Wednesday, 10 January 2018

Jejak Tesis [1] : Mengejar Sempro

Postingan perdana di tahun 2018 ya? Ya Allah entah kapanlah rasanya bisa menulis dengan disiplin ini. Mudah-mudahan di tahun ini ada perbaikan lah yaa..karena akan banyak kisah juga di tahun ini.

Seperti hari ini. Iya! hari ini aku menjadi tim hore untuk teman se-gank bimbingan ku, Tia dan Vanya. Wuhuuu...senang rasanya melihat mereka akhirnya sudah menjejakkan kaki ke langkah yang sudah lebih jauh. Tia dengan penelitiannya tentang sharenting di IG, dan Vanya tentang komodifikasi goyangan perempuan pedangdut. Seru? Banget! Bukan sekedar seru mendengarkan tema penelitian yang mereka sampaikan, tapi juga seru dengan nuansa Sempro yang kusuka. Dosen pembimbing yang oke punya, dan dosen penguji yang tenang dan substantif. Ngga ada kesan serem sama sekali. Semua berjalan layaknya sebuah diskusi yang mengalir dan interaktif di cafe-cafe, santai~

Aku dan Lail, teman seperjuanganku hanya bisa saling memandang. Sambil sama-sama menguatkan bahwa pekan depan kita harus segera mendaftar untuk Sempro. Hal itu berarti, mulai hari ini sampai Senin esok, tiada hari tanpa progress yang berarti untuk tesis ini. Harus, wajib, kudu.

Targetnya ngga jauh, Januari kelar Sempro dan mulai penelitian lapangan dan wawancara ini itu. Februari Maret fokus menyusun, April daftar sidang. Insyaa Allah pasti bisa lah ya! Banyak orang sudah melalui ini sebelumnya, dan mereka bisa melaluinya dengan baik. Bahkan sangat baik. Maka tak ada alasan untuk tidak bisa menyelesaikannya sesuai jadwal yang ditetapkan.

SEMANGAT!

Oya, anyway tentang kelanjutan blog ini, insyaa Allah akan ada progress yang lebih baik tahun ini. Sedang mendesain sedemikian rupa agar blog ini kembali produktif. Pokonya, tahun 2018 adalah tahun produktif. Produktif loh ya, bukan reproduktif, wkwk.

Suatu hari saat nge perpus bareng duo bujang..

Thursday, 21 December 2017

Skenario Terbaik

Pernah suatu kali seorang aktris merengek pada sutradara sandiwara, menuntut sebuah peran yang lebih baik dari yang diamanahi padanya. Sungguh, ia membutuhkan peran yang tak biasa! Peran yang membuat dirinya menjadi lebih hidup dan lebih berwibawa!

Sutradara berkata, semua peran hanyalah gurau belaka. Ia tak sedang melihat peran apa yang sedang kau jalani, tapi seperti apa caramu menjalani peran yang diberikan olehnya. Ya, hanya caramu yang Ia lihat.

Adapun skenario cerita, sutradara lebih tahu bukan? Karena toh, mereka yang tampil ke depan dan menerima penghargaan aktor dan aktris terbaik tidak melulu mereka yang menjalani peran utama yang rupawan lagi penuh cerita. Terkadang mereka hanyalah pemeran-pemeran yang ceritanya tak terlalu tampak dalam keseluruhan alur cerita. Pun begitu, sepenuh cinta ia jalani peran yang ia terima hingga semesta pun menghargainya.

Dengar?

Maka jika kini Dia ciptakan kita dengan peran yang berbeda-beda, dengan skenario yang berbeda, jalani saja dengan suka cita. Semua peran sama saja di hadapanNya, yang membedakan hanyalah sejauh mana kita berperan sesuai dengan keinginanNya sebagai sebaik-baik Sutradara dengan sebaik-baik Skenario yang pernah ada :)

Related image

Monday, 18 December 2017

Manusia Paling Menyedihkan

Coba tebak siapa orang yang paling menyedihkan di muka bumi ini?
Mereka yang hari-harinya kesulitan untuk memenuhi kebutuhan pangannya kah?
Atau mereka yang tercerabut kebebasannya di balik jeruji besi?
Atau siapa?
*
Beberapa hari ke belakang, aku memikirkan hal ini. Kutemukan jawabannya adalah : aku. Iya, aku jika tengah kehilangan arah tentang kemana aku hendak berlalu. Jawabannya tak lain adalah aku, jika aku tengah terdiam tak tahu di mana berada. Jawabannya adalah aku, saat aku tak bisa dengan yakin berkata tentang siapa aku dan untuk apa aku dicipta.

