Tuesday, 17 April 2018

Jejak Tesis [7] : Untukmu, Sang Hitam Manis

Bismillah

Planning sudah berkali-kali diubah. Pun begitu ada satu hal yang wajib disyukuri: kecenderungan untuk terus bergerak meski hanya runtutan dari tapak demi tapak kecil. Aah..sangat bersyukur dengan anugerah ini. Setidaknya ada progress yang dilakukan setiap hari. Jika tak menulis, maka sedang membaca. Jika tak menulis atau membaca, maka sedang merenung.

Harus selalu ada interaksi setiap harinya. Harus, jika tak ingin terlupa. Toh sudah berinteraksi secara rutin setiap hari pun target masih saja mundur, apalagi jika tak rutin. Tak bisa membayangkan bagaimana jadinya.

Satu pelajaran penting dalam fase ini: selalu temukan tempat dan cara baru dalam mengerjakan penelitian. Karena sungguh sayang jika fase ini berlalu dengan cerita mengenai stres dan penderitaan yang tiada tara. Akan jauh lebih menyenangkan saat setiap fasenya dinikmati dan dirayakan dengan cara-cara sederhana namun amat membahagiakan. Seperti mengerjakan ditemani bergelas-gelas kopi misalnya -.-'

Baiklah, ada kebiasaan ga baik di balik rutinitas baik ini. Tapi percayalah, aku berjanji ini tak selamanya. Tidak sampai aku tuntaskan penelitian yang telah kumulai ini.

Maka tulisan ini dipersembahkan untukmu, kopi. Terima kasih sudah menemani sejauh ini :")

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang sudah menciptakan kopi, sahabat baik para pejuang kampus di akhir masa bakti mereka ♡

Crystal Library
17 April 2018
Member of Javaroma

Monday, 9 April 2018

Jejak Tesis [6]

Bismillah

Sudah lama ya ga gossipin tesis. Saat ini waktu menunjukkan pukul 19.34, dan emak-emak ini baru saja menyelesaikan tugas besar yang selama ini sangat mengganggu. Iyaaaa...revisi jurnal 'bekas' conference di UGM kemarin.

Jadi ceritanya September lalu kan presentasi penelitian yang udah dilakukan kaaan, penelitiannya ga linear sama tesis sebetulnya. Dapet ide spontan dan nulis spontan aja. Laaah qodarullah ternyata direkomendasikan untuk dimuat di jurnal bahasa inggrisnya ugm. Apalah banget tulisan emak-emak yang doyan curhat gini tetiba harus masuk jurnal ilmiah,bersanding sama tulisan keren orang-orang? Haduh.

Maka dari ituuu...karena sungguh ini adalah perkara baik dan kesempatan emas, tak akan kusia-siakan ia begitu saja. Wkwkwk. Padahal sebelumnya udah kirim email minta didrop saja,kutakkuat dengan double blind review yang sungguh takda habisnya ituuu. Etapi mereka malah ngasih keluangan waktu supaya emak rempong ini bisa nyelsein artikelnya sesuai masukan reviewer. Huwaaaaaa...terharuuu. Awalnya. Hahahaha. Awalnya ngira karena tulisanku sedipengenin itu yaaa???

Ternyata bukan karena itu. BWAHAHAHAHA. Alesannya karena mereka udah ngeluarin biaya untuk bayar reviewer. Rrrrrrr. Jadi mau ga mau gitulah kudu dilanjutin prosesnya. Dan hari ini kelar juga akhirnyaaaaa (sampe tahap ini). Makanya kusenang walo dunia ini cuma sementara *sigh

Jadi apa relevansinya sama tesis.
Ya jelas adalah. Jadi besok udah bisa kencan lagi sama tesiskuuu. Yes yes!

Kerjakanlah tesis karena itu super kereeen!!

So proud of u today,yeyy!! *sambil ngaca

9 April 2018
Warunk upnormal membuat hidupku abnormal

Wednesday, 4 April 2018

Tentang Pemecatan (3)


Pemecatan kedua, yaitu dipecatnya Iblis dari syurgaNya. Nah ini kita bakal belajar menempatkan diri di posisi Nabi Adam AS sebagai leluhur kita.

