Monday, 9 July 2018

Untukmu Diri

Padamu diri kubertanya
Siapa engkau
Apa yang kau cari
Hendak kemana kau pergi

Ada banyak jalan terbentang di depanmu
Dan banyak dari jalan itu membuatmu silau karena gemerlapnya yang menggodamu
Banyak dari jalan itu yang lantas membuatmu kufur dengan segala nikmat yang ada padamu kini
Banyak dari jalan itu yang hanya semakin membuatmu membenci diri sendiri seraya merutuk tak bertepi

Namun di antara jalan itu
Lihatlah
Masih ada satu dua jalan terjal lagi sulit dilalui
Jalan yang tak biasa
Jalan yang tak ramai orang melaluinya
Namu  jalan itulah yang sebenarnya kau cari di antara hingar bingar potret duniawi yang silih berganti

Berhentilah sejenak
Tanyakan pada dirimu apa yang benar benar kau cari
Hal apa yang berhak membuatmu bahagia
Hal apa yang tidak

Hingganya dengan itu kau akan merasa ringan
Dan dapat melihat segalanya dalam nuansa yang lebih baik

10072018

Sunday, 20 May 2018

Tangis Seorang Saudari


Terisak-isak, perempuan itu mendatangiku. Bahunya sesenggukan diiringi tangis yang pilu.

“Kami berantem lagi,”ujarnya.

Aku tersenyum. Percakapan yang sangat jamak kudengar darinya.

“Kenapa? Aku bisa bantu apa?”

“Dia mengatakan..aku bukan istri yang romantis. Dia ingin sesosok istri yang romantis. Yang memanggilnya dengan kata sayang, memilihkannya baju dan memasangkannya dasi..”

“Lalu..kau merasa tidak sanggup?”

“Tidak..sebenarnya aku sanggup-sanggup saja..”

Hening. Aku masih menunggu dia melanjutkan maksudnya. Kalau tidak sanggup lalu kenapa? 
Benakku diliputi banyak pertanyaan.

“Akan tetapi..” dia melanjutkan. “Tak mudah bagiku untuk menyiapkan diri menjadi orang yang selalu bisa romantis dalam segala suasana. Maksudku, Ia bahkan masih belum bisa menjaga moodnya dengan baik. Ia bisa meledak-ledak karena hal kecil yang bahkan tidak pernah kusangka sebelumnya. Lalu dia memintaku untuk romantis. Aku betul-betul ga paham..ga tau bagaimana menata diri menjadi orang romantis di tengah badai yang berkecamuk. Naluriku saat badai itu tiba-tiba hadir hanyalah menjauh menunggu amarah itu mereda..karena aku tak pernah tau perbuatanku yang mana lagi yang bisa membangkitkan amarahnya.”

Kutatap lekat muka itu. Muka milik sosok yang kukenal sebagai orang yang ceria, sekaligus rapuh. Sosok yang kuat, namun juga sangat sensitive.

“Kau tahu..”kataku.

“Bagaimana perasaan Rasul saat pengemis buta terus mencacinya ketika Rasul terus saja menyuapi dan mendengarkan ocehannya? Kau tahu, bagaimana perasaan Rasul saat dengan kasih sayangnya Ia ingin mengajak warga Thaif untuk mengenal Allah, tapi justru lontaran batu dan hujaman caci maki yang harus beliau terima?”

Dia mulai berhenti dari isak tangisnya.

“Tak selalu rasa sayang kita diterima dan difahami oleh orang lain, dan tak selamanya mereka bisa membalasnya dengan kebaikan.”

Hening sejenak.

“Kini aku yang ingin bertanya padamu. Tidakkah kau menyayangimu pasanganmu?”

“Saat ini rasanya tidak.”

Aku terkekeh dengan jawabannya.

“Tapi kau sebetulnya masih berharap Ia bisa memperlakukanmu dengan lebih baik bukan?”

“Iya”

“Kalau begitu kau memang menyayanginya.”

“…”

“Kini tugasmu hanyalah, menata hati. Allah masih berikan itu untukmu karena bisa jadi kau belum lulus dalam ujian tersebut. Bagaimana menata hati yang tengah perih, bagaimana membangun jiwa saat kondisi di luar sana terasa pedih, sebaik dan sesegera mungkin.”

