Friday, 3 June 2016

Catatan Makmil Roker

Sore ini, untuk kesekian kalinya saya mendapatkan aksi penolakan oleh sesama perempuan yang duduk di kursi prioritas commuterline. Memang bukan yang pertama,tapi agaknya menjadi puncak dari berbagai kepedihan yang saya rasakan sebelumnya. Kepedihan yang berujung pada pertanyaan akan empati sesama perempuan terhadap perempuan lainnya. Sebagai catatan,mereka yang menolak bukanlah perempuan hamil,membawa balita,penyandang disabilitas,atau juga bukan termasuk golongan lansia-setidaknya menurut pandangan mata saya

"Maaf mba di sini lanjut usia semua,mba cari aja di tempat lain..",suatu waktu kata seorang perempuan berusia 40tahunan. Agaknya definisi lanjut usia dalam commuterline mengalami pergeseran yang cukup signifikan. 40 tahun kini termasuk lanjut usia,bagi perempuan tadi,dan beberapa perempuan yang juga melakukan penolakan yang sama sebelumnya.

Saya mengalah. Enggan berdebat tentang definisi lanjut usia yang dimaksud.

Lain waktu,

"Maaf mba saya lagi ngga enak badan, yang lain saja.." Lantas ia langsung melanjutkan kembali tidurnya.

Hingga tadi,saat sudah lama menunggu si ular besi yang tak kunjung hadir,saya lagi-lagi harus ditolak oleh perempuan muda berusia 30tahunan.

"Saya capek banget,baru pulang dari luar kota. Cari di sana saja coba.."katanya sembari menunjuk kursi prioritas di seberangnya.

Selintas pandang,kursi di seberang lebih tak memungkinkan. Tapi baiklah.

"Maaf ibu,ada yang tidak hamil,boleh saya minta kursi prioritasnya?"tanyaku seperti biasa,mencoba sehalus mungkin. Ah,salah ga sih merasa bahwa kursi itu seharusnya menjadi milik saya?

Mereka hanya saling berpandangan,menunggu siapa yang akan mengalah di antara mereka. Secara tak langsung sebetulnya mereka tengah menjawab,bahwa tidak satupun di antara mereka yang sedang mengandung. Lantas saya menunggu untuk beberapa detik berikutnya,sebelum akhirnya mereka mengarahkan saya untuk mencari kursi yang lain.

"Cari ke sana aja mba.." Lagi lagi kalimat ini yang harus saya dengar.

Usia kandungan saya 27 minggu,tidak lagi termasuk hamil muda,dan tidak bisa juga disebut tidak terlihat hamil. Berhusnudzon bahwa mereka meragukan kehamilan saya karena secara fisik belum terlihat juga agaknya berat untuk masuk di logika.

Seorang bapak kemudian ikut berempati,Ia menyarankan saya untuk meminta kepada kaum lelaki yang duduk di kursi non prioritas. Saya mulai mencari,tapi menyerah sejurus kemudian. Kereta tak lagi cukup lengang untuk bisa berjalan dan melihat adakah yang masih mau berempati di sana.

Ah saya menyerah,memilih untuk turun dari kereta yang sudah hampir 30 menit saya tunggu itu.Tapi entahlah,mungkin karena sedang lelah..rasanya ko pedih ya. Ga bisa ga nangis akhirnya (drama mode : on). Lebih ke nangisin keadaan sebetulnya,ko rasanya lebih menyakitkan saat yang menolakmu adalah sesama perempuan ya? Serius deh,ini bukan cuma tentang rebutan kursi prioritas. Ini tentang menempati sesuatu yang bukan hakmu. Kemudian ada seseorang yang sebetulnya berhak,tapi hanya karena kamu sudah terlanjur merasa nyaman,lantas membuatmu jadi tak peduli bahwa hal itu bukanlah bagian dari hakmu. Namun anehnya,kamu merasa tak ada yang salah dengan semua itu..

Dan sikap-sikap begitu,bukan tak mungkin juga terjadi di luar konteks kursi prioritas kereta,sudah terlanjur mengakar dan menganggap biasa hal yang seharusnya bukan menjadi hak kita. Ah, semoga saja hanya imajinasi saya yang terlalu berlebihan..

Last,untukmu..teman sesama perempuan. Mereka,orang-orang hamil itu,bukan orang yang lemah. Mereka bisa jadi sanggup kau minta untuk berdiri selama perjalananmu. Hanya karena mereka ingin memastikan bahwa amanah yang harus mereka jaga-bayi-bayi dalam perut mereka berada dalam kondisi yang aman,mereka rela bertaruh malu dengan meminta-minta haknya padamu dan pada yang lainnya. Maka,bukan mereka sebetulnya yang tengah membutuhkan,tapi bayi-bayi kecil dalam tubuh mereka yang sebenarnya tengah memintakan perlindungan padamu.

Adakah kamu ingin membantu melindunginya?

Jakarta, 3 Juni 2016
Di antara manusia yang saling berjejalan..

Thursday, 2 June 2016

Karena Bersabar Adalah Pilihan

Ingat apa yang kita katakan ketika seseorang ditimpa musibah? “Sabar ya..”, kurang lebih mungkin begitu. Kata sabar lekat dengan solusi atas segala masalah apapun, yang menimpa siapapun. Dan ini memang sejalan dengan firman Allah dalam Al-qur’an, surat Albaqarah ayat 45 dan 153.

“Dan mohonlah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat.”  Allah mengisyaratkan kepada kita bahwa kesabaran adalah sebaik-baik penolong atas kesulitan hidup. Begitu berharganya sabar, hingga Allah pun menempatkan kata sabar lebih dulu, baru kemudian shalat. Ini menunjukkan begitu berharganya sikap sabar di hadapan Allah.

Setidaknya ada tiga kesabaran yang patut kita terapkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Pertama, sabar terhadap ketaatan.  Kesabaran seperti ini pernah ditunjukkan oleh Nabi Ibrahim AS dan putranya Ismail AS. Betapa setiap perintah dari Allah dijalankan, meskipun itu dirasakan sangat-sangat berat. Mulai dari perintah untuk meninggalkan istri dan anaknya di padang pasir yang tandus, hingga akhirnya perintah agung untuk menyembelih putra kesayangan, Ismail AS.  Padahal Nabi Ibrahim memiliki putra setelah sekian lama menginginkannya. Namun, begitulah orang-orang pilihan Allah itu telah memberikan panutan dan teladan pada kita dengan kesabarannya dalam mentaati setiap perintah Allah. Nabi Ibrahim ikhlas, pun begitu dengan Ismail.