Hingga tiap hari hanyalah kekosongan belaka. Bergerak hanya untuk menandai bahwa aku masih ada. Mendongak sambil berpasrah diri menunggu giliran untuk kembali keharibaanNya. Tak miliki asa, tak miliki cita, tak tahu lagi tentang apa-apa.

Sungguh menyedihkan.
*
Dan aku ini bisa menjelma menjadi kamu, menjadi dia, menjadi siapa saja, saat telah kehilangan harap dan cita. Entah mengapa bisa terjebak ke dalamnya, padahal firmanNya sudah begitu jelas bagi kita. Jangan berputus asa dari rahmatNya. Jangan!

Karena sedetik itu engkau berputus asa, maka detik itu pula engkau menjelma menjadi manusia paling menyedihkan di atas dunia.


Maka, tersenyumlah. Dunia ini sungguh hanya senda gurau belaka..

Image result for berputus asa dari rahmat allah

Friday, 3 June 2016

Catatan Makmil Roker

Sore ini, untuk kesekian kalinya saya mendapatkan aksi penolakan oleh sesama perempuan yang duduk di kursi prioritas commuterline. Memang bukan yang pertama,tapi agaknya menjadi puncak dari berbagai kepedihan yang saya rasakan sebelumnya. Kepedihan yang berujung pada pertanyaan akan empati sesama perempuan terhadap perempuan lainnya. Sebagai catatan,mereka yang menolak bukanlah perempuan hamil,membawa balita,penyandang disabilitas,atau juga bukan termasuk golongan lansia-setidaknya menurut pandangan mata saya

"Maaf mba di sini lanjut usia semua,mba cari aja di tempat lain..",suatu waktu kata seorang perempuan berusia 40tahunan. Agaknya definisi lanjut usia dalam commuterline mengalami pergeseran yang cukup signifikan. 40 tahun kini termasuk lanjut usia,bagi perempuan tadi,dan beberapa perempuan yang juga melakukan penolakan yang sama sebelumnya.

Saya mengalah. Enggan berdebat tentang definisi lanjut usia yang dimaksud.

Lain waktu,

"Maaf mba saya lagi ngga enak badan, yang lain saja.." Lantas ia langsung melanjutkan kembali tidurnya.

Hingga tadi,saat sudah lama menunggu si ular besi yang tak kunjung hadir,saya lagi-lagi harus ditolak oleh perempuan muda berusia 30tahunan.

"Saya capek banget,baru pulang dari luar kota. Cari di sana saja coba.."katanya sembari menunjuk kursi prioritas di seberangnya.

Selintas pandang,kursi di seberang lebih tak memungkinkan. Tapi baiklah.

"Maaf ibu,ada yang tidak hamil,boleh saya minta kursi prioritasnya?"tanyaku seperti biasa,mencoba sehalus mungkin. Ah,salah ga sih merasa bahwa kursi itu seharusnya menjadi milik saya?

Mereka hanya saling berpandangan,menunggu siapa yang akan mengalah di antara mereka. Secara tak langsung sebetulnya mereka tengah menjawab,bahwa tidak satupun di antara mereka yang sedang mengandung. Lantas saya menunggu untuk beberapa detik berikutnya,sebelum akhirnya mereka mengarahkan saya untuk mencari kursi yang lain.

"Cari ke sana aja mba.." Lagi lagi kalimat ini yang harus saya dengar.

Usia kandungan saya 27 minggu,tidak lagi termasuk hamil muda,dan tidak bisa juga disebut tidak terlihat hamil. Berhusnudzon bahwa mereka meragukan kehamilan saya karena secara fisik belum terlihat juga agaknya berat untuk masuk di logika.