Gitu-gitu, Iblis itu dulunya makhluk yang taat banget sama Allah. Kedudukannya di sisi Allah juga baik. Hingga ya di hari itu semua berubah. Saat Allah menciptakan manusia pertama, Nabi Adam. Sebagai makhluk yang taat, sebetulnya Iblis secara logika berhak siih untuk dapet reward dari Allah. Etapi ternyata hari itu, Allah ‘malah’ mengangkat Nabi Adam sebagai khalifah. Suatu jabatan yang keren!

Padahal kan Nabi Adam baru aja diciptain, nyubi di syurgaNya Allah. Belum kelihatan ketaatannya, dan apalagi, oh apalagi dia ‘cuma’ tercipta dari tanah. Sedang iblis terbuat dari api yang lagi-lagi secara logika makhluk, lebih mulia dan lebih hebat daripada sekedar tanah. Makanya, saat Allah memberi perintah untuk sujud kepada Adam, Iblis enggan. Ingredients lebih oke, kualitas selama ini sudah terjamin, kurang apalagi buat ‘promosi’ kan.  Kenapa bukan guwe? Gitulah kira-kira suara hati iblis saat itu.

Sampailah akhirnya dialog itu terjadi. Iblis memohon usianya ditangguhkan hingga hari akhir, seraya berjanji akan teruss gangguin anak cucu Adam supaya bisa membersamainya di seburuk-buruk tempat kembali, neraka. Kedengkian yang hakiki memang. Hisy.

Lantas apa kabar dengan Adam AS? Apakah beliau baper merasa karena dirinyalah Iblis diusir dari syurga? Ya enggalaaah, emangnya kita segala macem dibaperin. Nabi Adam AS tahu betul, Tuhan yang telah menciptanya adalah Tuhan Yang Maha Mengatur lagi Maha Berkehendak. Absolut, mutlak. Jadi tinggal jalani saja perintahNya. Perkara dengan kehadiran dia Iblis jadi dipecat, ya itu kehendak Allah. Perkara kemudian ada gangguan dari pihak yang dipecat, dalam hal ini iblis, ya fahami aja kalo itu bentuk ujian untuk membuktikan kualitas diri yang sejati di hadapanNya. Ga kurang dan ga lebih.

Inti hikmahnya adalaah, kalo posisimu justru sebagai orang yang menggantikan orang lain yang dipecat, ga usah baper. Kematianmu ga akan ujug-ujug maju jadwalnya lantaran kamu menduduki posisi tersebut. RezekiNya dalam berbagai bentuk pun juga ga akan ujug-ujug menghilang. Kalaulah akhirnya Nabi Adam pun harus keluar dari syurga lantaran ulah Iblis, tapi kan Allah ganti dengan rezekiNya yang lain. Pun Allah juga berjanji bahwa Nabi Adam dan anak cucunya kelak akan pulang kampung ke tempat asal, di keabadian syurga. Syarat dan ketentuan berlaku pastinya.

Memang, semua udah ada yang atur, Allah. Kalo tentang perilaku usil dari pihak yang dipecat sih ya itu tantangan besar yang harus dihadapin. Tapi, seperti kata para motivator, selama tantangan itu ga membunuhmu, maka dia hanya akan menempamu menjadi seseorang yang lebih baik dan lebih kuat dari sebelumnya.

Begitulah kira-kira 2 cerita besar tentang pemecatan yang bisa kita petik hikmahnya. Semoga kita semua bisa bijak menempatkan diri, baik sebagai orang yang dipecat, sebagai orang yang menggantikan orang yang dipecat, ataupun hanya sebagai penonton yang menyaksikan berbagai jenis pemecatan.

Wallahu’alam

Depok, 5 April 2018
Belakangan lagi rame kasus pemecatan ini itu



Tentang Pemecatan (2)


Bismillah

Seenggaknya ada dua kisah besar tentang pemecatan yang layak kita tuai hikmahnya.
Pertama, pemecatan Khalid bin Walid sebagai panglima perang di zaman Umar bin Khattab. Ngga usah panjang lebar lah ya, gugling aja gimana kisah detailnya. Biar penasaran. Wkwk, padahal males cerita. Intinya ya demikian lah, Khalid gitu loh! Gitu gimana? Ya gitu, gugel dong ah, plis.