Kesabaran selanjutnya yang harus kita usahakan menjadi bagian dari diri kita adalah sabar menahan maksiat. Suatu hari seorang maling dihakimi oleh massa karena mencuri buah-buahan dari kebun orang. Ia tertangkap basah oleh sang pemilik kebun, yang memang sedang berada di kebunnya. Saat ditanya mengapa mencuri, Ia mengatakan bahwa Ia tidak kuat menahan betapa ranumnya buah-buah yang berada dalam kebun tersebut. Ini menunjukkan ketidaksabaran sang pencuri untuk tidak mengambil buah-buahan yang menggoda tersebut. Akibat ketidaksabaran yang sesaat, Ia harus menanggung malu juga sakit, dan harus bersabar lebih lama untuk menjalani hukuman yang ditimpakan di dunia dan di akhirat kelak. Sabar itu selalu menjadi pilihan, jika kita tidak mampu bersabar sesaat untuk sesuatu yang tampak menyenangkan-padahal sebenarnya dilarang syari’at, maka kita harus bersabar lebih lama dengan resiko yang akan kita dapatkan kemudian hari. 

Bersabarlah, karena syaithan pun amat bersabar dalam menguji kita. Berbagai jurus mutakhir syaithan lancarkan, demi menggoda kita agar mengikutinya. Dan kita tidak pernah bisa memenangkan pertarungan ini jika kita tak lebih sabar dari syaithan.

Kesabaran terakhir, sabar ketika tertimpa musibah.
“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS Albaqarah: 155)

Ini janji Allah. Setiap kita diciptakan dengan permasalahan kita masing-masing. Maka, apapun permasalahan kita hari ini, semoga Dia anugerahi  kita kesabaran untuk menghadapi musibah yang  Dia ujikan pada kita. Hingganya, kita menjadi orang-orang  yang dicintai olehNya.

“Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar..”(QS Ali-Imran : 146)

Hikmah di balik Misteri

“Hal yang misterius selalu berharga, karena ketidaktahuan kita akan hal itu, maka semua hal harus kita pertaruhkan untuk meraih kepastian terbaik”

Dulu, sebelum menikah, saya membenci hal-hal misterius. Pasalnya sangat sederhana, hal-hal misterius seperti menyuruh saya menunggu tentang kepastian dibaliknya. Dan itu melelahkan. Hingga akhirnya setelah menikah, saya semakin banyak belajar, bahwa dibalik hal yang misterius itu selalu ada hikmah yang Ia selipkan. Mengapa tonggaknya pernikahan? Karena jodoh pun adalah bagian dari misteri, bukan? Dulu pernikahan adalah hal yang sangat misterius bagi saya. Dengan siapa saya akan menikah, seperti apa pernikahan saya, semua sangat misterius. Ada kekuatan di luar kekuatan kita yang bergerak mengatur itu..

Lagi, mengapa tonggaknya pernikahan? Karena setelah menikah pula lah saya kehilangan sosok lelaki yang sangat berpengaruh dalam perjalanan hidup saya, dia yang tak terganti, papap. Seperti halnya jodoh, saya faham bahwa maut pun adalah misteri milikNya. Tak pernah terbayangkan pedih dan sakit karena ditinggal seorang ayah, terlebih karena saya pun memiliki kedekatan khusus dengannya. Dia yang selalu bertanya seberapa banyak saya sudah menulis, dia yang selalu bertanya perkembangan saya dan keluarga kecil saya, dia yang diamnya selalu meneduhkan hati siapa saja yang melihatnya.

Ah, kita memang tak pernah tahu seperti apa akhir hidup kita dan kehidupan setelahnya, benar-benar tak terbayangkan. Kadang saya benar-benar super penasaran, ingin tahu seperti apa rasanya mati? seperti apa saya akan mati? Dan seperti apa kehidupan saya setelah mati? Saya, anda, kita semua tak pernah tahu akan hal tersebut. Hanya tahu bahwa itu kepastian, akan terjadi, tanpa tahu detil-detilnya. Dan karena kita tidak pernah tahu siapa akan meninggalkan siapa, maka setiap perjalanan hidup kita menjadi sangat berharga, orang-orang yang berada di sekeliling kita pun menjadi sangat berharga. Siapa bisa menjamin kita bisa bersama suami kita hingga tua? Siapa bisa menjamin kita masih berkesempatan melihat anak-anak kita tumbuh besar? Bahkan siapa yang bisa menjamin bahwa esok masih menjadi jatah hidup kita? Tidak ada yang bisa menjamin. Tidak saya, tidak juga Anda.

Maka sekali lagi, renungan saya sampai pada, hal-hal misterius itu selalu berharga. Karena kita diberikan peluang untuk menciptakan kepastian dibalik hal misterius tersebut. Jodoh, seberapapun misteriusnya, Allah menyuruh kita membaikkan diri hingga kita pantas mendapatkan yang juga baik. Itulah bagian dari usaha kita. Kematian, seberapapun misteriusnya, Allah menyuruh kita membiasakan diri melakukan hal-hal kebaikan, karena kematian seseorang tak akan jauh dari bagaimana caranya hidup. Rezeki, seberapapun misteriusnya, Allah menyuruh kita berusaha meraihnya sekuat tenaga kita, hingga sampailah rezeki itu di tangan kita. Sesuatu diciptakan Allah secara misterius untuk melihat, siapa yang lebih baik usahanya, siapa yang hanya seadanya dan sebisanya saja. Andailah masing-masing kita mengetahui kapan akan mati, mungkin akan lain ceritanya. Kita, atau saya, mungkin akan berpikir, oh..masih lama ini matinya. Nanti kan bisa dikebut menjelang kematian (logika yang sama saat menghadapi deadline tugas kuliah, atau saat menghadapi uas). Kemungkinan lain  yang bisa saja terjadi saat kita mengetahui kapan akhir hidup kita, mungkin kita malah tak bisa mengerjakan apa-apa, saking takutnya menghadapi waktu kematian.