“Lalu semua menjadi tugasku lagi?”

“Hanya jika kau memang masih beriman pada Allah. Bukankah tugasmu hanya terus berusaha? Setelahnya biar Allah yang tentukan.”

“Andai Allah ganti hatinya dengan hati baru yang lembut dan penuh kasih sayang. Pastilah tak sulit membuat diriku menjadi manusia yang paling romantis di dunia.”

Lagi-lagi aku dibuat terkekeh dengan jawaban manusia ajaib di depanku.

“Mengapa hanya andai? Berdoalah dengan kesungguhan. Mintakan selalu padaNya. Allah yang memilihkan ia untukmu, maka kembalikan lagi pada Allah saat dalam perjalananmu ada hal yang kau rasa tak bisa lagi tertangani..”

Tangis sudah mulai mereda.

“Bagaimana aku harus mengatakannya pada Allah?”

“Beristighfarlah. Beristighfarlah saat hajatmu terlalu banyak hingga engkau bingung bagaimana mengutarakannya pada Allah. Beristighfarlah dan biarkan logika Allah yang kemudian mengatur hidupmu..”ujarku.

Sejak itu kulihat Ia menarik nafas yang amat panjang. Memejamkan matanya mencari gelap yang mendamaikan. Sedang bibirnya mulai komat-kamit melafalkan istighfar. Lalu kubisikkan padanya:

“Setelah ini keluarlah, dan perhatikan betapa banyak orang yang miliki hidup yang lebih sedih dari kisahmu. Akan tetapi mereka kuat menjalaninya. Belajarlah dari mereka,”ujarku sembari meninggalkannya dalam kesendirian yang tengah Ia nikmati.

Depok, 21 Mei 2018
"Semoga Allah selalu menuntunmu dalam kebaikan, saudariku.."

Monday, 23 April 2018

FathanBijak's Story: Belajar Bobo Sendiri

Bismillah

Tengah malam begini random zekali ya mak. Hahaha. Gegara lagi punya proyek besar di rumah.

Eta..proyek lama yang mangkrak ga kelar-kelar. Ngajarin duo bujang tidur di kamar mereka sendiri. Susahnya minta ampun ternyata ya -.-'
Sebenernya udah mulai pas kapan tau,tapi ga serius,dan ga konsisten. Dimulai dari permintaan mereka yang menjebak, boleh tidur sendiri, tapi temenin dulu sampe mereka bobo. Lah, mereka bobo kita juga bobolaah. Piye jal. Jadilah menyerah di tengah.

Akhirnya mamak lebih sering mengalah, membiarkan mereka tidur sama ayahnya, dan mamak tidur sama bayi kecil. Kalo ayahnya ga ada, kamipun tidur rame-rame. Mereka bed atas, mamak dan bayi bed bawah, kudu banget double bed, karena kalo tidur di single bed kelamaan berantemnya pemirsa. Semua pengen deket mamak, pusiang.

Dan ya polanya selalu begitu, dipisahkan berdasarkan perempuan dan laki-laki. Walhasil saya dan orang sebelah harus terpisah selalu tidurnya, karena jelas dia laki tulen, dan mamak juga perempuan tulen. Anak-anak ga mau peduli kalo kami udah mengantongi surat nikah yang sah. Laki sama laki, perempuan sama perempuan, peraturan tak tertulisnya tetep begitu. Hadeuh..

Sampe akhirnya kemarin ngerasa sendiri, ko kayaknya belakangan hubungan sama orang sebelah lagi kurang nyambung. Lalu qodarullah baca tulisan pak cah, tentang membiasakan pergi tidur bersama pasangan di waktu yang sama. Plus juga pegangan tangan untuk meningkatkan bonding antara suami dan istri. Wow.

Agak ngerasa amazing sendiri. Selama ini ko ya pikirannya kenapa selalu membangun bonding sama anak. Ngerasa kalo sesama orang dewasa mah insyaa Allah bisa saling memahami. Tapi ternyata ga gitu yaa..hampun deh. Menjalin bonding dengan hal-hal kecil gitu juga akan sangat berpengaruh ke keharmonisan kehidupan berumahtangga, yang jelas bakal berefek positif ke iklim pengasuhan anak. Jiaaahh..emak kemana aje.