Ngga ada cerita Khalid bikin Kubu Khalifah Perjuangan, sambil intimidasi kubu khalifah yang lagi dipegang Umar. Padahal fansnya Khalid banyaakkk. Sebenernya sih bisa aja Khalid begitu, ngelaporin Umar ke pihak berwenang misalnya *eeeeehhhh, tapi gimana lagi, dia emang sebener-bener panglima yang luar biasa. Beda lepel ama kita yang demen drama-drama manjah. Padahal Khalid dipecat dalam kondisi ga ada kesalahan apapun yang dibuatnya. ‘Cuman’ karena kekhawatiran Umar akan pengkultusan Khalid yang bakal berbuntut seolah-olah menang itu karena Khalid, bukan karena Allah. Umar juga menjaga Khalid dari perasaan-perasaan sombong yang dikhawatirkan timbul di hati Khalid.

Ada satu kalimat dari Khalid yang layak kita renungin bersama saat tahu dirinya dipecat Umar. Kurang lebih begini katanya: “Saya berperang buat Allah, bukan buat Khalifah Umar.” Dan emang beneran terbukti, dia masih terussss lanjutin perjuangannya di medan perang sebagai prajurit bawahan. Berkelas banget memang sahabat Rasul satu ini!

Yang ga kalah unik juga adalah penggantinya Khalid. Namanya Abu Ubaidah Ibnu Jarrah. Beda karakter sama Umar dan Khalid yang sama-sama Koleris, Abu Ubaidah ini orangnya ademm. Plegmatis kalo kata orang sekarang. Damaii banget kalo ada di sampingnya. Sebagai orang plegmatis, Abu Ubaidah ga enak hati mau ngabarin ke Khalid ada surat pemecatan yang tertuju buat Khalid sebagai panglima. Etapi, ternyata Khalid memang Khalid. Ga pernah sekalipun Khalid ada dikisahkan melecehkan kepemimpinan Abu Ubaidah lepas kepemimpinan dia. Khalid menempatkan diri sebagai prajurit sejati, tepat seperti julukan Rasul atasnya: pedang Allah yang terhunus.

Nah, dari cerita itu, kira-kira hikmahnya adalah apa bukibuk? Ngga lain ga bukan, NIAT yang IKHLAS. Balikin lagi ke diri kita, kita ngelakuin itu karena apa? Kalo karena Allah, yodah minta balasannya sama Allah. Selesai. Kecuali kalo kita ngelakuin itu karena selain Allah, karena diri kita sendiri misalnya. Karena ingin kejayaan diri atau karena ingin dikenali. Kalo gitu ceritanya sih monmaap, ga ada yang bisa bales. Punya apa juga kita sebagai manusia, hidup aja numpang di bumiNya. Jangankan bisa membalas, salah salah, prestasi kita yang udah jauh-jauh hari keukir pun bisa jadi rontok sekejap karena sama sekali ga bernilai di sisi Dia.

Dan itulah kerugian yang nyata.

(Lanjut Part III)

Tentang Pemecatan (1)




Bismillah

Asli deh, di dunia ini barangkali ga akan ada orang yang suka jika dirinya dipecat, dipecat dari jabatan apa aja. Meski bahasanya diberhentikan dengan hormat sekalipun, rasanya tetep negatif. Kau dibuang dan tergantikan. Pedih.

Bakal berasa lagi pedihnya saat kejadian pemecatan itu ada di puncak kejayaan kita. Wow. Pasti ga mudah. Saat diri merasa sedang berprestasi dan penuh kontribusi, tiba-tiba diberhentikan gitu aja. Respon biasa mestilah: m.e.l.a.w.a.n. Iyalah, ko yo ga tau diri betul itu yang mecat. Ga lihat-lihat kontribusi kita udah sejauh mana. Dikiranya gampang apa ngukir prestasi gede kaya gitu? Belum tentu ada orang lain yang bisa kaya kita, rasain aja akibatnya!

Gambar dipinjam dari sini
             
Maka sejak hari itu, muncullah benih-benih dengki dalam diri. Pas lihat ternyata penggantinya ga lebih baik dari kita, malah seneng sambil keprok nyinyir heboh. Tentu ga lupa sambil terus memuji diri. Giliran yang gantiin kelihatan lebih baik dari kita, dongkol juga dibuatnya. Akhirnya sibuk cari celah di mana kita bisa tetep kelihatan lebih oke punya. Capek-capek deh jalanin idup model begitu, ga tau kapan bahagianya. Padahal katanya yang punya jalan emas (golden Weiss), bahagia itu kita yang nentuin. Katanya sih gitu, beneran apa ngga nya, silakan buktiin sendiri aja :)

Balik lagi ke pemecatan. Ternyata, bukan cuma yang dipecat yang ngerasa ga enak. Orang yang gantiin posisi orang yang dipecat pun juga ga jarang ngerasa ga enak hati. Apalagi saat yang gantiin ini adalah orang yang low profile abiss, dan tahu diri kalo sebetulnya dirinya ga lebih baik dari yang dipecat. Hanya karena mengikuti titah pimpinan, ya semua dijalanin aja gitu. Meskipun lumayan juga risikonya, termasuk risiko dinyinyirin sampe digangguin sama pihak yang dipecat.