Karenanya, Allah jadikan ia tetap sebagai suatu misteri. Seperti juga Allah menyimpan rezeki kita sebagai misteri. Tak bisa terbayangkan apa jadinya kalau seseorang sudah diberi tahu bahwa dia diciptakan menjadi si miskin, pastilah untuk berusaha saja rasanya sangat malas. Karena kita tidak pernah tahu seperti apa rezeki kita, maka kita pun mengusahakan yang terbaik untuknya. Bagaimana juga jika kita sudah mengetahui dari awal siapa yang akan jadi pasangan kita? Mungkin kita tidak bisa menjaga diri karena merasa pede bahwa pada akhirnya dia juga akan menjadi pasangan kita. *idih. Atau mungkin juga malah jadi hopeless, karena pengennya sama yang lain. Hehe. See, sangat menyenangkan mengetahui bahwa semua itu adalah misteri yang masih bisa diusahakan.

Sama halnya dengan masa depan, masa lalu pun bagi saya masih banyak meninggalkan misteri yang memancing rasa penasaran yang sangat berbekas. Kadang wujudnya bisa menjadi hal yang bermanfaat, seperti dari siapa saya berasal, siapa kakek-kakek-kakeknya kakek saya, apakah saya ini memiliki hubungan kekerabatan dengan tokoh-tokoh terkenal dalam sejarah *hehe :D (dalam silsilah keluarga dari mamah, saya katanya keturunan sekian dari salah satu sunan di walisongo. Lupa sunan siapa :P) Mengetahui tersebut adalah hal yang menyenangkan, selain karena bisa menguak misteri (meski entah benar atau tidak), pengetahuan tentang masa lalu juga bisa menjadi cermin pembelajaran untuk kita di masa sekarang. Namun, tak semua dari masa lalu saya ingin kuak kebenarannya, sebagian saya biarkan ia tetap menjadi misteri. Terkadang terlalu banyak tahu akan sesuatu membuat kita menjadi tidak nyaman, dan seperti itulah jadinya. Ah, lagipula masa lalu telah berlalu..

Simpulan saya akhirnya begini,  misteri itu bukan sesuatu yang harus kita tunggu seperti apa kepastiannya, karena itu melelahkan. Misteri adalah sesuatu yang seharusnya menggerakkan kita untuk berusaha membuat peluang-peluang tentang bagaimana kepastian misteri itu pada akhirnya.


Cimahi, 24 April 2012

Karena Iman Tak Diwariskan

“Apakah kamu menjadi saksi saat maut akan menjemput Ya’kub, ketika dia berkata kepada anak-anaknya, “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab, “Kami akan menyembah Tuhan nenek moyangmu, yaitu Ibrahim, Ismail, dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa, dan kami (hanya) berserah diri kepadaNya.” (QS Albaqarah : 133)

Malam ke 26 ramadhan, pukul 02.30 dini hari. Tubuh mungilnya menggeliat, perlahan matanya terbuka. Begitu menyadari  bundanya tengah terjaga, matanya semakin membulat.

“Assalamualaikum, bangun sayang? Mau ikut bunda makan?”

Memang ada sepiring nasi dengan lauk empat potong nugget di atasnya. Sengaja kutawari karena tadi malam sebelum tidur dia memang belum sempat makan. Tanpa memberi komentar apapun, dia lantas memakan suapan yang sudah saya sodorkan sebelumnya.

“Da..bunda..” panggilnya lepas habis suapan itu dari mulut kecilnya.

“Apa,nak?”

“Gajah juga coyat..hayimau juga coyat..buyung juga coyat..” (Gajah juga shalat, harimau juga shalat, burung juga shalat)

“Betul nak, hewan-hewan itu ciptaan Allah. Semua menyembah Allah..”

“Oo..gitu..” Lantas dia memasukkan suapan lainnya, tak menghiraukan ada rasa heran yang menggelayuti bundanya. Entah kenapa dia tiba-tiba terpikir hal itu, mungkin karena dia melihat setelan bundanya masih lengkap bermukena lalu terpikir tentang hal tersebut.

Lain waktu, ketika diberikan sepiring makanan, dia langsung menyambutnya dengan kata 

“Waaahh…” , diambilnyalah kemudian piring itu, dia  duduk, dan lantas mengucapkan 

“Alhamdulillah…Ayo makaann..”

Ada haru di sana, ya, ada haru yang tak bisa diungkapkan dengan berbait kata. Selalu ada getar tersendiri saat mengajarkan dan mengenalkan si kecil tentang Allah. Membuat dia kenal dan merasa dekat dengan asma-asmaNya. Dan ketika lafal Allah itu terucap dari mulut kecilnya, ada embun yang titisnya terasa sejuk di hati. Ah iya, ini yang kuinginkan, ini yang kuimpikan..

Menjadi madrasah pertama bagi anak-anak : mengajari mereka konsep ketuhanan, mengajari mereka membaca tulis huruf al-qur’an, menuntun mereka mengeja huruf latin, mengajarkan kosakata baru, menjadi pengawas sekaligus teman terbaik bagi mereka, mendengar mereka, menghargai setiap pendapat mereka, menjadi ibu  terbaik bagi mereka di dunia, dan di akhirat.

Maka cukuplah saya dengan hal tersebut. Anak, seyogianya tak cukup menjadi sekedar anak biologis saja. Jika menjadi seorang ibu hanya tentang memberi makan dan membesarkan anak saja, maka hewan pun melakukan hal tersebut. Ini tentang menjadikan mereka anak-anak ideologis kita. Mentransferkan ideology-ideologi kebaikan yang pernah kita dapatkan sebelumnya melalui orang tua kita, guru kita, kerabat kita, lingkungan sekitar kita.

Dogmatiskah? Memaksakan kehendakkah?

Kalau memang saya memahami bahwa hal tersebut merupakan kebaikan, maka justru merupakan kesalahan apabila saya tak menyampaikannya pada yang lain, terutama pada darah daging saya sendiri. Soal dogmatis, pemaksaan kehendak, itu tak lebih dari hanya soal cara. Cara baik insya Allah akan diterima dengan baik juga.

