Friday, 3 June 2016

Catatan Makmil Roker

Sore ini, untuk kesekian kalinya saya mendapatkan aksi penolakan oleh sesama perempuan yang duduk di kursi prioritas commuterline. Memang bukan yang pertama,tapi agaknya menjadi puncak dari berbagai kepedihan yang saya rasakan sebelumnya. Kepedihan yang berujung pada pertanyaan akan empati sesama perempuan terhadap perempuan lainnya. Sebagai catatan,mereka yang menolak bukanlah perempuan hamil,membawa balita,penyandang disabilitas,atau juga bukan termasuk golongan lansia-setidaknya menurut pandangan mata saya

"Maaf mba di sini lanjut usia semua,mba cari aja di tempat lain..",suatu waktu kata seorang perempuan berusia 40tahunan. Agaknya definisi lanjut usia dalam commuterline mengalami pergeseran yang cukup signifikan. 40 tahun kini termasuk lanjut usia,bagi perempuan tadi,dan beberapa perempuan yang juga melakukan penolakan yang sama sebelumnya.

Saya mengalah. Enggan berdebat tentang definisi lanjut usia yang dimaksud.

Lain waktu,

"Maaf mba saya lagi ngga enak badan, yang lain saja.." Lantas ia langsung melanjutkan kembali tidurnya.

Hingga tadi,saat sudah lama menunggu si ular besi yang tak kunjung hadir,saya lagi-lagi harus ditolak oleh perempuan muda berusia 30tahunan.

"Saya capek banget,baru pulang dari luar kota. Cari di sana saja coba.."katanya sembari menunjuk kursi prioritas di seberangnya.

Selintas pandang,kursi di seberang lebih tak memungkinkan. Tapi baiklah.

"Maaf ibu,ada yang tidak hamil,boleh saya minta kursi prioritasnya?"tanyaku seperti biasa,mencoba sehalus mungkin. Ah,salah ga sih merasa bahwa kursi itu seharusnya menjadi milik saya?

Mereka hanya saling berpandangan,menunggu siapa yang akan mengalah di antara mereka. Secara tak langsung sebetulnya mereka tengah menjawab,bahwa tidak satupun di antara mereka yang sedang mengandung. Lantas saya menunggu untuk beberapa detik berikutnya,sebelum akhirnya mereka mengarahkan saya untuk mencari kursi yang lain.

"Cari ke sana aja mba.." Lagi lagi kalimat ini yang harus saya dengar.

Usia kandungan saya 27 minggu,tidak lagi termasuk hamil muda,dan tidak bisa juga disebut tidak terlihat hamil. Berhusnudzon bahwa mereka meragukan kehamilan saya karena secara fisik belum terlihat juga agaknya berat untuk masuk di logika.

Seorang bapak kemudian ikut berempati,Ia menyarankan saya untuk meminta kepada kaum lelaki yang duduk di kursi non prioritas. Saya mulai mencari,tapi menyerah sejurus kemudian. Kereta tak lagi cukup lengang untuk bisa berjalan dan melihat adakah yang masih mau berempati di sana.

Ah saya menyerah,memilih untuk turun dari kereta yang sudah hampir 30 menit saya tunggu itu.Tapi entahlah,mungkin karena sedang lelah..rasanya ko pedih ya. Ga bisa ga nangis akhirnya (drama mode : on). Lebih ke nangisin keadaan sebetulnya,ko rasanya lebih menyakitkan saat yang menolakmu adalah sesama perempuan ya? Serius deh,ini bukan cuma tentang rebutan kursi prioritas. Ini tentang menempati sesuatu yang bukan hakmu. Kemudian ada seseorang yang sebetulnya berhak,tapi hanya karena kamu sudah terlanjur merasa nyaman,lantas membuatmu jadi tak peduli bahwa hal itu bukanlah bagian dari hakmu. Namun anehnya,kamu merasa tak ada yang salah dengan semua itu..

Dan sikap-sikap begitu,bukan tak mungkin juga terjadi di luar konteks kursi prioritas kereta,sudah terlanjur mengakar dan menganggap biasa hal yang seharusnya bukan menjadi hak kita. Ah, semoga saja hanya imajinasi saya yang terlalu berlebihan..

Last,untukmu..teman sesama perempuan. Mereka,orang-orang hamil itu,bukan orang yang lemah. Mereka bisa jadi sanggup kau minta untuk berdiri selama perjalananmu. Hanya karena mereka ingin memastikan bahwa amanah yang harus mereka jaga-bayi-bayi dalam perut mereka berada dalam kondisi yang aman,mereka rela bertaruh malu dengan meminta-minta haknya padamu dan pada yang lainnya. Maka,bukan mereka sebetulnya yang tengah membutuhkan,tapi bayi-bayi kecil dalam tubuh mereka yang sebenarnya tengah memintakan perlindungan padamu.

Adakah kamu ingin membantu melindunginya?

Jakarta, 3 Juni 2016
Di antara manusia yang saling berjejalan..

