, ada juga yang merenung sambil mengingat materi perkuliahan. Aktifitas diam sepertinya masih mendominasi berbagai kegiatan di atas damri. Saya sendiri lebih sering diam untuk menghayal, saya ingin membuat sebuah tulisan mengenai damri, juga diam untuk merenung tentang hal2 yang baru terjadi, dan tak lupa, terkadang diam untuk sekedar melamun.

3.      Membaca buku : Buku yang dibaca bisa bermacam2. Ada koran, komik, novel, atau buku referensi kuliah sekalipun. Bisa dibilang cukup jarang aktifitas ini terlihat.

4.      Tidur : Nah, ini sebenarnya termasuk aktifitas favorit penumpang. Apalagi jika saat itu adalah saat2 jam pulang kuliah. Banyak sekali mahasiswa yang terkapar di damri.

5.      Mendengarkan music : Cukup banyak manusia dengan sebuah alat di telinganya. Apalagi jika bukan ear phone yang tersambung dengan, mp3, mp4, atau mungkin hp.

 

Sesekali, cobalah untuk memakai jasa damri, mungkin anda akan merasakan sensasi2 seperti yang telah saya ceritakan di atas. Memang tak bisa dimungkiri, seperti apapun kondisi damri saat ini, saya tak bisa berbohong untuk mengatakan, betapa berartinya damri bagi saya.    

This entry was posted in

3 comments:

  1. sebelas dua belas kalo naek KRL ekonomi dari bogor ke jakarta di pagi hari, udah kaya ikan pepes..gak cuman penuh, tapi sama sekali tidak bisa bergerak kecuali kali dah pada turun... well, itulah indonesia...

    ReplyDelete
  2. Ah kalau jalur Elang - Jatinangor yang lewat tol bisnya relatif anyar, nissan keluaran th 2005 yang bodinya panjang , coba bandingin dengan jalur DU - Jt Nangor yang bisnya masih Mercedes Benz tapi keluaran th 84-85 ,

    ReplyDelete
  3. hoho, tapi kan saya bandinginnya ama caheum cibeureum.
    kalo non tol emang sama jelek/lebih jelek dari elang jtngr via tol

    ReplyDelete