Iman tak dapat diwarisi dari seorang ayah yang bertakwa..-Raihan

Iya, iman memang tak dapat diwarisi.  Oleh karenanya menjadi bagian dari kewajiban kita mengenalkan nilai-nilai keimanan itu agar dekat dengan keseharian hidup mereka, sedini mungkin, hingga mereka terbiasa dengan nilai-nilai keimanan tersebut. Jika sudah terbiasa dan merasa nyaman, maka tinggal mendo’akan agar nilai-nilai itu tetap Allah jaga kemurniannya di hati mereka, Allah jaga tumbuh kembangnya seiring pertumbuhan mereka, dan Allah pelihara mereka hingga mereka menjadi prajurit-prajurit Allah yang menegakkan kalimatNya di muka bumi.

Dan, lengkaplah kebahagiaan di hati saya, sebagai Bunda..

my kids my teacher



Kala Cinta Tak Lagi Setia

Mata itu hanya sendu menatap kosong ke depan. Genggaman tangannya erat memegang handphone yang sedari awal bolak-balik ia sodorkan ke saya, memperlihatkan berbagai bukti yang menguatkan ceritanya. Cerita yang kemudian membuat saya belajar tentang arti tegar dan sabar..

Tiga belas tahun sudah kami tak bertemu. Ia teman masa kecil saya, yang saya ingat sebagai perempuan paling cantik dan paling berada diantara kami. Kami tak pernah lagi bertemu sejak saya memutuskan untuk hijrah lepas masa SD, dan menuntut ilmu masa SMP di Depok. Pun begitu saat saya menjalani SMA di Bandung, kami tak pernah bertemu. Sampai pada akhirnya belum lama ini saya mendapatkan kontak BBM nya, dan kami merancang untuk bertemu pada hari yang kami tentukan.

Tak ada yang jauh berbeda darinya, kecuali kini Ia sudah berhijab. Perawakannya mungil, dengan balutan jilbab yang sungguh manis. Setelah bernostalgia tentang masa kecil kami, yang selalu mengundang tawa –dan rindu pada khususnya-, Ia pun memulai kisahnya. Kisah tentang pasangan hidup yang berkali-kali menelikung dan mengkhianatinya. Kisah yang membuat saya berkali-kali menghela nafas, mengundang emosi marah, sekaligus membuat saya ingin memeluknya.

“Ko kamu tetep bisa bertahan siiih? Aku udah ga tau banget kalo ada dalam posisimu udah kaya gimana..,”kataku sedikit mempertanyakan. Bagiku, apa yang menimpanya sudah melebihi ambang batas kewajaran permasalahan rumah tangga pada umumnya. Ini selingkuh loh! Hal yang bagi saya sangat tidak termaafkan.

“Aku masih menaruh harap sama dia, aku pengen jadi jalan bagi dia untuk menemukan kebaikan. Aku pengen ini jadi ibadah utamaku di sisi Allah,”begitu kurang lebih Ia menjawab. Intinya dia merasa tak tega dan kasihan, karena dalam feelingnya, memang ada gangguan yang dialami oleh pasangannya. Gangguan jin, begitu singkatnya. Dari beberapa cerita dan argument yang ia berikan, saya cukup yakin bahwa yang bersangkutan bisa jadi memang mengalami hal tersebut.

“Ya tapi sebenernya kamu juga berhak bahagia kaan? Kamu udah mencoba berkali-kali loh, dan berkali-kali juga kamu diginiin terus apa yang mau kamu perjuangin? Kamu kalo terus-terusan gini emang bahagia?”tanya saya cemas. Disakitin loh, berkali-kali, dalam hal yang sama. Denger ceritanya saya malah misuh-misuh. –Duh ini sayah yang emang orangnya dendaman apa emang dia yang extraordinary dalam memberi maaf siiih. Ko jadi saya yang gemes?-

“Kalo ditanya bahagia, menurut kamu kalo ngeliat aku gini, aku bahagia? Ngga lah han. Udah lewat masa-masa nangisku. Udah beku air mataku. Kadang juga aku bingung, ko bisa ya aku bertahan..”katanya pelan. Berkali-kali ia perlihatkan screenshoot yang membuktikan suaminya selingkuh, berbohong, dan tak mengakui perbuatannya. Berkali-kali juga aku lemas dibuatnya.

“Aku salut sama kamu. Meskipun juga jujur aku ga tau, kamu ini baik banget atau malah gimana ya? Ko bisa gitu loh masih aja baik sama pasanganmu setelah digituin. Moga Allah kasih yang terbaik buatmu ya, dan moga Allah selalu bahagiakan kamu dalam urusan yang lain..”kataku, menyerah. Gagal faham, dan mendadak merasa terhina dina. Dia begitu malaikat..dan selama dia cerita, tanggepan saya ko kayaknya evil banget -.- Sama sekali ga bermaksud untuk ngomporin dia untuk pisah, naudzubillah. Lebih ke arah, kamu tuh berhak bahagia loooh, betulan ga tega dan ga terima kalo liat kamu selalu digituin :( *pengen nangis rasanya* Itu kalo ketemu pasangannya, bawaan saya pengen ngelabrak aja kali ya. Persis kaya waktu prajab, nemu seorang bapak yang kecentilan dan pdkt sama seorang gadis. Pengen ta labrak aja rasanya! Apalagi istrinya lagi hamil di rumah sana..Haiissshh!

***
Lima tahun sudah (akan memasuki usia ke enam) saya menjalani pernikahan. Selama itu pula saya akrab dengan berbagai cerita rumah tangga dari teman, sahabat, saudara, bahkan seseorang yang tidak dikenal. Sampailah pada simpulan, cinta memang perlu dipelihara. Dan catet ya! Tugas itu BUKAN CUMA TUGAS ISTRI. Gemes ga sih kalo denger, “Iya,dia ditinggalin sama suaminya, gara-gara udah ga ‘fit’ lagi.”You know what I mean lah ya. Tapi kan dia itu ibu yang udah ngelahirin anak-anakmu loh para bapaaak! Dan emang pernikahan dan Cinta cuma tentang itu doang ya? Sempit amat cara mikirnya. ADA LOH suami yang tetap bertahan setia sama istrinya yang sakit dan tanpa daya, dan meski sudah diberikan lampu hijau dari istri untuk menikah lagi, dia MEMILIH untuk setia. Dan rasanya itu lebih menggambarkan apa itu cinta..(Let me being so subjective now!)