Seorang bapak kemudian ikut berempati,Ia menyarankan saya untuk meminta kepada kaum lelaki yang duduk di kursi non prioritas. Saya mulai mencari,tapi menyerah sejurus kemudian. Kereta tak lagi cukup lengang untuk bisa berjalan dan melihat adakah yang masih mau berempati di sana.

Ah saya menyerah,memilih untuk turun dari kereta yang sudah hampir 30 menit saya tunggu itu.Tapi entahlah,mungkin karena sedang lelah..rasanya ko pedih ya. Ga bisa ga nangis akhirnya (drama mode : on). Lebih ke nangisin keadaan sebetulnya,ko rasanya lebih menyakitkan saat yang menolakmu adalah sesama perempuan ya? Serius deh,ini bukan cuma tentang rebutan kursi prioritas. Ini tentang menempati sesuatu yang bukan hakmu. Kemudian ada seseorang yang sebetulnya berhak,tapi hanya karena kamu sudah terlanjur merasa nyaman,lantas membuatmu jadi tak peduli bahwa hal itu bukanlah bagian dari hakmu. Namun anehnya,kamu merasa tak ada yang salah dengan semua itu..

Dan sikap-sikap begitu,bukan tak mungkin juga terjadi di luar konteks kursi prioritas kereta,sudah terlanjur mengakar dan menganggap biasa hal yang seharusnya bukan menjadi hak kita. Ah, semoga saja hanya imajinasi saya yang terlalu berlebihan..

Last,untukmu..teman sesama perempuan. Mereka,orang-orang hamil itu,bukan orang yang lemah. Mereka bisa jadi sanggup kau minta untuk berdiri selama perjalananmu. Hanya karena mereka ingin memastikan bahwa amanah yang harus mereka jaga-bayi-bayi dalam perut mereka berada dalam kondisi yang aman,mereka rela bertaruh malu dengan meminta-minta haknya padamu dan pada yang lainnya. Maka,bukan mereka sebetulnya yang tengah membutuhkan,tapi bayi-bayi kecil dalam tubuh mereka yang sebenarnya tengah memintakan perlindungan padamu.

Adakah kamu ingin membantu melindunginya?

Jakarta, 3 Juni 2016
Di antara manusia yang saling berjejalan..

Thursday, 2 June 2016

Karena Bersabar Adalah Pilihan

Ingat apa yang kita katakan ketika seseorang ditimpa musibah? “Sabar ya..”, kurang lebih mungkin begitu. Kata sabar lekat dengan solusi atas segala masalah apapun, yang menimpa siapapun. Dan ini memang sejalan dengan firman Allah dalam Al-qur’an, surat Albaqarah ayat 45 dan 153.

“Dan mohonlah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat.”  Allah mengisyaratkan kepada kita bahwa kesabaran adalah sebaik-baik penolong atas kesulitan hidup. Begitu berharganya sabar, hingga Allah pun menempatkan kata sabar lebih dulu, baru kemudian shalat. Ini menunjukkan begitu berharganya sikap sabar di hadapan Allah.

Setidaknya ada tiga kesabaran yang patut kita terapkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Pertama, sabar terhadap ketaatan.  Kesabaran seperti ini pernah ditunjukkan oleh Nabi Ibrahim AS dan putranya Ismail AS. Betapa setiap perintah dari Allah dijalankan, meskipun itu dirasakan sangat-sangat berat. Mulai dari perintah untuk meninggalkan istri dan anaknya di padang pasir yang tandus, hingga akhirnya perintah agung untuk menyembelih putra kesayangan, Ismail AS.  Padahal Nabi Ibrahim memiliki putra setelah sekian lama menginginkannya. Namun, begitulah orang-orang pilihan Allah itu telah memberikan panutan dan teladan pada kita dengan kesabarannya dalam mentaati setiap perintah Allah. Nabi Ibrahim ikhlas, pun begitu dengan Ismail.

