Thursday, 25 January 2018

Jejak Tesis [3] : Aroma Pasca Sidang

Bismillah..

Dari dulu ada satu hal yang nyaris tak pernah dilupakan saat akan menghadapi suatu hal yang besar: minta restu orangtua. Sungguh lisan mereka denganNya nyaris seperti tanpa jeda.

Seperti halnya yang kulakukan pagi itu saat hendak berangkat ke kampus untuk menjalani sidang proposal. Tentu ini adalah tonggak penting dalam perjalanan akademisku. Pun begitu,sedari malam sebelum sidang,aku baru menyadari masih banyak kekurangan pada draft yang kukumpulkan.

Jangan ditanya perasaannya seperti apa, dag dig dug pastinya. Semua bermuara pada kekhawatiran kalau-kalau penguji fokus pada yang cacat tersebut. Memang selalu saja ada yang rasanya kurang pas ya,padahal sebelumnya sudah sebisa mungkin memastikan semuanya baik-baik saja. Ga heran kalo kata dia,penelitian yang baik indikator utamanya adalah penelitian yang selesai.

Percuma ide besar, metode canggih,kalau diselesaikan pun tidak. Oleh karenanya mengejar sempurna bagi sebuah penelitian nyaris dikatakan susah dicapai. Pertama karena manusia sulit berpuas diri,kedua karena sepandai-pandai manusia sekalipun, tak pernah ia terhindar dari keliru. Jadi cukup jalani sebaik mungkin, dan selesaikan. Biarkan setelah itu kita membuka diri untuk pandangan-pandangan lain yang akan memperkaya penelitian kita.

Begitu sabda seseorang :D

Lalu di titik inilah aku berada kini. Telah melewati hal yang sebelumnya pernah menghantui. Dan lihatlah di hadapan sana hantu-hantu itu tak pernah berhenti menampakkan diri. Patah tumbuh hilang berganti. Keniscayaan yang tak dapat dipungkiri.

Pun begitu, satu hal yang harus selalu dan terus diingat. Jika ia sudah hadir di hadapan kita,maka sungguh Dia yakin kita bisa. Lantas jangan merendahkan dirimu dengan berlemah diri.

Bangkitlah, lalu hadapi, jalani, nikmati😎

Menuju sidang tesis April 2018, bi idznillah..

Tuesday, 23 January 2018

Mendua

Bismillah.

Lepas shubuh tadi, Ia bergegas menghampiriku. Baju koko, sarung, dan peci yang Ia pakai saat shalat shubuh berjamaah di masjid belum lagi Ia tanggalkan.

"Kau selingkuh!"katanya sambil mendorong badanku.

Keningku mengkerut. Sedang bayi di pangkuan masih asyik saja dengan mimiknya, tak peduli dengan suara tinggi lelaki yang dipanggilnya ayah itu.

"Iya, aku lihat kau selingkuh dengan ustadz tua! Ustadz tua yang sok-sok masih muda, yang sok-sok nasehati aku saat kulabrak Ia. Antum ga boleh gitu..begitu katanya. HAH! Ga usah lah sok-sok an pake antum kalau berani selingkuh sama perempuan bersuami kayak gitu!"

Aku masih tak mengerti.

"Sebelnya, kau pake acara ngebelain ustadz itu pula! Katamu dia itu dikenal sama orangtuamu. Haih, pengen segera kuusir aja kau dari rumah pas itu.Untung cuma mimpi.."ceritamu, masih dengan nada geram.

Terkekeh aku dibuatnya. Sementara itu Ia semakin menjadi-jadi mengungkapkan kedongkolannya.
Sungguh buatku, kegeramannya itu menjadi suatu hal yang lucu. Lucu sekaligus menenangkan.

Hoo, ternyata dia beneran cinta toh, haha.

**

Rutinitas pagi masih berjalan seperti biasa. Menyiapkan sarapan, hingga mengantar mereka, para lelaki menuju medan perjuangan mereka masing-masing.

Sungguh masih terngiang pesanmu ketika itu:

"Hati-hati kau! jangan main hati!"

**

Seulas senyum kembali terukir pagi itu..

Gempa!

Bismillah

Ada dua kejadian besar versi medan merdeka barat no.15.

Pertama,kejadian kebakaran gedung. Sumbernya di lantai 1 (yang secara tingkatan berada di lantai 5 karena lantai 2-4 adalah parkiran), tapi bahkan kami yang di lantai 1 ngga sadar dengan hal itu. Pas ada perintah evakuasi dari teman di luar, barulah sadar dengan kondisi yang ada. Tangga darurat sudah ramai dengan orang yang sibuk menyelamatkan diri. Ruangan di lantai 1 sudah dipenuhi bau asap yang cukup tebal, memang belum sampai ke ruangan kami asapnya.
Sampai di titik berkumpul di depan gedung,ternyata cukup banyak teman-teman yang sudah berada di sana. Kondisi saat itu hiruk pikuk dengan suara yang bersahutan saling bercerita kisah yang dialaminya di dalam sana. Tak butuh waktu lama,pihak keamanan gedung menyatakan sumber api sudah dipadamkan, dan gedung sudah dinyatakan aman kembali.