Memelihara cinta seharusnya menjadi tugas bersama, saling berusaha satu sama lain. Ah, kalo urusan ini sih saya juga masih belum terbukti handal. Seringkali masih ego di depan Bapak RB *sungkem pak RB*. Tapi intinya, sudah sepatutnya suami istri saling memahami apa yang diharapkan dari masing-masing pasangannya, dan berusaha keras untuk memenuhinya, dan saling memahami hal-hal apa saja yang dibenci pasangannya dan berusaha keras untuk menghindarinya.

Bener ga sih? Kalo ditanya pengen bahagia, semua pasangan pasti bilang “Iya” kan?

Pertanyaannya, kita tau ga apa yang bikin pasangan kita bahagia? Jangan malah merasa sudah membahagiakan, PADAHAL apa yang kita lakukan bukan indikator kebahagiaan bagi pasangan kita.  Jatuhnya malah menuntut, gw udah ngebahagiaan lo, tapi lo ga bisa membahagiakan gw. Padahal mungkin di sisi lain pasangannya merasakan hal yang sama -.-. Terus ya udah, hidup berumah tangga hanya untuk saling menyakiti. Isy, mana enak sih bertahun-tahun hidup dalam kondisi gitu? Tiap hari ketemu, tiap malem sekasur, tapi kerjaannya berantem mulu? Hayooo..Masak sama temen sendiri bisa akur, bisa ngobrol asik, tapi sama pasangan malah diem-dieman dan saling nyerah satu sama lain sih?

Ini ya yang pertama, TAHU PERSIS apa yang pasangan kita HARAPKAN dan BENCI, sehingga kita bisa berfokus saling mencinta dan membahagiakan SESUAI dengan keinginan pasangan. Bukan hanya dalam angan. Karena percayalah, setiap orang punya CARA SPESIAL yang membuat dia merasa dicintai. Jangan pernah pake standarmu  dalam mencintai, karena bisa jadi beda.Ada yang ngerasa dikasih bunga itu bentuk romantisme dan akan membuat dia dicintai, tapi ada juga yang apaan sih, lebay banget. Cukup misalnya didengerin curhatnya aja deh, ga usah pake bunga-bunga an, misalnyaa..

Kedua, ya KOMIT sama poin pertama tadi! Kita punya resep untuk membahagiakan  dia, pun dia sama. Jangan kurangi takaran resepnya, pastikan sudah sesuai dengan takaran yang dibutuhkan. Fokus sama tugas kita aja, jangan heboh nuntut dari pasangan, tapi sendirinya lupa kalo ternyata dia belum mengerjakan proyek kebahagiaan bagi pasangannya. Insya Allah kalo kita udah focus sama tugas kita, kita juga bakal dapet hal yang sama dari pasangan kita. *kalo ngga, ketok aja pasangannya :P

Ah, tapi balik lagi sih kalo kita cuma manusia yang butuh proses. GA GAMPANG memang membuat perubahan. Saya yakin, dalam list kebahagiaan pasangan kita, mesti ada satu dua hal yang baru bagi kita. Dan hal itu menuntut kita untuk melakukan kebiasaan baru, dan melakukan kebiasaan baru pun butuh beradaptasi, dan waktu untuk beradaptasi bagi orang itu beda-beda. Jadii..BERSABARLAH! dan BERHUSNUDZONLAH! Just stay focus on ur list! Dan lihatlah perubahan apa yang terjadi..(cuma liat aja sih, ga janjiin apa2 :D)
***
Pada akhirnya, memelihara cinta bermuara pada simpulan untuk selalu bernaung di bawah Sang Pemilik Cinta. Bila Dia yang miliki cinta, maka Dia juga yang berhak membolak-balikkan cinta. Minta selalu Dia semaikan cinta kita pada pasangan sah kita, dan kita pinta pula dariNya cinta pasangan kita pada kita. Hingga setiap detak cinta yang kita rasa, setiap tetes keringat  yang bercucuran dalam upaya memeliharanya, menjadi suatu nilai kebaikan di sisiNya..


Bogor 11 Mei 2015
Tulisan lama, baru ditemukan dan diposting di mari

Menanti Muhammad Panglima Bijaksana

Melahirkan itu sakit? Iya. Lantas mengapa seperti tak sabar sekali ingin segera melahirkan? Ah, tentu saja karena perasaan bertemu dengan buah hati yang dinanti selama lebih dari sembilan bulan, jauuuh lebih mendominasi dibandingkan dengan rasa sakit saat melahirkan.

Maka rasa sakit ketika melahirkan adalah rasa sakit yang dirindukan, rasa sakit yang akan membawa pada kebahagiaan besar setelahnya. Mungkinkah ini sama dengan kematian? Konon, rasa kematian itu pahit. Sakratul maut itu pedih. Tapi mungkinkah kita bisa bertemu dengan Sang Maha Cinta jika tak alami kematian? Tidak. Kematian itu satu-satunya jalan. Sakit ketika menghadapi sakratul maut adalah sakit yang akan membawa pada perjumpaan dengan Sang Kekasih, jika saja memang kita menganggap Dia sebagai Kekasih yang kita rindukan.

Ya, itu titik tekannya. Seberapa dalam kita merindukan Allah? Seberapa kuat bayang akan pertemuan denganNya melekat dalam ingatan kita? Jika kita masih takut mati, maka mungkin betul, kita tidak sungguh-sungguh menginginkan pertemuan denganNya. Kita masih lebih senang dengan kehampaan dunia dengan kesenangannya yang menipu daya. Semua ini sepertinya masih jauh lebih menyenangkan bagi kita, dibandingkan pertemuan agung dengan Pemilik Dunia.

Kini, aku hanya termenung. Dalam penantian panjang untuk bertemu dengan buah hati yang telah kukandung selama Sembilan bulan ke belakang, kucoba mencari-cari hikmah apa gerangan yang Ia ingin aku memetiknya. Dia biarkan waktu itu terasa panjang bagiku. Hingga mungkin aku bisa belajar dari waktu yang bergulir. Hingga waktu-waktu yang kulewati menjadi lebih berarti. Bukankah Dia tak pernah zhalim atas hambaNya? Maka apapun yang Ia kehendaki, maka itu yang terbaik.