Kesabaran selanjutnya yang harus kita usahakan menjadi bagian dari diri kita adalah sabar menahan maksiat. Suatu hari seorang maling dihakimi oleh massa karena mencuri buah-buahan dari kebun orang. Ia tertangkap basah oleh sang pemilik kebun, yang memang sedang berada di kebunnya. Saat ditanya mengapa mencuri, Ia mengatakan bahwa Ia tidak kuat menahan betapa ranumnya buah-buah yang berada dalam kebun tersebut. Ini menunjukkan ketidaksabaran sang pencuri untuk tidak mengambil buah-buahan yang menggoda tersebut. Akibat ketidaksabaran yang sesaat, Ia harus menanggung malu juga sakit, dan harus bersabar lebih lama untuk menjalani hukuman yang ditimpakan di dunia dan di akhirat kelak. Sabar itu selalu menjadi pilihan, jika kita tidak mampu bersabar sesaat untuk sesuatu yang tampak menyenangkan-padahal sebenarnya dilarang syari’at, maka kita harus bersabar lebih lama dengan resiko yang akan kita dapatkan kemudian hari. 

Bersabarlah, karena syaithan pun amat bersabar dalam menguji kita. Berbagai jurus mutakhir syaithan lancarkan, demi menggoda kita agar mengikutinya. Dan kita tidak pernah bisa memenangkan pertarungan ini jika kita tak lebih sabar dari syaithan.

Kesabaran terakhir, sabar ketika tertimpa musibah.
“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS Albaqarah: 155)

Ini janji Allah. Setiap kita diciptakan dengan permasalahan kita masing-masing. Maka, apapun permasalahan kita hari ini, semoga Dia anugerahi  kita kesabaran untuk menghadapi musibah yang  Dia ujikan pada kita. Hingganya, kita menjadi orang-orang  yang dicintai olehNya.

“Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar..”(QS Ali-Imran : 146)

Hikmah di balik Misteri

“Hal yang misterius selalu berharga, karena ketidaktahuan kita akan hal itu, maka semua hal harus kita pertaruhkan untuk meraih kepastian terbaik”

Dulu, sebelum menikah, saya membenci hal-hal misterius. Pasalnya sangat sederhana, hal-hal misterius seperti menyuruh saya menunggu tentang kepastian dibaliknya. Dan itu melelahkan. Hingga akhirnya setelah menikah, saya semakin banyak belajar, bahwa dibalik hal yang misterius itu selalu ada hikmah yang Ia selipkan. Mengapa tonggaknya pernikahan? Karena jodoh pun adalah bagian dari misteri, bukan? Dulu pernikahan adalah hal yang sangat misterius bagi saya. Dengan siapa saya akan menikah, seperti apa pernikahan saya, semua sangat misterius. Ada kekuatan di luar kekuatan kita yang bergerak mengatur itu..

Lagi, mengapa tonggaknya pernikahan? Karena setelah menikah pula lah saya kehilangan sosok lelaki yang sangat berpengaruh dalam perjalanan hidup saya, dia yang tak terganti, papap. Seperti halnya jodoh, saya faham bahwa maut pun adalah misteri milikNya. Tak pernah terbayangkan pedih dan sakit karena ditinggal seorang ayah, terlebih karena saya pun memiliki kedekatan khusus dengannya. Dia yang selalu bertanya seberapa banyak saya sudah menulis, dia yang selalu bertanya perkembangan saya dan keluarga kecil saya, dia yang diamnya selalu meneduhkan hati siapa saja yang melihatnya.

Ah, kita memang tak pernah tahu seperti apa akhir hidup kita dan kehidupan setelahnya, benar-benar tak terbayangkan. Kadang saya benar-benar super penasaran, ingin tahu seperti apa rasanya mati? seperti apa saya akan mati? Dan seperti apa kehidupan saya setelah mati? Saya, anda, kita semua tak pernah tahu akan hal tersebut. Hanya tahu bahwa itu kepastian, akan terjadi, tanpa tahu detil-detilnya. Dan karena kita tidak pernah tahu siapa akan meninggalkan siapa, maka setiap perjalanan hidup kita menjadi sangat berharga, orang-orang yang berada di sekeliling kita pun menjadi sangat berharga. Siapa bisa menjamin kita bisa bersama suami kita hingga tua? Siapa bisa menjamin kita masih berkesempatan melihat anak-anak kita tumbuh besar? Bahkan siapa yang bisa menjamin bahwa esok masih menjadi jatah hidup kita? Tidak ada yang bisa menjamin. Tidak saya, tidak juga Anda.