Kejadian kedua, hari ini. Lama tak bermain ke kantor, hari ini kusempatkan mampir ke kantor untuk suatu keperluan. Qodarullah, bayi kuajak pergi bersamaku. Selagi asyik mengobrol sembari menggandakan beberapa dokumen yang dibutuhkan, tiba-tiba seorang teman berseru :
"Eh gempa ya?"
"Masa sih?"
"Iya lihat goyang-goyang!"
"Eh iya..eh masih ya..eh ya Allah.."

Posisi ketika itu sedang di depan mesin foto kopi sambil menggendong bayi yang sedari tadi tak mau lepas dari gendongan. Barulah kemudian orang ramai untuk menyelamatkan diri. Semua tertuju dengan dirinya. Maka sembari menggendong bayi, dari lantai 2 gedung (atau lantai 6 secara posisi), kami bergegas menuruni tangga darurat. Selama di tangga, gempa masih berlangsung dan jelas terasa.
Tapak demi tapak anak tangga tak henti membayangkan alangkah kerdilnya manusia di hadapan Yang Maha Kuasa.

Sampai di titik berkumpul yang sudah ramai (lagi-lagi), tampaklah pemandangan orang-orang yang sibuk dengan handphone di telinga mereka. Berkabar sembari menanyakan kabar orang-orang yang mereka cintai di kejauhan sana.

Aku masih menenangkan diri dengan nafas lelah lepas menuruni puluhan anak tangga. Entah berapa jumlah tepatnya, yang jelas cukup untuk membuatku terengah-engah. Kutatap gedung-gedung di sekitar. Ah, si kerdil ini yang seringkali menyombongkan diri di hadapanNya. Yang mengeluh dengan perintahNya, yang menjauh dari rengkuhanNya karena merasa bisa sendiri berusaha.

Sungguh ini hanyalah sepersekian dari kuasaMu yang terbatas. Namun dengan yang sepersekian ini saja aku sudah tak berdaya.

Dari kejauhan kukirim doa untuk mereka di pusat gempa. Semoga Allah selalu menaungi kita dengan rahmatNya..

Monday, 22 January 2018

Jejak Tesis [2] : Menuju Sidang Proposal

Bismillah

Hari ini tunai sudah draft proposal penelitian diserahkan ke bagian akademik. Apa rasanya berada di titik ini? Kau tau? Takut.

Takut saat harus mempertanggungjawabkan apa yang telah ditulis dengan tangan ini. Takut dengan pertanyaan sulit. Takut dengan hal yang mungkin tak terpikirkan harus dijawab seperti apa,dikarenakan sulitnya tanya tersebut.

Agak mengherankan memang manusia ya. Seringkali dibuat khawatir dengan yang sedikit,padahal ada hal besar dan pertanyaan maha banyak yang benar-benar akan dihadapi untuk pilihab hidup atau mati. Untuk pilihan bahagia atau sengsara. Selamanya.

Namun justru mata dan hati lalai dari yang besar,lantas bersibuk ria dengan yang sepele. Satu dari sekian keherananku atas manusia,atas diriku sendiri.

*

Coba berikan aku kalimat penawar, kataku padamu suatu hari. Di tengah kepenatan menjalani hari-hari dengan renungan panjang yang seperti tak berkesudahan.
Katamu : "Kita sudah melalui banyak sekolah sebelum ini. Kau tahu,sekolah sekolah kita dalam kehidupan sebenarnya. Dan kita bisa. Sekolah formalmu saat ini, sungguh tak seberapa dengan jejak-jejak sekolah yang pernah kau alami, pernah kita alami bersama. Nikmatilah," kerlingmu santai.

Ah kau memang selalu begitu. Tak ada guna mengeluhkan hujan pada mereka yang menikmatinya. Pun demikian aku saat mengeluhkan dinamika ini padamu,karena sejatinya kau adalah penikmat kehidupan.

*

H-3 Sidang proposal penelitian. Sungguh hanya meminta yang terbaik dari sisiMu :"

Wednesday, 10 January 2018

Jejak Tesis [1] : Mengejar Sempro

Postingan perdana di tahun 2018 ya? Ya Allah entah kapanlah rasanya bisa menulis dengan disiplin ini. Mudah-mudahan di tahun ini ada perbaikan lah yaa..karena akan banyak kisah juga di tahun ini.