Akhirnya terjadilah percakapan singkat antara mamak dan bujang sebelum tidur.

"Jadi mulai kapan mau belajar tidur sendiri?"
"Nantilah usia 10 tahun"

Ini fathan, si sulung yang agak takutan.

"A, aa berani kah tidurnya berdua dang fathan aja? Nanti bunda siapkan hadiah istimewa kalo aa berani dan bisa tidur sendiri 30 hari. Aa boleh pilih hadianya mau apa. Mau?"
"Mauuu..aku berani ko tidur sendiri. Ga apa dang fathan tidur sama bunda sama ayah sama bebeb juga!"

Ini bijak, anak tengah yang selalu selow.

Singkat cerita, mamak dan bujang deal. Fathan gengsi juga ngeliat adeknya semangat dan berani gitu. Hahahaha. Untuk malem ini, seenggaknya sampai menjelang tengah malem, mereka bisa tidur mandiri. Jadi simpulannya malem ini misi berhasil. Alhamdulillah.

Moga konsisten sampe 29 hari ke depan ya, dan bisa sukses sampe seterusnya juga. Aamiin ya Allah.

Depok 23 menjelang 24 April 2018
Mamak yang lagi seneng tidur lagi di samping suamiknya😚

Tuesday, 17 April 2018

Jejak Tesis [7] : Untukmu, Sang Hitam Manis

Bismillah

Planning sudah berkali-kali diubah. Pun begitu ada satu hal yang wajib disyukuri: kecenderungan untuk terus bergerak meski hanya runtutan dari tapak demi tapak kecil. Aah..sangat bersyukur dengan anugerah ini. Setidaknya ada progress yang dilakukan setiap hari. Jika tak menulis, maka sedang membaca. Jika tak menulis atau membaca, maka sedang merenung.

Harus selalu ada interaksi setiap harinya. Harus, jika tak ingin terlupa. Toh sudah berinteraksi secara rutin setiap hari pun target masih saja mundur, apalagi jika tak rutin. Tak bisa membayangkan bagaimana jadinya.

Satu pelajaran penting dalam fase ini: selalu temukan tempat dan cara baru dalam mengerjakan penelitian. Karena sungguh sayang jika fase ini berlalu dengan cerita mengenai stres dan penderitaan yang tiada tara. Akan jauh lebih menyenangkan saat setiap fasenya dinikmati dan dirayakan dengan cara-cara sederhana namun amat membahagiakan. Seperti mengerjakan ditemani bergelas-gelas kopi misalnya -.-'

Baiklah, ada kebiasaan ga baik di balik rutinitas baik ini. Tapi percayalah, aku berjanji ini tak selamanya. Tidak sampai aku tuntaskan penelitian yang telah kumulai ini.

Maka tulisan ini dipersembahkan untukmu, kopi. Terima kasih sudah menemani sejauh ini :")

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang sudah menciptakan kopi, sahabat baik para pejuang kampus di akhir masa bakti mereka ♡

Crystal Library
17 April 2018
Member of Javaroma

Monday, 9 April 2018

Jejak Tesis [6]

Bismillah

Sudah lama ya ga gossipin tesis. Saat ini waktu menunjukkan pukul 19.34, dan emak-emak ini baru saja menyelesaikan tugas besar yang selama ini sangat mengganggu. Iyaaaa...revisi jurnal 'bekas' conference di UGM kemarin.

Jadi ceritanya September lalu kan presentasi penelitian yang udah dilakukan kaaan, penelitiannya ga linear sama tesis sebetulnya. Dapet ide spontan dan nulis spontan aja. Laaah qodarullah ternyata direkomendasikan untuk dimuat di jurnal bahasa inggrisnya ugm. Apalah banget tulisan emak-emak yang doyan curhat gini tetiba harus masuk jurnal ilmiah,bersanding sama tulisan keren orang-orang? Haduh.

Maka dari ituuu...karena sungguh ini adalah perkara baik dan kesempatan emas, tak akan kusia-siakan ia begitu saja. Wkwkwk. Padahal sebelumnya udah kirim email minta didrop saja,kutakkuat dengan double blind review yang sungguh takda habisnya ituuu. Etapi mereka malah ngasih keluangan waktu supaya emak rempong ini bisa nyelsein artikelnya sesuai masukan reviewer. Huwaaaaaa...terharuuu. Awalnya. Hahahaha. Awalnya ngira karena tulisanku sedipengenin itu yaaa???