Maka sekali lagi, renungan saya sampai pada, hal-hal misterius itu selalu berharga. Karena kita diberikan peluang untuk menciptakan kepastian dibalik hal misterius tersebut. Jodoh, seberapapun misteriusnya, Allah menyuruh kita membaikkan diri hingga kita pantas mendapatkan yang juga baik. Itulah bagian dari usaha kita. Kematian, seberapapun misteriusnya, Allah menyuruh kita membiasakan diri melakukan hal-hal kebaikan, karena kematian seseorang tak akan jauh dari bagaimana caranya hidup. Rezeki, seberapapun misteriusnya, Allah menyuruh kita berusaha meraihnya sekuat tenaga kita, hingga sampailah rezeki itu di tangan kita. Sesuatu diciptakan Allah secara misterius untuk melihat, siapa yang lebih baik usahanya, siapa yang hanya seadanya dan sebisanya saja. Andailah masing-masing kita mengetahui kapan akan mati, mungkin akan lain ceritanya. Kita, atau saya, mungkin akan berpikir, oh..masih lama ini matinya. Nanti kan bisa dikebut menjelang kematian (logika yang sama saat menghadapi deadline tugas kuliah, atau saat menghadapi uas). Kemungkinan lain  yang bisa saja terjadi saat kita mengetahui kapan akhir hidup kita, mungkin kita malah tak bisa mengerjakan apa-apa, saking takutnya menghadapi waktu kematian.

Karenanya, Allah jadikan ia tetap sebagai suatu misteri. Seperti juga Allah menyimpan rezeki kita sebagai misteri. Tak bisa terbayangkan apa jadinya kalau seseorang sudah diberi tahu bahwa dia diciptakan menjadi si miskin, pastilah untuk berusaha saja rasanya sangat malas. Karena kita tidak pernah tahu seperti apa rezeki kita, maka kita pun mengusahakan yang terbaik untuknya. Bagaimana juga jika kita sudah mengetahui dari awal siapa yang akan jadi pasangan kita? Mungkin kita tidak bisa menjaga diri karena merasa pede bahwa pada akhirnya dia juga akan menjadi pasangan kita. *idih. Atau mungkin juga malah jadi hopeless, karena pengennya sama yang lain. Hehe. See, sangat menyenangkan mengetahui bahwa semua itu adalah misteri yang masih bisa diusahakan.

Sama halnya dengan masa depan, masa lalu pun bagi saya masih banyak meninggalkan misteri yang memancing rasa penasaran yang sangat berbekas. Kadang wujudnya bisa menjadi hal yang bermanfaat, seperti dari siapa saya berasal, siapa kakek-kakek-kakeknya kakek saya, apakah saya ini memiliki hubungan kekerabatan dengan tokoh-tokoh terkenal dalam sejarah *hehe :D (dalam silsilah keluarga dari mamah, saya katanya keturunan sekian dari salah satu sunan di walisongo. Lupa sunan siapa :P) Mengetahui tersebut adalah hal yang menyenangkan, selain karena bisa menguak misteri (meski entah benar atau tidak), pengetahuan tentang masa lalu juga bisa menjadi cermin pembelajaran untuk kita di masa sekarang. Namun, tak semua dari masa lalu saya ingin kuak kebenarannya, sebagian saya biarkan ia tetap menjadi misteri. Terkadang terlalu banyak tahu akan sesuatu membuat kita menjadi tidak nyaman, dan seperti itulah jadinya. Ah, lagipula masa lalu telah berlalu..

Simpulan saya akhirnya begini,  misteri itu bukan sesuatu yang harus kita tunggu seperti apa kepastiannya, karena itu melelahkan. Misteri adalah sesuatu yang seharusnya menggerakkan kita untuk berusaha membuat peluang-peluang tentang bagaimana kepastian misteri itu pada akhirnya.


Cimahi, 24 April 2012

Karena Iman Tak Diwariskan

“Apakah kamu menjadi saksi saat maut akan menjemput Ya’kub, ketika dia berkata kepada anak-anaknya, “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab, “Kami akan menyembah Tuhan nenek moyangmu, yaitu Ibrahim, Ismail, dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa, dan kami (hanya) berserah diri kepadaNya.” (QS Albaqarah : 133)

Malam ke 26 ramadhan, pukul 02.30 dini hari. Tubuh mungilnya menggeliat, perlahan matanya terbuka. Begitu menyadari  bundanya tengah terjaga, matanya semakin membulat.