Seperti hari ini. Iya! hari ini aku menjadi tim hore untuk teman se-gank bimbingan ku, Tia dan Vanya. Wuhuuu...senang rasanya melihat mereka akhirnya sudah menjejakkan kaki ke langkah yang sudah lebih jauh. Tia dengan penelitiannya tentang sharenting di IG, dan Vanya tentang komodifikasi goyangan perempuan pedangdut. Seru? Banget! Bukan sekedar seru mendengarkan tema penelitian yang mereka sampaikan, tapi juga seru dengan nuansa Sempro yang kusuka. Dosen pembimbing yang oke punya, dan dosen penguji yang tenang dan substantif. Ngga ada kesan serem sama sekali. Semua berjalan layaknya sebuah diskusi yang mengalir dan interaktif di cafe-cafe, santai~

Aku dan Lail, teman seperjuanganku hanya bisa saling memandang. Sambil sama-sama menguatkan bahwa pekan depan kita harus segera mendaftar untuk Sempro. Hal itu berarti, mulai hari ini sampai Senin esok, tiada hari tanpa progress yang berarti untuk tesis ini. Harus, wajib, kudu.

Targetnya ngga jauh, Januari kelar Sempro dan mulai penelitian lapangan dan wawancara ini itu. Februari Maret fokus menyusun, April daftar sidang. Insyaa Allah pasti bisa lah ya! Banyak orang sudah melalui ini sebelumnya, dan mereka bisa melaluinya dengan baik. Bahkan sangat baik. Maka tak ada alasan untuk tidak bisa menyelesaikannya sesuai jadwal yang ditetapkan.

SEMANGAT!

Oya, anyway tentang kelanjutan blog ini, insyaa Allah akan ada progress yang lebih baik tahun ini. Sedang mendesain sedemikian rupa agar blog ini kembali produktif. Pokonya, tahun 2018 adalah tahun produktif. Produktif loh ya, bukan reproduktif, wkwk.

Suatu hari saat nge perpus bareng duo bujang..

Thursday, 21 December 2017

Skenario Terbaik

Pernah suatu kali seorang aktris merengek pada sutradara sandiwara, menuntut sebuah peran yang lebih baik dari yang diamanahi padanya. Sungguh, ia membutuhkan peran yang tak biasa! Peran yang membuat dirinya menjadi lebih hidup dan lebih berwibawa!

Sutradara berkata, semua peran hanyalah gurau belaka. Ia tak sedang melihat peran apa yang sedang kau jalani, tapi seperti apa caramu menjalani peran yang diberikan olehnya. Ya, hanya caramu yang Ia lihat.

Adapun skenario cerita, sutradara lebih tahu bukan? Karena toh, mereka yang tampil ke depan dan menerima penghargaan aktor dan aktris terbaik tidak melulu mereka yang menjalani peran utama yang rupawan lagi penuh cerita. Terkadang mereka hanyalah pemeran-pemeran yang ceritanya tak terlalu tampak dalam keseluruhan alur cerita. Pun begitu, sepenuh cinta ia jalani peran yang ia terima hingga semesta pun menghargainya.

Dengar?

Maka jika kini Dia ciptakan kita dengan peran yang berbeda-beda, dengan skenario yang berbeda, jalani saja dengan suka cita. Semua peran sama saja di hadapanNya, yang membedakan hanyalah sejauh mana kita berperan sesuai dengan keinginanNya sebagai sebaik-baik Sutradara dengan sebaik-baik Skenario yang pernah ada :)

Related image

Monday, 18 December 2017

Manusia Paling Menyedihkan

Coba tebak siapa orang yang paling menyedihkan di muka bumi ini?
Mereka yang hari-harinya kesulitan untuk memenuhi kebutuhan pangannya kah?
Atau mereka yang tercerabut kebebasannya di balik jeruji besi?
Atau siapa?
*
Beberapa hari ke belakang, aku memikirkan hal ini. Kutemukan jawabannya adalah : aku. Iya, aku jika tengah kehilangan arah tentang kemana aku hendak berlalu. Jawabannya tak lain adalah aku, jika aku tengah terdiam tak tahu di mana berada. Jawabannya adalah aku, saat aku tak bisa dengan yakin berkata tentang siapa aku dan untuk apa aku dicipta.

Hingga tiap hari hanyalah kekosongan belaka. Bergerak hanya untuk menandai bahwa aku masih ada. Mendongak sambil berpasrah diri menunggu giliran untuk kembali keharibaanNya. Tak miliki asa, tak miliki cita, tak tahu lagi tentang apa-apa.

Sungguh menyedihkan.
*
Dan aku ini bisa menjelma menjadi kamu, menjadi dia, menjadi siapa saja, saat telah kehilangan harap dan cita. Entah mengapa bisa terjebak ke dalamnya, padahal firmanNya sudah begitu jelas bagi kita. Jangan berputus asa dari rahmatNya. Jangan!

Karena sedetik itu engkau berputus asa, maka detik itu pula engkau menjelma menjadi manusia paling menyedihkan di atas dunia.


Maka, tersenyumlah. Dunia ini sungguh hanya senda gurau belaka..

Image result for berputus asa dari rahmat allah