(Bersambung ke part II)

Thursday, 29 March 2018

The Next Sripun

Bismillah

Pasti udah tau dong siapa Sripun?
Kalo belom, gugel aja yak, ndak usah manja :P

Kadang nih ya suka ngerasa, ya ampun, nama-nama tenar yang terkenal di seluruh dunia itu beneran ada toh ya? Mereka nyata ternyata ya!

Dan ya, mesti, aku sebagai orang kebanyakan ini juga akan norak kalau betulan ketemu. Wah, ini toh yang selama ini kita lihat cuma lewat layar. Lalu kemudian mengalirlah segala macem impresi kita akan orang itu di dunia nyata yang saat itu kita rasakan.

Terus?

Ya terus jadi bayangin aja, gimana perasaanku kemudian kalo suatu hari nanti (semoga) Allah pertemukan dengan orang-orang yang selama ini cuma ta kenal lewat namanya to'. Orang-orang yang ga pernah kita temuin di layar-layar televisi atau gadget kita.

Rasulullah misalnya.

Apa kira-kira ya yang bakal terjadi?

Yang dikuatirkan saat ini adalah, saat ketemu sama beliau, dan sahabat-sahabat beliau justru sirna norak yang ada. Norak dalam artian positif tapi ya, yang lahir berdasar perasaan mengenali dan dekat dengan orang tersebut. Yang kesisa jangan-jangan justru kebingungan sendiri cari topik pembicaraan, karena ternyata pembicaraan kita ga nyambung dengan kedudukan mereka.

Sederhana aja deh, dari bahasa misalnya. Bahasa arab cuma tau anta anti doang. Dari mengenali keluarga, mash kebolak balik mana kakek mana paman. Dari sejarah kehidupan, ga fasih menyebutkan fase-fasenya gimana dan kapan. Apalagi kalo sampai ngomongin kebiasaan, duh jauh letak kesamaannya.

Lalu jadinya ngobrolin apa coba?

Ngga tau.
Yang jelas mulai sekarang mau ngafalin satu kalimat penting yang mau pertama kali disampaikan:
يا رسول الله أشتاق إليك
Wahai Rasulullah, aku merindukanmu.

Dah, gitu aja. Itupun hasil translate pake gugel.
Haih..

Receh

Bismillah

Merhatiin ga sih? Kalo berantemannya anak-anak kecil itu kedengeran receh banget buat kita.

"BUNDAAA....INI BIJAK JOROK, NEMPELIN UPILNYA KE BAJUKUU" 

"BUNDAAA...DANG FATHANNYA KETAWAIN AKU TADI PAS AKU JATOH"

"BUNDAA BIJAK MELET-MELETIN LIDAH SAMA EJEK AKUU"

"BUNDAA..DANG FATHAN GA MAU BERBAGI"

Atau lain waktu saat Bijak laporan kalo Fathan ada pukul dia.

"Kenapa adekmu dipukul?"

"Soalnya dia liatin aku mulu, aku ga mau diliatin.."

Pelik ya.

Giliran jadi pelapor dan korban, gigih banget nyuruh bundanya supaya minta tersangka yang dimaksud minta maap. Giliran jadi tersangka, banyak banget pledoi nya >.< 

Lalu kusadari peranku di rumah tambah satu sejak beberapa tahun lalu, menjadi penegak hukum. Mulai dari terima laporan, sampe jadi hakim buat para bocah. Haih..

Etapi ya, meskipun receh buat kita, yakin deh, kalo buat mereka tuh itu serius banget. Jadi, kontrolah diri dan mukamu mak, supaya bisa menyesuaikan diri di hadapan anak, dan jadi hakim yang bijak buat mereka.

Sungguhlah, kerecehan kalian ini akan sangat dirindukan di kemudian hari.

Jangan cepet2 gede :")

29 Maret 2018