“Assalamualaikum, bangun sayang? Mau ikut bunda makan?”

Memang ada sepiring nasi dengan lauk empat potong nugget di atasnya. Sengaja kutawari karena tadi malam sebelum tidur dia memang belum sempat makan. Tanpa memberi komentar apapun, dia lantas memakan suapan yang sudah saya sodorkan sebelumnya.

“Da..bunda..” panggilnya lepas habis suapan itu dari mulut kecilnya.

“Apa,nak?”

“Gajah juga coyat..hayimau juga coyat..buyung juga coyat..” (Gajah juga shalat, harimau juga shalat, burung juga shalat)

“Betul nak, hewan-hewan itu ciptaan Allah. Semua menyembah Allah..”

“Oo..gitu..” Lantas dia memasukkan suapan lainnya, tak menghiraukan ada rasa heran yang menggelayuti bundanya. Entah kenapa dia tiba-tiba terpikir hal itu, mungkin karena dia melihat setelan bundanya masih lengkap bermukena lalu terpikir tentang hal tersebut.

Lain waktu, ketika diberikan sepiring makanan, dia langsung menyambutnya dengan kata 

“Waaahh…” , diambilnyalah kemudian piring itu, dia  duduk, dan lantas mengucapkan 

“Alhamdulillah…Ayo makaann..”

Ada haru di sana, ya, ada haru yang tak bisa diungkapkan dengan berbait kata. Selalu ada getar tersendiri saat mengajarkan dan mengenalkan si kecil tentang Allah. Membuat dia kenal dan merasa dekat dengan asma-asmaNya. Dan ketika lafal Allah itu terucap dari mulut kecilnya, ada embun yang titisnya terasa sejuk di hati. Ah iya, ini yang kuinginkan, ini yang kuimpikan..

Menjadi madrasah pertama bagi anak-anak : mengajari mereka konsep ketuhanan, mengajari mereka membaca tulis huruf al-qur’an, menuntun mereka mengeja huruf latin, mengajarkan kosakata baru, menjadi pengawas sekaligus teman terbaik bagi mereka, mendengar mereka, menghargai setiap pendapat mereka, menjadi ibu  terbaik bagi mereka di dunia, dan di akhirat.

Maka cukuplah saya dengan hal tersebut. Anak, seyogianya tak cukup menjadi sekedar anak biologis saja. Jika menjadi seorang ibu hanya tentang memberi makan dan membesarkan anak saja, maka hewan pun melakukan hal tersebut. Ini tentang menjadikan mereka anak-anak ideologis kita. Mentransferkan ideology-ideologi kebaikan yang pernah kita dapatkan sebelumnya melalui orang tua kita, guru kita, kerabat kita, lingkungan sekitar kita.

Dogmatiskah? Memaksakan kehendakkah?

Kalau memang saya memahami bahwa hal tersebut merupakan kebaikan, maka justru merupakan kesalahan apabila saya tak menyampaikannya pada yang lain, terutama pada darah daging saya sendiri. Soal dogmatis, pemaksaan kehendak, itu tak lebih dari hanya soal cara. Cara baik insya Allah akan diterima dengan baik juga.

Iman tak dapat diwarisi dari seorang ayah yang bertakwa..-Raihan

Iya, iman memang tak dapat diwarisi.  Oleh karenanya menjadi bagian dari kewajiban kita mengenalkan nilai-nilai keimanan itu agar dekat dengan keseharian hidup mereka, sedini mungkin, hingga mereka terbiasa dengan nilai-nilai keimanan tersebut. Jika sudah terbiasa dan merasa nyaman, maka tinggal mendo’akan agar nilai-nilai itu tetap Allah jaga kemurniannya di hati mereka, Allah jaga tumbuh kembangnya seiring pertumbuhan mereka, dan Allah pelihara mereka hingga mereka menjadi prajurit-prajurit Allah yang menegakkan kalimatNya di muka bumi.

Dan, lengkaplah kebahagiaan di hati saya, sebagai Bunda..

my kids my teacher