Thursday, 2 June 2016

Karena Bersabar Adalah Pilihan

Ingat apa yang kita katakan ketika seseorang ditimpa musibah? “Sabar ya..”, kurang lebih mungkin begitu. Kata sabar lekat dengan solusi atas segala masalah apapun, yang menimpa siapapun. Dan ini memang sejalan dengan firman Allah dalam Al-qur’an, surat Albaqarah ayat 45 dan 153.

“Dan mohonlah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat.”  Allah mengisyaratkan kepada kita bahwa kesabaran adalah sebaik-baik penolong atas kesulitan hidup. Begitu berharganya sabar, hingga Allah pun menempatkan kata sabar lebih dulu, baru kemudian shalat. Ini menunjukkan begitu berharganya sikap sabar di hadapan Allah.

Setidaknya ada tiga kesabaran yang patut kita terapkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Pertama, sabar terhadap ketaatan.  Kesabaran seperti ini pernah ditunjukkan oleh Nabi Ibrahim AS dan putranya Ismail AS. Betapa setiap perintah dari Allah dijalankan, meskipun itu dirasakan sangat-sangat berat. Mulai dari perintah untuk meninggalkan istri dan anaknya di padang pasir yang tandus, hingga akhirnya perintah agung untuk menyembelih putra kesayangan, Ismail AS.  Padahal Nabi Ibrahim memiliki putra setelah sekian lama menginginkannya. Namun, begitulah orang-orang pilihan Allah itu telah memberikan panutan dan teladan pada kita dengan kesabarannya dalam mentaati setiap perintah Allah. Nabi Ibrahim ikhlas, pun begitu dengan Ismail.

Kesabaran selanjutnya yang harus kita usahakan menjadi bagian dari diri kita adalah sabar menahan maksiat. Suatu hari seorang maling dihakimi oleh massa karena mencuri buah-buahan dari kebun orang. Ia tertangkap basah oleh sang pemilik kebun, yang memang sedang berada di kebunnya. Saat ditanya mengapa mencuri, Ia mengatakan bahwa Ia tidak kuat menahan betapa ranumnya buah-buah yang berada dalam kebun tersebut. Ini menunjukkan ketidaksabaran sang pencuri untuk tidak mengambil buah-buahan yang menggoda tersebut. Akibat ketidaksabaran yang sesaat, Ia harus menanggung malu juga sakit, dan harus bersabar lebih lama untuk menjalani hukuman yang ditimpakan di dunia dan di akhirat kelak. Sabar itu selalu menjadi pilihan, jika kita tidak mampu bersabar sesaat untuk sesuatu yang tampak menyenangkan-padahal sebenarnya dilarang syari’at, maka kita harus bersabar lebih lama dengan resiko yang akan kita dapatkan kemudian hari. 

Bersabarlah, karena syaithan pun amat bersabar dalam menguji kita. Berbagai jurus mutakhir syaithan lancarkan, demi menggoda kita agar mengikutinya. Dan kita tidak pernah bisa memenangkan pertarungan ini jika kita tak lebih sabar dari syaithan.

Kesabaran terakhir, sabar ketika tertimpa musibah.
“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS Albaqarah: 155)

Ini janji Allah. Setiap kita diciptakan dengan permasalahan kita masing-masing. Maka, apapun permasalahan kita hari ini, semoga Dia anugerahi  kita kesabaran untuk menghadapi musibah yang  Dia ujikan pada kita. Hingganya, kita menjadi orang-orang  yang dicintai olehNya.

“Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar..”(QS Ali-Imran : 146)

Hikmah di balik Misteri

“Hal yang misterius selalu berharga, karena ketidaktahuan kita akan hal itu, maka semua hal harus kita pertaruhkan untuk meraih kepastian terbaik”

Dulu, sebelum menikah, saya membenci hal-hal misterius. Pasalnya sangat sederhana, hal-hal misterius seperti menyuruh saya menunggu tentang kepastian dibaliknya. Dan itu melelahkan. Hingga akhirnya setelah menikah, saya semakin banyak belajar, bahwa dibalik hal yang misterius itu selalu ada hikmah yang Ia selipkan. Mengapa tonggaknya pernikahan? Karena jodoh pun adalah bagian dari misteri, bukan? Dulu pernikahan adalah hal yang sangat misterius bagi saya. Dengan siapa saya akan menikah, seperti apa pernikahan saya, semua sangat misterius. Ada kekuatan di luar kekuatan kita yang bergerak mengatur itu..

Lagi, mengapa tonggaknya pernikahan? Karena setelah menikah pula lah saya kehilangan sosok lelaki yang sangat berpengaruh dalam perjalanan hidup saya, dia yang tak terganti, papap. Seperti halnya jodoh, saya faham bahwa maut pun adalah misteri milikNya. Tak pernah terbayangkan pedih dan sakit karena ditinggal seorang ayah, terlebih karena saya pun memiliki kedekatan khusus dengannya. Dia yang selalu bertanya seberapa banyak saya sudah menulis, dia yang selalu bertanya perkembangan saya dan keluarga kecil saya, dia yang diamnya selalu meneduhkan hati siapa saja yang melihatnya.