Ternyata bukan karena itu. BWAHAHAHAHA. Alesannya karena mereka udah ngeluarin biaya untuk bayar reviewer. Rrrrrrr. Jadi mau ga mau gitulah kudu dilanjutin prosesnya. Dan hari ini kelar juga akhirnyaaaaa (sampe tahap ini). Makanya kusenang walo dunia ini cuma sementara *sigh

Jadi apa relevansinya sama tesis.
Ya jelas adalah. Jadi besok udah bisa kencan lagi sama tesiskuuu. Yes yes!

Kerjakanlah tesis karena itu super kereeen!!

So proud of u today,yeyy!! *sambil ngaca

9 April 2018
Warunk upnormal membuat hidupku abnormal

Wednesday, 4 April 2018

Tentang Pemecatan (3)


Pemecatan kedua, yaitu dipecatnya Iblis dari syurgaNya. Nah ini kita bakal belajar menempatkan diri di posisi Nabi Adam AS sebagai leluhur kita.

Gitu-gitu, Iblis itu dulunya makhluk yang taat banget sama Allah. Kedudukannya di sisi Allah juga baik. Hingga ya di hari itu semua berubah. Saat Allah menciptakan manusia pertama, Nabi Adam. Sebagai makhluk yang taat, sebetulnya Iblis secara logika berhak siih untuk dapet reward dari Allah. Etapi ternyata hari itu, Allah ‘malah’ mengangkat Nabi Adam sebagai khalifah. Suatu jabatan yang keren!

Padahal kan Nabi Adam baru aja diciptain, nyubi di syurgaNya Allah. Belum kelihatan ketaatannya, dan apalagi, oh apalagi dia ‘cuma’ tercipta dari tanah. Sedang iblis terbuat dari api yang lagi-lagi secara logika makhluk, lebih mulia dan lebih hebat daripada sekedar tanah. Makanya, saat Allah memberi perintah untuk sujud kepada Adam, Iblis enggan. Ingredients lebih oke, kualitas selama ini sudah terjamin, kurang apalagi buat ‘promosi’ kan.  Kenapa bukan guwe? Gitulah kira-kira suara hati iblis saat itu.

Sampailah akhirnya dialog itu terjadi. Iblis memohon usianya ditangguhkan hingga hari akhir, seraya berjanji akan teruss gangguin anak cucu Adam supaya bisa membersamainya di seburuk-buruk tempat kembali, neraka. Kedengkian yang hakiki memang. Hisy.

Lantas apa kabar dengan Adam AS? Apakah beliau baper merasa karena dirinyalah Iblis diusir dari syurga? Ya enggalaaah, emangnya kita segala macem dibaperin. Nabi Adam AS tahu betul, Tuhan yang telah menciptanya adalah Tuhan Yang Maha Mengatur lagi Maha Berkehendak. Absolut, mutlak. Jadi tinggal jalani saja perintahNya. Perkara dengan kehadiran dia Iblis jadi dipecat, ya itu kehendak Allah. Perkara kemudian ada gangguan dari pihak yang dipecat, dalam hal ini iblis, ya fahami aja kalo itu bentuk ujian untuk membuktikan kualitas diri yang sejati di hadapanNya. Ga kurang dan ga lebih.

Inti hikmahnya adalaah, kalo posisimu justru sebagai orang yang menggantikan orang lain yang dipecat, ga usah baper. Kematianmu ga akan ujug-ujug maju jadwalnya lantaran kamu menduduki posisi tersebut. RezekiNya dalam berbagai bentuk pun juga ga akan ujug-ujug menghilang. Kalaulah akhirnya Nabi Adam pun harus keluar dari syurga lantaran ulah Iblis, tapi kan Allah ganti dengan rezekiNya yang lain. Pun Allah juga berjanji bahwa Nabi Adam dan anak cucunya kelak akan pulang kampung ke tempat asal, di keabadian syurga. Syarat dan ketentuan berlaku pastinya.