Dan kini, kuterima ujian ini Tuhanku. Muliakan aku atas kesabaran yang tengah kuusahakan. Kesabaran menunggu, kesabaran ketika akhirnya berhadapan, dan bersabar dengan segala hal yang terjadi setelahnya. Sabarkan aku dengan kesabaranMu yang tanpa batas. Biarlah aku menunggu, menunggu, menunggu, hingga waktu yang telah Kau tetapkan tiba. Dengan itu semoga Kau terima aku menjadi hambaMu yang bersabar…

 5 Nov 2012

Menunggu panglima bijaksana


Dibalik 2 Juni 2010



25 Mei, 6 tahun yang lalu.

Menurut taksiran dokter berdasarkan Hari Pertama Haid Terakhir (HPHT), Hari Perkiraan Lahir (HPL) janin dalam perut saya adalah hari ini. Meskipun begitu, dari hari-hari sebelumnya tak ada sedikitpun tanda-tanda yang mencirikan bahwa janin sudah akan lahir. Seolah dia tahu, emaknya masih harus menyelesaikan beberapa tugas akhir semester yang belum kunjung usai. Di hari ini pun juga saya masih asyik melenggang berkunjung ke perpustakaan Unpad Dipatiukur untuk mencari beberapa referensi untuk menyelesaikan tugas MPK 2. Dengan ditemani oleh Ayah RB tentunya, sang suami siaga ples temen diskusi sesama mahasiswa. Di rumah, semua perlengkapan bayi sudah siap dari bulan-bulan sebelumnya, maklumlah, anak pertama. Bahkan nin dan buyanya pun juga sudah menyiapkan segala macam untuk menyambut kehadiran cucu laki-laki pertamanya.

Pun begitu, agaknya memang kami masih harus bersabar, karena beberapa hari setelahnya pun masih juga belum ada tanda yang menjurus. Hikmahnya? Alhamdulillah masih bisa fokus mengerjakan tugas. Dan saya pun tak ambil pusing.

31 Mei 2010

Beberapa hari lepas HPL, saat semua tugas kuliah sudah diselesaikan.

“Hmm..udah melewati batas waktu ya? Kalo gitu besok kita induksi aja ya pake tablet. Biar saya cari dulu stok tabletnya,”kata Bidan Desi.

Esok sorenya, pada tanggal 1 Juni, saya dan suami segera mendatangi praktik Bidan Desi di bilangan Cigugur, Cimahi. Saya akan melewati proses induksi (pemberian stimulant untuk mempercepat kontraksi dan kelahiran). Induksi yang saya jalani saat itu adalah induksi melalui tablet. Setelah semalamnya saya browsing, barulah saya tahu, bahwa efek dari tablet  termasuk cepat. Ah, tentunya ini terasa kompleks bagi saya. Satu sisi ada kebahagiaan karena rindu mendalam pada si janin akan terbayar dengan pertemuan yang tak akan lama lagi. Namun, di sisi lain, sewajarnya saya merasa khawatir. Ini proses melahirkan yang pertama bagi saya. Entah akan seperti apa jadinya, saya hanya berharap bisa melahirkan secara normal saja. Selain pemulihan yang lebih cepat, biayanya pun jauh lebih ringan. Dan di Bidan Desi inilah saya berencana untuk menjalani proses melahirkan tersebut.

Sebagian tablet untuk induksi itu dimasukkan dalam jalan lahir, sebagian lagi dibekalkan ke rumah untuk diminum.

“Kalo yang udah-udah, pagi ini minum, besoknya biasanya udah lahiran,”kata bu Bidan.
Saya hanya tersenyum mengiyakan. Sambil berharap cemas.

“Ya ampun, moga prosesnya lancar. Lancarkan ya Allah..”

Dan ternyata benarlah, efek tablet itu sungguh cepat. Belum sampai di rumah, saya sudah merasakan kontraksi di daerah rahim. Awalnya hanya terasa seperti mulas mulas biasa, hanya agak melilit. Kondisi itu tak berubah, bahkan justru saya rasakan lebih parah saat menginjak malam hari. Saya ingat betul, ketika itu saya tengah ber sms ria dengan kawan baik saya, sebut saja namanya nurida.

“Ya ampun dun, emak kita tuh hebat banget ya, bisa nahan sakit sesakit ini.”

Woho, begitulah, saya merasakan sakit itu semakin berlipat. Semalam suntuk saya tak bisa tidur. Padahal malam-malam sebelumnya pun saya tak tidur, karena harus mengebut menyelesaikan  tugas MPK 2. Saat sakit datang, saya mencoba rebahan di sofa, sambil mendengarkan surah maryam.

Ya, inilah cita-cita saya. Saya ingin melahirkan dengan semangat bunda maryam. Saya ingin selalu ingat bahwa Allah akan menguatkan saya, seperti Allah menguatkan bunda Maryam. Dan tentu, bermula dari semangat itu jugalah saya berkeinginan untuk melahirkan dengan terus dibantu asupan kurma sebagai sumber tenaga. Selain emang karena ga demen juga sama telor ayam kampung mentah :)

 Semakin malam, semakin tak bisa tidur. Cemas sembari menahan sakit.

Kita ke bidan sekarang aja apa, han?”tanya suami yang terlihat cemas melihat kondisi saya ketika itu.

“Ah, ngga. Ntaran aja bang, nunggu sakitnya sakit banget.” Hmm, ini tentu jawaban yang sangat beralasan. Pasalnya, kemarin ibu bidan cerita bahwa ada pasiennya yang sudah masuk ke pembukaan 5, dan diminta untuk pulang lagi, masih lama katanya, kasihan. Ah, saya nggak ingin ketika saya ke bidan nanti disuruh pulang lagi. Harapan saya, saat sampai di bidan, sudah dinyatakan pembukaan 9 dan siap melahirkan. Makanya saya ingin menunggu agar benar-benar merasakan sakit.

02 Juni 2010

“Han, bangun. Sholat..”

Suamiku baru saja pulang sholat subuh dari masjid. Adapun saya masih tergeletak antara tidur dan tidak. Saat mencoba untuk bangkit tiba-tiba..

“Loh, ko ada cairan keluar yah?”

“Hah, masa sih?”

