Monday, 24 December 2007

bersikap di tanah orang

            Keberadaan sebuah  perguruan tinggi  bisa dikatakan tak lepas dari fenomena anak rantau yang mengerumuninya. Betapa tidak, sebuah perguruan tinggi, terutama yang dikatakan favorit, memang seolah selalu sukses menjadi magnet yang mampu menarik siswa dari berbagai daerah di dalam negeri atau bahkan dari luar negeri sekalipun. Akhirnya disadari atau tidak, fenomena anak rantau dengan berbagai latar belakangnya akan turut mewarnai kehidupan di wilayah tempat perguruan tinggi itu berada. Sebutlah sebagai contoh, unpad dengan Jatinangornya.

           

             Bukan tanpa membawa apa-apa mereka datang ke Jatinangor, setidaknya mereka akan membawa kebiasaan hidup dan budaya. Dapat dibayangkan, beribu orang tumplek satu di Jatinangor dengan membawa kebiasaan dan gaya hidup yang berbeda, yang mungkin saja bertentangan  dengan kebudayaan penduduk asli. Rumit, bisa dikatakan. Tak ada yang dapat mencegah merasuknya budaya baru, kebiasaan baru, dan gaya hidup baru yang akan mewarnai kebudayaan asli penduduk Jatinangor.

           

            Sebagai seorang pendatang, ada baiknya jika kita mampu menempatkan diri sebagai  tamu yang bisa menghormati tuan rumahnya. Bila Jatinangor adalah sebuah danau, maka biarlah danau itu tetap menjadi danau seperti sebelumnya. Jika sebelumnya ia jernih, biarlah ia tetap jernih. Akan tetapi jika ia telah keruh, jernihkanlah kembali danau itu dengan ilmu-ilmu yang telah kita dapatkan. Hal ini sesuai adanya dengan pendapat orang bijak; " janganlah kamu menjadi bagian dari masalah, jadilah bagian dari solusi".

           

            Bersikap di tanah orang, saya terfikir dengan sebuah gagasan yang mungkin cukup umum. Tapi, mari kita ingat kembali, siapa kita dan dari mana kita berasal. Ya, seyogianya sebagai seorang tamu, kita harus bisa menunjukkan kontribusi kita sebagai pendatang. Tebarlah manfaat itu di berbagai belahan tanah jatinangor. Jadilah barisan terdepan dari mereka yang memberi ruh-ruh positif di jatinangor. Buatlah masyarakat Jatinangor merasakan manfaat dari keberadaan kita di Jatinangor. Dan bukankah itu adalah salah satu implementasi dari mahasiswa = agent of change?

 

This entry was posted in

0 comments:

Post a Comment