Memang, semua udah ada yang atur, Allah. Kalo tentang perilaku usil dari pihak yang dipecat sih ya itu tantangan besar yang harus dihadapin. Tapi, seperti kata para motivator, selama tantangan itu ga membunuhmu, maka dia hanya akan menempamu menjadi seseorang yang lebih baik dan lebih kuat dari sebelumnya.

Begitulah kira-kira 2 cerita besar tentang pemecatan yang bisa kita petik hikmahnya. Semoga kita semua bisa bijak menempatkan diri, baik sebagai orang yang dipecat, sebagai orang yang menggantikan orang yang dipecat, ataupun hanya sebagai penonton yang menyaksikan berbagai jenis pemecatan.

Wallahu’alam

Depok, 5 April 2018
Belakangan lagi rame kasus pemecatan ini itu



Tentang Pemecatan (2)


Bismillah

Seenggaknya ada dua kisah besar tentang pemecatan yang layak kita tuai hikmahnya.
Pertama, pemecatan Khalid bin Walid sebagai panglima perang di zaman Umar bin Khattab. Ngga usah panjang lebar lah ya, gugling aja gimana kisah detailnya. Biar penasaran. Wkwk, padahal males cerita. Intinya ya demikian lah, Khalid gitu loh! Gitu gimana? Ya gitu, gugel dong ah, plis.

Ngga ada cerita Khalid bikin Kubu Khalifah Perjuangan, sambil intimidasi kubu khalifah yang lagi dipegang Umar. Padahal fansnya Khalid banyaakkk. Sebenernya sih bisa aja Khalid begitu, ngelaporin Umar ke pihak berwenang misalnya *eeeeehhhh, tapi gimana lagi, dia emang sebener-bener panglima yang luar biasa. Beda lepel ama kita yang demen drama-drama manjah. Padahal Khalid dipecat dalam kondisi ga ada kesalahan apapun yang dibuatnya. ‘Cuman’ karena kekhawatiran Umar akan pengkultusan Khalid yang bakal berbuntut seolah-olah menang itu karena Khalid, bukan karena Allah. Umar juga menjaga Khalid dari perasaan-perasaan sombong yang dikhawatirkan timbul di hati Khalid.

Ada satu kalimat dari Khalid yang layak kita renungin bersama saat tahu dirinya dipecat Umar. Kurang lebih begini katanya: “Saya berperang buat Allah, bukan buat Khalifah Umar.” Dan emang beneran terbukti, dia masih terussss lanjutin perjuangannya di medan perang sebagai prajurit bawahan. Berkelas banget memang sahabat Rasul satu ini!

Yang ga kalah unik juga adalah penggantinya Khalid. Namanya Abu Ubaidah Ibnu Jarrah. Beda karakter sama Umar dan Khalid yang sama-sama Koleris, Abu Ubaidah ini orangnya ademm. Plegmatis kalo kata orang sekarang. Damaii banget kalo ada di sampingnya. Sebagai orang plegmatis, Abu Ubaidah ga enak hati mau ngabarin ke Khalid ada surat pemecatan yang tertuju buat Khalid sebagai panglima. Etapi, ternyata Khalid memang Khalid. Ga pernah sekalipun Khalid ada dikisahkan melecehkan kepemimpinan Abu Ubaidah lepas kepemimpinan dia. Khalid menempatkan diri sebagai prajurit sejati, tepat seperti julukan Rasul atasnya: pedang Allah yang terhunus.

Nah, dari cerita itu, kira-kira hikmahnya adalah apa bukibuk? Ngga lain ga bukan, NIAT yang IKHLAS. Balikin lagi ke diri kita, kita ngelakuin itu karena apa? Kalo karena Allah, yodah minta balasannya sama Allah. Selesai. Kecuali kalo kita ngelakuin itu karena selain Allah, karena diri kita sendiri misalnya. Karena ingin kejayaan diri atau karena ingin dikenali. Kalo gitu ceritanya sih monmaap, ga ada yang bisa bales. Punya apa juga kita sebagai manusia, hidup aja numpang di bumiNya. Jangankan bisa membalas, salah salah, prestasi kita yang udah jauh-jauh hari keukir pun bisa jadi rontok sekejap karena sama sekali ga bernilai di sisi Dia.

Dan itulah kerugian yang nyata.

(Lanjut Part III)