“Iya bener.” Sambil mencoba duduk. Namun yang terjadi malah..

Byuur..byuur..cairan itu keluar dengan volume yang tak sedikit. Cukup untuk membasahi baju, seprai, kasur, dan lantai kamar.

“Hah, ko makin banyak. Aduh, panggil umi..”

Kondisi hening ketika itu berubah ramai. Umi, adik, dan bibi-bibi dapur serentak mendatangi kamar. Ada rasa cemas dalam wajah mereka. Namun mereka tutupi dan mencoba untuk tegar sambil menguatkanku.

“Wah, neng, bentar lagi bakal ngelahirin. Sing kuat nya neng..”kata bi Tati

Sementara umi sibuk berdiskusi dengan abi yang saat itu hendak pergi ke luar kota. Sembari bibi dan adik menyiapkan keperluan melahirkan saya, umi datang lagi.

“Kata abi udah melahirkan di rumah sakit herm*na aja..” Keputusan ini muncul tentu karena peristiwa munculnya air itu.

Tapi mi, kami udah menghubungi bidannya. Udah bilang akan ke sana sekarang..”kata suami.

Akhirnya sepakatlah kami untuk terlebih dahulu ke bidan, baru jika tidak memungkinkan akan dibawa ke rumah sakit. Saya, suami, dan umi berangkat ke bidan ketika itu. Baju saya sudah kuyup dengan air yang hingga saat ini masih kontroversi, ada yang mengatakannya sebagai ketuban, ada juga yang mengatakannya sebagai cairan pembuka. Saya tak terlalu mengerti. Yang jelas ketika itu badan sudah lemas karena cemas si bayi akan kehabisan air dan tak bisa bernafas.

Sampai di bidan, bidan langsung memeriksa tahap pembukaan, Dan ternyata, saya baru pembukaan satu, itu pun belum lengkap. Posisi baby pun masih di atas. Haduh. Lengkap sudah. Merasa makin cemas, umi memohon bidan untuk mendampingi kami ke rumah sakit saja. Berhubung bidan Desi ini bidan yang kami kenal baik, ia pun bersedia memenuhi permintaan kami.

Umi mengubungi abi bahwa kami akan segera ke rumah sakit. Abi langsung bergerak ke rumah sakit, sembari siap-siap untuk pergi keluar kota setelahnya. Tak lupa, abi juga yang menghubungi kawan dekatnya, yang tak lain adalah dokter obgin yang membantu proses kelahiran saya. Malangnya, kami terjebak kemacetan pagi hari di daerah Gunung Batu. Aaargghh,,, lengkap sudah kecemasan saya.  Abi yang sudah sampai di rumah sakit terus-terusan menelpon menanyakan kondisi, khawatir.

Begitu datang, saya melihat abi tengah berbincang dengan sang dokter. Namun saya tak dapat berbuat banyak, karena langsung diminta menaiki kursi roda dan menuju ruang bersalin. Saat melahirkan semakin dekat. Dan saya semakin cemas. Untung saja, selain umi dan suami, ada juga tetangga baik kami, Bu Neneng yang bersedia menemani saya. Ya, berhubung umi tidak sanggup untuk menunggui proses saya secara penuh.

Di ruang persalinan, saya segera mendapatkan perawatan. Bagian yang paling penting adalah, mereka mengukur detak jantung buah hati saya. Alhamdulillah, masih dalam kondisi baik. Sejenak si cemas mulai mereda. Waktu menunjukkan pukul 06.30 pagi ketika itu. Saya tak tahu bahwa perjalanan saya masih panjang.

Sang dokter  kemudian datang, memeriksa kondisi dan menyatakan bahwa saya akan menjalani induksi dengan menggunakan balon. Ada kecemasan, teman dan kakak saya melahirkan dengan cara yang sama, dan kesan mereka hanya satu. Sakit. Ah..tadinya padahal saya berharap semua akan baik-baik saja dan lancar tanpa induksi sana sini. Namun, inilah jalan satu-satunya bagi saya untuk tetap bisa melahirkan secara normal. Dan saya memilih untuk menghadapi saja semua yang akan terjadi.

Cairan bercampur darah tak berhenti keluar. Bahkan untuk berjalan pun saya merasa kepayahan. Padahal pembukaan masih tahap awal. Lalu, dipasangilah alat induksi balon itu. Bentuknya seperti pipa karet yang akan menggembung pada mulut rahim, membantu proses pembukaan. Parahnya, kira-kira pukul 12 si balon itu pecah setelah mengalami tekanan akibat buang air besar. Padahal suster meyakinkan bahwa itu tidak akan berakibat apa-apa, nyatanya tidak begitu.

Kau bisa bayangkan, ada balon pecah  dalam perutmu. Duar! Aneh. Tak lama suster datang, membersihkan sisa-sisa balon. Kalau tidak salah saat itu sudah masuk pembukaan 3.

“Udah dibersihin, sekarang pasang lagi yang baru ya balonnya?”

Hah. Gusti…

Perasaan saya udah banyak jalan, pernah senam (p.e.r.n.ah), dan beberapa kali melakukan peregangan. Merasa sedih? Iyah! Biasalah, masih abege 20 tahun. Heheh, minim persiapan, banyak keinginan. Emak baru yang minim pengalaman dan masih sensitip pake pe :P Dan balon keduapun terpasang hingga sekitar jam 4 sore. Setelah di cek, sudah masuk pembukaan 5. Saya mulai lega. Tapi juga mulai bertanya-tanya, sudah sore, hampir malam. Ah, mungkin tak lama lagi. Etapi ternyata hingga maghrib, bocil dalem perut masih aja anteng. Seolah enggan meninggalkan tempat nyamannya dalam rahim. Emang sih nak, rahim bundamu mestilah anget karena terbungkus lemak yang tebal, hihi. Tapi atulah..kangen..

Sudah maghrib. Sejak pagi masuk ke rumah sakit, sudah berapa ibu yang melahirkan anaknya. Entah itu melalui proses caesar ataupun normal. Deperatos? Iya. Heheh. Padahal mah ga tau kapan mereka datangnya, tapi ngerasanya ya gitulah~ rumput tetangga tampak lebih hijau. Ko orang gampang bener ya lahirannya, kaya ser-seran langsung keluar begitu aja dengan sekali bersin (?). Hahah. Baiklah itu imajinasi lebay yang datang dari jiwa putus asa yang ngga boleh dibiarkan merajalela.