Ah, kita memang tak pernah tahu seperti apa akhir hidup kita dan kehidupan setelahnya, benar-benar tak terbayangkan. Kadang saya benar-benar super penasaran, ingin tahu seperti apa rasanya mati? seperti apa saya akan mati? Dan seperti apa kehidupan saya setelah mati? Saya, anda, kita semua tak pernah tahu akan hal tersebut. Hanya tahu bahwa itu kepastian, akan terjadi, tanpa tahu detil-detilnya. Dan karena kita tidak pernah tahu siapa akan meninggalkan siapa, maka setiap perjalanan hidup kita menjadi sangat berharga, orang-orang yang berada di sekeliling kita pun menjadi sangat berharga. Siapa bisa menjamin kita bisa bersama suami kita hingga tua? Siapa bisa menjamin kita masih berkesempatan melihat anak-anak kita tumbuh besar? Bahkan siapa yang bisa menjamin bahwa esok masih menjadi jatah hidup kita? Tidak ada yang bisa menjamin. Tidak saya, tidak juga Anda.

Maka sekali lagi, renungan saya sampai pada, hal-hal misterius itu selalu berharga. Karena kita diberikan peluang untuk menciptakan kepastian dibalik hal misterius tersebut. Jodoh, seberapapun misteriusnya, Allah menyuruh kita membaikkan diri hingga kita pantas mendapatkan yang juga baik. Itulah bagian dari usaha kita. Kematian, seberapapun misteriusnya, Allah menyuruh kita membiasakan diri melakukan hal-hal kebaikan, karena kematian seseorang tak akan jauh dari bagaimana caranya hidup. Rezeki, seberapapun misteriusnya, Allah menyuruh kita berusaha meraihnya sekuat tenaga kita, hingga sampailah rezeki itu di tangan kita. Sesuatu diciptakan Allah secara misterius untuk melihat, siapa yang lebih baik usahanya, siapa yang hanya seadanya dan sebisanya saja. Andailah masing-masing kita mengetahui kapan akan mati, mungkin akan lain ceritanya. Kita, atau saya, mungkin akan berpikir, oh..masih lama ini matinya. Nanti kan bisa dikebut menjelang kematian (logika yang sama saat menghadapi deadline tugas kuliah, atau saat menghadapi uas). Kemungkinan lain  yang bisa saja terjadi saat kita mengetahui kapan akhir hidup kita, mungkin kita malah tak bisa mengerjakan apa-apa, saking takutnya menghadapi waktu kematian.

Karenanya, Allah jadikan ia tetap sebagai suatu misteri. Seperti juga Allah menyimpan rezeki kita sebagai misteri. Tak bisa terbayangkan apa jadinya kalau seseorang sudah diberi tahu bahwa dia diciptakan menjadi si miskin, pastilah untuk berusaha saja rasanya sangat malas. Karena kita tidak pernah tahu seperti apa rezeki kita, maka kita pun mengusahakan yang terbaik untuknya. Bagaimana juga jika kita sudah mengetahui dari awal siapa yang akan jadi pasangan kita? Mungkin kita tidak bisa menjaga diri karena merasa pede bahwa pada akhirnya dia juga akan menjadi pasangan kita. *idih. Atau mungkin juga malah jadi hopeless, karena pengennya sama yang lain. Hehe. See, sangat menyenangkan mengetahui bahwa semua itu adalah misteri yang masih bisa diusahakan.

Sama halnya dengan masa depan, masa lalu pun bagi saya masih banyak meninggalkan misteri yang memancing rasa penasaran yang sangat berbekas. Kadang wujudnya bisa menjadi hal yang bermanfaat, seperti dari siapa saya berasal, siapa kakek-kakek-kakeknya kakek saya, apakah saya ini memiliki hubungan kekerabatan dengan tokoh-tokoh terkenal dalam sejarah *hehe :D (dalam silsilah keluarga dari mamah, saya katanya keturunan sekian dari salah satu sunan di walisongo. Lupa sunan siapa :P) Mengetahui tersebut adalah hal yang menyenangkan, selain karena bisa menguak misteri (meski entah benar atau tidak), pengetahuan tentang masa lalu juga bisa menjadi cermin pembelajaran untuk kita di masa sekarang. Namun, tak semua dari masa lalu saya ingin kuak kebenarannya, sebagian saya biarkan ia tetap menjadi misteri. Terkadang terlalu banyak tahu akan sesuatu membuat kita menjadi tidak nyaman, dan seperti itulah jadinya. Ah, lagipula masa lalu telah berlalu..

Simpulan saya akhirnya begini,  misteri itu bukan sesuatu yang harus kita tunggu seperti apa kepastiannya, karena itu melelahkan. Misteri adalah sesuatu yang seharusnya menggerakkan kita untuk berusaha membuat peluang-peluang tentang bagaimana kepastian misteri itu pada akhirnya.


Cimahi, 24 April 2012