Akhirnya dalam sisa-sisa tenaga, langsung membayangkan perjuangan ibu-ibu di Palestina. Atulah, mereka mah ga pake dibantu dokter..di bawah ancaman bom dan peluru yang berdesingan. Ga ada kata manja. Anggap aja ini jihad qital yang sedang Allah berikan sebagai peluruh dosa. Ah yes! Semangat lagi, mulai mengendalikan nafas lagi. Mengingat teori yang selama ini dipelajari. Nafas panjang untuk pembukaan awal, nafas pendek dan cepat untuk pembukaan akhir. Okeeeyy! Berhasil? Ngga juga. Hihi. Masih berasa sakitnya. Duh, harus mulai berimajinasi lagi untuk mengalihkan perhatian dan mengendalikan rasa sakit.

Saat itu, qodarullah tengah memanas tragedi mavi marmara (bisa googling apa yang terjadi ketika itu). Sesaat sebelum proses lahiran saya memang sempatkan untuk update berita yang sedang terjadi. Ah kemudian langsung membayangkan, barangkali inilah rasanya perjuangan yang dialami oleh para mujahid mujahidah di berbagai wilayah konflik. Sakit yang teramat sakit. Namun mereka bisa kuat, mereka bisa, dan saya juga harus bisa. Sesaat kemudian, rasa sakit mulai bisa dikendalikan kembali. Iya, sebelum akhirnya mencoba induksi tahap 3.

“Oke, karena masih berjalan lambat, kita akan coba dengan jalan induksi lewat cairan infusan ya..”kata perawatnya ketika itu.

Duh, lemes. Kata orang (lagi-lagi kata orang, hehe) itu rasanya lebih sakit dari tipe induksi manapun. Meskipun belakangan saya akhirnya sadar, sakit ga sakit itu sangat relatif. Banyak juga yang tak mempan dengan diinfus. Kalau saya termasuk yang kembang kempis dengan induksi infusan. Nikmatnya polll bangetttt...dan emang cepet pisaaaan..

Sejak dipasang induksi infusan ba’da maghrib, pembukaan berlangsung lebih cepat. Dan tentu, semakin bertambah pembukaan, kenikmatan itu pun semakin bertambah. Ga salah orang bilang kalau melahirkan itu adalah puncak pengalaman spiritual bagi seorang perempuan, dimana ia akan merasakan jiwanya berada di ambang batas antara hidup dan mati. Makin nambah pembukaan, makin pengen ngeden seperti layaknya orang kebelet BAB. Etapi kata perawat dan bidannya bilang, jangan ngeden sebelum ada aba-aba ngeden. Sampe nangis ngemis-ngemis minta ngeden..

“Mau ngeden ya? Udah boleh belum?” :’(

“Sabar ya bu..belum lengkap bukaannya..”

“Aaaa maaf jadi ngedeen, ga bisa nahaan..” hahaha, dan itu beberapa kali saya ga bisa menahan diri untuk ga ngeden dulu. Spontanitas aja. Sampai akhirnya ga lama dari situ, saat di puncaknya saya bertanya-tanya tentang akhir dari perjuangan ini..para perawat dan bidan mulai sibuk mempersiapkan alat-alat medis menjelang kelahiran bayi. Betulan ga lama lagi dari sekarang.

Dokter baru datang di saat menjelang kelahiran memang, dan alhamdulillah..dokternya sangat santai dan mampu membawa suasana menjadi lebih tenang. Ia mulai membimbing saya untuk mengejan dengan baik dan benar. Di tengah proses itu, saya mengingat dengan baik bagaimana sang dokter akhirnya menggunting dengan sengaja jalan lahir untuk membantu proses kelahiran bayi saya. Bisa mengingat dengan baik karena memang terasa dengan baik pula seperti apa rasanya ketika itu, hihi.

Akhirnya, setelah proses mengejan selama 3 kali, lahirlah ke dunia seorang bayi shalih yang sangat manis. Rabu, 2 Juni 2010, pukul 21.35, dengan berat badan 3,415 dan tinggi badan 49 cm. Usai melahirkannya, tak ada lagi rasa sakit yang bisa kukenali. Seolah sakit menuju kelahiran adalan anestesi dengan dosisi tertinggi yang membuatmu kebal terhadap sakit apapun yang setelahnya kau jalani. Proses penjahitan jalan lahir pun menjadi hal yang biasa saja ketika itu, kalah dengan suka cita yang dirasa saat melihatnya hadir dalam kondisi sehat dan sempurna.

Fathan Syamil Alkautsar, nama yang kami sematkan padanya. Sang Pembuka, Sang Pemenang, yang menyeluruh (sempurna), dan berlimpah kenikmatan. Dan bayi kecil itulah yang hingga 6 tahun ini menjadi teman setia perjalanan biduk rumah tangga kami. Bayi kecil yang membuat saya berubah status menjadi seorang Ibu, penghargaan tertinggi bagi perempuan manapun di dunia. Bersamanya kami melalui masa-masa indah ngampus bersama, mengerjakan tugas akhir bersama, wisuda (yang tak sama-sama :P), menikmati menjadi kontraktor bersama, hingga di masa sekarang saat perjuangan terus berlanjut dan bertransformasi dalam bentuk yang berbeda. 

Ia adalah Fathan, putra pertama kami. Cerdas, keras, dan berkeinginan kuat. Meskipun begitu, di sisi lain Ia sangat penyayang dan protektif terhadap orang-orang yang Ia sayangi. Curahan do’a kami untukmu, nak. Moga Allah selalu menjagamu dengan sebaik-baik penjagaanNya, membimbingmu untuk selalu berada di jalanNya dalam semua kondisi, dalam ramai dan sendirimu, dan menjadikanmu sebaik-baik generasi muslim di akhir zaman. Aamiin Ya Rabbal Aalamiin.

Depok, 2 Juni 2016
Tulisan lama yang baru diselesaikan.
Peluk hangat: Bunda

pandangan pertama

menjadi ibu :)
Sebulan kemudian..

Beberapa bulan kemudian..



Hingga akhirnya kini menjadi seorang teman diskusi dan bertukar pendapat :)